Imbang Jayo

Raja Koto Baru ini tewas ulah perebutan perempuan cantik bernama Puti Bunsu. 

Musa tak berpikir panjang saat menyebut bahwa Imbang Jayo adalah cikal bakal orang Sakai di Riau. Sebab Bomban Todung Biso ini mengaku mendapat cerita semacam itu, langsung dari ayahnya, Bomban Yasin, yang kala itu sudah berumur 132 tahun. Bomban Yasin adalah Bomban ke-7 dari 12 Bomban yang pernah ada di Batin Selapan yang berpusat di Petani. 

Katakabar.com kemudian mencari literatur soal Imbang Jayo yang disebut oleh Musa tadi. Sayang, sangat minim cerita tentang Imbang Jayo ini. Untuk saja ada laman abadlegenda.blogspot.co.id milik Muhammad Subari, yang direktur Pesona Jejak Wisata beralamat di Bukit Tinggi Sumatera Barat. 

Di laman yang dijejali cerita sejarah Minangkabau itu, Subari cerita bahwa adalah Kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir – Kabupaten Kuantan Singingi sekarang). Imbang Jayo adalah anak dari Rio Dipati alias Tiang Hungkuk.

Nama Imbang Jayo mulai disebut-sebut saat ada peristiwa perebutan seorang perempuan cantik bernama Puti Bunsu, putri dari Rajo Mudo di Indera Puro. Semula Cindua Mato, adik dari Dang Tuanku yang tertarik untuk mempersunting perempuan ini. Tapi rupanya, Imbang Jayo juga berniat sama. 

Selain lantaran Puti Bunsu terkenal cantik, ada hasrat Tiang Hungkuk untuk menguasa kerajaan Kerinci dan sekitarnya. Untuk mempermulus niat itu, salah satu cara adalah mengambil Puti Bungsu sebagai menantu, meski sebenarnya istri Imbang Jayo sudah banyak dan umurnya pun sudah kepala empat. 

Rencana Tiang Hungkuk ini rupanya terendus oleh Bundo Kanduang. Disuruhnya lah Dang Tuanku menjemput Puti Bunsu untuk dibawa ke Pagaruyung. Oleh Dang Tuanku, Cindua Matolah yang mengemban tugas penjemputan ini.   

Cindua Mato adalah adik Dang Tuanku, meski mereka lain emak. Masa itu Raja Kurinci bergelar Pandeka Panjang Gombak menikahi Bundo Kanduang, lahirlah Sutan Rumandung yang setelah besar bergelar Dang Tuanku. 

Dalam perjalanannya, Pandeka Panjang Gombak menikahi dayang nya Bundo Kanduang bernama Kembang Bandahari. Dari pernikahan ini lahirlah Cindua Mato. Cindua Mato seorang pangeran muda yang tampan. Sudahlah begitu, dia punya kesaktian yang luar biasa pula. Ilmu kesaktian itu dia dapat dari Pandeka Panjang Gombak dan pamannya Rajo Mudo Indera Puro.

Sebenarnya, Dang Tuanku dan Cindua Mato punya seorang kakak bernama Aur Kuning. Ini hasil pernikahan Bundo Kanduang dengan Sri Maharaja Depang. 

Bukan perkara mudah bagi Cindua Mato untuk menunaikan tugas ini. Sebab di perjalanan persis di Bukit Tambun Tulang, dia bersama pengawalnya justru menghadapi sergap para penyamun. Kuda tunggangan Cindua Mato yang bernama Gumarang, mengamuk sejadinya menerjang para rampok, begitu juga seekor kerbau penarik pedati yang berisi makanan dan hadiah.

Hanya dengan mengibaskan telinga, sejumlah penyengat keluar dari telinga kerbau ini dan menyerang para penyamun itu. Penyamun akhirnya kalah. Mereka mengaku takluk dan berjanji akan setia pada Cindua Mato. 

Baca juga: Sakai

                    Trio Sutan

Perjalanan Cindua Mato sia-sia. Sebab rupanya Imbang Jayo sudah lebih dulu sampai ke kerajaan Indra Puro. Entah ilmu apalah yang dipakai Tiang Hungkuk hingga kemudian Rajo Mudo, ayah Puti Bunsu, manggut-manggut saja saat Imbang Jayo menyerahkan hantaran yang beragam. 

Cindua Mato hanya bisa terhenyak saat sampai di Kerajaan Indra Puro. Sebab istana sudah terpoles  indah. Aroma pernikahan yang bakal meriah sudah sangat kentara. Tapi bukan Cindua Mato namanya kalau dia tidak punya banyak akal. Dia pun menyamar jadi orang biasa dan berbaur di kerumunan pekerja pesta. 

Tak gampang bagi Imbang Jayo untuk segera menuntaskan hajat besar itu. Sebab saat masuk istana dan akan duduk di tikar, tikar yang akan diduduki Imbang Jayo justru tiba-tiba terbang. Pindah ke tikar manapun dia, kejadian serupa dia dapati. 

Belum lagi beras di dapur yang ditanak pekerja pesta, tak masak-masak. Boro-boro masak, periuk penanak nasi itupun tak panas. Inilah yang membikin Imbang Jayo mulai merah muka dan peluh bercucuran. Dia tak sadar bahwa yang punya kerjaan itu adalah Cindua Mato yang menyamar jadi rakyat biasa. 

Pitam tak tertahankan, Imbang Jayo teriak sejadi-jadianya. Dia menantang siapa saja orang yang sudah mengerjainya. Ditantang seperti itu, tanpa pikir panjang Cindua Mato tampil. Duel seru akhirnya tak terelakkan. Rajo Mudo hanya bisa termangu menengok kejadian itu. Apalagi saat dia tengok, yang menantang Imbang Jayo itu adalah Cindua Mato, keponakannya sendiri.  

Singkat cerita, Imbang Jayo kalah. Puti Bunsu segera dibawa Cindua Mato ke Pagaruyung. Sementara Imbang Jayo yang malunya selangit, bergegas pulang membertahu Tiang Hungkuk. Mendengar cerita anaknya, lelaki tua ini pitam bukan kepalang. 

Dia langsung pergi menjumpai Raja Sintong, raja di kerajaan Cina yang berada di Sungai Kampar. Sebab dia tahu, untuk menghadapi Cindua Mato, kemampuannya tak mumpuni. Modal propaganda, Raja Sintong pun mau membantu Tiang Hungkuk. 

Seminggu bertempur melawan keluarga Cindua Mato, Tiang Hungkuk menang. Untung saja saat pertempuran itu Bundo Kanduang, Dang Tuanku serta Puti Bunsu sudah pergi bersembunyi ke istana kecil yang sebelumnya sudah dipersiapkan Bundo Kanduang. Tak ada yang tahu tentang istana itu sangking terpencilnya. 

Cindua Mato ditawan oleh Tiang Hungkuk. Meski kondisinya seperti itu, lagi-lagi Cindua Mato tak habis akal. Dia usahakan gimana caranya supaya Tiang Hungkuk mendapat simpati darinya. Berhasil, Cindua Mato dijadikan sebagai pesuruh. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Cindua Mato untuk mencari kelemahan Tiang Hungkuk. Dapat. Suatu malam Cindua Mato mencari kelemahan itu lewat ilmu sitanyo-tanyo.  

Besoknya Cindua Mato menantang duel raja tua itu. Tiang Hungkuk marah besar. Selain lantaran ditantang, Tiang Hungkuk tahu kalau Cindua Mato sudah tahu kelemahannya. Alhasil, Tiang Hungkuk tewas dalam duel seru tadi. 

Imbang Jayo yang tak terima kematian ayahnya, kembali meminta tolong Raja Sintong. Sayang, Imbang Jayo pun akhirnya bernasib sama dengan ayahnya. Dia tewas terbunuh dalam pertempuran melawan kelompok Cindua Mato. 

Pertanyaannya, dimanakah Sutan Janggut, Sutan Harimau dan Sutan Rimbo yang disebut oleh Musa adalah keturunan Imbang Jayo? 

Editor : Aziz

Berita Terkait