Polisi Mulai Membidik Tersangka 'Penzaliman' Panwascam Batam Kota

  • Reporter: Panca
  • 18 November 2020, 13:14:40 WIB
  • Politik, Hukrim, Nusantara

Batam, katakabar.com - Kasus penganiayaan terhadap Ketua Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Batam Kota, Batam, Kepri, oleh gerombolan oknum pendukung pasangan calon (paslon) Gubernur Kepri masih diselidiki polisi.

Untuk mencari dan kemudian menetapkan tersangka, Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau (Kepri), menggelar pra rekonstruksi kasus tersebut di lokasi kejadian, di Pertokoan Center Park, Batam Kota, Batam, Senin (17/11).

Komisioner Bawaslu Kepri, Said Abdullah Dahlawi mengungkapkan, pihaknya telah menyerahkan secara penuh proses hukum kasus tersebut kepada pihak kepolisian.

“Bawaslu Provinsi dan Kota meminta kepada pihak kepolisian, agar kasus ini diusut tuntas dan menyeret para pelaku ke meja persidangan untuk diadili,” kata Said, Rabu (18/11).

Menurutnya, yang dilakukan oleh para gerombolan pendukung pasangan calon gubernur Kepri Suryo-Iman itu sangat mencedrai proses pemilihan kepala daerah secara demokrasi.

Dikatakan Said, Ketua Panwascam Batam Kota, Salim, dianiaya oleh gerombolan massa pendukung calon gubernur dan wakil gubernur Kepri nomor urut 1 tersebut pada Kamis (12/11) lalu. Penganiayaan dilakukan saat korban sedang menjalani tugasnya.

“Untuk sanksi yang akan diberikan kepada pasangan calon terhadap aksi main hakim sendiri ini, Bawaslu Kepri sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada Bawaslu Kota Batam. Tapi, kalau kasus ini diserahkan ke Bawaslu Provinsi, tentu kita akan mengambil tindakan tegas kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur tersebut,” ujarnya.

Namun, kata Said, apabila insiden ini terbukti masuk dalam unsur pidana murni atas aksi penganiayaan dan juga menghalang-halangi tugas penyelenggara pemilihan kepala daerah, akan berurusan dengan pihak kepolisian dan menjalani proses hukum.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri Kombes Pol Arie Dharmanto mengatakan, pihaknya sudah melakukan pra rekontruksi dugaan penganiayaan tersebut.

“Pra rekontruksi sengaja dilakukan sebagai penyesuaian antara fakta yang terjadi di lapangan dengan hasil pemeriksaan saksi-saksi," kata dia.

Arie juga mengatakan, insiden penganiayaan itu terjadi diduga setelah korban menegur massa Paslon yang tidak menghiraukan protokol kesehatan saat berkampanye. 

Editor : Sahril

Berita Terkait