Selaksa Cerita Bantan Tua

Dari negeri semokel hingga gudang prajurit. Itulah Desa Bantan Tua, Kecamatan Bantan. 

Pikiran lelaki 48 tahun ini langsung berselancar ke masa silam. Masa-masa dia masih menjadi bocah mungil di sebuah desa bernama Bantan Tua. Masa dia ngiler menengok teman sebayanya yang dengan gampang mengantongi duit pecahan Dolar atau Ringgit Malaysia.

“Banyak anak-anak sebaya saya lebih memilih ikut melaut atau menjadi anak buah smokel --- penyeludup lintas Negara --- ketimbang sekolah. Makanya mereka gampang saja punya duit banyak. Kami yang bersekolah, gigit jarilah nengok,” senyum geli membayangkan masa lalu, berpendar di wajah ayah 4 anak ini. 

Namanya Syaukani. Selain sebagai ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Bengkalis, alumni Sosial Politik (Sospol) Universitas Riau (UR) ’96 ini juga Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di ‘Negeri Junjungan’ itu.    

Syaukani pun cerita bahwa lebih dari empat puluh tahun silam, Bantan Tua sudah jadi gudang duit di Pulau Bengkalis. Di pelabuhan kecil yang ada di sini, barang-barang asal Malaysia berseliweran. Maka nggak aneh kalau saat itu orang Bantan sudah kenal dengan yang namanya Levi’s 501 original. Begitulah sangking bebasnya barang luar masuk ke Bantan. 

Belum lagi para pekerja illegal yang saban hari menyeberang dari dan ke Malaysia. Aktifitas semacam ini membikin Bantan Tua benar-benar hidup. Hubungan orang Bantan dengan orang Malaysia bak bertetangga. Akrab. Inilah kata Syaukani yang membikin uang tetangga sampai-sampai bisa nyelip menjadi alat tukar di warung-warung yang ada di kampung itu. 

Celakanya itu tadi, gara-gara aktifitas semacam itu, kebanyakan anak-anak Bantan Tua akhirnya lebih memilih mencari duit dari pada sekolah. “Kalau ayah saya tidak keras, mungkin saya pun ikut-ikutan seperti mereka,” kenang Syaukani tertawa.    

Desa Bantan Tua Kecamatan Bantan pernah lama menjadi buah bibir hingga ke Tanah Jawa. Bahwa dari sinilah ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pernah diseberangkan ke negeri Jiran Malaysia. Aktifitas semacam ini berlangsung dari tahun 70-an hingga 90-an. 

“Saban hari tak kurang dari 300-400 orang TKI hilir mudik Bantan-Malaysia. Hitung saja berapa duit yang berputar jika ongkos satu orang TKI saja 150 Ringgit. Itu baru soal TKI. Belum lagi semokel. Dari tempat ini, banyak kaum semokel pernah gemilang, lho,” cerita penulis sejumlah buku ini saat berbincang dengan katakabar.com di kawasan Gg Persaudaraan Kota Bengkalis, Jumat malam pekan lalu. 

Cerita lain soal Bantan Tua? Ada yang teramat penting menjadi catatan sejarah kata Syaukani; Dari Bantan Tua telah lahir seorang pujangga besar bernama Soeman Hs. Putra ketiga dari pendiri perkampungan Bantan Tua bernama Wahid Hasibuan. Sosok yang lama ditorehkan di buku-buku pelajaran sekolah lantaran romannya berjudul; Mencari Puncuri Anak Perawan.

Bantan Tua juga dikenal sebagai pusat pendidikan di seantoro Kecamatan Bantan lantaran sejak tahun ’57, ayah Syaukani yang bernama Abdul Karim mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Pendidikan Guru Agama 4 tahun dan 6 tahun. Tak terhitung kemudian alumni sekolah ini menjadi orang terkenal. Termasuk dua orang tokoh yang kemudian menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkalis; Zahari dan Sulaiman Zakaria. 

“Begitulah sederet cerita hitam putih Bantan Tua itu. Belum lagi di jaman perang, Bantan Tua juga pernah menjadi basis perjuangan yang dipimpin oleh Imam Bulkin alias Kiyai Saleh saat perang Pedekik bergolak,” katanya. 

Kalau saja di kampung Wahid di Kotanopan Tapanuli Selatan tak berlaku perbedaan status sosial, bisa jadi dia tak akan pernah menginjakkan kaki di Bantan Tua. Lantaran cintanya kepada perempuan cantik, putri orang terpandang di kampung itulah yang membikin Wahid kabur ke Bantan Tua bersama gadis pujaannya itu. Namanya Tarumun Lubis.  

Pasangan ini disebut-sebut berilmu tinggi. Sebab Wahid punya keris sakti dan Tarumun punya selendang ‘Cinday’ yang konon --- kalau dipakai --- orang yang memakai selendang itu tak kelihatan oleh orang lain. Lantas keris Wahid dianggap mampu mengusir binatang buas. Keris itulah yang kemudian ditancapkan di hutan belantara Bantan Tua supaya binatang buas tak berani mendekat. 

“Waktu itu Bantan Tua masih hutan belantara. Di sana Wahid ketemu dengan kelompok Jawa dan Melayu. Suku Hutan juga ada. Suku Hutan ini mendiami kawasan Jangkang sekarang. Adalah Rajimun dari kelompok Jawa dan Aki Manan dari kelompok Melayu yang menjadi teman Wahid mendirikan perkampungan. Diberilah nama kampung itu Bantan lantaran sejak lama orang sudah menyebut sungai yang melintas di sana --- kini melintasi Bantan – Jangkang --- Sungai Bantan,” cerita Syaukani panjang lebar. 

Adapun rumah tempat tinggal Wahid yang saat itu juga mengajar mengaji, dibangun di tanah yang ditempati oleh Abdul Karim sekarang, di kawasan jalan lintas Bantan-Jangkang. Kebetulan Abdul Karim masih keluarga Wahid. Karim mempersunting salah seorang cucu Wahid. Lantaran mengajar mengaji itu pula, Wahid dipanggil Lebay Wahid.
 
Persis tahun 1913, Lebay Wahid menjadi penghulu pertama desa itu. Dari sinilah kemudian perjalanan panjang perkampungan Bantan Tua dimulai. Sebelas tahun kemudian dia menyuruh Abdul Razak membuka rimba belantara di bagian Timur Laut untuk dijadikan perkampungan. Itulah kawasan Selat Baru sekarang. 

Abdul Razak ditemani Haji Hasan alias Kasimun. Selama membuka perkampungan itu, Kasimun masih selalu bolak balik ke Bantan untuk mengurusi ladang yang ada di sana. Setelah kampung Selat Baru ada, Abdul Razak lah yang kemudian menjadi penghulu pertama. 
  
Tahun ’83, Jangkang menjadi desa sendiri. Meski begitu, hubungan orang-orang di Bantan sekitarnya ke Bengkalis, masih teramat sulit. Butuh waktu 6 jam supaya bisa sampai ke Bengkalis. Itupun harus melintasi hutan dan jalan setapak. 

Lagi-lagi lantaran kondisi seperti itulah kemudian, orang-orang Bantan lebih senang berhubungan ke Malaysia dari pada ke Bengkalis. “Ke Malaysia naik perahu hanya 4 jam. Tak repot harus berjalan kaki,” kata Syaukani. 

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang patut ditiru dari Bantan. Bahwa keberagaman telah ada di kampung itu sejak 100 tahun silam. Keberagaman yang kemudian memunculkan tokoh Nasional; Soeman Hs. 

Editor : Aziz

Berita Terkait