Lebih Murah Dibanding Negara Lain, Pemerintah Dinilai Tak Perlu Turunkan Harga BBM

Katakabar.com - Mantan Gubernur Indonesia untuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Widhyawan Prawiraatmadja menilai pemerintah tak perlu menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), meski harga minyak dunia saat ini tengah anjlok.

"Konteks yang sekarang ditanyakan adalah kok dengan harga rendah itu BBM di Indonesia enggak turun ya? Kalau saya pribadi menganggap harga sebaiknya jangan turun," ujarnya dalam sesi bincang-bincang virtual, Jumat (8/5).

Sebab menurutnya, harga BBM di Indonesia saat ini masih lebih rendah dibanding negara lain. "Kenapa kalau turun? Harga kita sudah relatif rendah kok," ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Wawan ini melanjutkan, jika harga minyak yang dalam kondisi relatif rendah diturunkan, maka itu tidak membawa pengaruh untuk deflasi.

"Tapi begitu kita coba naikan sedikit aja, itu sentimennya pasti akan membawa inflasi yang akan membawa beban kepada negara, kepada pemerintah, kepada ekonomi," sambung Wawan.

Di sisi lain, dia juga menyarankan negara untuk menarik pajak pada perusahaan energi yang memperoleh pendapatan terlalu besar dari penjualan BBM dengan harga yang tak diturunkan. Seperti yang terjadi di India.

 

"Di India itu harganya tidak turun. Tapi kalau misalnya perusahaan yang jual BBM itu makes lot of money, enggak boleh dia makes lot of money, semua pajak-pajaknya diambil oleh negara," tuturnya.

KPPU Sebut Harga BBM Bisa Turun Sejak Maret

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebutkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) sebenarnya bisa turun sejak Maret lalu, seiring dengan anjloknya harga minyak dunia.

Direktur Ekonomi KPPU, Zulfirmansyah mengatakan, penurunan itu dimungkinkan berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 62.K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan/atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan.

"Kalau kami telaah dari peraturan ini, sebenarnya bisa di-adjust (disesuaikan) setiap saat karena ada rincian penghitungan berdasarkan rata-rata bulan sebelumnya. Artinya kalau kita ubah harga BBM bulan April kemarin tanggal 25 itu sudah bisa dilakukan," katanya dikutip Antara di Jakarta, Jumat (8/5).

Berdasarkan Kepmen tersebut, dijelaskan bahwa penghitungan menggunakan rata-rata harga publikasi MOPS dengan satuan dolar AS/barel periode tanggal 25 pada dua bulan sebelumnya, sampai dengan tanggal 24 sebulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.

Firman menuturkan, harga minyak mentah terus menurun sejak 19 Februari lalu. Tren penurunan harga minyak dunia juga telah membuat sejumlah negara di ASEAN melakukan penyesuaian harga.

Dalam data KPPU, harga BBM di tujuh negara ASEAN turun drastis. Di Myanmar, misalnya, harga RON 95 berada di kisaran Rp5 ribuan per liter, jauh di bawah harga BBM jenis RON 90 di Indonesia.

"Sementara di domestik, kita lihat trennya tidak pernah turun sejak September. Di beberapa periode ada penurunan seperti Desember, naik lagi Januari dan turun Februari, tapi tidak signifikan," katanya.

 

Sumber: Liputan6.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait