Sunda Empire, Antara Cerita Fiksi Anime dan Manga

Pekanbaru, katakabar.com - Sunda Empire seperti memiliki hubungan khusus dengan cerita fiksi anime Dragon Ball, Avatar hingga Naruto. Pasalnya, jurus kamehameha dan planet namek tertera dalam formulir pendaftaran yang kabarnya dibanderol Rp5 juta.

Informasi yang berhasil dihimpun, formulir yang tersebar di media sosial tampak biasa. Di dalamnya terdapat kolom kosong yang harus diisi oleh calon anggota, seperti nama lengkap dan samaran, tempat tanggal lahir, nomor ponsel, marga hingga golongan darah.

Namun, saat ditelisik lebih jauh, di formulir tersebut tertera alamat kantor Distrik Rancamanyar Planet Namek. Lalu, tercantum pula para pendaftar harus bersedia belajar jurus 'Kamehameha' dan 'Kagebunshin'. Semua bisa didapatkan dengan harga pendaftaran Rp5 juta.

Tajuk utama dari Sunda Empire pun mencolok dengan tulisan Pusat Tatanan Dunia dan Penguasa 4 Elemen Angin, Air, Tanah dan Api. Bagi pecinta anime, empat elemen itu adalah jurus yang dikuasai oleh Aang, tokoh fiksi berjudul Avatar: The Last Airbender yang ditayangkan oleh jaringan televisi Nickelodeon.

Sedangkan Kagebunshin adalah jurus andalan menggandakan diri Naruto, tokoh manga yang diadaptasi menjadi anime karya Masashi Kishimoto. Adapun Namek dan Kamehameha tidak asing bagi pecinta anime Dragon Ball. Dalam anime tersebut, namek adalah nama dari sebuah planet. Sedangkan Kamehameha adalah jurus andalan Son Goku.

Meski bukan sebagai barang bukti, namun formulir itu akan diselidiki lebih lanjut oleh Polda Jabar. Alasannya, tertera syarat harus menyerahkan sejumlah uang bagi para pendaftar. Informasinya, ada ribuan orang yang mempercayai narasi mereka.

Sebelumnya, polisi telah menetapkan petinggi Sunda Empire sebagai tersangka. Mereka adalah Ki Agung Raden Rangga Sasana (53) yang mengaku menjabat Sekretaris Jenderal, Nasri Bank (56) yang mengaku sebagai Perdana Menteri dan Raden Ratna Ningrum (56) sebagai Kaisar.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Saptono Erlangga Waskitoroso menyebut mereka dijerat dengan menetapkan dengan Pasal 14 dan 15 Undang-undang nomor 1 tahun 1946 tentang penyebaran berita bohong yang menimbulkan keonaran.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Hendra Suhartiyono mengatakan penahanan dilakukan untuk menjaga narasi yang kerap disampaikan sehingga meresahkan masyarakat. Meski demikian, ia mengaku belum mengetahui keberadaan anggota Sunda Empire sudah bubar atau belum.

"Bicara bubar tidaknya belum tahu pasti. Yang jelas tanggung jawab polisi sebagai penegak hukum tidak membiarkan hal seperti ini bergulir terus yang membuat resah masyarakat," ucap Hendra, Kamis (30/1/2020). Merdeka

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait