Malaysia Tangkap Buruh Migran Asal Bangladesh Karena Kritik Pemerintah

Katakabar.com - Pihak berwenang Malaysia menyampaikan, mereka menangkap seorang pria Bangladesh yang mengkritik pemerintah di televisi terkait perlakuan terhadap pekerja migran ilegal atau buruh tanpa dokumen selama pandemi virus corona.

Dalam sebuah dokumenter di Aljazeera, Rayhan Kabir menyampaikan pemerintah diskriminatif terhadap buruh migran dengan menangkap dan memenjarakan mereka.

Pria 25 tahun itu akan dideportasi. Demikian dikutip dari BBC, Senin (27/7).

Para pengkritik menyebut pemenjaraan ratusan migran tak manusiawi. Sementara pejabat pemerintah berdalih penangkapan dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus.

Sejumlah aktivis mengatakan, mereka yang ditangkap termasuk anak-anak dan pengungsi Rohingya. Penangkapan dilakukan saat Malaysia menetapkan lockdown karena virus corona.

Pihak Aljazeera mengatakan, polisi melakukan investigasi terhadap tayangan dokumenter Locked Up in Malaysia's Lockdown, yang disiarkan pada 3 Juli, menyusul keluhan dari pejabat dan media lokal yang menyebut tayangan itu "tak akurat, menyesatkan, dan tak seimbang."

Surat perintah penangkapan diterbitkan untuk Kabir - yang izin kerjanya dicabut setelah program ditayangkan - dan dia ditangkap pada Jumat lalu.

"Warga negara Bangladesh ini akan dideportasi dan di-blacklist memasuki Malaysia selamanya," kata Dirjen Imigrasi Malaysia, Khairul Dzaimee Daud dalam sebuah pernyataan, tanpa menjelaskan kenapa Kabir ditangkap atau apakah dia melakukan bentuk kejahatan.

Koran Bangladesh, Daily Star mengutip Kabir yang menyampaikan pernyataan dalam sebuah pesan sebelum ditangkap: "Saya tidak melakukan kejahatan apapun. Saya tidak bohong. Saya hanya bicara masalah diskriminasi terhadap para migran. Saya ingin menjaga martabat para migran dan negara saya. Saya percaya semua migran dan warga Bangladesh akan membela saya."

Sebanyak 21 organisasi masyarakat sipil Bangladesh meminta pembebasan Kabir.

"Wawancara dengan media bukan kejahatan dan Rayhan Kabir tak melakukan kejahatan apapun," kata mereka.

"Tindakan pemerintah (Malaysia) mengirim pesan mengerikan kepada negara asal buruh migran: jika Anda ingin tinggal di Malaysia, jangan bicara bagaimana pun buruknya Anda diperlakukan," kata Human Rights Watch dalam sebuah pernyataan terpisah.

Aljazeera mengatakan, kepolisian Malaysia telah mengumumkan investigasi stafnya atas dugaan penghasutan, fitnah, dan pelanggaran UU Komunikasi dan Multimedia Malaysia. Disampaikan juga mereka menjadi target perisakan dunia maya secara terus menerus, termasuk pesan-pesan kasar dan ancaman pembunuhan.

Aljazeera juga mengatakan, pihaknya membantah keras tuduhan atas program tersebut dan mengatakan program dan pihaknya mengedepankan profesionalisme, kualitas dan jurnalisme yang tidak berpihak.

Merdeka.com

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait