Republik Demokratik Kongo Epidemi Campak Terbesar di Dunia

Pekanbaru, katakabar.com – Sejak Januari 2019, lebih dari 288.000 orang menderita campak di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan lebih dari 5.700 meninggal karena penyakit itu. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ini adalah epidemi campak terbesar di dunia saat ini dan terbesar di DRC selama beberapa dekade. Upaya telah dilakukan di tingkat nasional, tetapi dibutuhkan lebih banyak sumber daya dengan cepat dan ditargetkan ke daerah-daerah yang masih menderita penyakit ini agar wabah ini dapat dihentikan.

Campak adalah penyakit yang sangat menular dan ditularkan melalui udara. Saat ini di DRC, seorang pasien campak menginfeksi rata-rata dua hingga tiga orang lainnya. Tidak ada pengobatan khusus setelah seseorang terkena campak. Pada 2019, campak menyebar ke 26 provinsi di negara ini.

“Ketika epidemi dinyatakan, perawatan medis dan vaksinasi harus digabungkan untuk menghentikan penyebaran penyakit,” kata Kepala Misi Médecins Sans Frontières (MSF)/Dokter Lintas Batas di DRC, Alex Wade dalam pernyataan yang diterima Gatra.com, Jumat (27/12).

Di sisi lain, kampanye vaksinasi yang dilakukan dengan baik sangat efektif untuk mencegah kasus baru. Di daerah dengan cakupan imunisasi rendah, vaksinasi dapat mengurangi angka kematian bayi hingga 50 persen.

Beberapa faktor berkontribusi terhadap penyebaran epidemi saat ini di DRC. Terdapat cakupan imunisasi yang sangat rendah di beberapa wilayah negara karena kurangnya vaksin, pemberi vaksin, atau akses ke struktur kesehatan. Selain itu, kehabisan stok vaksin campak, kesulitan dalam menjaga vaksin pada suhu yang tepat sampai injeksi (yang mengurangi efektivitasnya), dan kesulitan logistik dalam mendapatkan vaksin ke tujuan akhir. Kebutuhannya sangat besar dan program vaksinasi nasional tidak dapat mengikuti.

Epidemi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebanyak 9.605 kasus baru dilaporkan pada minggu terakhir bulan November, jumlah tertinggi sejak awal tahun. Tingkat kematian tahun ini, lebih dari 2%, dua kali lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Di mana, 73% kematian adalah anak-anak di bawah usia lima tahun.

“Sejak pertengahan November, otoritas kesehatan Kongo mulai kegiatan imunisasi tambahan campak di seluruh negeri. Sementara itu MSF terus memberikan perawatan medis gratis berkualitas kepada pasien. Tetapi untuk saat ini, epidemi masih beberapa langkah di depan dari respons medis-kemanusiaan,” jelas Wade.

MSF telah menyusun strategi pengawasan untuk mengidentifikasi area baru yang terkena dampak epidemi, untuk memulai intervensi sesegera mungkin. Sebagai contoh di Viadana, di Provinsi Bas-Uélé, sebuah tim kecil pergi untuk menilai situasi menyusul peningkatan cepat dalam jumlah kasus yang diberitahukan pada awal Desember. Apa yang mereka temukan di sana jauh melebihi data yang diterima. Di sebuah sekolah saja dengan sekitar 300 anak, lebih dari 100 siswa menderita campak.

Sistem serupa telah didirikan di empat provinsi ex-Katanga, di tenggara negara itu. Di sana, MSF telah membuat situs "sentinel" dan membangun laboratorium terdesentralisasi pada Oktober 2019 untuk menganalisis dengan cepat berbagai kasus yang diduga campak dan rubela. Sebelum itu, sampel harus dikirim jauh-jauh ke Kinshasa untuk dianalisis, yang membutuhkan waktu beberapa bulan.

MSF juga melakukan intervensi di Provinsi Kongo Tengah. Untuk mendukung otoritas kesehatan Kongo, organisasi itu membuka pusat perawatan pada 13 Desember untuk kasus campak yang rumit di rumah sakit umum di Matadi, ibu kota provinsi dan pelabuhan utama negara itu. Seminggu sebelumnya, tim lain telah membuka fasilitas serupa di lokasi yang beberapa jam perjalanan ke barat, di kota pesisir Muanda. Pusat perawatan ini kelebihan beban dalam beberapa hari setelah pembukaannya, dan tim harus pindah ke fasilitas yang lebih besar.

Sejak 2018, tim MSF telah bekerja untuk memberi pasien campak perawatan yang tepat dan melakukan vaksinasi di berbagai provinsi di negara ini termasuk Ituri, Haut dan Bas-Uélé, Tshopo, Kasai, Mai-Ndombe, Kwilu, dan Sud Ubangi. Antara Januari 2018 dan Oktober 2019, total 46.870 pasien dirawat, dan 1.461.550 anak-anak divaksinasi oleh tim MSF di 54 zona kesehatan.

Bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Kongo, MSF juga membantu memperkuat kegiatan vaksinasi campak di daerah-daerah di mana wabah Ebola terus menyebar. Hasilnya, di mana cakupan vaksinasi untuk penyakit lain telah menurun secara dramatis. Sayangnya, masih banyak daerah yang belum divaksinasi.

"Kegiatan imunisasi tambahan telah diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan Kongo, tetapi masih ada banyak zona kesehatan di mana wabah terus berlanjut. Kita harus menunggu sampai akhir vaksinasi ini untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang evolusi epidemi. Penting bagi organisasi-organisasi kemanusiaan dan responden lainnya untuk mengumpulkan semua upaya yang mungkin untuk membantu Kementerian Kongo," ujar Wade.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait