Pelaku Pembunuhan Siswi SMPN Bernas Terancam 20 Tahun

Pelalawan, katakabar.com - Kasus pembunuhan Intan Aulia Sari umur 14 tahun, siswi SMPN Bernas Pangkalan Kerinci, mayatnya ditemukan membusuk di Jalan Lintas Bono (Jalinbon) Desa Dundangan Kecamatan Pangkalan Kuras, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Pelalawan, Senin (15/03) lalu.

Sidang perdana tersebut menghadirkan pelaku anak tunggal, teman dekat korban, bernama MAA umur 17 tahun.

Remaja masih di bawah umur, menjalani sidang tertutup dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dari Polres Pelalawan, guna mengantisipasi kemarahan keluarga korban dan warga lainnya.

Pelaku, MAA tampak tertunduk saat duduk di kursi pesakitan kali pertama, guns pertanggung jawabkan perbuatannya yang telah melawan aturan hukum, menghilangkan nyawa seorang gadis remaja. Tersangka ini masih berstatus pelajar di salah satu SMA Pelalawan diduga nekat melakukan pembunuhan terhadap Intan Aulia Sari dengan motif diminta pertanggung jawaban.

Sidang kasus pembunuhan anak dengan agenda pembacaan dakwaan dan pemeriksaan saksi-saksi tersebut, dipimpin majelis hakim, Abraham ginting, didampingi Dedi Alparesi dan Angel sebagai hakim anggota.

Jaksa Penuntut Anak dari Kejari Pelalawan, Syafrida, dan Ray Leonardo. Penasihat hukum anak dari Posbakum, Sandi Baiwa dan panitera pembantu, Desi Wulandari.

Kepada katakabar.com Rabu,(17/3),

Kepala Kajari Pelalawan, Silpia Rosalina lewat Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Pelalawan, Sumriadi menjelaskan, sidang kedua pelaku anak pembunuhan pejalar SMPN Bernas dimulai pukul 11.30 WIB. Diawali dengan pembacaan Surat Dakwaan yang dilakukan secara virtual.

Lantaran, Kuasa hukum anak dari Posbakum, Sandi Baiwa tidak melakukan eksepsi disebabkan dakwaan sudah sesuai, dan sidang di skor.

Sidang kembali dibuka pada pukul 15.30 WIB dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi secara tatap muka langsung secara tertutup.

"Saksi, M Syahputra dan Eva Sari selaku pihak keluarga korban. Persidangan dilakukan secara tertutup ini dihadiri orangtua pelaku, Penasihat Hukum Anak, Pihak Bapas, Jaksa Penuntut Anak, Majelis Hakim Anak," ceritanya.

Mantan Kasi Barang Bukti dan rampasan Kejari Siak ini menambahkan, meski masih berstatus anak di bawah umur dan tunduk pada peradilan anak, terdakwa MAA tidak mendapatkan diversi. Soalnya, ancaman hukuman pelaku ini lebih dari tujuh tahun penjara atau maksimal 20 tahun penjara.

"Anak yang berhadapan dengan hukum tetap disangkakan melanggar Pasal 80 Ayat (3) Jo Pasal 76 C UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak dan atau Pasal 338 KUHP Jo UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak," tandasnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait