Usai Bunuh Bocah 10 Tahun, Siswa SMA Perkosa Mayat

Katakabar.com - Seorang siswa SMA berinisial AW (18) diringkus polisi karena kasus pembunuhan dan perkosaan terhadap bocah perempuan, IC (10). Mayat korban ditemukan warga dua hari setelah kejadian.

Peristiwa itu bermula saat hendak menyusul ibunya di kebun karet dengan berjalan kaki sendirian tak jauh dari kampungnya di Kelurahan Karya Makmur, Kecamatan Nibung, Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, Kamis (24/9) pukul 17.30 WIB.

Ketika itu, korban bermaksud membawakan bungkusan karung berisi sembako untuk ibunya. Di perjalanan, korban bertemu dengan pelaku lantas didekatinya. Pelaku sempat menanyakan ibu korban, namun korban memarahinya.

Tak terima, pelaku langsung menyeret korban ke kebun karet dan memukul tengkuk korban dua kali. Kemudian, pelaku membenturkan kepala korban ke pohon karet berkali-kali hingga tewas.

Mayatnya Malah Diperkosa

Pelaku bukannya panik begitu mengetahui korban sudah tak bernyawa. Dia malah memperkosa mayat korban. Barulah kemudian, pelaku meninggalkan mayat korban dalam keadaan tanpa busana.

Dua hari kemudian atau tepatnya pada Sabtu (26/9) pagi, warga menemukan jasad korban tergeletak di kebun dan akhirnya dilaporkan ke polisi. Petugas melakukan visum dan ditemukan banyak kejanggalan sehingga dilakukan penyelidikan dan penangkapan pelaku.

Kapolsek Nibung AKP Denhar mengungkapkan, tersangka diringkus berdasarkan penyelidikan mendalam hasil olah TKP dan keterangan saksi yang menyebut dia orang terakhir bertemu dengan korban. Tersangka pun mengakui perbuatannya dalam pemeriksaan penyidik.

"Benar, tersangka membunuh lalu memperkosa korban setelah meninggal dunia," ungkap Denhar, Senin (28/9).

Dikatakan, tersangka dan korban saling mengenal karena tinggal di desa yang sama. Bahkan, keduanya diketahui masih memiliki hubungan keluarga dekat.

"Tersangka masih berstatus pelajar, masih ada hubungan keluarga dengan korban," kata dia.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 81 ayat (1) juncto Pasal 76D dan Pasal 80 ayat (1) dan (3) juncto Pasal 76C Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait