Presiden Prancis Akui Tak Siap hadapi Corona, Lockdown Sampai 11 Mei

Katakabar.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin malam mengumumkan perpanjangan lockdown di seluruh wilayah hingga 11 Mei untuk mencegah penyebaran virus corona. Dia mengatakan, kemajuan telah dibuat tetapi pertempuran belum dimenangkan. Lockdown itu seharusnya berakhir

Langkah Macron ini mengikuti keputusan Italia dan Spanyol yang memperpanjang masa karantina wilayah. Macron juga menegaskan, tidak ada pelonggaran pembatasan seperti di Spanyol karena saat ini situasi di wilayah Paris dan Prancis timur masih kritis.

Sejak 17 Maret, 67 juta orang Prancis telah diperintahkan untuk tinggal di rumah kecuali untuk membeli makanan, pergi bekerja, berobat atau berolahraga sendiri. Lockdown itu awalnya dijadwalkan berakhir pada hari Selasa 14 April.

"Saya sepenuhnya memahami pengorbanan yang saya minta dari Anda," kata Macron dalam pidatonya yang disiarkan televisi dan menambahkan aturan yang berlaku saat ini telah berhasil.

"Kapan kita bisa kembali ke kehidupan normal? Saya ingin sekali dapat menjawab Anda. Tapi jujur saja, saya harus dengan rendah hati memberi tahu Anda bahwa kami tidak memiliki jawaban yang pasti," tutur Macron.

Janjikan Pembukaan Sekolah 11 Mei

Macron mengatakan, sekolah-sekolah dan toko akan dibuka kembali secara bertahap pada 11 Mei. Namun restoran, hotel, kafe, dan bioskop harus ditutup lebih lama. Demikian juga penerbangan internasional dari negara-negara non-Eropa akan tetap dilarang sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Macron, yang pemerintahnya menghadapi kritik karena kekurangan masker dan alat tes, mengatakan bahwa pada 11 Mei, Prancis akan dapat menguji siapa saja yang menunjukkan gejala Covid-19 dan memberikan masker non medis kepada publik.

Macron juga mengatakan dia telah meminta pemerintahnya untuk memberikan bantuan keuangan tambahan minggu ini untuk keluarga dan siswa yang membutuhkan.

Akui Tidak Siap

Dalam pidatonya itu juga, Macron mengakui pemerintahannya tidak siap menghadapi pandemi virus corona ini.

"Apakah kita siap untuk krisis ini? Tapi kami bertahan. Saat ini, jujur saja, ada celah, kekurangan. Seperti setiap negara di dunia, kami tidak memiliki sarung tangan, gel tangan, kami belum mampu memberikan masker sebanyak yang kami inginkan kepada tenaga kesehatan kami."

Pengakuan Macron tentang kekurangannya dalam menghadapi wabah corona ini mendapat tanggapan positif dan diterima kalangan luas.

"Tidak setiap hari Anda mendengar seorang presiden menawarkan mea culpa (pengakuan salah) dan berani mengatakan 'kami tidak memiliki jawaban yang pasti.' Menenangkan dan ketulusan yang diperlukan," kata analis Maxime Sbaihi dari think tank GenerationLibre.

Hingga Senin (13/4), virus corona telah merenggut 14.967 jiwa di Perancis, jumlah kematian tertinggi keempat di dunia, dengan lebih dari 98.076 kasus dikonfirmasi.

"Kami akan mengalami hari yang lebih baik, dan kami akan kembali ke hari-hari bahagia," kata Macron. Merdeka.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait