Polres Inhu Gulung Sindikat Pembunuh Gajah

Pekanbaru, Katakabar.com - Personel Polres Indragiri Hulu menciduk 2 orang pemburu gading gajah. Dari tangan kedua pelaku inisial SKR (29) dan ANR (52) itu, polisi menyita sepasang gading gajah berserta senjata api.

“Keduanya ditangkap setelah petugas menyelidiki kasus ini sekitar dua bulan lamanya. Para pelaku tega membunuh gajah untuk mendapatkan gading tersebut,” ujar Kapolres Indragiri Hulu, AKBP Efrizal, Senin (3/8).

Gajah itu dulunya ditemukan mati di Kelurahan Simpang Kelayang Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Saat itu, gading sudah hilang, dengan bangkai gajah tergelatak di semak-semak. Dari kejadian itu, polisi melakukan penyelidikan lalu berhasil menangkap pelaku.

"Dua tersangka berhasil kita tangkap pada awal Juli lalu di lokasi yang berbeda. Penyelidikan memang cukup lama, sekitar dua bulan sejak bangkai Gajah ditemukan pada 15 April 2020 lalu," jelas Efrizal.

Pelaku ANR yang merupakan warga Sikakak Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuansing berhasil dicokok di Simpang Pematang Ganjang Kecamatan, Sungai Rampah Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Sedangkan SKR ditangkap ditempat persembunyiannya yakni di pondok miliknya di Desa Paku Satu Kecamatan Kelayang, Inhu.

"Petugas sampai berangkat ke provinsi tetangga untuk mengejar pelaku ANR. Namun ada satu orang pelaku lainnya yang saat ini masih DPO, yakni ARK. Kita terus memburu pelaku," ucap perwira menengah jebolan Akpol tahun 2000 itu.

Polisi sangat hati-hati saat melakukan penangkapan. Sebab, pelaku memiliki senjata api yang bisa membahayakan petugas. Hingga akhirnya, pelaku tak berkutik saat diminta untuk tidak melawan.

Dari tangan kedua pelaku, polisi menyita satu pucuk senjata api rakitan laras panjang, 29 butir amunisi aktif, sebutir selongsong peluru, 2 helai goni plastik kecil, sebuah tas kecil, sebatang batu asah berukuran kecil, sebuah jerigen berukuran kecil.

“Serta sepasang gading gajah dengan ukuran gading sebelah kiri panjang 95 cm dan lingkar maksimal 26 cm, gading sebelah kanan dengan panjang 94 cm dan lingkar maksimal 27 cm, sebuah tengkorak gajah, sebutir proyektil amunisi, sebilah kapak, sebilah parang dan sebuah senter,” terang Efrizal.

Belakangan diketahui, ANR dan ARK (DPO) merupakan resedivis dalam kasus yang sama di Kabupaten Pelalawan dan Bengkalis pada tahun 2015 silam.

Polisi menjerat tersangka SKR dengan pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan b undang – undang RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHPidana jo Pasal 1 ayat (1) UU Darurat RI nomor 12 tahun 1951.

“Bunyi pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan b yaitu setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. Dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta,” tegas Efrizal.

Sedangkan pasal 1 Ayat (1) UU Darurat RI Nomor 12 tahun 1951 berbunyi “Barang siapa tanpa hak menyimpan senjata api, dikarenakan barang bukti berupa senjata api didapat dari tersangka. Dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup”.

Sementara, untuk tersangka ANR juga dikenakan pasal 40 ayat (2) Jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan b undang- undang RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 100 juta.

"Kedua pelaku kita tahan untuk pemeriksaan lebih lanjut, sedangkan satu pelaku lain masih diburu," tandasnya.

 

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait