Tentang Syarat di Sungai Raya

Datuk Empang Kelapahan minta sebatang pengayuh emas, sekerat tamping sagu dan setengah butir beras. Cikal bakal Hatas dan Akit. 

Entah sudah berapa lama orang-orang ini berada dalam perahu. Sebab dari muara Sungai Jantan mereka terus mengayuh mengikuti tepian pulau Swarna Dwipa (Sumatera) hingga sampai di sebuah pulau kecil di bagian tenggara (kini disebut Pulau Payung yang letaknya tak jauh dari Kota Dumai. Pulau ini masuk dalam wilayah Kecamatan Rupat).  

Tadinya mereka sudah sangat senang lantaran melihat daratan di tengah laut. Tapi rasa senang itu hanya sebentar. Sebab pulau yang diharapkan tak sesuai kenyataan. Pulau ini teramat kecil untuk dijadikan sebuah perkampungan. 

Alhasil mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Utara hingga kemudian ketemu kuala (Kuala Petuntun) yang ada sungai besar (Selat Morong). Perahu masuk ke selat itu dan terus berjalan. Belum berapa jauh, samar-samar mereka menengok bayangan manusia di kejauhan. 

Penasaran, perahu terus dikayuh mendekati bayangan itu. “Maaf, siapa kira-kira pemilik pulau ini, Nek?” pemimpin perahu bertanya kepada seorang perempuan tua yang belakangan dikenal bernama Datuk Bintang Beheleh. 

“Pulau ini milik Datuk Empang Kelapahan,” perempuan tua itu menjawab lembut sambil dengan awas menengok satu persatu orang yang ada di dalam perahu itu. 

“Apa bisa kami ketemu, Nek?” si pemimpin perahu kembali bertanya. 

“Kalau kalian ingin ketemu Datuk Empang Kelapahan, jumpai dulu Datuk Kebeneh. Dia ada di sebelah kanan kalian. Dia suami saya,” ujar sang nenek. 

Seteleh ketemu, Datuk Kebeneh tak keberatan jika orang di perahu itu akan menjumpai Datuk Empang Kelapahan di Pelang Dalam (Sungai Raya) persis di hulu sungai. Bahkan dia menyuruh istrinya untuk mengantarkan mereka. 

“Maaf Datuk. Kami berasal dari hulu Sungai Jantan bermaksud mencari tempat tinggal baru. Di tempat asal kami, kami sering diganggu binatang buas. Kami datang ke daerah ini atas titah Rajak Kecik bergelar Sultan,” kata si pemimpin perahu setelah bertemu Datuk Empang Kelapahan. 

Sama seperti Datuk Kebeneh. Datuk Empang Kelapahan tak keberatan tamunya itu tinggal di wilayahnya. Hanya saja sang Datuk kemudian meminta syarat. “Kalau kalian bisa memberikan sebatang pengayuh emas, sekerat tamping sagu dan setengah butir beras, kalian boleh tinggal di sini hingga ke anak cucu,” kata Datuk. 

“Gimana kami akan bisa memenuhi itu Datuk? Untuk makan saja kami susah,” pemimpin perahu nampak resah dengan permintaan datuk itu. 

“Kalau benar pulau ini jodoh sama kalian, kalian akan dapatkan itu. Pergilah menghadap Sultan, dia akan membantu kalian,” kata sang Datuk. 

Baca juga: Tiga Datuk "Pulau Lotus"

Wajah orang-orang di perahu itu berubah gembira. Mereka minta waktu setengah purnama menghadap sultan dan langsung pamit.

“Kalau permintaan datuk sudah dipenuhi, kemanakah Datuk Empang Kelapahan akan pindah?” Sultan bertanyaan saat orang-orang perahu tadi melaporkan kalau mereka sudah menemukan tempat tinggal baru. 

“Maaf Tuanku, kami lupa menanyakan,” pemimpin perahu menjawab. Sultan kemudian menyuruh mereka berangkat lagi untuk menanyakan kepada Datuk Empang Kelapahan. 

“Kalau syarat itu bisa kalian penuhi, saya akan pindah ke Pulau Tujuh,” jawab sang Datuk saat pemimpin perahu tiba di Pelang Dalam dan menjumpai Datuk. 

Begitulah orang perahu ini bolak balik hingga kemudian mengantarkan syarat yang diminta oleh Datuk tadi. “Kalau kalian benar-benar mau tinggal di sini, saya minta kalian jangan berhati dua. Kalau kalian ada kesulitan, bakarlah kemenyan ini, sebutlah nama saya. Saya akan datang membantu kalian,” kata sang Datuk sebelum menerima syarat yang diantar itu. Sebongkah kemenyan putih dia berikan.  

Sang Datuk bilang bahwa hanya dia yang pergi ke Pulau Tujuh. Empat pengawalnya masih akan terus tinggal di pulau itu. Datuk Bintang Beheleh di Timur, Datuk Kebeneh di Barat, Datuk Sakti di Pelang Dalam dan Panglima Galang di Kuala. “Pulau ini saya namakan Pulau Betukah Tempat dan selat ini saya namakan Selat Lorong. Jangan sesekali kalian menjual atau menggadaikan pulau ini,” pintanya.

Datuk Empang Kelapahan berangkat ke Pulau Tujuh, rombongan orang perahu ini pun kembali lagi ke Siak untuk melaporkan kejadian yang mereka alami kepada Sultan. “Kalian di sini saja dulu. Tolong bantu saya untuk menebang kayu biar bisa membikin bangsal. Sebab sepekan lagi anak saya menikah,” pinta Sultan. 

Orang perahu ini tak keberatan dengan permintaan Sultan. Mereka langsung membagi diri menjadi tiga kelompok. Ada yang menebang kayu, merakit dan meratas (memintas anak sungai biar jarak tempuh semakin dekat). 

“Dari sinilah kemudian cikal bakal orang perahu ini menyandang suku. Yang menebang hutan disebut Suku Hutan, yang merakit disebut Suku Akit dan yang meratas disebut suku Hatas. Begitulah Sultan menyematkan suku kepada mereka,” kata Batin Amirudin, pemimpin Suku Akit Rupat. 

Lepas hajatan pesta anak Sultan, tiga suku ini kemudian dilepas pergi. Tapi hanya Akit dan Hatas yang kembali ke pulau Rupat, sementara suku Hutan diberikan wilayah di Pulau Padang. “Pulau Rupat kemudian dibagi dua. Di bagian Barat adalah suku Hatas, sementara di Utara sampai ke Timur hingga ke Tanjung Jering adalah wilayah suku Akit. Batasnya di Sungai Gudang,” cerita lelaki yang sudah sejak 20 tahun lalu menjadi Batin itu. 

Amirudin adalah Batin ke-6 sepanjang Suku Akit ada di Rupat itu. Mula-mula Batin Tupang, Nain, Sisik, Koding, Gelimbing dan barulah Amirudin. “Adat Hatas dan Akit tak jauh beda. Sebab kami sama-sama dari Minang  yang lari lantaran tak mau dijajah Portugis. Yang membedakan kami hanya logat. Hatas agak lunak dan Akit agak keras,” kata ayah 5 anak ini.
 
Amirudin mengaku kalau semula agama mereka adalah Islam. Tapi lantaran terlalu lama di hutan, agama hilang. Apa saja dimakan demi bertahan hidup. Meski begitu, adat masih mereka pegang teguh. Misalnya kalau tak ada laki-laki di rumah, tamu laki-laki tak boleh masuk. Hanya boleh di teras dan sebelah kaki harus di tanah. Kalau melanggar, akan dihukum. 


“Tahun ‘58-‘59 jumlah orang Akit masih hanya 300 orang. Itupun di pinggiran Selat Morong, Hutan Panjang. Waktu itu saya masih kecil. Masih kelas 2 SD. Sekarang Suku Akit sudah berkembang hingga 2000 an kepala keluarga,” ujarnya. 
 
Belakangan, banyak Suku Akit yang kembali masuk Islam. “Ndak usah marah kalau ada yang masuk islam. Dulu kita tersesat di hutan, yang mau pulang ke asal (islam) ya silahkan. Sebab kita dulu islam,” begitulah omongan Batin Gelimbing saat itu. Batin Gelimbing adalah ayah Amirudin. 

Editor : Aziz

Berita Terkait