Jika Pengusaha Sawit Kompak, Corona di Riau Mudah Ditanggulangi

Pekanbaru, katakabar.com – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menghimbau agar Korporasi Industri Kelapa Sawit untuk membantu warga yang terdampak virus Corona (Covid-19). Sebab, industri kelapa sawit sampai saat ini masih eksis dalam siklus usahanya.

Ketua Umum DPP APKASINDO Ir. Gulat Manurung MP.C.APO menyebutkan, jika masalah Virus Corona ini tidak teratasi dengan segera maka bukan tidak mungkin Pemerintah pusat mengizinkan Lockdown suatu provinsi, atau bahkan Republik ini yang Lockdown.

“Jika ini terjadi maka khususnya industri kelapa sawit akan sangat dirugikan. Karena semua proses eksport CPO (70 persen dari total produksi) dan industri sawit dalam negeri akan kena Lockdown juga, akibatnya semua kita akan dirugikan,” ujar Gulat, Jumat (17/4).

Menurut Gulat, dampak kebersamaan ini akan sangat lebih dasyat jika pihak pengusaha Hutan Tanaman Industri (HTI) di Riau yang luasnya 1.673.060 ha bisa berkoloborasi dengan onsan perkelapasawitan Riau yang total luasnya mencapai 3.387.206 Ha.

“Kata kuncinya adalah  tidak usah panik dengan pandemik Corona ini, setelah tidak panik baru kita atur strategi. Strategi yang saya maksud adalah bagaimana semua elemen bergotongroyong, khususnya Riau yang kita kenal dengan julukan provinsi sawit,” papar Gulat Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Lingkungan ini dengan semangat.

Hal ini sangat berdasar karena melihat data yang dikeluarkan oleh Dirjenperkebunan pada tahun 2019, total perkebunan sawit di Indonesia adalah seluas 16,4 Juta Ha, dan 20,68 Persen (3,38 juta Ha) itu berada di Riau.

"Dari segi jumlah perusahaan yang ada di Riau untuk sektor perkebunan sawit, data Statistik Apkasindo (2020) mengungkapkan di Riau ada 385 perusahaan perkebunan kelapa sawit dan 226 pabrik kelapa sawit. Khusus untuk Pabrik Kelapa Sawit (PKS), ini datanya diambil dengan deteksi corong asap menggunakan teknologi satelit, jadi datanya lebih bisa dipercaya,” jelasnya.

Jika dijumlahkan luas perkebunan kelapa sawit dan konsesi HTI di Riau, maka 56,80 persen adalah perkebunan kelapa sawit ditambah tanaman HTI.

Khusus untuk kelapa sawit, indikator keperkasaan industri kelapa sawit dapat kita ukur dari data Bank Indonesia, Kanwil Riau, bahwa Perekonomian Riau 39,31 persen ditopang oleh ekonomi perkebunan kelapa sawit dan produk turunannya.

Auditor ISPO ini mengatakan, kondisi masyarakat Riau dalam masa sulit Pandemi Corona ini, rasa-rasanya dengan luasnya perkebunan sawit dan Akasia di Riau,  seharusnya persoalan dampak Covid-19 ini akan lebih mudah dihadapi dibandingkan provinsi lain.

“Khususnya dari segi ketersediaan masker, APD (alat pelindung diri) paramedis, obat-obatan, disinfektan dan kebutuhan pokok lainnya.  ini baru dari sektor perkebunan kelapa sawit dan HTI, belum lagi yang lainnya seperti pertambangan dan lain-lain,” ucap Gulat.

Gulat sebagai masyarakat Riau dan yang membawahi Petani kelapa sawit di 22 Provinsi dan 117 Kabuipaten/Kota seluruh Indonesia wajar berharap lebih untuk perhatian dari para pengusaha sektor perkebunan dan PKS yang beroperasi di Riau untuk masyarakat.

