TA 2020-2021 Ditetapkan, Keselamatan Siswa, Guru dan Orang Tua Prioritas

Jakarta, katakabar.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia sudah menetapkan Tahun Ajaran (TA) baru 2020-2021 mendatang. 

Tahun pembelajaran baru bakal dimulai di pertengahan Juli 2020 nanti. Dalam pelaksanaannya, Kepala Biro Kerja sama dan Humas Evy Mulyani menegaskan, dimulainya Tahun Ajaran baru tidak sama dengan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah.

“Kami punya prioritas utama kesehatan dan keselamatan warga sekolah, seperti siswa, guru dan orang tua. Jadi pembukaan kembali sekolah di wilayah zona hijau tidak serta merta dibuka, tapi dilakukan dengan sangat hati-hati dan tetap mengikuti protokol kesehatan,” kata Evy saat diskusi Zoom With Primus di Jakarta, seperti dikutip dari siaran pers Kemendikbud RI.

Sekolah yang berada di zona merah dan kuning ujar Evy, sistem pembelajaran jarak jauh masih jadi pilihan utama Pemerintah dalam menerapkan model pembelajaran Tahun Ajaran baru 2020-2021 mendatang.

“Seringkali masih ditemukan kerancuan mengenai Tahun Ajaran baru, dimana disamakan dengan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah. Saat ini model pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan utama sehingga bagi sebagian besar sekolah bisa melanjutkan pembelajaran jarak jauh seperti yang sudah dilakukan tiga bulan belakangan ini," jelasnya.

Pembukaan kembali sekolah khususnya di wilayah zona hijau, bakal dibahas Kemendikbud RI bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 dan protokol kesehatan di bidang pendidikan dibahas bersama Kementerian Kesehatan. 

“Sekolah yang berada di zona hijau tidak bisa dibuka secara otomatis, tapi lewat prosedur izin syarat yang ketat. Contohnya sebuah sekolah berada di zona hijau, tapi berdasarkan penilaian keseluruhan prosedur dan syarat, ternyata tidak layak untuk dibuka kembali. Mau tak mau tetap menjalankan pendidikan jarak jauh,” bebernya.

Untuk menunjang pembelajaran jarak jauh ini, Kemendikbud telah merekomendasikan 23 laman yang bisa digunakan peserta didik sebagai sumber belajar dalam menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh. 

Jadi warga satuan pendidikan, khususnya peserta didik dapat memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan Kemendikbud RI meliputi, program belajar dari rumah melalui TVRI, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak serta alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan sekitar, imbaunya.

Masih Evy, kita mempunyai pembelajaran jarak jauh yang memang memerlukan internet akses jadi online based, ada television based, radio based. Sebenarnya banyak tersedia berbagai modul yang dapat dipergunakan atau dipelajari secara mandiri. Hal ini sangat memerlukan kolaborasi yang sangat baik antara guru dan orang tua soal pembelajaran jarak jauh ini.

Aktivitas dan tugas pembelajaran pada sistem pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan bervariasi disesuaikan dengan minat siswa serta akses atau fasilitas belajar di rumah. Pembelajaran jarak jauh ini hadir untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna tanpa harus membebani guru dan siswa dalam menyelesaikan kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan.

“Aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa yang disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing termasuk  mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah,” ulas Evy.

Meski hingga kini masih ditemui sejumlah kendala dalam pembelajaran jarak jauh. Ada hal positif yang dapat diambil, seperti tumbuhnya kolaborasi orang tua dengan guru. 

“Orang tua mulai melihat dan memahami tidak mudah menjadi seorang guru. Di masa pandemi ini dibutuhkan keterlibatan langsung orang dalam proses pembelajaran."

Editor : Sahdan

Berita Terkait