Tillerson Desak Korut Stop Uji Coba Rudal

  • Reporter:
  • 16 Desember 2017, 11:54:55 WIB
  • Internasional

NEW YORK (katakabar) - Sekretaris Negara Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson, mendesak Korea Utara (Korut) untuk menghentikan terus menerus uji coba senjata. Hal itu agar pembicaraan mengenai program nuklir dan rudal Pyongyang bisa dilakukan oleh kedua negara.

"Korea Utara harus kembali ke meja perundingan. Kampanye tekanan harus dan akan berlanjut sampai denuklirisasi tercapai," kata Tillerson dalam sebuah pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai program senjata Korea Utara. Dia tidak menentukan berapa lama jeda itu harus bertahan.

Pasca pertemuan tersebut, Tillerson mengatakan AS tidak akan menerima prasyarat untuk melakukan pembicaraan dengan Korut seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (16/12/2017).

Pernyataan Tillerson ini berbeda dengan beberapa hari lalu. Awal pekan ini Tillerson menyatakan siap memulai pembicaraan langsung dengan Korut tanpa syarat. Pernyataan ini berbeda dengan tuntutan utama AS bahwa Pyongyang harus menerima untuk melucuti senjata nuklirnya sebagai bagian dari negosiasi apapun.

Sebelumnya, Tillerson telah menaikkan harapan minggu ini bahwa AS dan Korut dapat bernegosiasi untuk menyelesaikan kebuntuan mereka ketika dia mengatakan bahwa AS siap untuk berbicara kapanpun Korut ingin berbicara.

Namun Gedung Putih menjauhkan diri dari ucapan Tillerson tersebut dan mengatakan bahwa sekarang bukan saatnya untuk negosiasi.

Sementara itu, Duta Besar Korut untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak menyebutkan adanya panggilan Tillerson untuk menghentikan pengujian saat dia menghadiri pertemuan PBB yang sama.

Duta Besar Ja Song Nam mengatakan negaranya tidak akan menimbulkan ancaman terhadap negara manapun, asalkan kepentingannya tidak dilanggar.

"Pertemuan Dewan Keamanan PBB adalah tindakan putus asa yang diplot oleh Amerika Serikat karena takut akan kekuatan Republik kita yang luar biasa yang telah berhasil mencapai tujuan bersejarah yang hebat untuk menyelesaikan kekuatan negara nuklir," katanya.

Editor :

Berita Terkait