Profit Taking Bikin Harga CPO Terkapar

Jakarta, katakabar.com - Harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) mengalami koreksi pada perdagangan hari ini, Selasa (28/7). Ada indikasi profit taking yang dilakukan oleh pelaku pasar mengingat harga sudah reli signifikan beberapa waktu terakhir. 

Pada 10.30 WIB harga CPO untuk kontrak pengiriman Oktober 2020 di Bursa Malaysia Derivatif melemah 1,2% ke RM 2.639/ton. Harga CPO sempat menyentuh level tertingginya di bulan ini pada 24 Juli lalu di RM 2.778/ton.

Harga minyak sawit Negeri Jiran turun mengikuti jejak minyak nabati pesaing yang juga diperdagangkan lebih murah di bursa komoditas Dalian dan Chicago.

Meski terkoreksi hari ini, harga CPO sesungguhnya telah naik selama tiga hari berturut-turut hingga Jumat pekan lalu. Harga mencapai level tertinggi dalam lima setengah bulan terakhir karena hujan lebat memicu kekhawatiran tentang output. 

"Harga minyak sawit turun karena aksi ambil untung," kata Anilkumar Bagani, kepala penelitian Sunvin Group, broker minyak nabati yang berbasis di Mumbai. 

"Minyak sawit menyesuaikan spread-nya dengan minyak kedelai yang juga ditekan oleh pemulihan dalam laju produksi minyak sawit," tambahnya.

Dua analis industri terkemuka mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa harga minyak sawit akan turun pada kuartal keempat karena tingkat produksi dan persediaan yang lebih tinggi. Ini juga menjadi sentimen yang meredam reli baru-baru ini. 

Di sisi lain pergerakan harga CPO juga turut dipengaruhi oleh nilai mata uang ringgit. Ringgit yang naik 0,1% terhadap dolar, membuat minyak sawit lebih mahal bagi pemegang mata uang asing sehingga mengurangi minat pembelian.

Ketegangan antara AS-China seputar penutupan konsulat di Houston dan Chengdu serta semakin merebaknya wabah virus corona turut menjadi sorotan pelaku pasar. Pasalnya dua kejadian tersebut telah membuat prospek perekonomian menjadi semakin suram.

Ketika perekonomian harus kembali tertekan, permintaan terhadap komoditas seperti CPO pun melambat, sehingga turut menekan harganya.

Sumber: CNBCIndonesia.com

Editor : Sahril

Berita Terkait