Konflik Armenia dan Azerbaijan Tewaskan 24 Orang

Katakabar.com - Sedikitnya 24 orang tewas setelah bentrokan mematikan antara dua negara yang menjadi musuh bebuyutan, Armenia dan Azerbaijan, ketika kekerasan teranyar pecah dalam sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama memicu seruan internasional pada Minggu untuk menghentikan pertempuran.

Bentrokan terburuk sejak 2016 telah meningkatkan momok perang baru antara negara bekas saingan Soviet, terkunci sejak awal 1990-an dalam kebuntuan atas wilayah Nagorny Karabakh yang didukung Armenia.

Tujuh belas pejuang separatis Armenia tewas dan lebih dari 100 lainnya cedera dalam pertempuran itu, kata Presiden Karabakh, Arayik Harutyunyan, yang mengakui bahwa pasukannya telah "kehilangan posisi".

Kedua belah pihak juga melaporkan korban sipil.

"Kami lelah dengan ancaman Azerbaijan, kami akan berjuang sampai mati untuk menyelesaikan masalah ini untuk selamanya," kata Artak Bagdasaryan (36) kepada AFP di Yerevan, dilansir AFP, Senin (28/9).

Bagdasaryan menambahkan, dia sedang menunggu untuk wajib militer menjadi tentara.

Separatis Karabakh mengatakan seorang perempuan Armenia dan seorang anak tewas, sementara Baku mengatakan satu keluarga Azerbaijan yang terdiri dari lima orang tewas dalam penembakan yang dilakukan oleh separatis Armenia.

Azerbaijan mengklaim telah merebut gunung strategis di Karabakh yang membantu mengontrol jalur transportasi antara Yerevan dan daerah kantong itu.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia, Artsrun Hovhannisyan mengatakan pasukan pemberontak Karabakh menewaskan "sekitar 200 tentara Azerbaijan dan menghancurkan 30 unit artileri musuh dan 20 pesawat tak berawak".

Perang Skala Penuh

Pertempuran antara muslim Azerbaijan dan mayoritas Kristen Armenia terancam melibatkan pemain regional seperti Rusia dan Turki, di mana Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan menyerukan kekuatan global untuk mencegah keterlibatan Ankara.

"Kami berada di jurang perang skala penuh di Kaukasus Selatan," seru PM Pashinyan.

Prancis, Jerman, Italia, dan Uni Eropa dengan cepat mendesak "gencatan senjata segera", sementara Paus Fransiskus mendoakan perdamaian.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu mengungkapkan "kekhawatiran mendalam" dan menyerukan agar segera menghentikan permusuhan.

Sekjen PBB, Antonio Guterres mengatakan dia juga sangat khawatir dan mendesak kedua belah pihak menghentikan pertempuran dan kembali ke meja perundingan.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyampaikan pihaknya telah menghubungi kedua negara dan menyerukan mereka memanfaatkan jaringan komunikasi langsung yang tersedia di antara mereka untuk mencegah eskalasi lebih jauh.

Presiden Rusia, Vladimir Putin membahas gejolak militer dengan PM Pashinyan dan menyerukan agar menghentikan permusuhan.

Tapi sekutu Azerbaijan, Turki menyalahkan Yerevan terkait gejolak yang muncul dan menjanjikan Baku dukungan penuh.

"Rakyat Turki akan mendukung saudara-saudara Azerbaijan kami dengan segala cara kami," kata Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan di Twitter.

Presiden Karabakh, Arayik Harutyunyan mengatakan Turki menyiapkan tentara bayaran dan pesawat perang untuk pertempuran tersebut, mengatakan "perang telah melampaui konflik Karabakh-Azerbaijan."

Azerbaijan menuding pasukan Armenia melanggar gencatan senjata, mengatakan pihaknya meluncurkan serangan balasan untuk "menjamin keselamatan penduduk", menggunakan tank, rudal artileri, penerbangan tempur dan drone.

Jam Malam

Dalam pidato televisi pada Minggu, Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev berjanji menang melawan pasukan Armenia.

"Tujuan kami adil dan kami akan menang," katanya, menggemakan kutipan terkenal dari pidato diktator Soviet Joseph Stalin pada pecahnya Perang Dunia II di Rusia.

"Karabakh adalah Azerbaijan."

Baik Armenia dan Karabakh mengumumkan darurat militer dan mobilisasi militer. Azerbaijan memberlakukan aturan militer dan jam malam di kota-kota besar.

Armenia mengatakan Azerbaijan menyerang pemukiman sipil di Nagorny Karabakh termasuk kota utama Stepanakert.

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan mengatakan ada laporan korban tewas dan cedera.

"Kerusakan parah telah menimpa banyak rumah dan infrastruktur sipil," katanya.

Separatis etnis Armenia merebut wilayah Nagorny Karabakh dari Baku dalam perang tahun 1990-an yang merenggut 30.000 nyawa.

Pembicaraan untuk menyelesaikan salah satu konflik terburuk yang muncul dari runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 sebagian besar terhenti sejak perjanjian gencatan senjata tahun 1994.

Prancis, Rusia dan Amerika Serikat telah menengahi upaya perdamaian sebagai "Grup Minsk" tetapi dorongan besar terakhir untuk kesepakatan damai gagal pada tahun 2010.

Pengeboman Garis Depan

"Kami selangkah lagi dari perang skala besar," kata Olesya Vartanyan dari International Crisis Group kepada AFP.

"Salah satu alasan utama eskalasi saat ini adalah kurangnya mediasi internasional yang proaktif selama berminggu-minggu."

Pada Minggu pagi, Azerbaijan mulai mengebom di sepanjang garis depan Karabakh termasuk sasaran sipil dan di Stepanakert, kata kantor kepresidenan Karabakh.

Kementerian pertahanan pemberontak mengatakan pasukannya menembak jatuh empat helikopter Azerbaijan dan 15 pesawat tak berawak, sementara Baku membantah klaim tersebut.

Pada Juli, bentrokan hebat di sepanjang perbatasan bersama kedua negara - ratusan kilometer dari Karabakh - merenggut nyawa sedikitnya 17 tentara dari kedua pihak.

Selama bentrokan Karabakh terburuk baru-baru ini pada April 2016, sekitar 110 orang tewas. 

Merdeka.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait