Transaksi Kripto RI Hampir Rp100 Triliun, Pelaku Industri Mulai Profit Ekonomi
Ekonomi
Kemarin

Transaksi Kripto RI Hampir Rp100 Triliun, Pelaku Industri Mulai Profit

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto Indonesia terus memperlihatkan perkembangan positif, baik dari sisi transaksi perdagangan dan jumlah investor. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aktivitas transaksi kripto di pasar spot telah mencapai Rp99,01 triliun secara year-to-date hingga April 2026, mendekati ambang Rp100 triliun hanya dalam periode empat bulan. Pertumbuhan tersebut turut ditopang oleh peningkatan jumlah pengguna aset keuangan digital dan aset kripto di Indonesia. Hal ini menunjukkan minat masyarakat terhadap instrumen aset digital masih tetap kuat, meski kondisi pasar global masih bergerak fluktuatif. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyampaikan nilai transaksi aset kripto pada April 2026 tercatat sebesar Rp22,98 triliun. Realisasi tersebut lebih tinggi 2,86 persen dibandingkan Maret 2026 yang berada di level Rp22,34 triliun. Dengan tambahan transaksi pada April, akumulasi transaksi kripto nasional sejak awal tahun telah mencapai Rp99,01 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia masih cukup solid di tengah dinamika pasar. “Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto di Indonesia tercatat masih terjaga dengan baik,” ujar Adi Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Mei 2026, Juma (5/6). Jumlah Konsumen Terus Bertumbuh Selain dari sisi transaksi, OJK juga mencatat adanya kenaikan jumlah akun konsumen aset keuangan digital dan aset kripto. Pada April 2026, jumlah akun konsumen mencapai 21,70 juta, meningkat dari 21,37 juta akun pada Maret 2026. Kenaikan sebesar 1,57 persen secara bulanan tersebut menjadi sinyal bahwa adopsi aset kripto di Indonesia masih berlanjut. Bertambahnya jumlah akun konsumen juga memperlihatkan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap pemanfaatan aset digital sebagai bagian dari aktivitas keuangan mereka. Kondisi ini sekaligus memperkuat pandangan ekosistem aset kripto nasional mulai memasuki tahap perkembangan yang lebih matang, tidak hanya dari sisi jumlah pengguna, tetapi juga dari sisi aktivitas transaksi dan kesiapan pelaku usaha. PAKD Mulai Tunjukkan Kinerja Positif Perkembangan industri juga terlihat dari kinerja Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD). OJK menyampaikan bahwa seluruh PAKD telah menyerahkan laporan keuangan untuk tahun buku 2025. Dari laporan tersebut, sebagian pelaku usaha telah berhasil mencatatkan kinerja yang positif. Di sisi lain, masih terdapat pelaku usaha yang berada dalam tahap konsolidasi dan investasi. Fase tersebut terutama berkaitan dengan kebutuhan pengembangan teknologi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian terhadap kerangka pengawasan OJK. Salah satu PAKD yang mencatatkan performa positif adalah Tokocrypto. Perusahaan berhasil membukukan profitabilitas selama dua tahun berturut-turut. Capaian ini mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam memperkuat model bisnis, menjaga efisiensi operasional, serta meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap platform. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa industri kripto di Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang sehat apabila dijalankan dengan tata kelola yang baik, inovasi berkelanjutan, dan komitmen terhadap perlindungan konsumen. “Capaian profitabilitas Tokocrypto dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa industri aset kripto dapat berkembang secara lebih sehat dan berkelanjutan. Bagi kami, pertumbuhan bisnis harus berjalan seimbang dengan penguatan produk, peningkatan kualitas layanan, keamanan sistem, serta kepatuhan terhadap regulasi,” ulas Calvin. Produk Kripto Semakin Beragam Calvin menjelaskan, Tokocrypto terus mengembangkan produk dan layanan untuk menjawab kebutuhan pengguna yang semakin beragam. Penguatan layanan ini dilakukan untuk menciptakan pengalaman transaksi yang lebih mudah, aman, dan relevan dengan kondisi pasar. Saat ini, sejumlah produk yang paling banyak diminati pengguna Tokocrypto mencakup perdagangan spot, staking, serta fitur Dollar Cost Averaging (DCA) atau pembelian berkala. Ketiga layanan tersebut dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi pengguna dengan kebutuhan dan strategi yang berbeda. Perdagangan spot masih menjadi pilihan utama karena memberikan akses langsung bagi pengguna untuk melakukan jual beli aset kripto. Sementara itu, staking menjadi alternatif bagi pengguna yang ingin mengoptimalkan aset kripto yang dimiliki. Di sisi lain, DCA semakin diminati karena membantu pengguna melakukan pembelian secara bertahap dalam periode tertentu. “Dalam situasi pasar yang masih bergerak dinamis, pengguna membutuhkan layanan yang tidak hanya mudah digunakan, tetapi juga membantu mereka mengambil keputusan secara lebih terencana. Spot trading tetap menjadi produk utama, sementara staking dan DCA semakin relevan bagi pengguna yang ingin menghadapi volatilitas pasar dengan pendekatan yang lebih disiplin,” jelas Calvin. Ketahanan Industri Jadi Perhatian Utama OJK menegaskan penilaian terhadap industri aset keuangan digital dan aset kripto tidak hanya bertumpu pada aspek profitabilitas. Regulator juga memperhatikan kecukupan modal, kualitas tata kelola, keandalan teknologi, keamanan siber, serta kemampuan pelaku usaha dalam melindungi aset dan dana konsumen. “Yang paling penting adalah industri memiliki ketahanan, tata kelola yang baik, dan mampu menjalankan kewajibannya kepada konsumen secara kredibel,” ujar Adi. OJK juga menyoroti profitabilitas industri masih memiliki tantangan. Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain beban biaya transaksi serta aspek perpajakan. Oleh karena itu, regulator bersama pemangku kepentingan terkait terus melakukan kajian untuk mendorong ekosistem aset keuangan digital yang lebih sehat dan kompetitif. Ekosistem Kripto Nasional Terus Diperkuat Dengan nilai transaksi yang hampir menyentuh Rp100 triliun hingga April 2026, pertumbuhan jumlah konsumen, serta mulai membaiknya kinerja sejumlah PAKD, industri kripto Indonesia dinilai berada pada jalur pertumbuhan yang lebih kuat. Calvin menilai momentum ini perlu dijaga melalui kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat. Penguatan edukasi, peningkatan standar layanan, inovasi produk, serta penerapan tata kelola yang baik menjadi faktor penting untuk membangun ekosistem aset kripto yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Ke depan, industri aset kripto nasional diharapkan tidak hanya tumbuh dari sisi transaksi, tetapi juga mampu memperkuat kepercayaan publik melalui layanan yang kredibel, transparan, dan sesuai dengan ketentuan regulasi yang berlaku.

