Tiga Datuk "Pulau Lotus"

Setidaknya ada dua versi cikal bakal nama pulau Rupat

Rupat. Pulau yang mirip daun Lotus (Nelumbo Nucifera) ini berada di antara Selat Malaka di Utara dan Kota Dumai di Selatan. Luasnya mencapai 1522,85 kilometer persegi. Pulau ini dibagi menjadi dua kecamatan; Rupat dan Rupat Utara. 

Rupat dengan ibukota Batu Panjang seluas 894,35 kilometer persegi. Wilayah ini kemudian dibagi menjadi 12 desa dan 4 kelurahan. Desa terluas, mencapai 100 kilometer persegi disandang oleh Makeruh. Sementara desa terkecil adalah Sukarjo Mesim dengan luas hanya 26 kilometer persegi. Kecamatan ini dihuni oleh 32.667 jiwa.

Rupat Utara dengan ibukota Tanjung Medang memiliki luas 628,50 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 13.324 jiwa. Wilayah ini dibagi menjadi 8 desa. Titi Akar menjadi desa terluas; mencapai 300 kilometer persegi. Lantas desa terkecil adalah Tanjung Punak. Hanya 66 kilometer persegi.

Dulu orang yang mau ke Rupat Utara masih harus menumpangi speedboat dari Dumai ke pelabuhan Tanjung Medang. Begitu juga orang yang mau ke Rupat. Hanya bisa memakai speedboat ke pelabuhan Batu Panjang. 

Tapi tiga tahun belakangan, akses ke kedua kecamatan ini sudah tergolong mudah. Mau ke Rupat, sudah bisa pakai kendaraan roda empat atau lebih dengan menumpang kapal penyeberangan dari Dumai menuju Pelabuhan Batu Panjang atau sebaliknya. 

Dari Batu Panjang, sudah bisa lanjut ke Rupat Utara dengan melintasi jalan semenisasi yang cukup bagus. Tadinya jalan semenisasi ini ditargetkan sepanjang 51 kilometer. Kalau ditambahi 30 kilometer lagi, sudah bisa sampai di Tanjung Medang, ibukota Rupat Utara.

Di Rupat Utara, Anda tak lagi sulit untuk mencari penginapan. Sebab dari kawasan Pantai Lapin hingga ke Tanjung Medang, puluhan wisma siap menanti Anda. Bahkan ada pula mess yang disiapkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bengkalis dekat kantor Camat Rupat Utara. Mau wisma yang dekat dengan bibir pantai juga ada.  

Selain pantai pasir panjang yang membentang dari kawasan Tanjung Medang hingga ke Putri Sembilan, Anda bisa mendatangi pulau Beting Aceh dan Pulau Babi. Dua pulau ini tak akan mengecewakan. Sebab Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rahman saja terkagum-kagum. 

Tak banyak yang tahu sejarah tentang pulau yang menyimpan sejuta pesona bahari ini. Sebab cerita yang berseliweran tak hanya satu. Adalah satu kerajaan di Siak Kecik yang punya dua kakak beradik bernama Tengku Bahrum dan Tengku Bahman. 

Tengku Bahrum disebut-sebut sosok yang baik dan santun. Berbanding terbalik dengan adiknya yang degil, ganas dan culas. Tengku Bahman ingin menguasai kerajaan. Inilah yang membikin Bahman berupaya melenyapkan Bahrum. 

Bahrum yang tak ingin ribut dengan adiknya memilih pergi dari kerajaan itu. Bersama istri, pengawal dan dayang-dayang, Bahrum menuju pulau yang kemudian dinamai Bengkalis. Dia mendirikan rumah di pinggiran Sungai Bengkalis sekarang.

Kepergian Bahrum tak membikin Bahman puas. Dia mengejar abangnya itu setelah dapat kabar dari Panglima Muara, Bahrum minggat. Maunya Bahman, dia ingin menengok dengan mata kepala sendiri, Bahrum meregang nyawa.  

Tahu dia dikejar, Bahrum menyingkir ke arah kawasan Tanjung Jati dekat Perepat Tunggal sekarang. Dia memutuskan untuk pergi ke tanah seberang saja. Dia memboyong semua pengikutnya, termasuk Laksamana. Namun di perjalanan, bahtera yang mereka tumpangi justru sampai ke Tanjung Jering, dekat Mesim sekarang.

Dibilang Tanjung Jering lantaran di sana ada satu pohon yang buahnya banyak dan bagus. Istri Bahrum yang sedang hamil ngiler menengok buah itu. “Boleh tak dimakan buah itu, Kakanda?” sang istri bertanya. 

“Nanti saya tanya Perdana Menteri dulu,” ujar Bahrum. 
  
Perdana menteri kemudian menjawab bahwa buah tadi adalah buah jering --- jengkol --- yang bisa dijadikan lalapan saat makan. Dimakanlah sama istri Bahrum jering tadi. Rasanya enak. Sehabis makan, Bahrum bertanya kepada Laksamana, apa nama pulau yang mereka singgahi itu. 

“Patik tak tahu, Tengku,” jawab Laksamana.

“Saya tengok banyak pokok Perepat di sini. Saya kasi namalah ini Pulau Rupat,” kata Bahrum. 

Dari pemberian nama yang dilakukan oleh Bahrum inilah kemudian disebut-sebut sebagai cikal bakal beberapa kawasan di pulau Rupat dinamai sesuai dengan apa yang banyak tumbuh di daerah itu. Misalnya Desa Teluk Rhu. Ini memang lantaran banyak pohon Rhu di tempat itu. Tanjung Punak, Medang, juga begitu. Lantaran di sana banyak pohon Medang dan Punak. 

Akhir kisah pelarian Bahrum inilah kemudian muncul makam Putri Sembilan di Desa Putri Sembilan sekarang. “Di sinilah pertempuran antara Bahrum dan Bahman terjadi. Bahman berhasil dibunuh oleh panglima pengikut Bahrum setelah sebelumnya diikat dengan akar Mempelan. 

Di lain cerita, persis di jaman Raja Kecik yang bertahta di Kerajaan Siak Sri Indrapura, adalah sekelompok orang yang ingin mendiami pulau ini. Rupanya pulau sudah berpenghuni dan dijaga oleh Datuk Empang Kelapahan, Datuk Kebeneh dan Datuk Bintang Beheleh. Dua nama terakhir adalah suami istri.

Datuk meminta sejumlah syarat jika memang kelompok ini akan tinggal di pulau itu. Setelah syarat dipenuhi, Datuk Empang Kelapahan pergi ke Pulau Tujuh. Sebelum berangkat dia mengatakan kalau pulau yang akan didiami oleh kelompok tadi adalah pulau Betukah Tempat.

Kata Datuk Empang Kelapahan, meski dia pergi ke Pulau Tujuh, gampang saja dia datang lagi bila dibutuhkan. Dan setelah dia pergi pun, masih ada empat orang sakti yang akan menjaga pulau itu; Datuk Kebeneh, Datuk Bintang Beheleh, Datuk Sakti dan Panglima Galang. Ada pun kelompok yang diizinkan tinggal di pulau itu tadi adalah suku Akit yang ada sekarang. 

Batin Amirudin yang sampai sekarang menjadi pimpinan suku Akit menyebut bahwa Suku Akit yang ada di Pulau Rupat terbagi dua. Akit dan Akit Hatas. “Suku Hatas berada di bagian barat. Sementara di Utara, Timur hingga Tanjung Jering, adalah Akit. Batas wilayahnya di Sungai Gudang,” lelaki 68 tahun ini merinci saat berbincang dengan katakabar.com di rumahnya di kawasan jalan Pelabuhan Desa Hutan Panjang, awal bulan lalu. 

Editor : Aziz

Berita Terkait