Ulah Bobol Uang Nasabah, Eks Teller Bank BRI Diciduk Polisi

Pekanbaru, katakabar.com - Eks Teller Bank BRI Unit Bagan Besar Dumai berinisial HN umur 29 tahun mesti berurusan dengan kepolisian gegara bobol uang nasabah miliaran rupiah.

Terungkapnya kasus ini bermula dari kecurigaan Dedi Reflian selaku Unit Risk Complain (URC) yang bertugas melakukan pengawasan Bank BRI Cabang Dumai, saat melakukan pemeriksaan menemukan kecurigaan transaksi setoran dan penarikan hanya beberapa saat di hari yang sama pada Senin (22/3) lalu.

Dari kecurigaan itu, pihak Bank BRI Cabang Dumai membuat laporan ke Polda Riau. Selepas menerima laporan, Subdit II Ditreskrimsus Polda Riau melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi pihak Bank BRI, meliputi nasabah, penelitian dan pengumpulan dokumen.

Hasil penyelidikan ditemukan USER ID 8119051 milik tersangka HN sewaktu bertugas sebagai Teller Bank BRI Unit Bagan Besar Cabang Dumai tertera pada validasi slip penarikan 8 orang nasabah yang telah berhasil ditransaksikan terjadi kurun waktu Januari hingga Maret 2021.

"Tersangka ini, saat menjadi Teller Bank BRI Unit Bagan Besar Dumai melakukan transaksi dengan memalsukan tanda tangan pemilik rekening (nasabah) di slip penarikan," kata Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto, pada Selasa (21/9/2021).

Kata Kabid Humas Polda Riau ini, tersangka selaku Teller menirukan tanda tangan nasabah di slip penarikan. Selanjutnya, menggunakan rekening penampung teman tersangka bernama Edrian Nofrialdi, dimana kartu ATM dalam penguasaan tersangka untuk selanjutnya diteruskan ke rekening pribadi tersangka di Bank BRI dan Bank BCA.

Setelah penyidik melakukan perhitungan, 8 orang nasabah mengalami kerugian mencapai Rp1,2 miliar lebih

"Tersangka ditangkap di rumahnya di kawasan Kelurahan Teluk Binjai Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai pada Kamis (16/9) lalu," cerita mantan Kabid Humas Polda Sultra ini.

Uang hasil kejahatan dari transaksi penarikan dari rekening tabungan nasabah sambung Kombes Pol Sunarto, digunakan HN untuk bayar utang lantaran menunggak pinjaman online dan untuk kepentingan pribadi dan keluarga.

"Tersangka dijerat Pasal 49 ayat (1) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Terus, Pasal 49 ayat (2) huruf b Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, sebutnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait