Laboratorium Vaksin Covid-19 Disebut Rentan Peretasan

Katakabar.com - Agensi-agensi intelijen Inggris kini tengah berusaha keras mencegah peretas dari berbagai negara untuk mencuri rahasia berisi vaksin potensial untuk pandemi Covid-19.

Informasi ini disampaikan oleh kepala Government Communication Headquarters (GCHQ), Jeremy Fleming, sebagaimana dikutip dari The Guardian via Tekno Liputan6.com.

Fleming mengatakan, para hacker tengah menarget infrastruktur kesehatan Inggris beserta sejumlah laboratorium kelas dunia yang kini meneliti virus corona. Fleming menyebut, para hacker kerap kali menggunakan teknik sederhana untuk melakukan aksinya.

"Kami mengetahui, apakah itu ulah negara ataupun kriminal, mereka mencoba mencuri sesuatu yang sensitif bagi kami," katanya.

Untuk itu, agensi intelijen maupun otoritas Inggris kini tengah memprioritaskan perlindungan sektor kesehatan dari ancaman kejahatan siber.

"Terutama adalah terkait masalah vaksin," tutur dia.

Fleming juga menyebut, hacker kerap memburu kerentanan-kerentanan yang bersifat mendasar.

"Misalnya mencoba membujuk agar orang mengeklik sesuatu, saat orang itu tidak sadar, para hacker bisa saja mendapatkan password ataupun data lainnya," katanya.

Ia tak secara langsung menyebut Tiongkok atau negara lainnya sebagai dalang serangan hacker. Namun, seorang sumber orang dalam menyebut, pemerintah Tiongkok terlibat atas hal ini.

Tak hanya Inggris yang dijadikan target serangan siber untuk mendapatkan informasi mengenai vaksin Covid-19. Dalam sebuah pemberitaan, Bloomberg menyebut, kelompok hacker juga menarget lab penelitian Covid-19 di University of California.

Dalam kasus University of California yang terletak di San Francisco ini, para hacker disebut-sebut melancarkan serangan ransomware.

UCSF mengkonfirmasi, mereka jadi target upaya masuk ilegal. Namun, tak menjelaskan bagian mana dari sistem IT yang telah diserang.

Para peneliti di universitas tersebut juga melakukan penelitian terhadap berbagai hal. Misalnya pengujian antibodi orang Amerika, uji klinis perawatan penyakit virus corona, hingga studi terbaru mengenai obat-obatan anti-malaria yang dianggap manjur.

Pihak universitas telah mencoba menghubungi ahli keamanan hingga penegak hukum terkait serangan yang menimpa mereka. Berdasarkan pernyataan, serangan ransomware itu tidak mempengaruhi perawatan pasien.

"Kami melakukan penilaian menyeluruh terkait insiden tersebut, termasuk penentuan jika ada informasi yang telah dikompromikan," kata pihak universitas.

Hacker yang mengaku bernama Netwalker mengklaim serangan yang ditujukan ke University of California dalam unggahan blog di dark web. Unggahan ini diikuti dengan lampiran informasi milik UCSF yang disalin, berupa empat screenshot, dua di antaranya diduga merupakan file yang diakses oleh penyerang.

Hacker sendiri kerap memamerkan sampel data yang telah dicuri untuk membuktikan mereka berhasil meretas sistem yang disasar. Hacker juga mengancam, jika hingga 8 Juni mereka tak menerima tebusan, data tak akan dikembalikan.

 

Sumber: Liputan6.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait