PLN Berikan Diskon 30 Persen Buat Pengguna Kendaraan Listrik

Jakarta, katakabar.com - Perusahaan Listrik Negara (PLN) berkomitmen dorong ekosistem Kendaran Listrik Bermotor Berbasis Baterai (KBLBB) terus digulirkan lewat program-program yang memberikan kemudahan bagi pengguna kendaraan listrik.

Selain pastikan pasokan listrik cukup, PLN menghadirkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Aplikasi Charge.IN, PLN bakal memberikan stimulus berupa diskon 30 persen bagi pengguna kendaraan listrik.

Insentif Diskon Tarif Tenaga Listrik diberikan buat pengguna kendaraan listrik yang melakukan pengisian daya kendaraan listriknya di rumah pada pukul 22.00 WIB hingga pukuk 05.00 WIB, selama 7 jam dengan layanan home charging yang terkoneksi dengan PLN.

"Charging from Home (CFH ) lebih aman, mudah dan murah dalam berkendara."

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan, Bob Saril menilai komposisi pengisian daya kendaraan listrik lebih banyak dilakukan di rumah. Lantaran itu, PLN siapkan infrastruktur pengisian daya untuk di rumah pelanggan beserta stimulus penggunaan listriknya.

"Hadirnya stimulus berupa diskon ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia," ujarnya.

Diceritakan Saril, kami segera melaunching produk layanan Home Charging dengan memberikan stimulus khusus bagi pengguna kendaraan listrik. Kemudahan ini bakal mendorong orang semakin banyak beralih ke kendaraan listrik, biar ekosistemnya semakin berkembang.

"PLN bakal memberikan beberapa insentif, seperti stimulus Biaya Penyambungan untuk Tambah Daya," ulasnya.

Nah, bagi pemilik instalasi listrik privat dan Badan Usaha SPKLU dan SPBKLU berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020, bakal ada penetapan parameter atau insentif khusus, pertama penetapan tarif Curah bagi Pemilik Instalasi Listrik Privat untuk Angkutan Umum, Badan Usaha SPKLU, dan Badan Usaha SPBKLU.

Kedua, penetapan faktor pengali sebesar 1,5 bagi pemilik KBL yang mengisi daya di SPKLU PLN.

Ketiga, pembebasan rekening minimum selama dua tahun pertama dari pendaftaran ID Pelanggan SPKLU atau SPBKLU pemegang IUPTL Penjualan, dan pemilik instalasi listrik privat.

Keempat, keringanan biaya penyambungan tambah daya atau pasang baru bagi SPKLU atau SPBKLU pemegang IUPTL Penjualan dan pemilik instalasi listrik privat,

Kelima, keringanan jaminan langganan tenaga listrik bagi SPKLU atau SPBKLU pemegang IUPTL Penjualan dan pemilik instalasi listrik privat.

Hingga kini PLN sudah membangun 32 titik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 22 lokasi tersebar di 12 kota, serta 33 titik Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) tersebar di 3 kota, meliputi Banten, Bandung, dan Bali.

PLN sudah pula meluncurkan platform Charge-IN, sebagai sistem terintegrasi pengisian baterai tenaga listrik, yang menggabungkan sistem pembayaran, penyediaan informasi titik pengisian, yang memberikan kemudahan bagi pengguna kendaraan listrik.

PLN pun melakukan penyusunan roadmap pengembangan SPKLU, dimana diproyeksikan jumlah kumulatif SPKLU beserta jumlah estimasi jumlah Kendaraan listrik berbasis baterai (KLBB) pada tahun 2031 mendatang, sebanyak 31.866 SPKLU yang melayani 327.681 Kendaraan bermotor listrik.

PLN sudah melakukan penyusunan _roadmap_ pengembangan SPBKLU. Diproyeksikan pada tahun 2030 terdapat 4,6 juta kendaraan listrik R2 di Indonesia pada tahun 2030. Dengan asumsi 50 persen KBLBB R2 adalah battery swap user, diproyeksikan terdapat kebutuhan 2,1 juta battery pack dan 67.000 battery cabinet pada tahun 2030 di dalam ekosistem SPBKLU.

Terus, PLN sinergi bersama Antam, Mind Id, dan Pertamina mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dengan membangun Indonesia Battery Corporation.

“Langkah-langkah tersebut upaya PLN untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik yang ramah lingkungan di Indonesia,” jelas Bob.

Dari awal, PLN percaya dan optimis kendaraan listrik keniscayaan dan menjadi pilihan terbaik dalam sistem transportasi masa depan.

Kendaraan listrik adalah bentuk inovasi manusia untuk mencari solusi atas penggunaan BBM yang bersifat non-renewable, menimbulkan pencemaran lingkungan, dan sebagainya. Di masa depan, manusia memerlukan hidup di bumi yang udaranya lebih bersih dan menggunakan energi yang sumbernya terbarukan, tambahnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait