Iran Luncurkan Satelit Buatan Sendiri Tapi Gagal Capai Orbit

Katakabar.com - Pada hari Minggu (9/2), Iran meluncurkan rudal balistik baru dan meluncurkan satelit buatan dalam negeri namun gagal mencapai orbit. Peluncuran satelit dilaksanakan pada pukul 19.15 waktu setempat di Spaceport Imam Khomeini di Provinsi Semnan, sekitar 230 kilometer tenggara ibu kota, Teheran.

Televisi pemerintah mengatakan, bagaimanapun, sebuah roket Simorgh tidak dapat menempatkan satelit komunikasi Zafar 1 ke orbit karena kecepatannya rendah.

"Motor stage-1 dan stage-2 dari peluncur berfungsi dengan baik dan satelit berhasil terlepas dari peluncur-nya, tetapi pada akhir jalurnya tidak mencapai kecepatan yang diperlukan untuk ditempatkan di orbit," kata Ahmad Hosseini, juru bicara program luar angkasa Kementerian Pertahanan, dikutip dari Aljazeera, Senin (10/2).

Satelit itu, yang menurut Iran akan digunakan untuk pengamatan ilmiah, adalah bagian dari program yang sebelumnya Amerika Serikat gambarkan sebagai "provokasi".

Menteri Telekomunikasi Iran Mohammad Javad Azari Jahromi mengakui dalam sebuah unggahan di Twitter bahwa "kegagalan terjadi, tapi kami tidak terhentikan! Kami memiliki lebih banyak satelit besar Iran yang akan datang!"

Rudal Balistik Baru

Sebelumnya pada Minggu, pasukan elit Garda Revolusi yang bertanggung jawab atas programrudal Iran, meluncurkan rudal balistik baru yang didukung oleh mesin generasi baru dan dirancang untuk mengirim satelit ke orbit.

Pengumuman itu datang hanya beberapa hari sebelum peringatan 41 tahun Revolusi Islam 1979, sebuah kesempatan yang secara rutin digunakan oleh Iran untuk menampilkan kemajuan teknologi bagi angkatan bersenjatanya.

Televisi pemerintah mengatakan rudal balistik jarak pendek baru ini dinamai Raad-500. Rudal ini dapat mencapai jarak hingga 500 kilometer. Rudal ini sekitar 200 kilometer lebih dari Fateh-110, rudal balistik darat-ke-darat yang pertama kali diluncurkan pada 2002 dan berbobot dua kali lipat dari rudal baru.

Menurut situs web Sepah News milik Garda Revolusi, Raad-500 juga dilengkapi dengan mesin Zoheir baru dan terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan daripada model baja sebelumnya.

Komandan Garda Revolusi, Hossein Salami, meluncurkan rudal dan mesin bersama Kepala Kedirgantaraan Jenderal Amir Ali Hajizadeh, di lokasi yang tidak diketahui, menurut televisi pemerintah.

Iran telah mengembangkan industri senjata domestik yang besar dalam menghadapi sanksi internasional dan embargo yang telah melarangnya mengimpor banyak senjata.

Pengumuman hari Minggu sejalan dengan kebijakan pertahanan Iran yang bergeser pada tahun 2009 pada saat Teheran tidak bisa lagi berinvestasi ke angkatan udara karena dikenakan sanksi.

"Karena sanksi, angkatan udara Iran sepenuhnya berada di belakang kekuatan regional seperti Arab Saudi atau Turki," kata Saeid Golkar, asisten profesor di Departemen Ilmu Politik di Universitas Tennessee.

"Jadi satu-satunya caranya bisa bertahan adalah dengan tetap menciptakan pencegahan di kawasan itu serta membangun kredibilitas di negara itu, yaitu melalui program misilnya."

AS telah menyuarakan keprihatinannya di masa lalu tentang program balistik Iran, mengatakan peluncuran roket pada Januari 2019 merupakan pelanggaran pembatasan terhadap pengembangan rudal balistiknya.

Pada 2018, Presiden Donald Trump menarik Washington dari perjanjian nuklir penting dengan Teheran mengutip kurangnya pembatasan pada program balistik Iran sebagai salah satu alasannya.

Kesepakatan nuklir, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), ditandatangani pada 2015 antara Iran dan negara-negara dunia untuk membatasi kegiatan nuklir Iran dengan imbalan keringanan sanksi.

Sejak penarikan AS dan penerapan kembali sanksi yang melumpuhkan, Iran telah menanggapi secara progresif dengan mengembalikan komitmennya pada kesepakatan nuklir.

Iran menyatakan tidak berniat memperoleh senjata nuklir dan mengatakan kegiatan kedirgantaraannya untuk tujuan damai dan mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB. merdeka

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait