Wow.., Komitmen Investasi Jepang Capai Rp 40 Triliun

  • Reporter:
  • 20 November 2019, 16:59:00 WIB
  • Internasional

Jepang, katakabar.com - Kementerian Perindustrian menyatakan sejumlah pelaku industri skala besar di Jepang bakal membawa uangnya masuk ke Indonesia dengan total capai Rp 40 Triliun hingga Tahun 2023 mendatang. Komitmen investasi ini menjadi kabar baik yang diharapkan dapat terealisasi dengan cepat sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.

“Secara garis besar, dari hasil pertemuan dengan pelaku industri di Jepang sangat produktif. Sudah ada beberapa komitmen untuk investasi baru dan pengembangan (ekspansi),” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita lewat siaran persnya di lansir dari laman Situs Resmi Kemenperin, kemarin.

Pada Senin 18 November 2019 lalu, Menperin, Agus melakukan one on one meeting secara maraton dengan Delapan korporasi asal Negeri Sakura di Tokyo, Jepang. Para investor itu meliput, Direksi Nippon Steel, Nippon Shokubai, AGC Inc dan Toyota Group.

Menurut Menperin, Nippon Shokubai siap melakukan investasi baru sebesar USD 200 Juta untuk pabrik acrylic acid berkapasitas 100.000 metrik ton. Saat ini, kapasitas produksi pabrik Nippon Shokubai sebesar 140.000 metrik ton, jadi pada November 2021 menjadi 240.000 metrik ton.

Dalam pada itu, PT Asahimas Chemical anak perusahaan AGC Inc. Jepang bakal menggelontorkan dananya senilai Rp 1,3 Triliun untuk ekspansi pabrik fase ke 7 di Cilegon Banten. Investasi ini untuk perluasan pabrik Polivinil Klorida (PVC) fase ke 7 dengan kapasitas 200.000 metrik ton per Tahun. Pabrik ini ditargetkan rampung dan komersialisasi pada semester I Tahun 2021 mendatang.

Pihak Asahi sempat mempertanyakan pasokan bahan baku untuk mendukung proses industrinya di Indonesia. Soal itu, Kemenperin selaku pembina sektor manufaktur bakal menjaga kelancaran pasokan bahan baku untuk industri, termasuk kebutuhan garam.

“Soal keberlanjutan bahan baku garam, kami sudah berikan komitmen. Berapa pun yang dibutuhkan industri diberikan kemudahan. Dengan catatan, belum tersedia di dalam negeri", jelasnya.

Diceritakan Agus, banyak masukan dari pelaku industri Jepang yang berminat investasi di Indonesia.

“Kami ingin mengeksplorasi dan mengetahui berbagai tantangan apa saja yang ditemukan oleh industri di lapangan"..

Bila disimpulkan, belanja masalah yang diperolehnya dari para investor tersebut, penilaiannya tidak tidak terlalu banyak yang menganggu kegiatan investasi mereka di Indonesia. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, soal pasokan bahan baku, upah pekerja dan regulasi.

Dicontohkannya, Asahimas Group yang meminta diperhatikan suplai gas sebagai bahan baku atau paling tidak harga gas industri tidak naik lagi.

Untuk merespons tentang harga gas industri, Menperin terus berkoordinasi di tingkat lintas kementerian seperti dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Kini, sudah ada aturan dari Menteri ESDM untuk menunda kenaikan harga gas dengan jangka waktu yang tidak ditentukan".

Para pelaku industri Jepang menilai bahwa peraturan Pemerintah Indonesia mengenai harga gas industri sudah cukup baik.

Soal upah, pelaku industri Jepang berharap adanya perbaikan upah pekerja di Tanah Air. Untuk itu, Menperin berkomitmen untuk melihat kembali sistem pengupahan yang berlaku saat ini.

“Kami akan lakukan pendekatan sektoral, tidak hanya pendekatan wilayah saja. Industri yang menghasilkan devisa atau padat tenaga kerja perlu kita beri treatment khusus".

Editor : Sahdan

Berita Terkait