Ketua Komnas PA Desak Kapolda Riau

Singkap Kasus Penemuan Tulang Belulang AP Empat Tahun Lalu

Pelalawan, katakabar.com - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mendesak Kepolisian Daerah Provinsi Riau (Polda Riau), agar menyingkap kasus dugaan pembunuhan AP, seorang bocah masih berumur 11 tahun, yang ditemukan tak bernyawa di semak belukar dengan kondisi tulang gosong dan terbakar empat tahun lalu.

Lokasi penemuan kerangka bocah perempuan di Desa Pasir Putih, Kecamatan Siak Hulu, Kecamatan Kampar, pada 23 Maret 2016 lalu, setelah dinyatakan hilang dari 9 Maret 2016 lalu.

"Saat ditemukan, organ dalam AP tidak ada lagi, cuma tulang belulang yang tersisa," kata Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait kapada katakabar.com di Pangkalan Kerinci, Pelalawan pada Jumat (16/10) lalu.

Kata Arist, sejak kasus ini bergulir, penanganan kasus sudah dilimpahkan ke Polda Riau dari Polsek Siak Hulu. Sejumlah temuan di lapangan sudah membuktikan arah pelaku. Apalagi sandal dan kacamata korban ditemukan di lokasi.

Untuk itu, Polda Riau sesegara mungkin membongkar atau menggelar perkara kasus ini lagi, sebab dasar kasus anak diketahui penyebab kematiannya sebagai prisip dasar perlindungan anak.

"Kalau ada kasus kejahatan anak, hingga meninggal dunia harus ditemukan motifnya. Meski belum ditemukan pelaku, perkara tidak boleh dihentikan," tegasnya.

Cerita Ketua Komnas PA ini, orang tua korban pernah mengeluh, saat keluarga mempertanyakan kasusnya mau di SP3 atau mau dihentikan dengan dasar kurang bukti. Dirkrimsus Polda yang menjelaskan saat itu, setelah ditanya perkambangan kasus AP.

Saat mau dikonfirmasi kepada Kapolda Riau soal kasus itu, kita tidak dibolehkan ketemu. Kita cuma ketemu dengan Kanit PPA Polda Riau. Pertemuan waktu itu, Kanit PPA Polda Riau tidak menjelaskan apa - apa, keluarga kecewa sekali lantaran tidak ada perkembangan perkara ini.

"Pihak keluarga kecewa kepada pihak penyidik Polda Riau. Kalau keluarga ke sana selalu dicueki atau sama sekali tidak direspon," jelasnya.

Kasus ini tidak boleh dihentikan. Komnas Perlindungan Anak berencana mau ketemu dengan Kapolda Riau yang baru, agar kasus diungkap dan digelar perkara pembunuhan anak di bawah umur AP di Siak hulu Kabupaten Kampar.

Hingga kini, belum tahu awal kasus ini. Seingat saya awal Maret 2016 lalu, saya didampingi Kapolsek Siak hulu dan didampingi keluarga korban. Saya ingat betul itu.

Harapannya, Polda Riau membuka hati untuk membuka dan menindaklanjuti kasus pembunuhan AP. Ini tuntutan keluarga besar korban setiap hari mau tahu perkembangan kasusnya.

"Posisi Komnas PA membantu keluarga korban dan Polda Riau sama-sama mencari bukti yang bisa dipakai sebagai alat bukti untuk mengungkap perkara ini," bebernya.

Masih Arist, kalau sudah ada hasil autopsi diumumkan kepada masyarakat. Lucunya lagi, hasil rekomendasi dari tim porensik tidak ada. Padahal, kasus ini sudah empat tahun belum terungkap dan pihak keluarga belum diberitahu hasil autopsi.

Itu yang menjadi alas atau dasar Komnas PA dan Komnas PA Provinsi Riau terdorong untuk mendesak Kapolda Provinsi Riau mengungkap kasus ini lagi.

Bicara contoh kasus anak, perkara Angelina di Denpasar Bali. Komnas PA bisa mendorong kasus, sehingga sekitar 1 tahun, 8 bulan terang benderang perkaranya.

Tapi, kasus ini sudah 4 tahun lamanya, saya memberikan informasi awal dan meminta penyelidikan dilokasi, untuk mengetahui dugaan persekongkolan di daerah itu. Apalagi lokasi penemuan kerangka tulang belulang bocah tidak jauh.

Kalau ditemukan di kabupaten lain, bisa jadi rada sulit. ini cuma sepuluh kilometer dari lokasi penemuan tulang belulang AP dari rumahnya. Bahkan ditemukanmasih ada rambut, kacamata dan sandal korban, seperti disebut orang tua, dan adik-adik yang mengenali sandal kakaknya.

Dari cerita orang tua korban, kasus itu bermula dari pekerjaan rumah sekolah. Anaknya tidak punya buku, korban pergi ke rumah temannya satu kelas mau pinjam buku, jaraknya sekitar lima kilometer dari rumah.

Adik korban sempat mau ikut, tapi AP melarang dan adiknya tidak jadi ikut. Ibu korban mengakui ada teman anaknya di sana, sejak itu anaknya tidak pernah terlihat lagi, sebut Arist.

Editor : Sahdan

Berita Terkait