Meski Putus Kuliah, Pria Ini Justru Sukses Dirikan E-Commerce Raksasa di Korsel

Pekanbaru, katakabar.com - Bagi kebanyakan calon wirausahawan, Magister Bisnis Administrasi di kampus bergengsi Harvard adalah salah satu langkah penting untuk bisa membangun bisnis. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi Bom Suk Kim.

Baru 6 bulan menjalani masa kuliah, pria asal Korea Selatan ini lebih memilih untuk berhenti kuliah di Harvard dan memulai bisnisnya sendiri. Saat ini, kurang dari satu dekade Kim adalah sosok di balik perusahaan besar di Korea Selatan.

Kim adalah miliarder yang mendirikan perusahaan e-commerce terbesar di Korea Selatan, Coupang. Sejak didirikan tahun 2010, Coupang sudah menghasilkan USD 9 miliar atau Rp 126,89 triliun, sehingga biasa dijuluki Amazon dari Korea Selatan.

"Saya memiliki kepercayaan ketika saya di sekolah pascasarjana bahwa saya memiliki jendela yang sangat pendek untuk benar-benar membuat sesuatu yang lebih besar," katanya dilansir CNBC Make It.

Dia memulai bisnis di Seoul pada 2010, di mana peluang bisnis teknologi tengah berkembang saat itu. Kini, perusahaannya menawarkan basis pengguna hampir setengah ukuran populasi negara itu.

Di tahun 2000-an, Coupang memulai bisnis seperti Groupon, yang menawarkan diskon yang dapat ditukarkan di perusahaan lokal atau nasional. Namun, seiring dengan berkembangnya ruang lingkup e-commerce, model bisnis Coupang diubah ke pasar pihak ketiga, terinspirasi oleh eBay.

Model bisnis itu sukses, dan dalam kurun waktu 3 tahun Copuang berhasil melampaui USD1 miliar dalam penjualan dan berada di puncak penawaran umum perdana. "Bentuk Coupang, model bisnis Coupang, seperti apa bentuk Coupang hari ini, mengalami banyak perubahan," jelasnya.

Mulai dari Awal

Sayangnya, Kim kembali memutuskan untuk mengubah model bisnis Coupang menjadi platform belanja end-to-end. "Satu-satunya model yang kami lihat terutama seperti Amazon. Dan pada waktu itu, kami benar-benar iri pada itu," katanya.

Pasar e-commerce Korea Selatan telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir, dan tahun ini diproyeksikan menjadi yang terbesar kelima di dunia setelah China, Amerika Serikat (AS), dan Jepang. Sementara itu, jam kerja yang panjang dan kota-kota padat penduduk membuat negara itu siap untuk layanan pengiriman berdasarkan permintaan.

Ini lah yang dimanfaatkan oleh Coupang. Saat ini, lebih dari 5.000 pengantar atau yang dikenal sebagai Coupangmen, mengirimkan 99,3 persen pesanan dalam waktu kurang dari 24 jam. Layanan Pengiriman Fajar yang baru bahkan berjanji untuk melampaui Amazon Prime, menyediakan pengiriman pukul 7 pagi untuk pesanan yang dilakukan sebelum tengah malam di malam sebelumnya.

"Apa yang tampak seperti kutukan pada waktu itu, bahwa kita harus membangun seluruh infrastruktur ini, dan membangun teknologi untuk mengintegrasikan semuanya, dari ujung ke ujung, dari diri kita sendiri dari awal, akhirnya menjadi berkat besar," katanya.

Korea Selatan Sebagai Model

Pada November 2018, Coupang telah menerima total USD3,6 miliar dari nama-nama besar termasuk Softbank, Sequoia Capital dan BlackRock. Itu memberi perusahaan estimasi valuasi USD9 miliar, menjadikannya sebagai perusahaan besar di Korea Selatan, menurut Forbes, dan mendorong Kim ke status miliarder ikonik.

Coupang, yang baru-baru ini melampaui USD10 miliar dalam penjualan, menggunakan uang itu untuk memperluas bisnis di dalam negeri, sebelum berpotensi meluncurkannya di luar negeri.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait