Soal Utang Ekologis

Kenapa Chevron Mesti Digugat? Ini Penjelasannya

Duri, katakabar.com - Stori itu berawal dari suatu kegelisahan masyarakat 27 Tahun lampau, pasnya Tahun 1993. Saat Scaphi merilis buku "daftar dosa" perusahaan perusak lingkungan, berjudul Anatomi Masalah dan Perusahaan Perusak Lingkungan. Tertuang dalam buku itu, ada 8 perusahaan masuk dalam daftar hitam, termasuk PT Caltex Pasipik Indonesia (CPI).

Kurun waktu dari Tahun 1993 hingga Tahun 2020 ini, masyarakat kelelahan dan nelangsa disebabkan saat mengadu ke berbagai pihak baik lembaga resmi bersifat lokal dan nasional, tidak ada tindakan yang nyata dan memberikan kesan diabaikan.

"Duri institut mencatat setidaknya ada 8 kasus limbah chevron masih segar dalam ingatan meliputi, kasus limbah CMTF Arak, Pematang Pudu, Sungai Pegambang Desa Petani, Wonosobo 1 hingga 3, kasus kanal DSF, pencemaran Sungai Rokan dan kasus Bioemediasi yang menghebohkan dunia migas Indonesia. Dimana hingga kini penyelesaian masih berlarut larut," ujar Duri Institut, Agung Marsudi kepada katakabar.com di Duri, Pada Minggu (9/8) kemarin.

Cerita Penulis Buku 'Duri Tanah Air Baru Amerika' ini, kegelisahan dan kekecewaan masyarakat itu bertambah. Saat Desember 2012 lalu Tim staf Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI melakukan investigasi kelapangan PT Chevron, untuk melihat langsung hubungan operasi Chevron dengan pelanggaran HAM.

Minas

Tim staf Komas HAM berdialog dengan masyarakat Desa Petani didampingi Duri institut, terkait kasus limbah Chevron serta meninjau langsung Tonggak Delapan Kelurahan Air Jamban.

Sudah itu, Duri Institut dan WALHI Riau pada 19 Juni 2013 lalu mengeluhkan lambatnya keluar hasil kajian Komnas HAM tentang dampak lingkungan dan sosial Chevron.

Pada Tahun 2019, Duri Institut menghadap ke kantor Komnas HAM di Jakarta menanyakan tindak lanjut hasil kajian yang hingga kini tidak ada respon.

"Semangat eksploitasi, kuras habis, jual habis adalah warna kenal kebijakan migas di Indonesia. Isu lingkungan dan korupsi seolah jadi agenda tabu dan dosa di sektor migas, meski laba dan kuasa telah dicat warna Amerika," tegasnya. Bersambung...







Editor : Sahdan

Berita Terkait