Bittime Perkuat Strategi 'Regulatory-First dan User-Centric' di Era Aset Kripto Bersama IPB, Stellar dan Rise In Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 03 Juni 2026 | 10:10 WIB

Bittime Perkuat Strategi 'Regulatory-First dan User-Centric' di Era Aset Kripto Bersama IPB, Stellar dan Rise In

Jakarta, katakabar.com - Di tengah pertumbuhan industri aset kripto Indonesia yang semakin dinamis, Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hadir dalam kolaborasi strategis bersama Stellar dan Rise In di Universitas IPB. Pada kolaborasi ini Bittime, menegaskan posisi nya dalam menyelaraskan kebutuhan pengguna dengan tren dinamis pasar aset kripto di Indonesia. Sebelumnya, kolaborasi yang digelar pada pekan keempat Mei 2026 lalu, kemarin, bertujuan mempertemukan perspektif akademik, infrastruktur blockchain global, dan komunitas developer Indonesia. Hal ini menjadikannya ruang diskusi yang komprehensif tentang arah masa depan industri aset digital di Indonesia. Salah satu fokus dalam sesi ini adalah seminar komprehensif terkait keragaman peran strategis yang dibutuhkan untuk membangun produk Web3 yang berkelanjutan. Berbeda dengan anggapan umum bahwa dunia aset kripto hanya untuk developer blockchain, Bittime menegaskan bahwa ekosistem Web3 yang sehat membutuhkan berbagai peran strategis dalam membangun ekosistem yang inklusif. Mulai dari Smart Contract Engineer yang membangun fondasi protokol, hingga ke Desainer Frontend/UI/UX yang merancang user interface dan memastikan pengalaman pengguna yang seamless. Dan baru kemudian masuk ke tahap pengembangan produk mulai dari Riset & Validasi, Pengembangan, Audit & Testnet, dan Iterasi Mainnet. Product Marketing Supervisor Bittime, Fini Charisa, menyampaikan tingkat drop-off pengguna Web3 bahkan mencapai 90 persen, di mana calon pengguna mundur sebelum menyelesaikan proses onboarding pertama mereka. Hal ini bukan karena tidak tertarik mendalami Web3, melainkan karena pengalaman masuk ke dunia Web3 yang rumit bagi mayoritas pengguna. "Di Indonesia, banyak proyek Web3 yang hanya fokus pada peluncuran produk tanpa benar-benar membantu penggunanya. Di Bittime, produk kami dibangun di atas dua pilar utama: menjadi Regulatory-First dengan mematuhi standar OJK secara ketat, dan menghadirkan User-Centric UX yang menyajikan aplikasi intuitif untuk pengguna sehari-hari,” kata Fini. Sebagai platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berizin, Bittime berbasis pada dua fundamental utama, yakni Regulatory-First dan User-Centric UX yang menghadirkan aplikasi intuitif bagi pengguna sehari-hari. Selain itu, Bittime memiliki fokus utama dalam membantu pengguna mengamankan dan mengembangkan portofolio mereka dengan mudah. Fokus strategis dan proposisi nilai ini, diwujudkan melalui tiga tahapan yakni Entry, Allocate, dan Earn. Pada tahap Entry, Bittime menghadirkan IDR Swap Zero Fee, memungkinakn konversi Rupiah ke kripto tanpa biaya tambahan, dan menghilangkan hambatan finansial pertama bagi investor baru. Allocate merupakan layanan bagi investor untuk dapat memiliki akses terhadap aset global nyata, seperti Tether Gold (XAUT), perak, dan saham Amerika seperti Magnificent 7 melalui tokenisasi Real World Assets (RWA) yang dapat diperdagangkan dengan Rupiah. Setelah memberikan langkah awal dan akses terhadap aset-aset global  yang mudah bagi investor, Bittime juga menghadirkan fitur fleksibel staking dengan APY hingga 10 persen untuk pengguna baru. Dengan fitur ini, investor memiliki kesempatan untuk Earn passive income dari aset yang dipegang, tanpa perlu lock-up dana dalam jangka waktu tertentu. Tahapan tersebut menekankan komitmen Bittime dalam menghadirkan akses bagi investor Indonesia untuk dapat memperluas portofolio investasi nya dan mengeksplorasi ekosistem Web3 dengan lebih mudah. Melalui kolaborasi dengan Universitas IPB, Stellar, dan Rise In, Bittime menunjukkan komitmen transformasi industri aset kripto Indonesia tidak bisa dilakukan sendirian. Sinergi antara institusi akademik, infrastruktur blockchain global, dan komunitas pengembang lokal adalah fondasi yang dibutuhkan untuk membangun ekosistem yang matang dan berkelanjutan. Bagi Bittime, kolaborasi ini sebagai wadah mendidik talenta muda, membuka dialog dengan institusi akademik, dan membangun jaringan yang pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan publik terhadap industri aset digital Indonesia. Pada komitmennya, Bittime berharap untuk dapat terus menghadirkan berbagai inovasi layanan yang relevan dengan dinamika pasar, serta kebutuhan investor di Indonesia, dengan tetap mengedepankan aspek keamanan, kepatuhan terhadap regulasi, dan penguatan ekosistem aset keuangan digital di dalam negeri. Ingat, nvestor perlu memahami dinamika pasar memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap strategi portofolio masing-masing. Mengingat, kondisi volatilitas pasar yang dapat menciptakan peluang, sekaligus risiko lebih tinggi bagi para trader. Lantaran itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Sebab, aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Selain itu, sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya. Tentang Bittime Bittime melalui PT Utama Aset Digital Indonesia adalah platform investasi aset kripto yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta terdaftar pada Kementerian Komunikasi & Digital (Komdigi). Bittime juga merupakan anggota Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) dan Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO). Selaku platform investasi aset kripto, Bittime memiliki visi untuk menjadi platform perdagangan dan investasi aset kripto pilihan utama masyarakat dengan fitur yang beragam serta memenuhi kebutuhan penggunanya. Aplikasi Bittime bisa diunduh di Google Play dan App Store. Disclaimer Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Bittime adalah platform perdagangan aset kripto terdaftar di Bappebti yang menyediakan informasi berdasarkan riset internal, bersifat umum dan edukatif. Informasi ini bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau perpajakan. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan. Pengguna wajib melakukan analisis mandiri dan memastikan kepatuhan terhadap seluruh peraturan yang berlaku.

FLOQ Analisa Pasar: BI Naikkan Suku Bunga, Trump Dukung Kripto dan Investor Waspada Kelola Risiko Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 29 Mei 2026 | 12:05 WIB

FLOQ Analisa Pasar: BI Naikkan Suku Bunga, Trump Dukung Kripto dan Investor Waspada Kelola Risiko

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset digital global memasuki pekan keempat Mei 2026 dengan kombinasi sentimen makroekonomi dan regulasi semakin mempengaruhi arah pergerakan pasar kripto.  Tekanan inflasi Amerika Serikat, kenaikan suku bunga Bank Indonesia, hingga langkah pro-kripto dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan utama yang diperkirakan akan mempengaruhi perilaku investor global maupun domestik.  Analisa pasar menunjukkan, investor kini menghadapi kondisi pasar yang bergerak di antara tekanan likuiditas global, dan meningkatnya legitimasi industri aset digital di tingkat internasional.  Inflasi Amerika Serikat kembali meningkat dengan Consumer Price Index (CPI) tahunan mencapai 3,8 persen pada April 2026. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (“higher-for-longer”), yang sebelumnya telah picu arus keluar dana dari aset berisiko termasuk ETF Bitcoin Spot sepanjang awal Mei.  Di tengah tekanan makro tersebut, Presiden Donald Trump pada 19 Mei 2026 menandatangani Executive Order mendorong pengurangan hambatan regulasi bagi perusahaan fintech dan aset digital di Amerika Serikat. Kebijakan ini dinilai sebagai salah satu sinyal paling kuat dalam beberapa tahun terakhir terkait integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan tradisional.  Langkah tersebut dapat memperkuat legitimasi industri kripto secara global, terutama karena regulator federal AS mulai diarahkan untuk mengeksplorasi integrasi aset digital ke sistem pembayaran tradisional dan infrastruktur keuangan nasional.  Selain itu, pasar menyoroti laporan mengenai “Hormuz Safe” dari Iran, sebuah platform asuransi maritim berbasis Bitcoin untuk kapal dan kargo yang melintas di Selat Hormuz. Meskipun tingkat implementasi dan skalanya masih belum terverifikasi secara independen, narasi ini memperkuat pandangan bahwa aset digital mulai digunakan tidak hanya sebagai instrumen investasi, tetapi juga alat pembayaran lintas batas dan mitigasi risiko perdagangan global.  Di Indonesia, Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 19 Mei 2026 guna menjaga stabilitas Rupiah di tengah penguatan dolar AS. Kebijakan ini diperkirakan akan memperketat likuiditas domestik dan meningkatkan biaya pinjaman di sektor perbankan.  Presiden RI, H Prabowo Subianto, menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di DPR pada 20 Mei 2026 sebagai respons terhadap dinamika ekonomi global yang semakin cepat berubah.  Kombinasi antara tekanan ekonomi domestik dan meningkatnya legitimasi aset digital global dapat membentuk pola perilaku investor baru di Indonesia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk melakukan diversifikasi aset.  “Pasar saat ini menunjukkan aset digital semakin bergerak menuju arus utama sistem keuangan global. Di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian makro, investor perlu memahami bahwa kripto bukan hanya soal volatilitas jangka pendek, tetapi bagian dari transformasi infrastruktur finansial global yang sedang berlangsung,” ujar Yudhono Rawis, Founder dan CEO FLOQ.  FLOQ menekankan pentingnya edukasi, dan manajemen risiko di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif. Untuk investor pemula, FLOQ menyarankan pendekatan akumulasi bertahap melalui metode Dollar-Cost Averaging (DCA) pada aset kripto blue-chip seperti Bitcoin dan Ethereum. Tidak hanya  itu, diversifikasi terukur ke stablecoin berbasis dolar AS seperti USDT atau USDC dapat menjadi alternatif untuk menjaga nilai aset di tengah pelemahan Rupiah.  Sementara bagi trader aktif, FLOQ mengingatkan pentingnya disiplin penggunaan stop loss dan pengelolaan leverage, terutama karena pasar saat ini bergerak sangat sensitif terhadap kebijakan bank sentral dan data ekonomi global.  Investor jangka panjang juga diminta untuk memperhatikan implementasi lanjutan Executive Order AS dalam 90 hari ke depan, yang dinilai dapat menjadi katalis baru bagi adopsi aset digital global.  Sebagai bagian dari edukasi finansial digital, FLOQ juga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa investasi aset digital bukan hanya tentang mengikuti tren pasar jangka pendek, tetapi memahami fundamental, manajemen risiko, dan strategi investasi yang sesuai dengan profil masing-masing pengguna.  Di tengah kondisi pasar yang bergerak dinamis, investor pemula disarankan untuk mempelajari strategi dasar seperti memahami momentum pasar, mengelola emosi saat volatilitas terjadi, hingga membedakan pendekatan investasi jangka pendek dan jangka panjang.  “Banyak orang tertarik masuk ke aset digital saat pasar naik, tetapi belum memahami bagaimana membangun strategi dan fondasi investasi yang sehat. Edukasi menjadi bagian penting agar pengguna tidak hanya ikut tren, tetapi memahami risiko, tujuan investasi, dan cara mengelola portofolio secara bertahap,” ulas Yudhono Rawis. Untuk membantu pengguna memahami strategi dasar investasi dan trading aset digital, FLOQ juga menyediakan berbagai artikel edukasi yang dapat dipelajari langsung melalui platform resmi FLOQ, di antaranya:  Strategi Dasar Trading: Beli Saat Turun, Jual Saat Naik  Strategi Investasi Bitcoin Jangka Pendek vs Jangka Panjang  Melalui pendekatan edukasi ini, FLOQ berharap masyarakat Indonesia dapat membangun pemahaman yang lebih matang terhadap aset digital, mulai dari cara kerja pasar, pengelolaan risiko, hingga strategi investasi yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.  Tentang FLOQ  FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif dan juga platform yang berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini,   FLOQ telah mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar and 2 juta App downloads dan mendukung 100+ aset digital. Dengan fokus pada pengembangan ekosistem dan kolaborasi strategis, FLOQ bertujuan menghadirkan manfaat nyata bagi penggunanya di era ekonomi digital.

Bitcoin Pizza Day Simbol Revolusi Finansial Global, Bittime Dorong Partisipasi Investor Aset Kripto Indonesia Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 14 Mei 2026 | 09:05 WIB

Bitcoin Pizza Day Simbol Revolusi Finansial Global, Bittime Dorong Partisipasi Investor Aset Kripto Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Diawali dengan 2 pizza, kini Bitcoin ($BTC) berhasil catatkan revolusi finansial global. Di mana perayaan Bitcoin Pizza Day yang diperingati setiap bulan Mei menjadi momen historis yang paling berkesan bagi komunitas aset kripto di seluruh dunia. Memperingati sejarah revolusi ini, Bittime menggelar kampanye Bittime Road to Bitcoin Pizza Day bertajuk “Trade Any Coins and Earn BTC!” bagi investor aset kripto Indonesia. Sebelumnya, sejarah ini bermula pada tahun 2010 ketika seorang programmer bernama Laszlo Hanyecz membeli dua loyang pizza menggunakan 10.000 BTC yang saat itu hanya bernilai sekitar US$41. Saat itu, Bitcoin belum memiliki nilai ekonomi yang jelas sehingga transaksi tersebut dianggap sebagai eksperimen berani untuk membuktikan fungsi mata uang digital dalam kehidupan sehari-hari.  Dan, seiring meningkatnya nilai Bitcoin ($BTC) secara signifikan, di mana tercatat sejak 2018 hingga 2026 Bitcoin ($BTC) telah mengalami kenaikan signifikan hingga +472%. Sehingga, peringatan ini tidak hanya mengenai “pizza termahal di dunia”, Bitcoin Pizza Day juga mencerminkan bagaimana teknologi blockchain berkembang dari inovasi komunitas menjadi bagian penting dalam sistem keuangan modern. Keberhasilan Bitcoin ($BTC) sebagai aset kripto pertama di dunia yang terus meroket secara eksponensial, mendorong Bittime, sebagai crypto exchange berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk mengambil peran dalam merayakan pencapaian tersebut melalui kampanye Bittime Road to Bitcoin Pizza Day.  Kampanye dengan tajuk "Trade Any Coin and Earn BTC!" dirancang dengan mekanisme trade-to-earn pada aset apapun untuk mendapatkan reward dalam bentuk $BTC. Sehingga investor berkesempatan mendapatkan nilai tambah dari setiap aktivitas jual-beli yang dilakukan pada platform Bittime. Selain itu, Bittime juga menghadirkan fitur flash staking yang sangat kompetitif dengan APY hingga 20% yang akan diadakan pada 22 Mei 2026. Inisiatif ini diharapkan dapat memotivasi para investor untuk terus mengembangkan portofolio digital mereka sekaligus mengenang revolusi finansial global yang diawali oleh Bitcoin ($BTC). CEO Bittime, Ryan Lymn, menyampaikan hal ini dipandang sebagai bentuk dukungan Bittime bagi perkembangan industri ekonomi kreatif Indonesia. Di mana, $BTC bukan hanya aset kripto pertama, tetapi juga penggerak ekonomi digital yang berbasis pada teknologi blockchain. “Melalui kampanye ini, kami berharap untuk dapat menunjukkan secara nyata bentuk dukungan kami bagi investor aset kripto Indonesia. Di mana, setiap aktivitas trading yang dilakukan pada platform Bittime berkesempatan untuk mendapatkan hadiah tambahan. Dengan ini, harapannya Bittime dapat terus memberikan ruangan bagi investor Indonesia untuk memperluas diversifikasi portofolio nya,” jelas Ryan. Selain itu, bagi para investor yang ingin mengoptimalkan pertumbuhan asetnya, Bittime akan menghadirkan flash staking $BTC dengan Annual Percentage Yield (APY) hingga 20% bagi pengguna baru. Ini memungkinkan para investor untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset kripto yang mereka miliki tanpa harus mengunci dana dalam jangka waktu tertentu.  Tetapi, perlu dipahami investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Tidak cuma itu, aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

OJK Nilai Pelemahan Kripto Wajar, Tokocrypto Soroti Peluang Bangkit Nasional
Nasional
Selasa, 12 Mei 2026 | 11:05 WIB

OJK Nilai Pelemahan Kripto Wajar, Tokocrypto Soroti Peluang Bangkit

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto di Indonesia masih menghadapi tekanan seiring melemahnya harga aset digital secara global. Tetapi, minat investor terhadap industri kripto dinilai belum surut. Kondisi ini terlihat dari jumlah konsumen kripto yang masih bertambah serta sikap investor institusi mulai lebih selektif dalam mengambil posisi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penurunan harga aset kripto saat ini bagian dari siklus pasar yang wajar. Saat rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026 yang digelar di pekan peratama Mei 2026 lalu, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyampaikan penurunan transaksi lebih disebabkan oleh proses normalisasi pasar setelah lonjakan harga pasca-halving Bitcoin pada 2024. "Ini menjadi high base effect, bukan pelemahan fundamental, tetapi ini sejalan dengan kondisi global, market cap kripto turun sekitar 45 persen dari all time high dari US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi sekitar US$2,3 triliun pada Maret 2026," ujar Adi. Data OJK menunjukkan transaksi kripto Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp28,04 triliun, terdiri dari Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif. Nilai perdagangan aset kripto domestik pada Maret 2026 juga tercatat turun 4,7 persen secara bulanan dari Rp24,33 triliun pada Februari 2026 menjadi Rp22,24 triliun, sementara total nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp75,83 triliun. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan penurunan aktivitas transaksi kripto di dalam negeri tidak bisa dilepaskan dari tekanan global yang masih membayangi pasar aset berisiko. “Kami melihat perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off global. Investor saat ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas masih tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian utama pasar,” kata Calvin. Menurut Calvin, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan hilangnya minat investor terhadap aset kripto. Sebaliknya, banyak pelaku pasar yang masih berada di ekosistem kripto, namun memilih strategi yang lebih defensif. “Investor tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil, seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih tepat dibaca sebagai fase wait and see,” jelasnya. Investor Kripto Terus Tumbuh OJK mencatat jumlah konsumen kripto Indonesia per Maret 2026 telah mencapai 21,37 juta akun, naik tipis dari bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kepercayaan terhadap industri aset digital masih tetap terjaga meski pasar sedang berada dalam fase konsolidasi. “Masih ada kepercayaan dari masyarakat bahwa pasar kripto bisa memberikan dampak positif bagi portofolio investasi mereka. Kenaikan jumlah investor di tengah fase konsolidasi menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih melihat kripto sebagai peluang untuk mendapatkan hasil positif dari aktivitas trading, yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi dan kualitas hidup mereka,” ulas Calvin. Calvin menilai prospek perdagangan aset kripto pada kuartal II-2026 berpotensi membaik secara bertahap, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis US$80.000 pada awal Mei 2026. “Bitcoin masih menjadi barometer utama sentimen pasar kripto. Ketika BTC mampu bertahan di atas level penting seperti kisaran US$78.000-US$80.000, kepercayaan investor biasanya mulai membaik. Namun, pemulihan ini kemungkinan masih selektif karena pasar tetap mencermati faktor makro, inflasi, geopolitik, dan kebijakan moneter global,” ucapnya. Selain pemulihan harga aset utama, Tokocrypto melihat ada beberapa katalis yang dapat mendorong kembali aktivitas perdagangan kripto di Indonesia. Di antaranya adalah kejelasan arah suku bunga The Fed, meredanya ketegangan geopolitik, meningkatnya likuiditas global, serta kebijakan pajak kripto yang lebih kompetitif. Calvin menegaskan penyesuaian kebijakan pajak dapat menjadi faktor penting untuk memperkuat ekosistem kripto nasional. “Pajak yang lebih kompetitif akan membantu meningkatkan daya tarik transaksi melalui exchange resmi di dalam negeri. Ini penting agar aktivitas perdagangan tetap berada di platform yang diawasi regulator, sehingga perlindungan investor dan transparansi pasar tetap terjaga,” terang Calvin. Dari sisi regulasi, OJK juga terus memperkuat pengawasan terhadap industri aset kripto. Standar seperti Know Your Customer (KYC), Know Your Transaction (KYT), Customer Due Diligence (CDD), dan Enhanced Due Diligence (EDD) diterapkan untuk menjaga keamanan ekosistem. Selain itu, sistem whitelist aset kripto juga membatasi aset yang dapat diperdagangkan di Indonesia guna meminimalkan risiko bagi investor. Calvin mengimbau investor ritel untuk tetap disiplin dalam menghadapi kondisi pasar yang masih fluktuatif. “Dalam kondisi pasar yang menurun, fokus utama investor sebaiknya bukan mengejar keuntungan cepat, tetapi menjaga modal dan mengelola risiko. Hindari keputusan emosional, batasi penggunaan leverage, pahami aset sebelum bertransaksi, dan gunakan platform resmi yang diawasi regulator,” sebut Calvin.

Trading Bukan Spekulasi: FLOQ Dorong Pendekatan Risk Management Investor Kripto Baru Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 10 Mei 2026 | 12:30 WIB

Trading Bukan Spekulasi: FLOQ Dorong Pendekatan Risk Management Investor Kripto Baru

Jakarta, katakabar.com - Di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi, FLOQ menilai pendekatan risk management menjadi semakin penting bagi investor kripto baru di Indonesia, terutama ketika pergerakan harga Bitcoin dan aset digital lainnya bergerak semakin agresif dalam waktu singkat. Harga Bitcoin tercatat mengalami kenaikan hingga menembus level US$81.697, Rabu (6/5) sekitar pukul 20.45 WIB lalu. Pergerakan ini melanjutkan tren volatilitas pasar kripto global yang dalam beberapa bulan terakhir dipengaruhi oleh berbagai sentimen makro, mulai dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, ketidakpastian geopolitik global, hingga meningkatnya arus investasi institusional ke aset digital. Menurut FLOQ, kondisi tersebut menciptakan peluang besar bagi investor, namun sekaligus meningkatkan risiko, terutama bagi pengguna baru yang belum memiliki strategi trading dan pengelolaan risiko yang disiplin. Industri Kripto Indonesia Masuki Fase Lebih Matang Pertumbuhan industri aset kripto Indonesia sendiri terus menunjukkan perkembangan signifikan. Per Mei 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah pengguna aset kripto di Indonesia telah mencapai 21,37 juta akun, meningkat dibandingkan 19,08 juta pengguna pada Oktober 2025. Sementara, nilai transaksi aset kripto per Maret 2026 tercatat mencapai Rp22,24 triliun, dengan total transaksi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp482,23 triliun. Selain pertumbuhan jumlah investor, OJK juga mencatat terdapat 29 entitas yang telah memperoleh persetujuan dalam ekosistem aset kripto Indonesia, termasuk bursa, lembaga kliring, kustodian, dan pedagang aset kripto fisik (PAKD). Dari jumlah tersebut, 24 entitas merupakan pedagang aset kripto resmi. Hingga Maret 2026, tercatat pula sebanyak 1.464 jenis aset kripto diperdagangkan di pasar Indonesia. Dijelaskan FLOQ, angka tersebut menunjukkan industri kripto Indonesia mulai memasuki fase yang lebih matang. Tetapi, di balik pertumbuhan pengguna dan transaksi yang semakin besar, edukasi mengenai strategi investasi dan pengelolaan risiko dinilai masih menjadi tantangan utama bagi banyak investor baru. “Trading bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek atau mengikuti hype pasar. Investor perlu memahami bahwa volatilitas yang tinggi juga berarti risiko yang tinggi. Karena itu, edukasi mengenai risk management menjadi fondasi penting dalam membangun kebiasaan investasi yang lebih sehat,” ujar Yudhono Rawis, Founder dan CEO FLOQ. Buy the Dip dan Pentingnya Entry Strategy Menurut FLOQ, fenomena “buy the dip” menjadi salah satu strategi yang mulai banyak diperhatikan investor ketika pasar mengalami koreksi tajam. Strategi ini merujuk pada pendekatan membeli aset saat harga mengalami penurunan dengan asumsi potensi pemulihan jangka panjang. FLOQ mengingatkan strategi tersebut tetap membutuhkan perencanaan entry yang matang dan pengelolaan risiko yang jelas, terutama di tengah volatilitas Bitcoin yang dapat bergerak ribuan dolar hanya dalam hitungan hari. “Banyak investor melihat koreksi pasar sebagai peluang. Tetapi tanpa strategi entry, limit harga, atau pengelolaan modal yang baik, keputusan membeli saat harga turun justru bisa berubah menjadi keputusan emosional,” terang Yudhono. Contohnya, ketika harga Bitcoin berada di kisaran Rp1,431 miliar, trader dapat menggunakan fitur Limit Order untuk menyiapkan beberapa level entry sebelum pasar bergerak. Alih-alih langsung membeli di market price, trader dapat memasang order beli otomatis di beberapa area koreksi, misalnya: -1% di sekitar Rp1,416 miliar, -3% di sekitar Rp1,388 miliar, atau -5% di sekitar Rp1,359 miliar. Dengan pendekatan ini, order baru akan tereksekusi apabila harga Bitcoin benar-benar turun ke level yang telah ditentukan sebelumnya. Masih FLOQ, strategi seperti ini umum digunakan trader untuk memanfaatkan volatilitas jangka pendek tanpa harus terus memantau pergerakan market selama 24 jam. Sebagai ilustrasi, apabila harga Bitcoin mengalami koreksi pada akhir pekan akibat volatilitas pasar, lalu rebound kembali ketika sentimen pasar membaik, trader berpotensi mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli saat koreksi dan harga ketika pasar kembali naik. Sebagai contoh sederhana: trader membeli Bitcoin di area -3% saat koreksi, lalu harga Bitcoin rebound beberapa persen ke area sebelumnya,maka trader dapat melakukan take-profit sesuai target yang telah dipersiapkan sejak awal. Kata FLOQ, pendekatan ini membantu investor membangun kebiasaan trading yang lebih disiplin karena keputusan entry dan exit telah direncanakan sebelumnya, bukan dilakukan secara impulsif akibat pergerakan harga atau sentimen media sosial. Disclaimer: Informasi yang disampaikan dalam artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual aset kripto tertentu. Pergerakan harga aset digital sangat volatil dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar global. Seluruh keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dengan mempertimbangkan profil risiko pribadi. Mengapa Banyak Trader Hindari Market Order Saat Volatil FLOQ menilai salah satu tantangan terbesar investor pemula bukan hanya memahami teknologi blockchain atau membaca pergerakan harga pasar, tetapi juga mengendalikan psikologi saat market bergerak ekstrem. Dalam kondisi bullish, investor sering terdorong melakukan pembelian karena fear of missing out (FOMO). Sebaliknya, saat pasar terkoreksi tajam, banyak pengguna justru melakukan panic selling tanpa strategi yang jelas. Padahal, menurut FLOQ, disiplin dalam menentukan entry point, target keuntungan, hingga batas risiko merupakan bagian penting dari pendekatan investasi yang lebih sehat. Sebagai bagian dari pendekatan tersebut, FLOQ menghadirkan fitur Limit Order yang memungkinkan pengguna menentukan harga beli maupun jual sesuai strategi masing-masing. Berbeda dengan market order yang langsung mengikuti harga pasar, fitur ini membantu investor melakukan entry dan exit secara lebih terukur sekaligus mengurangi potensi slippage, kondisi ketika harga aset berubah sebelum transaksi berhasil dieksekusi. Dalam periode tertentu, FLOQ juga menghadirkan program Zero Trading Fee untuk transaksi menggunakan fitur Limit Order guna mendorong pengguna mulai membangun kebiasaan trading yang lebih disiplin dan berbasis strategi. Edukasi dan Literasi Menjadi Fokus Industri Kripto Menurut FLOQ, pertumbuhan industri aset kripto Indonesia kini mulai memasuki fase yang lebih matang. Fokus pasar tidak lagi hanya mengenai jumlah pengguna baru, tetapi juga kualitas literasi dan kemampuan investor dalam memahami risiko investasi digital. “Seiring berkembangnya industri aset digital Indonesia, kami percaya edukasi mengenai risk management akan menjadi salah satu fondasi utama yang menentukan kualitas pertumbuhan industri ke depan. Trading bukan sekadar soal cepat membeli dan menjual aset, tetapi bagaimana investor mampu mengambil keputusan secara disiplin di tengah volatilitas pasar,” tutup Yudhono. Untuk membantu pengguna memahami strategi trading yang lebih terukur di tengah volatilitas pasar, FLOQ juga menyediakan berbagai materi edukasi melalui FLOQ Academy yang dapat diakses secara cuma-cuma. Untuk memahami lebih lanjut tentang strategi Limit Order, pengguna dapat mempelajari panduan berikut: Perbedaan Market Order dan Limit Order: Mana yang Lebih Sesuai untuk Strategimu? Strategi Buy the Dip: Cara Membeli Saat Harga Turun Cara Menghindari Slippage Saat Trading Crypto Panduan Strategi Trading untuk Pemula Melalui pendekatan ini, FLOQ berharap pengguna tidak hanya memanfaatkan fitur, tetapi juga memahami strategi di balik setiap keputusan trading. Dengan kombinasi antara kontrol yang lebih baik melalui Limit Order, pendekatan edukasi yang berkelanjutan, serta komitmen terhadap Zero Fee trading, FLOQ terus memperkuat visinya untuk menghadirkan pengalaman investasi kripto yang lebih inklusif, transparan, dan berorientasi pada pengguna.  Langkah Berikutnya  Di mana pun Anda berada dalam perjalanan investasi, langkah selanjutnya adalah memastikan Anda memiliki pemahaman dan strategi yang tepat.  Seperti dipaparkan sebelumnya, FLOQ menyediakan FLOQ Academy, sebuah platform edukasi yang dirancang untuk membantu pengguna memahami dasar-dasar investasi kripto secara bertahap dan terstruktur. Seluruh materi dapat diakses secara gratis, termasuk seri video edukasi melalui kanal YouTube FLOQ, sehingga pengguna dapat belajar kapan saja sesuai kebutuhan mereka.  Sementara itu, bagi trader yang membutuhkan dukungan lebih lanjut dalam analisis maupun kemudahan bertransaksi, FLOQ juga menghadirkan layanan Guest Relation dan VIP Service. Dengan dukungan tim trading desk serta layanan yang lebih personal, pengguna dapat memperoleh insight yang lebih mendalam dan pengalaman trading yang lebih optimal. Tim kami dapat dihubungi melalui [email protected]  Layanan ini tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi strategi, tetapi juga mendukung pengelolaan portofolio yang lebih terarah di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.  Tentang FLOQ FLOQ adalah platform perdagangan aset digital yang berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman investasi yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. Dengan fokus pada inovasi, edukasi, serta kepatuhan terhadap regulasi, FLOQ bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia. FLOQ memiki komunitas aktif dengan lebih dari 250,000 followers yang bergabung di 7 platform social media, 25,000 anggota komunitas aktif, dan platform berkomitmen untuk meningkatkan edukasi bagi setiap pengguna dan publik dengan penyediaan FLOQ Akademi yang dapat diakses tanpa biaya. Hingga saat ini,

Lewat Penguatan Edukasi Masyarakat Tokocrypto Dorong Inklusi Kripto Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 08 Mei 2026 | 18:10 WIB

Lewat Penguatan Edukasi Masyarakat Tokocrypto Dorong Inklusi Kripto

Jakarta, katakabar.com - Tokocrypto tegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan industri kripto nasional melalui penguatan edukasi masyarakat. Langkah ini menjadi fokus utama perusahaan dalam rangka Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026. Sebagai bagian dari BLK 2026, Tokocrypto menggelar rangkaian kegiatan edukasi offline di berbagai kota, antara lain Yogyakarta, Solo, Kebumen, Klaten, hingga melakukan kegiatan di Universitas Indonesia, Depok. Seluruh kegiatan tersebut telah diikuti lebih dari 300 peserta. Melalui program ini, Tokocrypto berupaya memperluas akses masyarakat terhadap pemahaman kripto yang lebih komprehensif. Ke depan, perusahaan berencana menjangkau lebih banyak kota untuk memperkuat literasi dan inklusi kripto di Indonesia. “Industri kripto hanya bisa tumbuh secara berkelanjutan jika masyarakat memahami manfaat, risiko, dan cara menggunakannya dengan bijak. Karena itu, edukasi akan terus menjadi fokus perusahaan,” kata CEO Tokocrypto, Calvin Kizana. Calvin mengatakan edukasi menjadi prioritas paling berdampak untuk memperluas inklusi kripto saat ini. Menurutnya, pemahaman yang baik menjadi fondasi penting agar masyarakat dapat mengenal aset digital secara lebih sehat dan bertanggung jawab. “Edukasi adalah pintu masuk kepercayaan. Pengguna perlu memahami apa itu kripto, bagaimana potensinya, serta apa saja risikonya sebelum mengambil keputusan investasi,” jelas Calvin. Fokus Edukasi dan Literasi Calvin menilai regulasi dan inovasi produk tetap memiliki peran penting dalam perkembangan industri kripto. Namun, dampak keduanya akan lebih kuat apabila masyarakat memiliki tingkat literasi yang memadai. “Regulasi dan inovasi produk tetap penting, tetapi manfaatnya akan lebih optimal ketika pengguna memahami cara kerja industri ini. Edukasi bisa langsung diterjemahkan menjadi aksi, mulai dari cara mengelola risiko, menjaga keamanan aset, hingga mengambil keputusan investasi yang lebih sehat,” sebutnya. Fokus pada edukasi juga sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi keuangan. Hasil survei oleh tim internal Tokocrypto menunjukkan sekitar 66% responden menganggap seseorang yang memahami keuangan pribadi lebih menarik. Angka tersebut mencerminkan pergeseran preferensi dalam menilai calon pasangan, tidak hanya dari aspek emosional, tetapi juga dari sisi rasionalitas dan stabilitas keuangan. Generasi Muda Sadar Kelola keuangan Di kalangan Generasi Z dan milenial, persentase tersebut lebih tinggi, masing-masing mencapai sekitar 76% dan 75 persen. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda semakin menyadari pentingnya kemampuan mengelola keuangan jangka panjang, termasuk memahami berbagai instrumen investasi seperti aset kripto. Pengetahuan tentang kripto kini juga mulai dipandang sebagai bagian dari literasi digital. Aset digital berbasis blockchain tidak lagi dianggap eksklusif bagi pelaku industri teknologi, tetapi semakin masuk ke arus utama sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital. Meski demikian, Tokocrypto menekankan bahwa kepemilikan aset kripto saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami dan menjelaskan risiko serta potensi dari aset digital tersebut. Calvin menyebut salah satu miskonsepsi terbesar yang masih perlu diluruskan adalah anggapan bahwa kripto merupakan jalan cepat untuk menjadi kaya.

Pemerintah RI Bisa Sita Kripto untuk Lunasi Utang, Apa Dampaknya? Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 07 Mei 2026 | 12:33 WIB

Pemerintah RI Bisa Sita Kripto untuk Lunasi Utang, Apa Dampaknya?

