Si Miskin Berusaha Sembuh Tumor Rahim

Pasir Pengaraian, katakabar.com - Daliem, warga  Dusun Sukamaju Desa Pematang Tebih Kecamatan Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu, Riau hanya bisa merintih menahan rasa sakit di bagian perut. Ibu paruh baya yang jauh dari kata layak secara ekonomi itu kini hanya terbaring lemah di kediamannya.

Daliem divonis menderita tumor pada rahimnya, setelah sempat dirawat di RSUD Rohul selama satu hari. Namun pihak RSUD menyarankan agar perempuan 55 tahun itu dirujuk ke RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru agar bisa ditangani dengan baik, karena keterbatasan peralatan di RSUD Rohul. 

Natalia (31) anak sulung dari pasangan Daliem ini  Mengisahkan tentang awal mula penyakit yang menimpa ibunya. Kata dia, ibunya terlihat gemuk yang pada awalnya mengira hal itu biasa saja.

"Awalnya ibu terlihat gemuk, kami kira ya biasa biasa saja. Tapi lambat laun perutnya semakin membesar, dan ibu sering merasa sesak bahkan sulit buang air besar, jadi sering dikusuk kami kira masuk angin," kata  Lia saat ditemui wartawan dikediamanya, kemarin.

Tak hanya itu lanjut Lia, selain badan ibunya terlihat makin gemuk dan perut membesar. Sejak bulan Ramadhan lalu, lama kelamaan Daliem selalu mengeluhkan perutnya. Dia menceritakan rasa sakit dan perih bagai dicucuk jarum pada bagian perut, bahkan nafas sesak saat dibawa baring dan duduk.

"Badannya ibu semakin kurus, perutnya kian membesar. Kami sudah membawa mama berobat ke Bidan Nur di Lubuk Bendahara, saat itu Bidan Nur menyarankan dirujuk untuk USG ke RSIA Harapan Medika. Saat itu langsung ditangani oleh dr Friadi Ginting, dari hasil USG, mamak kami dinyatakan bahwa ada tumor di rahim menurut dr Friadi Ginting tumornya hanya bisa diangkat dengan jalan operasi," lirih Lia.

Setelah diperiksa ulang oleh dr Friadi Ginting di RSUD Rohul. "Kalau saya yang menangani sendiri, gak bisa. Harus kerja sama dengan dokter Bedah, ini tumornya sudah besar dan kemungkinan lengket dengan usus.  Sebaiknya ditangani di Pekanbaru saja, nanti kalau disini pendarahan gimana, sedangkan stok darah O di RSUD Rohul kosong," kata Friadi Ginting.

Meskipun begitu Lia tidak berputus asa dia terus berupaya berkoordinasi dengan pihak RSUD Rohul. Hasilnya Manajemen RSUD Rohul menyatakan jika pasien dirawat di RSUD Rohul biayanya ditanggung Pemkab.

Namun bila dirujuk maka tidak ditanggung. "Jadi saya binggung, mau dirujuk tidak ada biaya, sehingga setelah dirawat sehari di RSUD Rohul, akhirnya mamak kami bawa pulang saja," kata Lia sambil menahan tangis melihat kondisi ibunya yang semakin melemah.

Natalia dan keluarganya mengaku binggung, karena untuk merujuk ibunya ke RSUD Arifn Ahmad tidak memiliki dana, sedangkan ayahnya hanya bekerja serabutan dengan penghasilan pas pasan.

"Untuk biaya hidup hanya cukup kebutuhan sehari hari saja, dari mana kami bisa memenuhi kebutuhan untuk biaya operasi mamak karena butuh dana besar," ujarnya.

Natalia hanyalah seorang guru honorer dengan gaji kecil, selain tulang punggung  bagi keluarga dia juga menghidupi dua orang anaknya yang masih kecil. Dia berharap ada bantuan dari Pemkab Rohul, dan orang dermawan untuk membantu ibunya sehat kembali.

Editor : Anggi

Berita Terkait