Stigma Negatif Bahayakan Pasien dan Penyintas Covid-19

Katakabar.com - Perjuangan para penyintas covid-19 belum selesai meski hasil tes swab negatif. Mereka masih terus berjuang 'menyembuhkan diri' dari stigma masyarakat yang berpersepsi keliru tentang Covid-19.

Stigma yang muncul memandang penyintas covid-19 adalah seseorang yang harus dijauhi dan menimbulkan ketidaknyamanan di masyarakat.

Ketua Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI) Irmansyah, mengungkapkan hadirnya stigma tersebut akan turut memengaruhi proses kesembuhan dari penderita.

"Contohnya ada HIV, lepra, gangguan jiwa dan sekarang penderita Covid-19. Stigma itu luar biasa oleh lingkungan jadi double burden, sudah menderita (karena virus) kemudian sekarang beban psikososial. Sudah sakit, dijauhi, seolah pembawa bencana, ini sikap dan kondisi yang sangat tidak menguntungkan," ujar Irmansyah dalam talkshow di Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, seperti dikutip merdeka.com, Rabu (21/10).

Dia menjelaskan stigma itu terbentuk dari persepsi. Persepsi lahir dari pengetahuan masing-masing oleh individu yang memiliki preferensi sendiri terhadap suatu berita dan peristiwa. Irman menyoroti fenomena di masyarakat kita yang lebih suka mendengar atau menyampaikan berita yang berbau negatif seperti kematian, penderitaan orang sakit.

"Tidak ada balance, padahal ada cerita positif seperti kesembuhan, tetap produktif. Hal-hal seperti itu banyak," ujarnya.

Selain itu, hal lain yang dikhawatirkan penderita adalah perilaku dari lingkungan. Ketakutan akan stigma tersebut justru bisa menjadi penghambat untuk mengobati diri jika memang sudah terdapat gejala yang dirasakan. Ia sangat menyayangkan fenomena ini, selain menjadi merugikan penderita yang penanganannya terhambat, tidak menutup kemungkinan menjadi potensi menyebarkan.

Kendati demikian, hal yang mesti dilakukan adalah edukasi terus menerus. Salah satunya dari media BNPB yang mutlak memberikan informasi yang benar karena berasal dari sumber resmi. Menurutnya, yang sulit adalah untuk menangani penyebaran informasi di luar sana seperti dari sosial media.

Kondisi mental penderita tentunya terganggu dan dikhawatirkan menjadi fatal karena tingkat kecemasan yang tinggi. Maka dari itu, saat-saat seperti itulah membutuhkan dukungan, bukannya malah dijauhkan. Pengucilan dari masyarakat bisa menambah berat kondisi dan memperburuk situasi.

Mengirim ucapan yang positif dan berkomunikasi bisa menjadi bentuk dukungan kepada penderita Covid-19.

"Kunci keberhasilan dari sudut psikososial adalah kebersamaan, resilience sebagai daya tahan individu, resilience masyarakat ditunjukan bentuk solidaritas tinggi. Kuncinya ini adalah masalah bersama, bukan hanya orang yang menderita saja," katanya.

Irman menyampaikan jika penderita secara berkelanjutan mendapat perlakuan tidak baik dari lingkungannya, tidak menutup kemungkinan akan bisa menimbulkan traumatis yang bisa berlangsung lama.

Jokes mengarah stigma

Sementara itu, Independent Pekerja Sosial Profesional Indonesia Nurul Eka Hidayati melihat fenomena ini terjadi di masyarakat karena ketidaktahuan yang mendorong rasa takut. Kedua, informasi salah yang berkembang di masyarakat ditambah jokes yang sebenarnya mengarah menjadi stigma.

"Karena adanya Covid-19 jadi ada rasa khawatir di masyarakat akan tanggung jawab, jadi terdorong khawatir dengan diri dan lingkungannya," kata Eka.

Sulit untuk bisa melakukan pendampingan kepada 250 juta penduduk Indonesia. Maka dari itu, dilakukan penguatan dengan capacity building dari tingkat RT, RW, Kelurahan hingga nasional. Penguatan yang dilakukan bisa berupa misalnya training, bimbingan teknis, edukasi supaya bisa saling bersinergi dalam melakukan pelayanan kesehatan di masyarakat.

Bahasa

Walaupun sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19, banyak dari mereka yang berjuang lepas dari stigma tersebut. Tim Bidang Pelayanan Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Urip Purwono mengungkapkan anggapan stigma muncul pada orang yang dianggap lebih rendah daripada umumnya masyarakat.

Kekhawatirannya, dengan adanya stigma akan membuat masyarakat umum memilih untuk menyembunyikan simtom mereka, yang seharusnya mereka memeriksakan diri mereka. Di samping itu, penggunaan bahasa memperparah stigma yang muncul.

"Kita selalu pakai kata korban Covid-19, korban konotasinya sudah negatif, itu memperberat stigma. Pemakaian bahasa lebih baik yang sudah mengalami pengobatan dibanding korban yang tertular. Konsep yang perlu dimiliki semua orang yaitu resilience, jadi kalo kena stigma yang bersangkutan siap mengatasinya selain stigma itu sendiri harus dihilangkan," imbuh Urip.

Terakhir, Urip menyampaikan mengenai protokol standar kesehatan dari WHO yang bisa dimodifikasi mengenai stigma. Pertama, fact-checking karena stereotip muncul ketika tidak ada fakta atau informasi yang tepat.

Kedua, melibatkan publik figure yang berinteraksi dengan kelompok masyarakat yang terkena stigma untuk memberi koreksi terhadap stereotip yang muncul. Ketiga, membantu menyuarakan pengalaman dari penyintas Covid-19 yang sudah cukup banyak dilakukan oleh beberapa media Indonesia. Selanjutnya, meluruskan mitos yang beredar dan mengoreksi penggunaan bahasa yang tidak benar.

 

Merdeka.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait