Nikmati Indahnya Imlek di Klenteng Siak

Siak, katakabar.com - Warga Tionghoa Kabupaten Siak bergembira ria menyambut tahun baru Imlek 2020, yang jatuh pada Sabtu (25/1) besok. Mereka sibuk membersihkan rumah, memasang lampion merah dan memasak makanan serta kue bakul.

Kue bakul ini seperti manisan, merupakan kue tradisional warga Tionghoa yang harus ada saat perayaan Imlek. Kue ini rasanya manis, sebagai lambang kesenangan dan harus bermanis-manis saat perayaam Imlek tiba. 

"Kami juga bikin kue bakul, karena ini kue yang ada sejak zaman leluhur kami," kata Alung, warga Tionghoa Siak, Kamis (23/1).

Selain memasak kue, warga juga membersihkan klenteng Hock Siu Kiong Siak. Klenteng ini merupakan klenteng tertua kedua di Provinsi Riau setelah klenteng Hock Ann Kiong di Bengkalis. Klenteng Hokc Siu Kiong dibangun pada 1879, 3 tahun lebih muda dari klenteng Hock Ann Kiong Bengkalis, yakni pada 1868.

Di pekarangan klenteng yang berada di Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak ini dihiasi lampion merah. Ya, perayaan Imlek tidak meriah bila tanpa lampion merah. 

Di Klenteng ini pula pusat kegiatan Imlek hingga malam Cap Go Meh di Kabupaten Siak. Seluruh warga Tionghoa, pun warga lain mendatangi klenteng. Warga Tionghoa Siak bakal menyambut tahun baru Imlek dengan cara spesial tahun ini.

"Malam ini, sehabis makan malam bersama di rumah masing-masing, kami pergi ke klenteng. Kami ikut karaoke menjelang pukul 00.00 WIB," ujar Acau (47), warga Siak.

Pada detik-detik malam pergantian tahun, warga Tionghoa bakal menyalakan kembang api, tanda kemeriahan Imlek telah tiba. Bersamaan dengan itu, warga akan melaksanakan sembahyang. Waktu sembahyang Imlek ini sepanjang subuh dan siang dan hingga malamnya.

"Warga tidak akan henti datang sembahyang ke klenteng mulai pukul 00.00 WIB, pukul 02.00 WIb pukul 03.00 subuh, pagi siang sore hingga malam," kata Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (SMPTI) Siak, Harvianto kepada katakabar.com, di Siak.

Ia pun menceritakan kebiasaan warga Tionghoa Siak dalam menyambut Imlek. Warga Tionghoa sangat bergembira menanti Imlek tiba. Mereka menyiapkan makanan, pakaian baru, bersih-bersih rumah minimal selesai 2 hari jelang Imlek. Agar sehari jelang Imlek bisa fokus berkegiatan di klenteng.

"Kue bakul memang sudah menjadi kebudayaan kami sejak lama dan diwariskan secara turun temurun," ujar pria berkacamata itu.

Ia juga mengatakan, saat ini klenteng Hock Siu Kiong 100 persen siap dijadikan sebagai pusat perayaan Imlek di Siak. Pas malam karaoke dan penyambutan Imlek, juga dibebaskan bagi warga lain yang datang ke Klenteng.

"Sebelum jam 12 malam hanya karaoke bersama para keluarga warga Tionghoa, masuk Imlek baru sembahyang," kata dia.

Hari pertama Imlek, yakni Sabtu 25 Januari warga juga akan sembahyang ke klenteng. Sedangkan peletusan kembang api merupakan budaya dalam setiap perayaan Imlek.

"Ini sebagai lambang kemeriahan dan pemberitahuan bahwa Imlek telah tiba, kita semua harus bergembira," kata dia.

Hari kedua hingga hari ke 14 merupakan ajang silaturrahmi ke rumah-rumah keluarga. Sedangkan pada hari ke 15 atau malam Cap Go Meh digelar kegiatan besar-besaran.

"Perlu saya terangkan juga, tentang kue bakul tadi itu tidak boleh dibuat oleh warga yang mengalami kemalangan. Termasuk lampion merah tidak boleh dipasang jika sedang mengalami kemalangan. Sebab warna kemalangan di budaya Tionghoa hanya hitam dan putih. Merah ada lambang keceriaan dan kue bakul kue yang manis," kata dia.

Selain itu, merayakan Imlek di Siak menjadi kerinduan seluruh perantau Tionghoa Siak. Pada suasana Imlek ini perantau-perantau yang ada di Pekanbaru, Jakarta, Surabaya, Medan, Makasar dan luar negeri pun pulang sebelum Imlek tiba. 

"Hari ini, sanak saudara kita sudah ada yang pulang, ngumpul di rumah masing-masing sampai malam cap go meh," kata mantan anggota DPRD Siak ini.

Cap Go Meh di Siak Paling Meriah

Sejak puluhan tahun silam, penutupan Imlek atau Cap Go Meh paling meriah di Siak. Sebab, warga cap go meh di Siak digelar lebih meriah dibanding hari pertama Imlek. Warga Tionghoa Siak merayakan cap go meh dengan menggelar sejumlah kegiatan.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada hari ke 15 kita mendatangkan artis Tionghoa asal Malaysia. Pada siangnya kita adakan pawai Tatung," kata Harvianto.

Pawai Tatung merupakan sebuah ritual pembersihan kota atau jalan-jalan dari roh jahat. Pesertanya akan dirasuki roh-roh selama pawai berlangsung. Pawai ini juga diiringi oleh barongsai naga. 

"Siapa saja dan dari suku mana saja boleh ikut pada pawai ini. Terbuka kami buat, demi kebersamaan," kata dia.

Menurut Harvianto, sebagaimana tahun yang sudah-sudah, warga Tionghoa dari berbagai daerah datang ke Siak untuk mengikui pawai tatung dan malam penutupan Imlek.

"Ini yang membuat Siak lebih istimewa dibanding daerah lain pada hari Cap Go meh. Kegiatan ini sudah menjadi agenda sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu," kata dia.

Sebagai Ketua PSMTI Siak, ia mewakili masyarakat Tionghoa Siak, mengharapkan cap go meh ini dilaksanakan ke depannya lebuh besar lagi. Ia mengharapkan dukungan penuh dari Pemda Siak melalui Dinas Pariwisata. 

"Kalau ini di-support Dina Pariwisata Siak, mudah-mudahan kedepan kita bisa menyamai Rohil dengan bakar tongkangnya dan Meranti dengan cian cui-nya (perang air)," kata dia.

Pawai Tatung bisa menjadi iven budaya bagi perkembangan wisata Siak, sebab sudah terlaksana secara budaya sejak ratusan tahun lalu. 

"Kenapa kita berani mengatakan itu, karena setiap cap go meh, 2 hari sebelumnya semua daerah lain sudah datang ke Siak. Mereka minta dibookingkan hotel. Mungkin ditingkat nasional, di Siak lah yang paling meriah," kata dia.

Sayangnya, selama ini belum mendapat dukungan dari Pemda, sehingga belum masuk agenda pariwisata. Padahal, pawai Tatung bisa menjadi destinasi wisata iven budaya di Siak.

"Selama ini kegiatan hanyalah swadaya kami warga Tionghoa di Siak. Kami yakin sekali jika pawai tatung dan malam cap go meh disupport oleh Pemda Siak, akan seramai bakar tongkang atau setidaknya seramai perang air di Meranti," kata dia.

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait