Pria Singapura Mengaku Jadi Mata-Mata China di AS

Katakabar.com - Seorang pria Singapura bernama Jun Wei Yeo, 39 tahun, mengaku bersalah di Washington, Amerika Serikat, karena dia bekerja sebagai agen mata-mata China. Peristiwa ini bisa kian meruncingkan hubungan China-AS yang saat ini sudah memanas.

Jun Wei Yeo yang juga dikenal dengan nama Dickson Yeo, dua hari lalu mengaku bersalah di pengadilan federal Washington karena bekerja sebagai agen mata-mata ilegal untuk pemerintah China pada era 2015-2019, demikian pernyataan Departemen Kehakiman AS, seperti dilansir laman BBC, Sabtu (25/7).

Dia sebelumnya didakwa memanfaatkan kantor konsultan politiknya sebagai alat untuk mengumpulkan informasi bagi intelijen China.

Di pengadilan dia mengaku mengawasi warga AS yang punya jabatan tinggi dan meminta mereka menulis laporan untuk klien palsu. Menurut dokumen pengadilan, dia direkrut oleh intelijen China pada 2015 setelah memberikan presentasi tentang situasi politik di Asia Tenggara di Beijing.

Pada saat itu dia adalah seorang siswa PhD di universitas bergengsi di Singapura.

Menurut pernyataannya di pengadilan, Yeo me memakai situs jaringan profesional diduga LinkedIn untuk menghubungi target potensial yang kemungkinan memiliki akses terhadap informasi sensitif.

Yeo ditangkap pada November tahun lalu ketika dia berangkat ke AS untuk meminta pejabat Pentagon memberikan informasi rahasia.

Pengadilan menyebut Yeo bekerja atas arahan intelijen China selama empat hingga lima tahun dan menggunakan situs media sosial untuk mencari warga AS yang punya akses terhadap informasi, termasuk soal militer AS dan pegawai pemerintah AS yang punya jabatan tinggi.

Yeo merekrut mereka dan membayar mereka untuk menulis laporan dengan mengatakan laporan itu ditujukan bagi klien di Asia padahal dikirim ke pemerintah China.

Untuk melakukan itu semua Yeo diperintah intelijen China untuk menjalankan firma konsultasi palsu pada 2018 dan membuka lowongan kerja di situs perekrutan. Yeo mendirikan perusahaan konsultasi palsu itu menggunakan nama firma konsultasi AS yang terkenal yang menjalin hubungan dengan pemerintah dan menerima lebih dari 400 resume atau lamaran.

Sekitar 90 persen lamaran itu berasal dari militer AS dan pegawai pemerintah yang punya akses keamanan, kata Yeo, yang kemudian mengirimkannya kepada intel China jika dia menemukan hak yang menarik.

Merdeka.com

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait