PSBB Jabar Akan Dilonggarkan, Ini Resiko yang Akan Ditimbulkan

Katakabar.com - Pelandaian kurva kasus Covid-19 di Jawa Barat mulai terjadi penurunan sejak beberapa hari terakhir. Senada dengan hal itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil pun merencanakan pelonggaran PSBB di Provinsi tersebut.

Namun pelonggaran tersebut tidak sepenuhnya baik, Badan Perencanan, Pengembangan dan Penelitian Daerah atau Bappelitbang membeberkan beberapa resiko yang bisa ditimbulkan akibat kurang matangnya proses pelonggaran atau relaksasi PSBB di Provinsi berpenduduk 50 juta jiwa tersebut.

Memungkinkan Memunculkan Gelombang Covid Baru

Dilansir dari Antara, Kepala Bappelitbang Kota Bandung, Ahyani Raksanagara menjelaskan jika selama pelaksanaan PSBB di wilayah Bandung Raya telah terjadi pelambatan reproduksi COVID-19. Semula berada di angka 1,14, pasca PSBB angka tersebut menurun menjadi 1,06.

Namun yang perlu dikhawatirkan adalah jika dilakukan pelonggaran PSBB di depan akan memunculkan gelombang peningkatan baru. Mengingat Covid-19 di Indonesia belum sepenuhnya menghilang.

"?Kalau ini (PSBB) dilonggarkan, yang terdepan adalah pengawasan terhadap implementasi dari upaya pencegahan baik individu ataupun institusi, maka pengawasan akan lebih berat," kata Ahyani di Balai Kota Bandung, Jumat, 15/5.

Lonjakan Covid-19 di Gelombang Berikutnya

Ahyani juga menyebutkan jika relaksasi PSBB perlu kajian Epidemiologi yang matang sesuai anjuran WHO. Salah satu syarat pelonggaran PSBB adalah jika dalam 14 hari terakhir angka reproduksi Covid-19 berada di bawah kurva 1, dan terus menurun maka relaksasi bisa diberlakukan.

Saat ini angka pertumbuhan Covid-19 masih diatas 1, sehingga sangat beresiko. Selain itu belum ditemukannya vaksin juga dimungkinkan akan memperparah dampak yang ditimbulkan tanpa antisipasi yang matang.

"Sarana harus masih tersedia, nah itu baru orang bisa melonggarkan. Karena kalau tiba-tiba ada gelombang yang agak naik, masih bisa tertahan," katanya

Covid-19 Baru Berakhir hingga 3 Tahun Ke depan

Sementara itu beberapa waktu lalu, pakar epidemiolog Universitas Padjadjaran Pandji Fortuna Hadisoemarto, juga menanggapi terkait pelonggaran PSBB di Jawa Barat dan beberapa daerah lain.

Dalam kesempatan tersebut Pandji juga mencontohkan dengan pemodelan pola persebaran Covid yang ia desain sendiri.

Menurutnya salah satu hal yang paling ditakutkan adalah munculnya gelombang baru yang lebih besar akibat lengahnya masyarakat yang menganggap Covid-19 sudah menghilang pasca pelonggaran PSBB

Ia mengungkapkan jika kelengahan tersebut bisa membuat pandemi Covid-19 gelombang berikutnya baru bisa teratasi sampai tiga tahun ke depan.

"Jadi permodelan saya itu membuat simulasi bagaimana COVID-19 akan menyebar di Jabar dengan skenario. Yang pertama skenarionya kondisi sekarang. Nampaknya, walau PSBB sudah berhasil menurunkan transmisi, tetapi masih ada sisa transmisi yang mana menyebabkan kita masih melihat ada kasus-kasus baru setiap hari," katanya.

Butuh Kedisiplinan Ketat dari Masyarakat

Ia menambahkan, jika kunci dari berkurangnya persebaran covid di Indonesia ada pada pergerakan masyarakat. Semakin sedikit aktivitas masyarakat di luar rumah, semakin cepat pandemi Covid-19 berlalu. Hal tersebut didapat berdasarkan pemodelan yang ia buat.

"Intinya apa? PSBB ini saya simulasikan dengan pengetatan sedikit lagi saja, itu kita bisa mempercepat habisnya wabah COVID di Jabar dalam waktu kurang dari satu bulan," ujarnya seperti yang dilansir Antara.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait