Menperin, Lotte Chemical Tambah Investasi Jadi USD 4,3 Miliar

  • Reporter:
  • 20 November 2019, 15:38:22 WIB
  • Internasional

Korea Selatan, katakabar.com - Kementerian Perindustrian Republik Indonesia memprioritaskan pengembangan industri kimia di dalam negeri. Ini berdasarkan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

Salah satu langkah strategis yang dijalankan, memacu investasi dari perusahaan skala global agar bisa memperkuat struktur manufaktur di Indonesia supaya sektor hulu sampai hilir terintegrasi.

“Lotte Chemical memastikan untuk menambah investasinya menjadi USD 4,3 Miliar untuk pembangunan kompleks pabrik petrokimia di Indonesia. Mereka mau tambah investasi, meski pabriknya saat ini masih dalam proses pembangunan", kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat siaran persnya di kutip dari Situs Resmi Kemenperin pada Rabu (20/11) siang.

Cerita Agus, kemarin bersama rombongan melakukan pertemuan dengan direksi Lotte Chemical di Seoul, Korea Selatan. Adanya penambahan investasi, Lotte bakal meningkatkan kapasitas produksi naphta cracker menjadi 3,5 Juta Ton per Tahun dari rencana awalnya 2 Juta Ton per Tahun.

Korporasi raksasa asal Negeri Ginseng sebelumnya sudah membenamkan modal untuk membangun kompleks pabrik petrokimia di Cilegon, Banten sebesar USD 3,5 Miliar atau setara Rp 53 Triliun. Jika tambahan investasi terealisasi, diproyeksi menjadi USD 4,3 Miliar atau setara Rp 60,6 Trliun.

Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 100 hektare, mengolah naphta cracker lebih bernilai tambah tinggi. Bahan baku bisa dihasilkan menjadi beberapa produk turunan seperti, ethylene, propylene, polypropylene, dan lainnya. Kalau resmi beroperasi, hasil produksi dari pabrik bakal digunakan untuk memenuhi permintaan domestik mau pun global.

“Langkah yang ditempuh bedasarkan arahan Presiden RI, Joko Widodo untuk terus menggenjot investasi dan hilirisasi sektor industri. Upaya strategis ini diamini dapat meningkatkan perekonomian nasional secara fundamental, dengan penghematan devisa dari substitusi impor dan bakal bisa memperbaiki neraca perdagangan saat ini sebab orientasinya ekspor".

Berdasarkan catatan Kemenperin, sepanjang periode Januari hingga Agustus 2019, nilai ekspor kelompok industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sudah menyumbang hingga USD 9 Miliar.

Melihat capaian itu, industri kimia dinilai memberikan kontribusi yang cukup signfikan bagi perekonomian nasional. Itu sebabny, industri kimia menjadi tolak ukur tingkat kemajuan bagi suatu negara selain industri baja.

Masih Agus, pihaknya bertekad fokus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia. Industri petrokimia yang dikategorikan sebagai sektor induk (mother of industry) ini menghasilkan ragam komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku oleh sektor manufaktur lainnya seperti, industri kemasan, tekstil, alat rumah tangga, komponen otomotif dan produk elektronika.

“Berdasarkan karakteristiknya, industri petrokimia merupakan jenis sektor manufaktur yang padat modal, padat teknologi dan lahap energi sehingga perlu mendapat perhatian khsusus dari pemerintah untuk langkah pengembangan yang berkelanjutan".

Guna mendongkrak produktivitas dan daya saing industri petrokimia nasional. Perlu ditopang pasokan energi dengan harga yang kompetitif seperti, gas industri lantaran menjadi vital sebagai bahan baku.

Tak cuma itu, dibutuhkan infrastruktur berupa, jaringan transportasi dan pelabuhan. Penting penguasaan riset dan pemanfaatan teknologi dan ketersediaan SDM kompeten sebagaimana telah ditetapkan dalam strategi implementasi Making Indonesia 4.0.

Dalam memasok tenaga kerja yang kompeten, Kemenperin memfasilitasi pembanguan Politeknik Industri Kimia di Cilegon. Dalam proyek pembangunan infrastukturnya, diproyeksi PT Lotte Chemical Indonesia menyerap tenaga kerja langsung hingga 1.500 orang dan tenaga kerja tidak langsung mencapai 4.000 orang hingga Tahun 2023 mendatang.

Di Pertemuan Menperin, Agus di Seoul, Kepala Unit Bisnis Lotte Chemical, Kim Kyo Hyun mengatakan, keputusan untuk menambah investasi lantaran mengingat Indonesia masih membutuhkan cukup banyak produk-produk petrokimia sehingga menjadi substitusi impor.

“Itu alasan kami membangun pabrik petrokimia untuk menggantikan barang-barang impor yang selama ini dilakukan supaya bisa diproduksi di dalam negeri", sebutnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait