Jurnalis Indonesia yang Ditembak Polisi Saat Demo Hong Kong Buta Matanya dan Trauma

Pekanbaru, katakabar.com - Demonstrasi berkepanjangan di Hong Kong menelan banyak korban. Salah satunya Veby Mega Indah, jurnalis asal Indonesia yang mata kanannya tertembak peluru polisi Hong Kong saat meliput protes anti-pemerintah dua bulan lalu.

Saat ini Veby sedang berjuang menuntut agar pelakunya bertanggung jawab. Pasalnya, akibat insiden penembakan tersebut, Veby mengalami kebutaan pada salah satu matanya.

Luka itu menjadi trauma berkepanjangan yang membekas di benak Veby, redaktur senior Harian Suara, koran berbahasa Indonesia yang cukup populer di kalangan buruh migran asal Indonesia di Hong Kong.

Saat kejadian berlangsung, Veby meliput unjuk rasa bersama wartawan lain di suatu sudut pada sebuah jembatan di Hong Kong. Veby yakin matanya tertembak peluru karet. Bagi dia, apapun jenis peluru yang ditembakan aparat menyebabkan salah satu matanya mengalami kebutaan.

"(Saat penembakan terjadi) saya tidak sanggup lagi (menahan sakit). Saya mengira, momen itu akan menjadi hari terakhir saya," kata Veby seperti yang dilansir Antara, kemarin.

Tuntutan Belum Ada Tanggapan

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2019/12/11/1132660/paging/540x270/tuntutan-belum-ada-tanggapan-rev1.jpg

Dia ingat rekan-rekan sesama jurnalis yang berdiri di belakang dia berteriak: "Kami adalah jurnalis, berhenti menembaki kami!"

Veby beserta kuasa hukumnya mengatakan mereka telah mengajukan tuntutan hukum terhadap kepolisian untuk mengumumkan nama petugas yang terlibat pada insiden penembakan itu. Sehingga, penggugat dapat melanjutkan kasus hukum untuk menghukum pelaku.

Akan tetapi, tuntutan hukum mereka belum direspons kepolisian Hong Kong.

Hingga kini, kepolisian Hong Kong belum memberi komentar terkait tuntutan hukum yang diajukan Veby beserta kuasa hukumnya.

Trauma Mendalam

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2019/12/11/1132660/paging/540x270/trauma-mendalam-rev1.jpg

Di tengah usahanya mendapatkan keadilan, Veby terus melanjutkan hidup dengan mencoba membiasakan diri dengan satu mata dan menahan rasa sakit serta trauma akibat insiden penembakan itu.

"Saat saya dirawat di rumah sakit, saya kerap terbangun karena tiba-tiba membayangkan... peluru itu datang dan mengarah ke arah mata kanan saya," ucap Veby sambil menahan tangis.

Sampai saat ini, dia belum dapat kembali bekerja.

Unjuk rasa berlangsung selama lebih dari enam bulan di Hong Kong, kota otonom yang berada di bawah kendali China. Seringkali, aksi massa, yang di antaranya menuntut pelaksanaan demokrasi lebih luas dan penyelidikan independen terhadap aparat, berujung pada tindak kekerasan.

Kepolisian Hong Kong, yang menembakkan peluru karet dan gas air mata guna membubarkan demonstran, mengatakan mereka telah menahan diri untuk mencegah kerusuhan bertambah luas.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait