Iran Bersumpah Balas Dendam Atas Kematian Panglima Garda Revolusi Qassim Sulaimani

Pekanbaru, katakabar.com - Mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan akan melancarkan balas dendam terhadap Amerika Serikat yang telah membunuh Panglima Garda Revolusi Qassim Sulaimani dalam sebuah serangan drone di Bandara Internasional Baghdad, Irak pagi tadi.

"Sulaimani menjadi syuhada bersama saudara-saudara lainnya tapi kami akan membalas keras Amerika," kata Mohsen Rezai, yang saat ini adalah Kepala Dewan Kebijaksaan dalam kicauannya di Twitter.

Kantor berita ISNA melaporkan, badan keamanan tertinggi Iran juga langsung mengadakan rapat darurat hari ini atas kejadian itu.

"Dalam beberapa jam ke depan rapat darurat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi akan digelar untuk membahas serangan terhadap kendaraan Jenderal Sulaimani di Baghdad yang membuat beliau syahid," kata ISNA mengutip juru bicara Keyvan Khosravi, seperti dilansir laman Channel News Asia, Jumat (3/1).

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2020/01/03/1137763/paging/540x270/page1.jpg

Menteri Luar Negeri Iran mengutuk pembunuhan ini dan menyebut AS bertanggung jawab atas segala dampak yang timbul atas serangan ini.

"Tindakan terorisme internasional AS dengan menyasar dan membunuh Jenderal Sulaimani sangat berbahaya dan bodoh," kata Muhammad Javad Zarif di Twitternya.

Pentagon hari ini mengatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan pembunuhan Panglima Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassim Sulaimani dalam sebuah serangan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Baghdad pagi tadi.

Kematian Sulaimani dibenarkan oleh media-media Iran.

Sulaimani, panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil panglima Hashd al-Mashabi (PMF), pasukan milisi Irak dukungan Iran, termasuk korban tewas dalam serangan udara AS ini.

Militer Irak mengatakan tiga roket ditembakkan ke bandara dan total korban tewas masih belum diketahui.

"Jenderal Sulaimani sedang merencanakan serangan terhadap diplomat dan tentara Amerika di Irak dan seluruh kawasan Timur tengah," kata pernyataan Pentagon dalam pernyataan.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait