Trio Sutan

Mereka membawa warga ‘belian’ dari Mentawai. Mereka disebut cikal bakal orang Sakai.  

Apa yang diceritakan Musa maupun Kitah teramat beda dengan apa yang ditulis oleh almarhum Prof. Dr. Parsudi Suparlan dalam bukunya berjudul ‘Orang Sakai di Riau’. Meski kemudian Musa dan Kitah sama-sama bercerita soal Sutan Janggut dan Sutan Imau. Malah Kitah juga menyebut-nyebut Sutan Rimbo. 

Dalam buku setebal 533 halaman yang diterbitkan oleh Yayasan Obor pada tahun 1995 itu, Parsudi cerita kalau soal orang Sakai, dia dapat cerita dari mantan Batin Beringin Sakai bernama Saepel. Dalam obrolan panjang mereka, Saepel berkisah bahwa muasal orang Sakai itu berasal dari Negeri Pagaruyung.

Sayangnya Saepel tak menceritakan kapan pertama kali orang Pagaruyung itu datang dan di jaman raja apa peristiwa itu terjadi. Yang pasti saat itu katanya, kawasan Pagaruyung sudah padat penduduk. Lantaran itulah Raja berusaha mencari kawasan yang kosong untuk tempat tinggal sebahagian rakyatnya itu. Raja kemudian memilih kawasan Timur Pagaruyung yang masih rimba belantara.

Mula-mula raja mengirim 189 orang janda yang dikomandani oleh seorang prajurit laki-laki. Setelah begitu lama menembus hutan belantara, mereka sampai di tepian sungai yang kemudian diberi nama Sungai Biduando. Nama ini diambil dari keadaan rombongan ini. Ada Ando (janda) 189 orang yang dikepalai oleh seorang Bidu (kepala rombongan).  

Biduando ini kemudian dipercaya menjadi cikal bakal nama Mandau, meski sebahagian orang berpendapat bahwa nama Mandau itu berasal dari kata Marandau --- campuran nasi dan ubi kayu --- yang menjadi makanan khas orang Sakai. Makanan khas ini lebih dikenal pula dengan sebutan Mangalo. 

Setelah cukup lama bermukim di bibir sungai tadi, rombongan ini merasa betah. Menganggap kalau tempat itu sangat cocok untuk tempat penghidupan baru. Alhasil, keadaan ini kemudian mereka laporkan ke Pagaruyung. 
Dapat laporan bagus kayak begitu, Raja pun mengirim tim baru ke tempat yang dimaksud rombongan tadi. Adalah tiga hulubalang yang dikirim sebagai perintis; Sutan Janggut, Sutan Harimau dan Sutan Rimbo. Mereka membawa ragam perbekalan; mulai dari bekal makanan, bibit tanaman hingga biji besi yang bisa dijadikan senjata tajam. 

Sayangnya, setelah bertahun-tahun menyusuri hutan belantara, rombongan ini justru tak menemukan tempat yang disebut oleh rombongan Biduando tadi. Mereka malah nyasar ke Kunto Bessalam --- Kunto Darussalam sekarang. 
Di sana mereka mengaku tunduk pada raja Kunto Bessalam. Lantaran dianggap baik dan sudah bertahun pula tingga di kerajaan itu, mereka diangkat sebagai hulubalang. Kebetulan pula, raja punya misi besar. Ingin menjadikan Kunto Bessalam menjadi kerajaan besar. 

Biar cita-cita itu tercapai, raja ingin penduduk yang cuma 25 keluarga dengan 10 orang hulubalang, segera bertambah. Minimal kata raja, harus ada tambahan penduduk 100 orang lagi. Raja mendengar bahwa penduduk pulau Mentawai cukup ramai. 

Sutan Janggut cs diutus ke sana untuk ‘membeli’ orang. Lantaran itulah raja membekali mereka dengan sejumlah emas, perak dan intan berlian untuk diserahkan kepada kepala kampung di sana. 

Di Kunto Bessalam, orang-orang yang ‘dibeli’ tadi disuruh kerja paksa membangun kota Kunto Bessalam. Tak terkecuali penduduk yang sudah ada sebelumnya. Butuh waktu sekitar 10 tahun mereka mewujudkan kota seperti yang diinginkan raja. 

Setelah rampung, raja mengutus separuh dari warga belian tadi untuk membangun di kerajaan Rokan. Kebetulan raja kerajaan Rokan itu konco raja Kunto Bessalam. Sutan Janggut dan Sutan Rimbo yang disuruh mengomandani mereka. 

Belum rampung pekerjaan, duo Sutan ini kabur bersama lima pekerja. Mereka tak tahan lantaran raja Rokan kejam. Bertahun-tahun mereka mengembara masuk hutan keluar hutan hingga sampai ke kawasan Mandau. Para pelarian inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai nenek moyang orang sakai. 

Editor : Aziz

Berita Terkait