Salatiga, katakabar.com -- Mengolah komoditas kelapa menjadi produk jadi hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya ada pada menjaga mutu, membangun merek, dan mempertahankan kepercayaan pembeli, hingga menembus pasar ekspor.  

Pelajaran penting ini mengemuka saat Tim Majalah Hortus bersama pelaku UMKM dan perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengunjungi PT Adarasa Putra Jaya di Salatiga, Jawa Tengah, Selasa, 22 September 2026.

Kunjungan untuk melihat langsung pengolahan produk berbasis kelapa tersebut merupakan bagian dari rangkaian “Workshop Hilirisasi Komoditas Perkebunan sebagai Inkubasi Bisnis UKMK” yang diprakarsai Majalah Hortus dengan dukungan BPDP dan Sinarmas. Para peserta diajak langsung melihat proses pengolahan kelapa sekaligus menggali rahasia pengembangan produk turunan hingga diterima pasar luar negeri.

Pemimpin Redaksi Majalah Hortus Suharno mengatakan, kunjungan ini bukan sekadar wisata industri, melainkan memberi gambaran nyata bagaimana usaha berbasis komoditas kelapa dapat tumbuh dan berkembang.  Menurut Suharno, PT Adarasa Putra Jaya memiliki produk berbasis kelapa yang khas. Pengalaman perusahaan itu dapat menjadi gambaran bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usaha dari komoditas perkebunan.

“Kita berharap dari sini ada gambaran di awal yang bisa memotivasi teman-teman UMKM,” kata Suharno dalam kunjungan tersebut. Ia juga berharap pengalaman dari kunjungan itu dibagikan kembali kepada komunitas UMKM di Salatiga. Dengan demikian, manfaatnya tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi juga menjangkau pelaku UMKM lainnya.

Suharno menjelaskan pula bahwa BPDP memiliki mandat mengelola dana perkebunan untuk mendukung pengembangan komoditas sawit, kelapa, dan kakao. Di antaranya melalui program peremajaan tanaman sawit, pendidikan, serta beasiswa bagi keluarga petani sawit.

Berbagi Pengalaman

Dalam kunjungan itu, Direktur Operasional PT Adarasa Putra Jaya Anastasia Stephanie Angelica berbagi pengalaman tentang upaya perusahaan mengembangkan produk berbasis hasil pertanian hingga menembus pasar ekspor.

Anastasia menceritakan, Adarasa mulai melihat peluang usaha gula kelapa pada 2007 setelah menerima permintaan dari pembeli asal Belanda. Berangkat dari peluang tersebut, perusahaan mencari dan membangun jaringan pemasok gula kelapa di sejumlah daerah.

Namun, perjalanan mengembangkan produk untuk pasar ekspor tidak mudah. Menurut Anastasia, salah satu tantangan terbesarnya ialah memastikan kualitas dan keamanan bahan baku tetap terjaga. Perusahaan bahkan pernah menemukan gula kelapa yang dicampur dengan bahan yang tidak semestinya.

“Challenge utama kami dalam ekspor itu traceability, kualitas, dan konsistensi,” ujarnya.

Untuk menjaga standar tersebut, Adarasa bekerja sama dengan pemasok yang mampu menyediakan bahan baku sesuai persyaratan. Perusahaan juga menelusuri sumber masalah setiap kali menerima keluhan dari pembeli dan menghentikan kerja sama dengan pemasok yang tidak dapat memenuhi standar.

Anastasia mengatakan, langkah itu menjadi salah satu kunci Adarasa dalam mempertahankan pasar ekspor. Mendapatkan pembeli memang penting, tetapi menjaga kepercayaan mereka menentukan apakah hubungan usaha dapat berlangsung dalam jangka panjang. “Kuncinya benar-benar adalah trust dan konsistensi,” katanya.

Selain berbagi pengalaman ekspor, Anastasia mengingatkan peserta agar tidak berhenti setelah berhasil mengolah komoditas menjadi produk. Pelaku UMKM, menurutnya, perlu memperhatikan inovasi, branding, dan positioning agar komoditas Indonesia memiliki nilai tambah dan dapat berkembang menjadi produk akhir yang diminati pasar.

“Jangan lupakan branding, jangan lupakan positioning dan marketing,” ujarnya.

Ia mencontohkan JamuLab, yang dikembangkan dengan memadukan inovasi produk dan penguatan merek. Salah satu bentuknya ialah penggunaan olahan kelapa sebagai pemanis alami dalam minuman rempah, seperti Ginger Matcha dan Turmeric Piñacolada. “Produk kami kuat di inovasi produk dan branding,” katanya lagi.

Sebagai contoh lain dalam pengembangan produk, Anastasia menjelaskan Adarasa berperan di sisi manufaktur sekaligus menjadi penghubung antara petani dan produk jadi. Sementara melalui JamuLab, bahan alam Indonesia dikembangkan melalui inovasi produk dan penguatan merek.-