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Indonesia resmi memasukkan aset kripto sebagai salah satu objek yang dapat disita negara dalam proses penyelesaian piutang. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 23 Tahun 2026 yang ditandatangani Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada 27 April 2026 lalu. Aturan tersebut merupakan pembaruan dari PMK Nomor 240/PMK.06/2016, yang kini disesuaikan dengan perkembangan jenis aset, termasuk aset digital. Melalui regulasi ini, negara melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) memiliki kewenangan lebih luas dalam mengelola aset sitaan. Salah satu poin krusial diatur dalam Pasal 186A, yang memungkinkan negara untuk langsung menguasai dan memanfaatkan aset, termasuk kripto, tanpa memerlukan persetujuan dari pihak yang berutang. Mekanisme ini dinilai dapat mempercepat proses pelunasan utang karena tidak perlu menunggu proses lelang atau tahapan hukum yang panjang. Selain itu, Pasal 233 memperluas cakupan objek sita yang kini mencakup uang tunai, aset digital, simpanan di lembaga keuangan, saham, obligasi, hingga penyertaan modal. Tetapi, dalam Pasal 297D ditegaskan bahwa pengambilalihan aset hanya mengurangi pokok utang dan tidak menghapus biaya administrasi. Pemerintah juga menegaskan bahwa penilaian aset tetap harus dilakukan oleh penilai profesional untuk memastikan nilai pasar yang adil. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai kebijakan ini sebagai langkah penting guna memperkuat legitimasi aset kripto di Indonesia. Ia jmelihat aturan ini sebagai sinyal pemerintah mulai membangun kerangka hukum yang lebih komprehensif terhadap aset digital, tidak hanya dari sisi perdagangan, tetapi juga dalam konteks penegakan hukum dan pengelolaan keuangan negara. Menurutnya, hal ini dapat menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem kripto yang lebih terintegrasi dengan sistem keuangan nasional. Calvin menambahkan kejelasan regulasi seperti ini akan membantu meningkatkan kepercayaan investor dan pelaku industri, karena menunjukkan kripto telah memiliki posisi yang semakin jelas di mata hukum. Ia menilai, dengan adanya pengakuan dalam mekanisme penyitaan aset, kripto kini diperlakukan setara dengan instrumen keuangan lainnya. Kripto Bagian dari Sistem Ekonomi   “Ini bukan hanya soal penyitaan, tetapi tentang bagaimana kripto diakui sebagai bagian dari sistem ekonomi yang memiliki nilai, dapat diukur, dan dapat digunakan dalam berbagai mekanis “Regulasi ini menandai fase baru dalam pengakuan kripto sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi nyata. Ketika negara sudah memasukkan kripto sebagai objek sita, artinya posisi kripto tidak lagi dipandang sebagai aset alternatif semata, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem keuangan yang diakui,” ujarnya. Calvin menyoroti kebijakan ini dapat menjadi pedang bermata dua jika tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur. Ia menekankan kompleksitas aset kripto yang berbasis teknologi memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan aset konvensional, terutama dalam hal pengelolaan akses, keamanan private key, hingga proses likuidasi. Menurutnya, tanpa sistem yang terstandarisasi dan sumber daya yang memahami karakteristik aset digital, potensi risiko seperti kesalahan pengelolaan atau kehilangan aset bisa meningkat. Kredibilitas Industri Kripto “Di satu sisi, ini meningkatkan kredibilitas industri kripto karena ada kepastian hukum. Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan kesiapan teknis, mulai dari sistem kustodian, transparansi valuasi, hingga keamanan aset digital yang disita. Tanpa itu, implementasinya bisa menghadapi tantangan di lapangan,” jelasnya. Ia menilai dampak jangka panjang dari kebijakan ini berpotensi mendorong integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan nasional secara lebih luas. “Kita bisa melihat kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional, termasuk dalam aspek hukum dan penyelesaian kewajiban. Ini akan meningkatkan kepercayaan publik sekaligus mendorong pertumbuhan industri yang lebih sehat dan terstruktur,” tambah CEO Tokocrypto ini. Diterbitkannya PMK Nomor 23 Tahun 2026, pemerintah berharap proses penyelesaian piutang negara dapat berjalan lebih cepat dan efisien, sekaligus menyesuaikan dengan dinamika perkembangan aset di era digital.

Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading Bagi Pemula dan 5 Aset Kripto Memulai Lebih Terukur Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 05 Mei 2026 | 07:36 WIB

Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading Bagi Pemula dan 5 Aset Kripto Memulai Lebih Terukur

Jakarta, katakabar.com - Minat masyarakat terhadap aset kriptoterus menunjukkan peningkatan, seiring dengan kemudahan akses dan berkembangnya ekosistem digital.  Tetapi, di balik pertumbuhan tersebut, banyak investor pemula masih memasuki pasar tanpa strategi jelas, mengandalkan intuisi, mengikuti tren, atau bereaksi terhadap pergerakan harga jangka pendek.  “Trading bukan sekadar menebak arah harga. Ini adalah kombinasi antara disiplin, probabilitas, dan manajemen risiko. Pendekatan yang terstruktur sejak awal akan sangat menentukan hasil dalam jangka panjang,” ujar Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.  Pada praktiknya, banyak pemula mengalami kerugian bukan karena salah membaca arah pasar, melainkan tidak memiliki sistem yang konsisten. Perilaku seperti FOMO (fear of missing out), panic selling, atau terlalu sering melakukan transaksi tanpa dasar yang jelas menjadi penyebab utama.  Untuk itu, FLOQ menekankan beberapa prinsip dasar:  • Mengutamakan perlindungan modal sebelum mengejar keuntungan  • Menggunakan stop-loss dan take-profit sebagai kontrol risiko  • Menghindari keputusan berbasis emosi  • Membangun rutinitas investasi yang konsisten  Pendekatan ini membantu investor berpindah dari spekulasi jangka pendek menuju strategi yang lebih terukur dan berkelanjutan.  Sebagai langkah awal, diversifikasi menjadi strategi penting mengelola risiko di tengah volatilitas pasar kripto. Alih-alih berfokus pada satu aset, investor pemula dapat mempertimbangkan kombinasi beberapa kategori aset yang memiliki peran berbeda dalam ekosistem.  Berikut lima aset kripto yang dapat menjadi fondasi portofolio awal, lengkap dengan peran strategis dan kondisi pasar terkini:  1. Bitcoin (BTC): Fondasi dan “Digital Safe Haven”  *Harga diambil pada Sabtu, 2 Mei, pukul 14.00 WIB  Harga saat ini: ~US$78,306* Sebagai aset kripto pertama dan terbesar di dunia, Bitcoin sering dianggap sebagai “digital gold” dan berperan sebagai penyimpan nilai (store of value). Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin semakin banyak diadopsi oleh institusi global sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.  Peran dalam portofolio: Stabilitas relatif + fondasi utama investasi  2. Ethereum (ETH): Mesin Inovasi Web3  Harga saat ini: ~US$2,304*. Ethereum bukan hanya aset kripto, tetapi juga platform teknologi yang mendukung berbagai aplikasi seperti decentralized finance (DeFi), NFT, dan smart contracts.  Peran dalam portofolio: Kombinasi antara utilitas teknologi dan potensi pertumbuhan  3. Tether (USDT): Stabilitas dan Likuiditas  Harga saat ini: ~US$0.997*. Sebagai stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS, USDT digunakan sebagai alat lindung nilai terhadap volatilitas dan sebagai “cash position” dalam portofolio kripto.  Peran dalam portofolio: Stabilizer + fleksibilitas dalam strategi trading  4. Solana (SOL): Pertumbuhan dan Adopsi Cepat  Harga saat ini: ~US$83.76*. Solana dikenal sebagai salah satu blockchain dengan kecepatan tinggi dan biaya transaksi rendah, menjadikannya populer di kalangan developer dan pengguna ritel.  Peran dalam portofolio: Eksposur ke aset dengan potensi pertumbuhan lebih agresif  5. Hyperliquid (HYPE): Eksposur Emerging Asset  Harga saat ini: ~US$41.48*. Sebagai bagian dari kategori aset yang sedang berkembang, HYPE mencerminkan peluang pertumbuhan di fase awal adopsi, namun juga memiliki volatilitas yang lebih tinggi.  Peran dalam portofolio: Pelengkap dengan porsi terbatas untuk mengeksplorasi peluang upside  Sebagai ilustrasi sederhana, alokasi portofolio awal dapat dipertimbangkan sebagai berikut:   Contoh Alokasi Portofolio Pemula (Total: Rp1.000.000)  Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara stabilitas, likuiditas, dan potensi pertumbuhan, dengan tetap menjaga eksposur risiko pada level yang terukur.  Sebagai ilustrasi, portofolio awal sebesar Rp1.000.000 dapat dialokasikan secara terstruktur untuk menyeimbangkan stabilitas, likuiditas, dan potensi pertumbuhan. Sekitar 40% atau Rp400.000 dialokasikan ke Bitcoin (BTC) sebagai fondasi utama portofolio, mengingat posisinya sebagai aset paling matang dengan likuiditas tinggi dan dominasi pasar yang kuat.  Selanjutnya, 25% atau Rp250.000 ditempatkan pada Ethereum (ETH), yang memberikan eksposur terhadap pertumbuhan ekosistem Web3, termasuk DeFi dan berbagai inovasi berbasis blockchain. Untuk menjaga fleksibilitas, 20% atau Rp200.000 dialokasikan ke Tether (USDT) sebagai aset stabil yang berfungsi sebagai buffer likuiditas dan cadangan saat peluang pasar muncul.  Di sisi pertumbuhan, 10% atau Rp100.000 dialokasikan ke Solana (SOL), yang dikenal dengan kecepatan tinggi dan adopsi yang berkembang pesat. Sementara itu, 5% atau Rp50.000 ditempatkan pada Hyperliquid (HYPE) sebagai eksposur terbatas terhadap aset emerging dengan potensi upside yang lebih tinggi, namun tetap dalam porsi kecil untuk menjaga risiko tetap terkendali.  Logika di Balik Alokasi Ini  Core Stability (65%) → BTC + ETH Mayoritas portofolio ditempatkan pada aset dengan:  • Likuiditas tinggi  • Adopsi luas  • Risiko relatif lebih rendah Ini memastikan portofolio tidak terlalu terpengaruh volatilitas ekstrem.  Defensive Layer (20%) → USDT Berfungsi sebagai:  • “Dry powder” untuk buy the dip  • Proteksi saat market turun  Growth & Upside (15%) → SOL + HYPE Memberikan:  • Eksposur ke pertumbuhan cepat  • Potensi return lebih tinggi Namun dengan porsi kecil untuk menjaga risiko.  Simulasi Potensi Return  Ini adalah simulasi berbasis performa historis 12 bulan terakhir (perkiraan), bukan jaminan hasil di masa depan. Estimasi berikut menggunakan pendekatan CAGR (Compound Annual Growth Rate), yaitu rata-rata pertumbuhan tahunan suatu aset berdasarkan performa historis, dengan asumsi pertumbuhan yang terakumulasi secara konsisten. Simulasi ini bersifat indikatif dan bukan jaminan hasil di masa depan. Harga aset kripto tercantum di artikel ini merupakan data pasar yang diambil pada Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 14.00 WIB dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Investor wajib melakukan riset tersendiri (DYOR). Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan bukan nasihat finansial.  Untuk memberikan gambaran yang lebih kontekstual, simulasi ini menggunakan asumsi alokasi portofolio sebesar Rp1.000.000.  Bitcoin (BTC): US$78.306,26 Rp400.000 → Rp520.000 (+30%) Ethereum (ETH): US$2.304,74 Rp250.000 → Rp312.500 (+25%) Tether (USDT): US$0,9997 Rp200.000 → Rp200.000 (0%) Nilai dalam Rupiah dapat berubah mengikuti pergerakan kurs USD/IDR saat dikonversikan. Solana (SOL): US$83,76 Rp100.000 → Rp140.000 (+40%) Hyperliquid (HYPE): US$41,48 Rp50.000 → Rp80.000 (~+60%) Secara keseluruhan, portofolio ini berpotensi berkembang dari Rp1.000.000 menjadi sekitar Rp1.252.500 dalam satu tahun, mencerminkan estimasi blended return sebesar kurang lebih 25%.

Pemerintah Indonesia Akui Kripto Sektor Usaha Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 29 April 2026 | 13:05 WIB

Pemerintah Indonesia Akui Kripto Sektor Usaha

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Indonesia resmi memperbarui Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) sebagai langkah strategis merespons pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dan munculnya berbagai model bisnis baru. Pembaruan yang diumumkan pada Kamis (23/4) lalu ini mencakup sejumlah sektor penting seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), aset kripto, hingga teknologi terkait perubahan iklim. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan pembaruan KBLI bertujuan untuk mengakomodasi sektor-sektor strategis yang sebelumnya belum terpetakan secara komprehensif dalam sistem klasifikasi nasional. “Dalam pembaruan ini, sektor ekonomi digital, artificial intelligence, hingga aset kripto telah masuk dalam klasifikasi terbaru,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi di Jakarta. Ia menambahkan struktur klasifikasi tersebut telah diselaraskan dengan standar industri global guna memperkuat daya saing Indonesia di pasar internasional. Dalam implementasinya, pemerintah memberikan kemudahan bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan data usaha mereka dengan KBLI terbaru. Proses sinkronisasi akan dilakukan secara otomatis melalui sistem perizinan terintegrasi Online Single Submission (OSS), sehingga tidak memerlukan prosedur yang kompleks. Salah satu poin penting dalam pembaruan ini adalah dimasukkannya kategori “Kepialangan Aset Keuangan Digital” dengan kode KBLI 66123. Klasifikasi ini mencakup kegiatan yang memfasilitasi perdagangan aset keuangan digital, termasuk kripto, di mana pelaku usaha dapat melakukan transaksi di bursa atas nama nasabah atau pihak lain. Kehadiran kategori ini dinilai memberikan kejelasan hukum dan operasional bagi pelaku industri aset kripto di Indonesia. Menanggapi kebijakan tersebut, CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, sambut positif langkah pemerintah yang dinilai semakin memberikan legitimasi terhadap industri kripto di dalam negeri. “Pembaruan KBLI ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah semakin serius dalam mengakomodasi perkembangan industri aset kripto. Dengan adanya klasifikasi yang lebih jelas, pelaku usaha memiliki kepastian dalam menjalankan bisnisnya sekaligus membuka ruang pertumbuhan yang lebih luas bagi inovasi di sektor ini,” ujar Calvin. Menurutnya pengakuan resmi dari negara melalui KBLI akan mempermudah berbagai pihak, baik perusahaan maupun proyek berbasis kripto, dalam mengembangkan bisnisnya di Indonesia. “Kejelasan regulasi seperti ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan pelaku industri, tetapi juga mendorong masuknya investasi baru serta mempercepat adopsi teknologi blockchain secara lebih luas,” jelasnya. Pengakuan ini, sebut Calvin, berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru serta menggerakkan roda ekonomi nasional melalui pertumbuhan ekosistem digital yang semakin inklusif dan menguntungkan semua pihak. Diketahui, KBLI sendiri merupakan acuan penting yang digunakan untuk mengklasifikasikan bidang usaha di Indonesia, sekaligus mempermudah pelaku usaha dalam menentukan kategori bisnis mereka. Dengan pembaruan ini, pemerintah diharapkan dapat menciptakan ekosistem usaha yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di sisi lain, kontribusi industri aset kripto terhadap penerimaan negara juga terus menunjukkan tren positif. Tercatat, pajak dari transaksi kripto telah mencapai Rp1,96 triliun sepanjang periode 2022 hingga Februari 2026. Angka ini mencerminkan potensi besar sektor kripto sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. "Dengan masuknya sektor kripto ke dalam KBLI terbaru, langkah ini dinilai sebagai fondasi penting dalam memperkuat ekosistem industri digital nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah transformasi ekonomi global," tambah CEO Tokocrypto.