Soal Jalan Rangau Rusak Berat

PHR dan BP 'Lamban' Picu Masyarakat Dua Desa di Barat Duri Bergolak

Duri, katakabar.com -  Manajemen PT Pertamina Hulu Rokan dan Bisnis Partner (BP) terkesan lamban picu masyarakat dua desa, Petani dan Buluh Manis, Kecamatan Bathin Solapan Kabupaten Bengkalis bergolak, dan melakukan aksi9 demo tuntut perusahaan plat merah tersebut segera perbaiki dan merawat ruas Jalan Rangau multi fungsi sebagai jalur lintas ke wilayah dua kabupaten, yakni Rokan Hilir dan Hulu yang alami rusak berat, pada Sabtu (21/5) pagi hingga siang.

Aksi demo yang diikuti hampir dua ratusan orang masyarakat menuntut PT PHR dan BP segera perbaiki dan rawat ruas Jalan Rangau yang mengalami rusak berat dari kilometer 6 hingga kilometer 23 mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.30 WIB digelar pada titik berbeda di kawasan Jalan Rangau kilometer 14 dan kilometer 15 pasnya di depan GS Pematang, dengan cara stop sementara puluhan dum truk bermuatan tanah timbun yang melintas, dan parkirkan di lahan kosong sebelah kanan Jalan Rangau dari arah kilometer 10 ke simpang Jurong.

"Aksi demo ini spontanitas dari masyarakat buntut dari pertemuan-pertemuan sebelumnya antara pihak Ninik Mamak Serantau dua desa dengan pihak PT PHR dan BP di kantor Desa Petani beberapa bulan lalu terkait aspirasi dan keluahan masyarakat agar ruas Jalan Rangau rusak berat diperbaiki dan dirawat," ujar salah seorang tokoh masyarakat dua Desa, Sukardi saat pertemuan dengan pihak perwakilan PT PHR dan BP, Lufi dan Parhan serta Herman H di lokasi aksi demo.

Dijelaskan Sukardi, menindaklanjuti pertemuan beberapa bulan lalu, atas nama pemuda dari Dua Desa sudah menyurati manajemen PT PHR dan BP di bulan Ramadhan lalu. Tapi, surat yang dilayangkan pemuda dengn keluhan masyarakat yang sama kurang ditanggapi manajemen PT PHR dan BP.

Hal itu, jadi pemicu masyarakat dua desa melakukan aksi demo spontan dengan cara menghentikan sementara operasional dum truk yang mengangkut tanah timbun melintas di Jalan Rangau. Memang, selepas pertemuan antaran Ninik Mamak Serantau dua desa dan manajemen PT PHR dan BP sudah dilakukan perbaikan di titik tertentu, tapi itu tidak maksimal.

"Kalau masyarakat tidak melakukan aksi demo ini belum tentu keluhan mengenai ruas Jalan Rangau rusak berat ditanggapi," tegasnya.

Sebelum aksi demo spontan dilakukan masyarakat sambung mantan Ketua BPD Desa Petani ini, kita sudah izin dan koordinasi dengan Kepada Desa Petani, Rasikun dan Kepala Desa Buluh Manis, Legimun.

Jadi, aksi demo ini digelar penuh pertimbangan. Apalagi pada Jumat (20/5) sejumlah sepeda motor berjatuhan saat melintas, dan ada pula sebuah mobil nyaris tabrak warga disebabkan ruas jalan licin setelah hujan deras turun. Peristiwa ini puncaknya membuat aksi demo spontan digelar tujuannya agar manajemen PT PHR dan BP segera perbaiki dan rawat ruas Jalan Rangau yang rusak parah secara maksimal sesuai keinganan masyarakat.

Selain rawan terjadi laka lantas disebabkan ruasa Jalan Rangau rusak. debu jalanan beterbangan setelah perbaikan kurang maksimal berdampak kepada kesehatan masyarakat terutama anak-anak masih bawah lima tahun, dan membuat kotor ragam dagangan serta peralatan rumah tangga masyarakat khusus yang berada di pinggir Jalan Rangau.

"Hal itu tidak terlepas dari tidak opimalnya penyiraman yang dilakukan pihak BP PT PHR. Untuk itu, saya beraharap hasil pertemuan ini dibuat berita acaranya secara tertulis agar masyarakat bisa menagih bila hasil kesepakatan tidak terealisasi ke depan," jelasnya.

Warga lajnnya, Suhardi menimpali, ada tiga keluhana masyarakat dua desa mendesak mesti diperhartikan PT PHR dan BP, yakni memperbaiki ruasa Jalan Rangau rusak berat, penyiraman badan jalan agar tidak berdebu, dan kurangi kecepatan dum truk yang mengangkut tanah timbun menjadi 10Km per Jam dari kecepatan 40Km per Jam.

"Masyarakat dua desa sangat menderita disebabkan Jalan Rangau rusak berat disebabkan debu berterbangan selama beberapa bulan belakangan lantaran kurang tanggapnya manajemen PT PHR terhadap keluahan masyarakat," bebernya.

Perwakilan PT PHR, Luffi didampingi Parhan mengatakan, terkait tuntutan masyarakat dua desa, seperti jalan berlubang sebabkan laka tunggal, dan lainnya.

"PT PHR bekerja selalu patuh dengan aturan. Bisa jadi aturan tidak seimbang dengan kemauan masyarakat," katanya.

Soal perbaikan jalan dilakukan waktu dekat, yakni beberapa minggu ke depan tapi bukan aspal. Untuk perbaikan aspal bakal dilakukan bukan waktu dekat lantaran masih ada proyek, dan perlu kontrak baru dan belum bisa hingga Agustus 2022 ini, sebutnya.

Kenderaan Odol yang melintas di Jalan Rangau tambah Luffi, tidak cuma kenderaan operasional BP PT PHR tapi masih ada kenderaan Odol lainnya yang melintas.

"Kepada masyarakat mari bersama-sama mengawasi kenderaan Odol di luar kenderaan operasional BP," imbaunya.

Soal Jalan Rangau masih jalan PT PHR, setahu saya belum diserahkan ke Pemda. Begitu pun di pertemuan ini, kami tidak boleh membuat komitmen mengenai pertemuan. Kecuali ada kuasa dari manajemen.

Sedang, Parhan membenarkan tidak ada wewenang atau kuasa membuat komitmen. PT PHR masih beroperasi tak usah khawatir dan kita bisa berkomunikasi meski personelnya bergant suatu saat nanti.

Editor : Sahdan

Berita Terkait