Petaka Sengkarut Lahan di Suluk Bongkal

Satu Nyawa Hilang, Dua Pemuda Dipenjara

Bengkalis, katakabar.com - Orang tua yang mana tak sedih melihat dua anaknya masih muda, masa depannya masih panjang mesti mendekam di bilik penjara.

"Semua orang tua pasti sedih dan tidak tega lihat anak - anaknya masih muda, punya masa depan panjang dijebloskan ke dalam sel," ujar seorang ayah, Pureden Nainggolan umur 41 tahun kepada awak Media di Kantor Kuasa Hukumnya, Bangkit Sipayung SH dan Rekan, di Desa Pinggir Kecamatan Pinggir, dua hari lalu.

Warga Jalan Simpang Proyek, RT3 RW3 Desa Tasik Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis itu menceritakan, dua anak kandungnya, masing - masing inisial FN umur 21 tahun dan VN umur 17, saat ini ditahan di dalam bui Kepolisian Sektor Kecamatan Pinggir disebabkan membela diri dan haknya atas sebidang tanah yang berada di wilayah RT 1 RW 2, Dusun Suluk Bongkal Desa Koto Pait, Kecamatan Talang Muandau Kabupaten Bengkalis.

Anak pertama saya, FN disangkakan atas tuduhan pengancaman, dan anak ketiganya, VN disangkakan atas tindak pidana pembunuhan atau penganiayaan berat hingga sebabkan orang meninggal dunia.

Saya dan keluarga rela dan ikhlas kedua anaknya dipenjara, guna mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang sudah dilakukan. Tapi, saya minta agar hukum ditegakkan seadil-adilnya.

"Kedua anak saya itu berbuat demikian demi membela saya, dan mempertahankan diri atas perlakuan brutal dari oknum-oknum sekurity PT Manggala Cipta Persada, perusahaan sub-Kontraktor PT Arara Abadi di wilayah Kecamatan Talang Muandau."

Hal itu sesuai yang sudah dituangkan dalam berita acara keterangan kronologis kejadian yang kami paparkan lewat kuasa hukum.

Perbuatan brutal para oknum sekurity sudah kami laporkan kepada pihak berwajib. Sebagai warga Negara Republik Indonesia yang taat hukum, kami sekeluarga bermohon agar hukum itu ditegakkan seadil-adilnya", harap Pureden.

Kata Pureden, sebidang tanah yang bersengkarut itu sudah sepuluh tahuh lamanya kami garap dan usahai lahan pertanian, buat menyambung hidup sehari-hari keluarga.

Tak habis pikir, pihak perusahaan yang bergerak di sektor Hutan Tanaman Industri (HTI), PT Arara Abadi selalu mengklaim sebidang tanah tersebut masuk ke dalam kawasan HTI Perusahaan, ceritanya.

Kuasa Hukum Pureden Nainggolan, Bangkit Sipayung, SH dan Rekan menimpali, kami bakal mengawal keseluruhan proses hukum klienya agar berjalan semestinya, dan sangat menyayangkan kejadian penganiayaan yang dialami kliennya.

"Peristiwa itu berawal dari adanya sekurity yang mengaku diancam oleh klien kami. Itu dilakukan disebabkan pihak sekurity melakukan pencabutan ubi milik orang tua klien kami."

Pastinya tindakan sekurity tersebut merupakan tindakan yang arogan dan tak memiliki aturan kerja SOP, mendatangi beramai-ramai rumah klien kami pada Rabu, 7 Oktober 2020 sekitar pukul 21.00 WIB malam lalu.

Saat itu, sekurity yang datang berjumlah lebih kurang 20 orang. Terus bertanya dengan nada keras sambil membawa alat benda kayu, besi serta parang.

Kami kecam itu, lantaran menunjukkan arogansi mereka. Kalaupun ada laporan teman mereka mengenai kejadian yang mereka tuduhkan.

Mereka mestinya mencari informasi yang akurat dan melaporkannya ke pihak berwajib. Ini langsung main keroyok atau mengerahkan anggota dengan jumlah besar dengan membawa alat, jelas Bangkit.

Masih Bangkit, klien kami atas nama FN luka berat pada bagian kepala, muka sebelah mata, badan dan lengan disebabkan penganiayaan itu.

"Dari keterangan klien kami, sebelum FN dibawa ke Pos penjagaan sekurity, terus dipukuli oleh beberapa orang sekurity tersebut hingga kondisinya sangat memperihatinkan. Setelah di Pos sekurity FN masih dipukuli, baru pihak sekurity melapor ke pihak berwajib dan klien kamipun di bawa ke Kantor Polisi,"

Dari peristiwa yang dialami klien kami, FN pada 14 Okteber 2020 lalu, tim kuasa hukum membuat laporan dugaan penganiayaan yang dialami FN ke Polsek Pinggir, atau sebagaimana dimaksud Pasal 170 atau 351 KHUP.

Klien kami sudah diinterograsi terkait laporan yang bernomor : STTPL/63/x/2020/SPKT/RIAU/BKS/SEK-PGR.

Lantaran itu, kami dari tim kuasa hukum meminta kepada pihak kepolisian Sektor Pinggir agar segera melakukan tindakan dan memproses kasus penganiayaan dan pengeroyokan serta pengerusakan terhadap barang yang dialami klien kami yang dilakukan oknum sekurity PT Manggala Cipta Persada (MCP).

Berdasarkan keterangan kliennya, VN serta saksi lainnya yang ada di lapangan dan sesuai dengan dokumen berita acara laporan. Pihaknya menilai tindakan VN yang tersangka pelaku pembunuhan atau penganiayaan berat yang menghilangkan nyawa seseorang, tindakan pembelaan terpaksa sebagaimana dimaksud Pasal 49 KUHP poin 1. "Yang mana pembelaan darurat atau pembelaan terpaksa (Noodweer) untuk diri sendiri maupun orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena adanya serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat, maka tindakan tersebut tidak dapat di hukum, bebernya.

Pureden Nainggolan sampaikan duka yang mendalam, dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak keluarga yang menjadi korban penusukan yang tidak sengaja yang dilakukan anaknya.

"Kami atas nama keluarga besar, saya sampaikan duka yang mendalam serta permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan. Pastinya anak saya, tidak ada niat untuk melakukan hal itu."

Saat itu saya dan anak-anak cuma melakukan pembelaan diri, Sekali lagi, kami mohon dimaafkan", sebut Pureden Nainggolan sedih.

Dalam pada itu, saat katakabar.com mengkonfirmasi Humas PT Arara Abadi Distrik Duri, yang berkantor di kilometer 38, Sudarta lewat selulernya pada Jumat (23/10) siang tidak menjawab. Begitupun saat katakabar.com mengkonfirmasi Humas PT Arara Abadi, Nurul Huda by ponsel di hari yang sama tidak menjawab.

Editor : Sahdan

Berita Terkait