Mangalo

Sejak jaman Jepang, mangalo menjadi trend di kalangan masyarakat Sakai. 

Kawasan Barat Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Minggu tiga pekan lalu. Dua gubuk hampir reot menyembul dari hamparan puluhan hektar tanaman singkong yang ada di sana. Orang-orang menyebut kawasan itu Proyek Sakai. 

Di samping salah satu gubuk itu, Irus 47 tahun sibuk memarut singkong bersama anak perempuannya. Tapi dia tak bisa konsentrasi penuh lantaran cucunya ikut nimbrung di bawah terpal biru tempat mereka memarut singkong tadi. Belum lagi dia harus sesekali mencomot rokok yang terselip di bibirnya. 

Di bawah gubuk, dua anak laki-laki sibuk pula menyiapkan kuali besar. Hari ini mereka akan menggongseng hasil parutan Irus tadi. "Inilah makanan khas kami. Namanya mangalo. Makanan semacam ini sudah ada sejak kami belum lahir," sambil memarut Irus cerita saat katakabar.com bertandang ke sana.

Beberapa kilometer ke arah Utara, persis di kawasan Jalan Bathin Bumbung Dusun Sebanga Asal, Desa Kesumbo Ampai. Robin dan Harianto sedang sibuk pula membikin baju dari kulit kayu. Tadi pagi, mereka sengaja mengambil sebatang kayu torop untuk jadi bahan baku baju itu. 

Robin mengupas kulit kayu sementara Harianto membikin ukuran. "Kalau ada yang memesan, barulah kami bikin. Sekarang bahan baku susah didapat. Soalnya larangan menebang pohon sudah ada pula," ujar Harianto. Mata ayah empat anak ini tetap tertuju pada kerjaannya. 

Irus, Robin dan Harianto adalah bagian dari ribuan masyarakat Sakai yang tinggal di kawasan Kecamatan Mandau. Dan apa yang sedang dibikin mereka tadi adalah tradisi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang. 

Dari jaman dulu ubi racun yang jadi bahan untuk membikin mangalo sudah ada, tapi belum diperlukan lantaran masyarakat Sakai masih menanam padi ladang. Butuh waktu enam bulan padi itu baru bisa dipanen. 

Pas Jepang menjajah, barulah ubi racun itu diolah menjadi mangalo. Kebetulan saat itu kata keponakan Bathin Petani bernama Matar, masyarakat Sakai sudah hidup berpindah-pindah. Biar ada makanan, diolahlah ubi racun tadi menjadi rendang yang disebut mangalo. “Mangalo digongseng untuk bekal di jalan. Soalnya tahan lama. Nah yang kami makan itu ampas, bukan patinya. Makanya nggak mabuk,” katanya. 

Lama-lama ubi racun pun ditanam. Butuh waktu delapan bulan supaya ubi racun itu bisa dipanen. Ubi yang sudah dicabut kemudian diparut. Hasil parutan kemudian diinjak-injak supaya patinya terbuang. Beres itu, parutan ubi racun direndam satu malam. disaring lalu digoreng hingga berbentuk kayak emping. 

Di kawasan Beringin kata Kitah, ubi racun ditemukan di Pangkalan Batu Bosa. Ukuran ubi racun di sini tergolong besar. “Serumpun bisa untuk makan sekeluarga selama sepekan. Untuk lauk mangalo terserah aja. Ikan yang ada ya ikan dimakan jadi lauknya. Kalau kijang atau kancil yang ada, ya itulah,” cerita Kitah. 

Hanya saja waktu itu kata Kitah, mereka sangat kesulitan untuk menemukan cabe. Alhasil, biar makanan pedas, batang serai dijadikan alternatif. “Dari dulu kami makan nasi juga. Mangalo tadi makanan alternatif saja,” ujar Kitah. 

Tapi soal baju kulit kayu tadi, tidak semua yang sepakat bahwa itu adalah pakaian tradisi yang sudah ada sejak jaman leluhur. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Bomban Todung Biso alias Bomban Petani bernama Musa. 

Lelaki 91 tahun ini bilang bahwa sejak jaman leluhur masyarakat Sakai datang ke Mandau, mereka sudah berpakaian layaknya orang sekarang. Meski pada saat itu kain yang dipakai masih kain belacu yang berbentuk kain panjang. 

Sebab menurut Musa, leluhurnya yang berasal dari Pagaruyung sudah punya peradaban yang tergolong maju. “Yang namanya baju kulit kayu itu nggak ada. Bathin Lapan dan Bathin Lima itu tak ada yang pakai baju kulit kayu,” ujarnya.        

Omongan Musa ini sedikit berbeda dengan apa yang dikatakan Bathin Beringin Sakai, Kitah. Lelaki 63 tahun ini menyebut bahwa sejak jaman penjajahan mereka terpaksa membikin pakaian dari kulit kayu. Bahan bakunya dari kulit kayu Pudu atau kulit Torop tadi. 

“Waktu itu hidup kami sangat susah. Rumah kami rumah tinggi yang masih terbuat dari kulit kayu. Atap daun dan dinding kulit kayu. Makanan kami juga mangalo,” cerita Kitah kepada Negeri Junjungan saat bertandang ke rumahnya di Dusun Sialang Rimbun Desa Muara Basung.  

Kitah kemudian cerita panjang tentang masa-masa dulu. Masa kawasan Mandau dan Pinggir belum dijamah oleh cukong-cukong perkebunan. “Waktu itu sudah ada transaksi. Sudah ada jual beli. Tapi pasar cuma satu, di Beringin,” ujarnya. Mata lelaki ini nampak menerawang, membayangkan kembali masa-masa dia muda dulu. Masa-masa dia baru umur 15 tahun dan harus kembali ke Suluk Bongkal lantaran tak mau dijajah Jepang. 

Masa dia dan orang tuanya, serta 22 kepala keluarga lain di Suluk Bongkal yang harus menempuh perjalanan setengah hari biar bisa sampai ke Pasar Beringin. Padahal jika dihitung jarak, hanya beberapa kilometer. 
Meski hidup susah, yang namanya untuk makan tak sulit. Anak-anak sungai semacam Sungai Suluk Bongkal, Lubuk Bosa, Beringin, masih memberikan ikan yang melimpah. Ikan limbat masih sangat banyak, baung, bada dan ikan lain. 

“Kami menangkap ikan pakai Lukah duduk. Tak perlu memasang banyak. Tiga sampai empat saja sudah cukup. Sebab ditahan semalaman, paling sedikit 5-7 kilogram ikan-ikan sudah tertangkap di dalam bubu atau Lukah,” katanya.  

Kisah yang sama juga dialami oleh Musa. Masa itu untuk menjangkau pasar saja musti menembuh waktu seharian. Tak jarang mereka harus berpapasan dengan harimau. “Pasarnya di Balai Pungut. Kalau ke sana, berangkat pagi baru sampai sore. Makanya ikan-ikan hasil tangkapan di Sungai Petani, musti disalai dulu baru dijual,” katanya. 

Kalau tak ke Balai Pungut, masyarakat Sakai yang tinggal di pinggiran Sungai Petani berbelanja ke Rantau Kopar. “Kalau ke daerah ini cukup pakai sampan. Tapi jauhnya juga bukan main. Dulu, sungai Petani masih lebar. Sekitar 10 meter. Nyari ikan gampang. Ikannya banyak. Tapah, bujuk, toman, lumpung, baung, pantau, jalai, selais, limbat dan lele. Menangkap ikan pantau sangat gampang. Cukup pakai kain yang di atasnya ditaburi nasi, 1-2 kilogram pantau sudah dapat,” kenang Musa. 

Kini semuanya sudah sangat berubah. Musa dan Kitah sangat merasakan itu. “Semuanya tinggal kenangan. Perusahaan-perusahaan perkebunan dan akasia, sudah merubah semuanya. Tak hanya ikan dan binatang hutan yang habis. Masalah pun banyak muncul,” bergetar suara Musa mengatakan itu. Matanya kemudian nanar menatap jauh. 

Editor : Aziz

Berita Terkait