“Ini saatnya menunjukkan bahwa Riau itu kaya dan makmur, dengan topangan dan kerjasama khususnya sektor perkebunan dan industri pabrik kelapa sawit. Itu untuk membantu Pemerintah Provinsi Riau mengatasi dampak Covid-19 dan telah PSBB nya Pekanbaru dan akan menyusulnya beberapa Kabupaten/Kota lainnya,” harap Gulat.

Khusus PSBB ini, pihaknya berharap para kepala daerah supaya mempertimbangkan secara matang dampak dari PSBB ini, harus terencana dan terukur, jangan latah dan ikut-ikutan. Sebab, kata Gulat, jika tidak terkendali dan terukur, PSBB ini bisa berdampak fatal.

“Mengingat peta sebaran perkebunan kelapa sawit dan PKS di Riau cukup merata hampir di semua daerah, maka peran industri kelapa sawit ini sangat strategis membantu Peemprov Riau dan pemkab lainnya,” jelasnya.

Caranya, dibagi peta zonasi saja kepada masing-masing perkebunan dan PKS berdasarkan peta kerja operasi usahanya. Karena menurut Gulat, tidak sulit membagi kerja tersebut, apalagi dengan teknolgi pemetaan yang sudah canggih saat ini.

“Peta sebaran titik api saja dalam hitungan menit dapat diketahui melalui Aplikasi Darboard Lancang kuning Polda Riau, apalagi Peta kerja perkebunan sawit dan PKS, pasti lebih gampang, tinggal overlay saja. Jadi setelah hasil overlay maka semua penduduk khususnya yang kurang mampu dibebankan kepada perusahaan yang beroperasi di zona tersebut,” ujar Gulat.

Yang dibebankan tidak usuh muluk-muluk, ujar Gulat, cukup menyediakan masker, vitamin c atau suplemen vitamin lainnya, beras, minyak goreng, gula pasir dan mendirikan posko mitigasi corona di desa atau kecamatan terdekat dengan lokasi usahanya.

 

“Tentu semuanya ini harus berkoordinasi dengan bupati/walikota setempat. Untuk keluarga kurang mampu dapat berkoordinasi dengan ketua PKH (Program Keluarga Sejahtera) di tiap Kabupaten, datanya semua ada di PKH, lengkap. Saya yakin pasti bisa, apalagi kita baru melakukan PilGub 2019, data penduduk Riau masih terbaru,” imbuhnya.

Gubernur Riau, Polda, TNI, Satgas Covid-19 dan para medis bahkan mempertaruhkan nyawanya, semua sudah berjibagu mengatasi dampak Corona ini, jika digotongroyongkan dengan insan perkelapasawitan apalagi didukung oleh insan perusahaan hti akan terasa ringan oleh kita semua dalam menghadapi dampak meluasnya penyebaran corona ini.

“Ya memang kita harus patuh kepada aturan pemerintah tentang pencegahan Covid-19, antara lain pakai masker, hidup sehat, cuci tangan, dirumah saja, kedai kopi ditutup, mal-mal pada merumahkan karyawannya dan lain-lain. Saat masa sulit seperti inilah para pengusaha Riau tampil membantu masyarakat. Untuk urusan listrik, penundaan angsuran kredit, paket data internet, penundaan uang sekolah dan lain-lain sudah diurus pemerintah,” jelas Gulat.

Khusus untuk APD Paramedis, dapat disalurkan langsung ke rumah sakit-rumah sakit di seluruh daerah, sesuai peta zonasi penugasan penanggulangan covid-19 insan perkelapasawitan. Setiap aktivitas dan peran aktif pembagian tugas ini harus didokumentasikan dan dipublikasi ke media supaya masyarakat Riau tahu betapa kompaknya pengusaha sawit Riau menghadapi dampak Covid-19 ini.

“Sebab dengan semangat gotong-royong akan sangat berdampak kepada psikologis masyarakat Riau, dan jika psikologis kita sudah kuat maka tugas paramedis sudah berkurang, sebab Psikologis yang down akan sangat mudah terpapar Vovid-19 ini,” tegasnya.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait