Nakes di Pelalawan Berduka, Dokter Spesialis Meninggal Positif Covid 19

Pelalawan, katakabar.com - Kabar duka melanda Tenaga Medis (Nakes) di Kabupaten Pelalawan. Soalnya, seorang dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selasih Pangkalan Kerinci, meninggal dunia disebabkan terkonfirmasi positif Covid 19, pada Selasa (15/6) malam lalu.

Selain menjabat status dokter spesialis di RSUD Selasih, beliau tercatat sebagai dokter spesialis penyakit dalam di RS Efarina Pangkalan Kerinci. Bahkan, membuka praktek klinik Pratama di Jalan Lintas Timur Pangkalan Kerinci.

Dokter perempuan bernama dr Yulia Santi Sp.PD yang selama ini menangani proses cuci darah di RS milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan ini, menghembuskan nafas terakhirnya setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Arifin Achmad Kota Pekanbaru dua hari sebelumnya.

Jenazah almarhumah telah dikebumikan secara protokol kesehatan di pemakaman di Pangkalan Kerinci. Tap, sebelum dimakamkan, seluruh management RSUD Selasih, telah memberikan penghormatan terakhir dengan melaksanakan salat jenazah berjamaah di RSUD Selasih

"Kami sangat kehilangan dan berduka, sebab ada seorang dokter spesialis di RSUD Selasih yang meninggal dengan status terkonfirmasi positif Covid 19, yakni dokter Yulia Santi," kata  Direktur RSUD Selasih, Chairul Hamdi kepada katakabar.com di ruang kerjanya, pada Kamis (17/6).

Diceritakan Direktur ini, dokter Yulia Santi, tercatat satu- satunya dokter spesialis penyakit dalam yang menangani proses cuci darah (hemodiolisa) di RSUD sesuai dengan sertifikasi yang dimilikinya. Dan kepergian beliau selamanya, untuk sementara waktu pihaknya terpaksa mengalihkan pelayanan hemodiolis ke RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru.

"Dokter Yulia Santi, telah lama menderita gangguan penyakit kanker payudara cukup kronis. Bahkan, untuk menjalani pemulihan kesehatan, pada awal Juni lalu, telah mengajukan cuti untuk menjalani kemoterapi di RS Jakarta pada 20 Juni mendatang.

"Dari awal Juni lalu, almarhumah dokter Yulia Santi sudah tidak masuk bekerja disebabkan minta izin cuti untuk kemoterapi di RS Jakarta pada 20 Juni mendatang. Tapi karena beliau komorbid, sehingga sangat rentan tertular Covid 19 dan akhirnya meninggal dunia," bebernya.

Soal penularan virus yang dialami dokter Yulia Santi, Khairul tidak mengetahui secara pasti dokter yang tertular dari mana. Pihaknya mengetahui sebelum wafat kontak dengan 10 orang, dan sudah swab PCR tapi masih menunggu hasil.

"Sedih sekali kepergian dokter Yulia Santi ini. Dimana, dua pekan sebelumnya dokter Yulia Santi menemani mendiang suaminya yang dirawat di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru dengan diagnosa penyakit Hepatitis B. Tapu baru sepekan dirawat, sang suami akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RSUD Pekanbaru dengan status negatif Covid 19," paparnya.

Kepergian sang suami sambung Direktur, membuat kondisi dokter Yulia Santi menjadi lemah dan ngedrop. Pada Minggu (14/6) siang lalu, mendiang mendatangi RSUD Selasih untuk memulihkan kondisi kesehatannya. Sebelum masuk ruang perawatan, sesuai standar penanganan Covid 19, pihaknya melakukan pemeriksaan rapid antigen yang hasilnya reaktif. Dan dilanjutkan dengan tes swab PCR yang hasilnya positif.

"Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal, mendiang kami rujuk ke RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru. Setelah dua hari menjalani perawatan, kondisi kesehatan beliau semakin memburuk. Apalagi beliau menderita penyakit penyerta yang berbahaya kanker payudara, dan pada Selasa (15/6) malam lalu, dokter Yulia Santi akhirnya meninggal dunia dalam kondisi terkonfirmasi positif Covid 19," tandasnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait