Sakai

“Kami bukan orang hutan. Dari dulu kami punya agama,”

Tadinya lelaki 86 tahun itu sudah mau beranjak tidur. Selain lantaran sudah malam, tubuhnya yang renta, belakangan sering sakit pula. Tapi giliran tahu apa yang bakal ditanyakan oleh katakabar.com saat bertandang ke rumahnya di kawasan Dusun Belading Desa Petani, Kecamatan Mandau, Minggu malam dua pekan lalu, ayah dua anak ini sontak bersemangat.   

Pakai lobe (kopiah) putih, berbaju hijau muda dan berkain sarung, Bomban Todung Biso atau yang sering disebut Bomban Petani ini keluar dari kamar dan langsung duduk berselonjor menyandar ke dinding. Namanya Musa. 

“Salah cara berfikir orang selama ini yang mengatakan kalau kami orang hutan. Kami bukan orang hutan, tapi kalau sumber kehidupan kami di hutan, itu benar. Dari dulu, kami punya agama,” meski tak nyaring, suara lelaki yang di Kartu Tanda Penduduk (KTP) berumur 91 tahun ini, kedengaran tegas.

Orang yang duduk di sekeliling Musa terdiam sembari memandangi wajah lelaki itu. Tak terkecuali anaknya Bukhori dan keponakannya, Matar. Keduanya mengapit Musa. Jadinya mereka sama-sama menunggu kelanjutan omongan Musa. 

Tak kurang dari satu menit, Musa mulai cerita tentang Imbang Jayo, lelaki asal Kerajaan Pagaruyung yang dia sebut sebagai cikal bakal orang Sakai di Riau. Bahwa dalam sebuah perkelahian, salah seorang kepala suku di Kerajaan Pagaruyung ini kalah dan lari menyusur sungai. 

Tadinya Imbang Jayo mau kabur ke tanah seberang, Selangor.  Tapi sampai di Sungai Jantan (Siak), persis di kawasan istana raja, biduk yang dia tumpangi malah tasakek (tertahan). “Dia suku Sikumbang. Ayah saya pun Sikumbang. Nah, pas tasakek tadi, kerajaan Siak memberinya ruang untuk tinggal di wilayah kerajaan. Tapi imbang Jayo tak tinggal di situ, dia justru masuk kampung, keluar kampung, masuk hutan keluar hutan, hingga sampai ke kawasan Mandau sekarang. Setelah dia temukan tempat yang cocok, anak kemanakan dia jemput. Termasuk anaknya Sutan Jangguik dan Sutan Imau (Harimau),” cerita Musa. 

Meski sudah bersama anak kemanakan, Imbang Jayo masih terus berpindah-pindah, hingga sampai ke kawasan Rokan. Persis di kawasan Kuala Sako, Sutan Jangguik dan Sutan Imau membagi wilayah. Sutan Imau kebagian wilayah di kawasan Rokan Kanan dan Sutan Jangguik Rokan Kiri. Tapi Musa tak menceritakan dimana Imbang Jayo saat pembagian wilayah itu.  

Yang diceritakan Musa justru perbedaan karakter duo sutan tadi. “Sutan Imau ini orangnya tegas, garang. Makanya orang Rokan Kanan itu orangnya tegas-tegas. Beda dengan Sutan Jangguik --- yang kemudian menjadi moyang orang Sakai --- yang alim dan bijaksana. Sifat inilah yang kemudian menurun ke orang Sakai. Orang sakai tenang dan cenderung lemah, tak garang seperti keturunan Sutan Imau,” kata Musa. 

Hingga sampai di kawasan Air Secupak, duo Sutan ini kata Musa masih bersama. Setelah sholat, barulah keduanya berpencar ke daerah kekuasaan masing-masing. “Sutan Jangguik masih terus berkelana, masuk ke sungai Siak, menghilir ke Bengkalis, hingga sampai ke Kodamai --- Dumai sekarang. Dari Dumai inilah anak kemanakan berpencar,” ujar Musa. 

Sutan Jangguik kata Musa, membagi wilayah perbatinan untuk anak kemanakannya. Ada yang jadi Beromban atau Bomban ada pula yang jadi kepala suku. Batin sebagai kepala suku dan Bomban kepala pemerintahan. Pembagian wilayah tadi mulai dari Minas hingga ke Duri. 

“Mereka kemudian ada yang tinggal di Petani, Sebangar, Pinggir,  dan tempat lain. Dulu masih ada Batin Suku Gasib di Siak. Namun yang jelasnya, semua perbathinan ada 13. Ini kemudian dibagi dua; Batin Selapan berpusat di Petani dan Batin Lima di Minas,” Musa merinci.

Wilayah Batin Selapan terhampir dari Timur berbatasan dengan Bukit Batu, di Barat simpang tiga Sungai Rokan, di Selatan berbatasan dengan Belutu dan di Utara berbatasan dengan Bukit Kapur. Selebihnya adalah kawasan Batin Lima. 

Pada peta Lembaga Adat Masyarakat Sakai Riau (LAMSR) yang diteken oleh Ketua LAMSR, Muhammad Yatim Bathin Iyo Banso yang terbingkai di dinding rumah adat masyarakat Sakai di Dusun Sebanga Asal Desa Kesumbo Ampai, Bathin Lima terdiri dari; Bomban Minas, Bathin Bolutu, Bathin Tongonong, Bathin Ponaso dan Bathin Beringin. 

Lalu Bathin Lapan antara lain; Bathin Singgo Majo, Bathin Bomban Soi Pauh, Bathin Sutan Botuah, Bathin Jolelo, Bathin Bumbung, Bathin Ajongkayo, Bomban Potani, Bathin Sobanga, Bathin Botuah dan Bathin Semunai. 

“Dulu, Imbang Jayo sebagai Hulu Balang dan Sutan Janggut menjadi Ketua Adat. Nah, lantaran  Petani menjadi ketua Bathin Lapan, sudah ada 13 Bomban, sejak persukuan ini ada. Mulai dari Bomban Toluk, Buih, Bakung, Kedingkul, Amuk, Pangautik, Asad, Yasin, Kusam, Gendil, Dolo, Sahdan dan saya. Bomban mengurusi pemerintahan sementara Bathin mengurusi suku,” Musa merinci. 

Cerita Musa ini nyaris sama dengan apa yang diceritakan oleh Bathin Beringin Sakai, Kitah 63 tahun. Keduanya sama-sama menceritakan tentang sutan. Tapi dari cerita Kitah, jumlah sutan justru bertambah menjadi tiga. Musa tidak menceritakan keberadaan Sutan Rimbo. 

Kalau Musa cerita soal Imbang Jayo, Kitah hanya menceritakan kalau mereka berasal dari Kunto Bessalam yang kemudian membikin perkampungan di Sialang Rimbun. Tapi akhirnya melarikan diri ke Suluk Bongkal --- salah satu dusun di Desa Beringin --- lantaran mereka tak mau diatur oleh Jepang. “Waktu itu saya masih kecil,” kenang ayah tujuh anak ini saat berbincang dengan Negeri Junjungan di rumahnya di Dusun Siang Rimbun akhir bulan lalu. 

Lantas Kitah juga cerita kalau jaman itu warga di Suluk Bongkal hanya berpakaian kulit pohon torop atau kulit batang Pudu. “Saat itu hanya ada sekitar 22 kepala keluarga. Semua rumah, rumah tinggi. Beratap daun berlantai kulit Kopau. Dinding rumah juga dari kulit kayu,” katanya. 

Namun omongan Kitah ini menjadi sedikit aneh saat Negeri Junjungan melongok sebuah foto di kantor kepala Desa Petani di kawasan kilometer 10. Di foto yang disebut-sebut dijepret tahun 1911 itu, Nampak sejumlah masyarakat sudah menggunakan kain sebagai pakaian, meski tidak sesempurna sekarang.

“Sakai itu orang terpandang yang lari dari Pagaruyung dan mencari penghidupan di sini. Tapi entah kenapa kemudian menjadi Komunitas Adat Terpencil (KAT). Menurut saya, ada unsur politik masuk ke sistem adat sakai. Makanya kayak begitu. Yang pasti, tak pernah kami pakai baju kulit kayu. Dulu kami pakai kain belacu,” bantah Musa. 
 
Yang membikin Musa kian miris, setelah perusahaan perkebunan dan perkayuan masuk wilayah Sakai, Sakai mulai tersisih. “Kami dibikin kayak palito. Kalau malam dipakai. Kalau siang disisihkan. Kalau ada kepentingan, Sakai dikedepankan. Masuknya perkebunan dan akasia membikin Sakai tertindas. Malah kita ditempatkan kayak orang bodoh,” katanya. 

Editor : Aziz

Berita Terkait