Sengketa Berpuluh Tahun China-India di Perbatasan Himalaya

Katakabar.com - Satu pejabat militer India dan dua tentara mereka tewas dibunuh tentara China dalam insiden kontak senjata Senin malam kemarin di Lembah Galwan di Ladakh, daerah sengketa di Kashmir.

China menuding tentara India melanggar batas wilayah sebanyak dua kali dan menyebutnya "memprovokasi dan menyerang tentara China". Insiden ini berujung pada kontak senjata.

Kedua pihak berkeras mereka tidak melepaskan tembakan. Ada sejumlah laporan menyebut jatuh korban dari pihak China tapi tidak ada konfirmasi resmi.

Memanasnya situasi di perbatasan ini dipicu ketegangan dalam beberapa bulan terakhir lantaran India membangun jalan baru di Ladakh, di sepanjang Garis Kontrol Aktual yang memisahkan kedua negara.

Hal itu membuat Negeri Tirai Bambu berang dan kemudian mengerahkan tentaranya serta membangun infrastruktur sendiri di wilayah sengketa. Peristiwa ini membuat tentara di kedua pihak cukup berdekatan dan situasi berisiko kian memanas.

Dilansir dari laman the New York Times, Selasa (16/6), konflik ini adalah lanjutan dari sengketa berpuluh tahun antara dua negara berkekuatan nuklir soal batas wilayah di perbatasan Himalaya.

Enam dekade lalu India dan China berperang karena sengketa perbatasan yang berujung pada gencatan senjata pada 1962.

Hasil gencatan senjata itu menyepakati Garis Kekuasaan Aktual sepanjang 3.440 kilometer meski selama ini tidak ada kesepakatan jelas soal batas wilayah di daerah sengketa yang membentang di Pegunungan Himalaya, kawasan yang memisahkan kedua negara.

Sejak itu kedua negara berdamai tapi memendam bara. Setiap saat bisa terjadi letupan kekerasan dan dunia melihat ini dengan cemas.

China dan India adalah dua negara besar di muka bumi dan keduanya punya senjata nuklir. Kedua pemerintahan membangun dukungan dari rakyatnya lewat sentimen nasionalis.

 

Kedua negara melihat wilayah itu adalah kawasan strategis, baik secara ekonomi dan militer.

Hilangnya nyawa kian memperbesar risiko. Korban tewas itu diyakini yang pertama selama 45 tahun konflik perbatasan China dan India.

Garis Kontrol Aktual diciptakan untuk membangun garis demarkasi dan mengendurkan ketegangan antara kedua negara selepas perang 1962. Tapi sejumlah kawasan masih menjadi sengketa.

Baik China dan India sama-sama mengklaim wilayah sengketa dengan membangun infrastruktur seperti jalan, kabel telepon dan jalur udara serta mengerahkan tentara untuk patroli rutin.

Seberapa berbahaya konflik ini?

Cukup berbahaya jika tidak ada upaya menurunkan ketegangan.

Kemarin, militer India mengatakan proses penurunan ketegangan sedang dilakukan dan dalam beberapa hari terakhir sejumlah jenderal militer dari India dan China sudah bertemu untuk mencari jalan keluar dari sengketa di perbatasan ini.

Namun dari pengalaman yang sudah-sudah meski perundingan berjalan lancar tapi proses rekonsiliasi di masa lalu tidak pernah sukses.

Jika upaya menurunkan ketegangan tidak dilakukan maka menurut pengamat, situasinya akan semakin memicu bentrokan militer kedua pihak.

"Ini akan sangat-sangat serius, ini akan merusak dialog yang sedang berlangsung," kata mantan pejabat militer India DS Hooda mengomentari bentrokan senjata Senin kemarin.

Laporan awal yang disampaikan kemarin menyatakan tentara India itu tidak tewas ditembak melainkan dibunuh dalam perkelahian dengan batu dan pentungan kayu. Belum diketahui akan seperti apa reaksi India atas kejadian ini.

Merdeka.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait