Pimpin Sertijab Lima Perwira, AKBP Gede Adi Dorong Penguatan Kinerja Kepolisian Hukrim
Hukrim
3 menit yang lalu

Pimpin Sertijab Lima Perwira, AKBP Gede Adi Dorong Penguatan Kinerja Kepolisian

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Gede Prasetya Adi Sasmita, pimpin serah terima jabatan (Sertijab) lima perwira di lingkungan Polres Kepulauan Meranti, Kamis (17/9). Pergantian ini menjadi bagian dari penyegaran organisasi untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat. Upacara berlangsung di Lapangan Apel Mapolres Kepulauan Meranti, Jalan Raya Gogok Darussalam, Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Bhayangkari Cabang Kepulauan Meranti, Ny. Widya Gede Adi, Wakapolres Kompol Detis Mayer Silitonga, S.H., para pejabat utama, kapolsek jajaran, perwira, personel, serta pengurus Bhayangkari. Lima perwira yang menjalani sertijab mendapat penugasan baru pada sejumlah posisi strategis. AKP Gunawan, S.H., yang sebelumnya menjabat Kapolsek Rangsang, kini dipercaya sebagai Ps. Kabag SDM Polres Kepulauan Meranti. Jabatan Kapolsek Rangsang selanjutnya diemban AKP Aguslan, S.H., yang sebelumnya menjabat Kasat Binmas. Sedang, Iptu Abdul Roni, S.H., yang sebelumnya menjabat Kasat Polairud, ditugaskan sebagai Kasat Binmas. Posisi Kasat Samapta dipercayakan kepada AKP Hendri Berson, S.H., M.H., yang sebelumnya menjabat Kasubbagdalops Bagops Polres Kepulauan Meranti. Adapun jabatan Kasat Polairud diisi AKP Ridwan, S.H., M.H., yang sebelumnya bertugas sebagai Ps. Kanit 1 Subdit 2 Ditreskrimum. Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Gede Prasetya Adi Sasmita, mengatakan rotasi jabatan bagian dari dinamika organisasi dan pembinaan karier personel Polri. "Pergantian jabatan ini diharapkan dapat memberikan penyegaran dalam organisasi, meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas, serta mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat," ujar AKBP Gede Adi. Dia meminta para perwira yang menerima amanah baru segera beradaptasi dengan tugas masing-masing serta menjaga kepercayaan yang diberikan. "Setiap pejabat harus mampu menjaga kepercayaan yang diberikan, memperkuat soliditas internal, dan memastikan tugas perlindungan, pengayoman, serta pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan baik," tegasnya.

Lima Cara Identifikasi Penyebab Perbedaan Performa Tim Sales Serba Serbi
Serba Serbi
1 jam yang lalu

Lima Cara Identifikasi Penyebab Perbedaan Performa Tim Sales

Jakarta, katakabar.com - Tim sales merupakan salah satu bagian penting dalam mendorong penjualan bisnis. Karena itu, perusahaan biasanya merekrut anggota dengan keterampilan dan pengalaman yang sesuai untuk bergabung dalam tim sales. Meskipun memiliki keterampilan dan pengalaman yang relatif sama, tidak jarang muncul performance gap atau perbedaan performa dalam tim sales. Ada anggota yang konsisten mencapai target, sementara anggota lainnya masih mengalami kesulitan. Perbedaan performa tersebut menjadi salah satu tantangan bagi sales manager. Berbagai insentif seperti komisi dan bonus juga tidak selalu menjamin seluruh anggota tim sales dapat mencapai performa yang optimal. Untuk itu, penting untuk mengidentifikasi penyebab gap atau kesenjangan performa dalam tim sales agar perusahaan dapat menentukan langkah yang tepat untuk meningkatkan kinerja tim. Lalu, bagaimana cara mengidentifikasinya? 1. Buatlah Tujuan dan Metrik Transparan Pertama-tama, pastikan setiap anggota tim sales memahami target yang ingin dicapai perusahaan dan bagaimana keberhasilan tersebut diukur. Tujuan tim sales tentu perlu selaras dengan tujuan bisnis dan kebutuhan pelanggan. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan metrik yang relevan dan realistis untuk mengukur kinerja tim sales. Beberapa metrik yang dapat digunakan antara lain conversion rate, average deal size, customer retention, hingga skor kepuasan pelanggan. Metrik tersebut dapat membantu Anda membandingkan capaian dari waktu ke waktu dan mengidentifikasi area yang masih perlu ditingkatkan. Dengan tujuan dan metrik yang jelas, setiap anggota tim sales dapat memahami ekspektasi perusahaan sekaligus mengetahui aspek yang perlu mereka tingkatkan untuk mencapai target. 2. Menilai Kompetensi, Keterampilan, dan Motivasi Melakukan penilaian dan evaluasi kompetensi, keterampilan, serta motivasi tim sales secara rutin dapat membantu mengidentifikasi penyebab perbedaan performa. Mulailah dengan mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan dalam proses penjualan, seperti pengetahuan produk, problem solving, negosiasi, hingga layanan pelanggan. Kemudian, lakukan evaluasi melalui observasi, survei, tes, atau penilaian diri. Memahami motivasi setiap anggota tim sales juga dapat membantu Anda menggali penyebab perbedaan performa secara lebih mendalam. Dari evaluasi tersebut, Anda dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan setiap anggota sekaligus mengidentifikasi kesenjangan keterampilan yang perlu diatasi. 3. Perhatikan Alat Pendukung dan Sistem Kerja Di tengah transformasi digital, teknologi dapat menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan efektivitas kerja tim sales. Cobalah pelajari bagaimana anggota tim dengan performa terbaik memanfaatkan teknologi dalam proses penjualan mereka. Pastikan seluruh anggota tim memiliki akses terhadap tool, sistem, proses, dan informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan secara efektif dan efisien. Selain alat pendukung, evaluasi juga perlu dilakukan terhadap sistem kerja dan kolaborasi tim sales dengan tim lain di perusahaan, seperti marketing, product development, hingga customer service. Dengan sistem kerja yang tepat dan dukungan teknologi yang memadai, tim sales dapat bekerja dengan lebih terstruktur dan memiliki dukungan yang lebih merata untuk mencapai target. 4. Tinjau Proses Perekrutan dan Onboarding Proses perekrutan dan onboarding yang tidak merata dapat menyebabkan anggota tim sales memiliki tingkat pemahaman yang berbeda mengenai produk, strategi penjualan, dan pendekatan kepada pelanggan. Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab perbedaan performa dalam tim. Evaluasi kembali apakah proses onboarding telah memberikan landasan yang cukup bagi setiap anggota tim untuk bekerja secara efektif. Pastikan materi onboarding mencakup elemen penting seperti keunggulan produk, teknik menangani keberatan pelanggan, dan penggunaan alat penjualan dengan format yang sederhana dan mudah dipahami. Untuk mengatasi keterbatasan waktu atau anggaran, pelatihan berbasis pengalaman juga dapat menjadi pilihan. Libatkan anggota tim dengan performa terbaik untuk berbagi praktik terbaik melalui sesi diskusi atau mentoring informal. Selain itu, role-playing sederhana selama meeting tim dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi dan strategi penjualan melalui latihan yang praktis dan langsung dapat diterapkan. 5. Evaluasi Cara Komunikasi Tim Sales Anda Kemampuan komunikasi tim sales dengan pelanggan juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan untuk mengetahui penyebab perbedaan performa. Metrik seperti talk ratio, kecepatan berbicara, intonasi, hingga pilihan kata dapat memberikan gambaran mengenai pola komunikasi yang efektif dalam proses penjualan. Dengan memahami pola tersebut, sales manager dapat mengetahui strategi komunikasi yang efektif untuk diterapkan oleh anggota tim lainnya. Namun, mengidentifikasi dan membandingkan berbagai aspek komunikasi secara manual tentu membutuhkan waktu dan dapat menimbulkan bias dalam penilaian. Oleh karena itu, teknologi AI dapat membantu tim sales menganalisis percakapan secara lebih objektif dan berbasis data. Salah satunya melalui MiiTel, platform analisis percakapan yang dapat menganalisis interaksi sales dalam panggilan telepon maupun meeting secara otomatis. MiiTel dapat membantu tim memahami berbagai aspek dalam percakapan, seperti talk ratio, silences, overlaps, kata kunci yang sering muncul, hingga sentimen dalam percakapan. Hasil analisis tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memahami pola komunikasi anggota tim dengan performa terbaik dan menjadikannya pembelajaran bersama. Dengan demikian, tim sales tidak hanya mengandalkan pengalaman atau asumsi dalam mengevaluasi performa, tetapi dapat menggunakan data percakapan sebagai dasar untuk melakukan coaching dan meningkatkan kualitas komunikasi dengan pelanggan. Tertarik mengetahui bagaimana MiiTel dapat membantu meningkatkan performa tim sales Anda? Konsultasikan kebutuhan Anda secara gratis bersama tim MiiTel di sini.

Pasar Crypto Semakin Dinamis, Bittime Hadirkan Program Berhadiah $HYPE hingga Sepuluh Juta Rupiah Ekonomi
Ekonomi
2 jam yang lalu

Pasar Crypto Semakin Dinamis, Bittime Hadirkan Program Berhadiah $HYPE hingga Sepuluh Juta Rupiah

Jakarta, katakabar.com - Bittime menghadirkan program perdagangan pada 11 hingga 27 September 2026 dengan total reward hingga sepuluh juta rupiah dalam bentuk $HYPE. Program ini memberikan apresiasi kepada pengguna berdasarkan akumulasi volume perdagangan yang dicapai selama periode berlangsung. Pasar aset digital terus berkembang dengan munculnya berbagai ekosistem blockchain yang menawarkan fungsi dan aktivitas berbeda. Salah satunya adalah Hyperliquid, blockchain yang dikenal dengan aktivitas perdagangan aset digital, khususnya perpetual futures dan spot trading. Berdasarkan data CoinGecko, token native ekosistem tersebut, $HYPE, mencatatkan all-time high (ATH) sebesar US$89,60.  Pergerakan tersebut turut diikuti oleh volume perdagangan yang tinggi, dengan volume harian $HYPE menembus lebih dari US$1 miliar pada sejumlah hari di awal September, termasuk sekitar US$1,68 miliar pada 4 September dan US$1,48 miliar pada 7 September. Melihat perhatian pasar terhadap ekosistem tersebut, Bittime menghadirkan program perdagangan pada 11 hingga 27 September 2026 dengan total reward hingga sepuluh juta rupiah dalam bentuk $HYPE. Program ini memberikan apresiasi kepada pengguna berdasarkan akumulasi volume perdagangan yang dicapai selama periode berlangsung. Ryan Lymn, Direktur Operasional Bittime, mengatakan meningkatnya perhatian terhadap $HYPE mencerminkan semakin beragamnya ekosistem dan aset yang tersedia di pasar crypto.  “Perkembangan $HYPE dan ekosistem Hyperliquid menjadi salah satu dinamika yang menarik untuk diperhatikan. Semakin beragamnya ekosistem aset digital memberikan lebih banyak pilihan bagi pelaku pasar untuk mengeksplorasi berbagai instrumen. Melalui program ini, kami ingin memberikan kesempatan kepada pengguna berdasarkan aktivitas perdagangan yang memenuhi ketentuan program,” jelas Ryan. Berbeda dari program yang hanya menghitung transaksi pada satu aset, volume perdagangan dalam program Bittime ini diakumulasikan dari seluruh token yang diperdagangkan pengguna selama periode berlangsung. Transaksi dalam IDR maupun USDT akan diperhitungkan dalam menentukan pencapaian tier reward, sehingga volume dapat dikumpulkan dari berbagai aset yang tersedia di Bittime.Syarat dan Ketentuan Program  Reward diberikan satu kali berdasarkan tier volume trading yang dicapai pengguna selama periode kampanye.  Pengguna dengan volume trading minimal Rp5 juta berkesempatan memperoleh reward hingga Rp100 ribu, dengan nominal reward yang meningkat sesuai tier, yaitu hingga Rp300 ribu untuk volume Rp25 juta, Rp1 juta untuk Rp100 juta, Rp2,5 juta untuk Rp350 juta, dan hingga Rp10 juta dalam bentuk $HYPE untuk volume minimal Rp2 miliar.  Besaran reward yang diterima dapat berbeda-beda, tergantung pada proporsi volume trading dalam tier yang dicapai serta ketersediaan kuota. Pemberian reward dilakukan secara first-come, first-served, sehingga mencapai minimum volume pada suatu tier tidak otomatis menjamin pengguna mendapatkan reward maksimum.  Menurut Ryan, semakin banyaknya pilihan aset dan strategi di pasar crypto juga perlu diikuti dengan pemahaman yang memadai mengenai karakteristik serta risiko masing-masing aset.  “Di tengah pasar yang semakin dinamis, edukasi tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas trading. Pengguna perlu memahami karakteristik aset, mekanisme perdagangan, dan risiko yang menyertainya sebelum mengambil keputusan. Dengan pemahaman yang baik, pengguna dapat menyikapi peluang pasar secara lebih terukur dan tidak hanya mengikuti momentum,” ujar Ryan. Untuk berpartisipasi, pengguna wajib menyelesaikan verifikasi akun atau KYC dan melakukan registrasi melalui halaman event Bittime. Program menggunakan mekanisme first-come, first-served dengan kuota terbatas pada setiap tier.  Bittime juga menerapkan ketentuan untuk menjaga integritas program, termasuk larangan penggunaan multi-akun, wash trading, maupun aktivitas manipulatif lainnya. Reward akan diberikan dalam bentuk $HYPE dan dikreditkan ke wallet Bittime pengguna maksimal 7–14 hari kerja setelah periode program berakhir, sesuai ketentuan program. Melalui program ini, Bittime melihat dinamika $HYPE dan ekosistem Hyperliquid sebagai bagian dari semakin beragamnya perkembangan pasar aset digital, sekaligus memberikan apresiasi kepada pengguna yang berpartisipasi dalam aktivitas perdagangan selama periode program. Informasi lengkap mengenai program ini dapat dilihat melalui halaman resmi program Bittime.

Lima Tips Membangun Hubungan dengan Calon Klien di Online Meeting Pertama Serba Serbi
Serba Serbi
3 jam yang lalu

Lima Tips Membangun Hubungan dengan Calon Klien di Online Meeting Pertama

Jakarta, katakabar.com - First meeting atau pertemuan pertama dengan calon klien menjadi momen penting membangun hubungan bisnis. Kesan yang terbentuk pada pertemuan pertama dapat memengaruhi bagaimana calon klien melihat bisnis Anda dan mempertimbangkan kerja sama selanjutnya. Tetapi, melakukan meeting pertama dengan calon klien secara online memiliki tantangan tersendiri. Dibandingkan dengan pertemuan face-to-face, komunikasi secara online membuat Anda lebih sulit melihat bahasa tubuh, reaksi, dan nuansa percakapan secara langsung. Lantaran itu, penting bagi para sales untuk dapat melakukan pendekatan yang smooth dan tetap profesional dengan calon klien. Berikut beberapa trik yang dapat Anda lakukan untuk melakukan pendekatan dengan calon klien saat online meeting pertama: 1. Kenalkan Diri Anda, Baru Produk Anda Alih-alih langsung memperkenalkan produk atau layanan Anda, mulailah meeting online dengan perkenalan diri Anda terlebih dahulu. Anda dapat menyebutkan nama, posisi Anda di perusahaan, pengalaman karier, hingga hobi Anda. Momen ini bisa menjadi kesempatan untuk menemukan kesamaan dengan calon klien Anda. Jangan sia-siakan kesempatan tersebut dan cobalah membangun komunikasi dengan melakukan small talk.  Melalui upaya ini, Anda dapat memahami bagaimana jenis percakapan yang disukai calon klien, membangun kepercayaan, dan mencapai komunikasi bisnis yang efektif. 2. Cegahlah Terciptanya Momen Hening yang Canggung Dalam percakapan secara langsung, momen diam terkadang diperlukan untuk memberikan waktu berpikir. Namun, hal ini dapat berbeda ketika momen diam terjadi dalam percakapan secara online karena dapat menciptakan suasana yang canggung. Oleh karena itu, cobalah untuk menjadi aktif dan proaktif dalam online meeting. Jadilah peka dan perhatikan reaksi calon klien selama percakapan. Anda sesekali dapat bertanya, misalnya: “Apakah ada yang ingin Anda tanyakan dari penjelasan Saya sejauh ini?” “Adakah detail yang ingin Anda ketahui lebih lanjut?” Memastikan komunikasi berjalan secara dua arah akan mencegah terciptanya momen hening dalam percakapan Anda. 3. Berikan Respons dalam Setiap Percakapan Saat mengikuti online meeting, kita terkadang terlalu fokus mendengarkan penjelasan sehingga lupa memberikan respons. Kondisi ini dapat membuat lawan bicara bertanya-tanya apakah penjelasannya sudah dipahami dengan baik. Sebagai bentuk apresiasi sekaligus menunjukkan bahwa Anda benar-benar menyimak, biasakan untuk memberikan tanggapan kecil seperti “oh ya, betul”, “setuju”, “luar biasa!”, atau “Saya mengerti”. Reaksi ini akan membuat calon klien Anda merasa benar-benar didengarkan dan dihargai. 4. Lakukan Follow-up setelah Meeting Saat selesai melakukan meeting, ucapkanlah terima kasih sekaligus follow-up melalui e-mail. Hal ini bermanfaat untuk memberikan kesan yang baik pada calon klien Anda. Dengan memberikan ringkasan detail komunikasi dan negosiasi bisnis yang dilakukan, Anda juga dapat lebih mudah melanjutkan pembahasan pada tahap berikutnya. 5. Analisis dan Pelajari Online Meeting yang Berhasil Pada tim sales, tidak jarang ada anggota yang berhasil menjalankan online meeting pertama dengan calon klien, sementara anggota lainnya masih menghadapi kesulitan. Kondisi ini merupakan hal yang wajar. Namun, bagaimana jika tim dapat mengetahui apa yang membuat sebuah online meeting berjalan dengan baik dan menjadikannya pembelajaran bersama? Untuk mengetahuinya, Anda perlu melihat kembali bagaimana percakapan dalam online meeting berlangsung. Mulai dari seberapa banyak sales berbicara, kapan terjadi momen hening, hingga topik atau kata kunci apa yang paling sering muncul. Dengan begitu, tim dapat menemukan pola dari meeting yang berhasil dan menerapkannya pada percakapan berikutnya. MiiTel Meetings dapat membantu tim melakukan analisis tersebut. Dengan fitur analisis online meeting, MiiTel Meetings dapat memberikan insight dari berbagai aspek percakapan, seperti talk ratio, silences, overlaps, kata kunci yang sering disebutkan, hingga tingkat sentimen positif dan negatif dalam percakapan antara tim sales dan calon klien. Dengan dukungan analisis tersebut, tim sales tidak hanya mengandalkan pengalaman atau asumsi, tetapi dapat mempelajari percakapan berdasarkan data dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan performa online meeting. MiiTel Meetings mendukung berbagai platform online meeting seperti Zoom, Google Meet, dan Microsoft Teams. Tertarik mengetahui lebih lanjut? Konsultasikan kebutuhan tim Anda secara gratis bersama tim MiiTel di sini.

Etika Jadi Kunci di Era AI, Legislator Senayan Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Sebar Informasi Politik
Politik
4 jam yang lalu

Etika Jadi Kunci di Era AI, Legislator Senayan Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Sebar Informasi

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat. Di tengah kemudahan dan peningkatan produktivitas yang ditawarkan teknologi tersebut, masyarakat juga dihadapkan pada risiko penyalahgunaan apabila AI digunakan tanpa memperhatikan etika dan tanggung jawab. Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat mengibaratkan teknologi sebagai pisau bermata dua. Menurutnya, teknologi dapat memberikan manfaat apabila dimanfaatkan secara tepat, tetapi berpotensi menimbulkan dampak negatif ketika disalahgunakan. Demikian kata Syahrul saat menjadi pembicara dalam Forum Diskusi Publik yang digelar Bakti Komdigi bersama Komisi I DPR RI angkat tema “Etika Digital di Era AI: Cerdas Berteknologi, Bijak Berinformasi”, di penghujung Agustus 2026 lalu. Dijelaskan Syahrul, teknologi digital saat ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas, mulai dari komunikasi, pendidikan, pekerjaan hingga memperoleh informasi, semakin banyak dilakukan melalui platform digital. Itu sebabnya, kemajuan teknologi dinilai perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai etika, tanggung jawab, serta kemampuan berpikir kritis. “Teknologi itu ibarat pisau bermata dua. Pisau bisa digunakan untuk membantu pekerjaan dan memberikan manfaat, tetapi kalau digunakan dengan cara yang salah, bisa mencelakai. Begitu juga teknologi, termasuk AI. Semua tergantung bagaimana manusia menggunakannya,” ujar Syahrul. AI Buka Peluang, tetapi Juga Mengandung Risiko AI memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Teknologi tersebut dapat membantu mengolah informasi, meningkatkan produktivitas, mendukung proses pendidikan, hingga mempermudah berbagai pekerjaan. Tetapi, ucap Syahrul, kemudahan dalam memproduksi dan menyebarkan konten juga membuka ruang bagi penyalahgunaan. AI dapat dimanfaatkan untuk membuat informasi palsu, memanipulasi konten, menghasilkan materi yang menyesatkan, hingga menciptakan konten yang berpotensi merugikan pihak lain. Ia menilai kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecerdasan moral. “Jangan sampai kita hanya menjadi pintar menggunakan teknologi, tetapi tidak pintar dalam mempertimbangkan dampaknya. Kita harus memiliki etika. Apa yang kita buat, apa yang kita sebarkan, harus dipikirkan apakah memberikan manfaat atau justru merugikan orang lain,” ulasnya. DPR RI Ingatkan Masyarakat Tak Asal Sebar Informasi Syahrul juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai atau menyebarkan setiap informasi yang ditemukan di ruang digital. Perkembangan AI membuat produksi konten menjadi semakin mudah. Kondisi tersebut juga memungkinkan munculnya konten yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan fakta. Lantaran itu, masyarakat didorong membangun kebiasaan melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi kepada orang lain. “Di era digital ini, jari kita bisa lebih cepat daripada pikiran kita. Begitu informasi kita sebarkan, dampaknya bisa ke mana-mana. Karena itu, sebelum membagikan sesuatu, pastikan dulu kebenarannya dan pikirkan dampaknya,” pesannya. Ia menegaskan, ruang digital merupakan ruang publik yang perlu dijaga bersama. Kebebasan berekspresi, menurutnya, tetap harus disertai tanggung jawab serta memperhatikan aturan dan kepentingan orang lain. Syahrul berharap literasi digital tidak hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi juga membentuk karakter pengguna teknologi yang kritis, bertanggung jawab dan beretika. “Tujuan akhirnya adalah bagaimana teknologi benar-benar menjadi alat untuk mencerdaskan masyarakat, bukan sebaliknya membuat masyarakat mudah dipengaruhi, mudah terprovokasi dan mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar,” tegasnya. Pakar Dorong Penggunaan AI yang Bertanggung Jawab Pakar Ade Rahmatullah, S.Fil.I., M.M., mengatakan kehadiran AI telah mengubah pola masyarakat dalam memperoleh, memproduksi dan menyebarkan informasi. Menurutnya, perubahan tersebut membutuhkan kemampuan baru agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami konsekuensi dari setiap aktivitas yang dilakukan di ruang digital. Kemudahan menghasilkan konten dengan bantuan AI, kata Ade, harus diikuti tanggung jawab untuk memastikan konten yang dibuat tidak melanggar etika, merugikan orang lain maupun menyebarkan informasi yang menyesatkan. Sementara, akademisi Wamdi, S.Pd., M.H., menilai pendidikan mengenai etika digital perlu diperkuat sejak dini, khususnya kepada generasi muda yang menjadi salah satu kelompok aktif dalam penggunaan teknologi dan media sosial. Disebutkan Wamdi, kemampuan literasi digital harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam hoaks, manipulasi digital, penipuan maupun berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi AI. Dorong Ruang Digital yang Sehat Forum Diskusi Publik tersebut menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus berbagai tantangan yang menyertainya. Melalui tema “Etika Digital di Era AI: Cerdas Berteknologi, Bijak Berinformasi”, Bakti Komdigi bersama Komisi I DPR RI mendorong masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi sekaligus memperkuat kesadaran mengenai etika dan tanggung jawab dalam berinformasi. Dengan literasi digital yang kuat dan kemampuan berpikir kritis, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan AI secara bijak serta turut menjaga ruang digital agar tetap sehat, aman dan memberikan manfaat bagi publik.

Hisense Perkenalkan RoamView, Layar Bisa Mengikuti Aktivitas Penggunanya Teknologi
Teknologi
5 jam yang lalu

Hisense Perkenalkan RoamView, Layar Bisa Mengikuti Aktivitas Penggunanya

Tiongkok, katakabar.com - Hisense, merek peralatan elektronik dan rumah tangga terkemuka di dunia, memperkenalkan RoamView, produk terbaru dari Lifestyle Series. RoamView hadir untuk menjawab kebutuhan sederhana dalam kehidupan modern: pengalaman menikmati layar tidak lagi harus terpaku di satu ruangan atau posisi tertentu. Mulai dari mencari resep saat memasak di dapur, berolahraga di ruang keluarga, hingga bersantai sambil menonton film sebelum tidur, pengguna kini membutuhkan layar yang dapat mengikuti aktivitasnya. Televisi konvensional memiliki posisi tetap, sementara tablet terkadang belum mampu memberikan pengalaman menonton dengan ukuran layar yang imersif. Hisense menghadirkan RoamView yang menawarkan keleluasaan maksimal untuk menikmati konten di mana saja. Pengguna bisa membawanya dari satu ruangan ke ruangan lain, kemudian memutar, memiringkan, atau mengangkat layarnya agar mendapatkan sudut pandang yang paling pas. Berkat baterai bawaan yang tahan lama, RoamView dapat digunakan untuk menikmati konten favorit tanpa harus terus mencari stopkontak, baik saat bersantai, bekerja, berkreasi, maupun berinteraksi. RoamView tidak hanya untuk menikmati tayangan. Pengguna dapat menuangkan gagasan melalui fitur Whiteboard, mengembangkan proyek kreatif dengan digital sketchpad, mempercantik suasana ruangan lewat Art Gallery, hingga mengubah ruang apa pun menjadi panggung karaoke dengan Karafun. Untuk waktu bersantai, dukungan streaming 4K menghadirkan pengalaman menonton dengan kualitas gambar yang tajam dan imersif. Dari sisi performa, RoamView dibekali platform processing kinerja tinggi, RAM 8 GB, dan penyimpanan 128 GB. Kombinasi tersebut mendukung penggunaan berbagai aplikasi secara bersamaan dengan lancar, serta menyediakan ruang penyimpanan data untuk film, acara, foto, dan beragam konten favorit pengguna. RoamView melengkapi lini CanvasTV yang menghadirkan karya seni digital sebagai bagian dari interior rumah, serta DécoTV yang memadukan desain elegan dengan pengalaman menonton premium. Kehadiran RoamView semakin memperkaya Lifestyle Series Hisense sebagai pilihan layar yang tak hanya menyatu dengan hunian, namun juga dapat berpindah mengikuti aktivitas dan kebutuhan penggunanya sehari-hari.

BRICS 2026: Perkuat Suara Global South dari New Delhi Internasional
Internasional
5 jam yang lalu

BRICS 2026: Perkuat Suara Global South dari New Delhi

New Delhi, katakabar.com - Negara-negara BRICS perkuat komitmen untuk membangun kerja sama yang lebih tangguh, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke 18 di New Delhi, India. Pertemuan yang berlangsung dari 12 hingga 13 September 2026 tersebut menghasilkan Deklarasi New Delhi, yang menjadi arah bersama negara-negara BRICS dalam memperkuat kerja sama politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta hubungan antar masyarakat. KTT tahun ini digelar di bawah kepemimpinan India usung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.” Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto turut hadir dalam KTT tersebut sebagai salah satu pemimpin negara anggota BRICS. Di pertemuan itu, Prabowo menekankan kekuatan kolektif BRICS dapat digunakan untuk perkuat ketahanan global sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. “BRICS mewakili setengah dari seluruh umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar di dunia dan para produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang sangat besar,” jelas Prabowo. BRICS dan Perubahan Tatanan Global BRICS telah berkembang jauh dari kelompok ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China. Setelah Afrika Selatan bergabung, kelompok tersebut kemudian mengalami ekspansi dan kini mencakup negara-negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Perluasan tersebut membuat BRICS memiliki cakupan kepentingan yang semakin beragam. Forum ini tidak lagi hanya berbicara mengenai perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyentuh isu teknologi, energi, pangan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, hingga reformasi tata kelola global. Deklarasi New Delhi menegaskan kembali komitmen BRICS terhadap multilateralisme dan sistem internasional yang lebih representatif. Negara-negara anggota juga menyerukan partisipasi yang lebih bermakna bagi negara-negara berkembang dan emerging markets dalam proses pengambilan keputusan global. Global South Harus Ikut Membentuk Aturan Sebagai Ketua BRICS 2026, India mendorong agar BRICS menjadi salah satu wadah untuk memperkuat suara negara-negara berkembang. Dalam sesi KTT mengenai tata kelola global dan penguatan multilateralisme, Perdana Menteri India Narendra Modi menyoroti ketimpangan antara besarnya dampak yang dirasakan Global South dan keterwakilannya dalam pengambilan keputusan dunia. “Global South berada di barisan terdepan dalam menghadapi krisis global, tetapi berada di barisan belakang dalam pengambilan keputusan,” ucap Modi. Modi menyerukan agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi rule-taker, tetapi berkembang menjadi rule-shaper dalam tata kelola global. BRICS, menurutnya, dapat menjadi platform untuk memperkuat kapasitas negara-negara berkembang. Pandangan tersebut sejalan dengan Deklarasi New Delhi yang menekankan pentingnya memperluas partisipasi dan representasi negara-negara berkembang dalam institusi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ekonomi dan Ketahanan Menjadi Fondasi Deklarasi New Delhi menekankan pentingnya rantai pasok yang lebih tangguh serta peningkatan kapasitas produksi negara berkembang agar dapat masuk ke segmen manufaktur dan produksi bernilai tambah lebih tinggi. Kerja sama tersebut juga mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, fasilitasi perdagangan, dan investasi. BRICS juga melanjutkan pembahasan mengenai sistem pembayaran lintas batas dan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan serta investasi antaranggota, dengan tetap mempertimbangkan prioritas nasional masing-masing negara. Prabowo menilai kekuatan kolektif BRICS dapat menjadi modal untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi serta menciptakan peluang pembangunan bagi negara-negara berkembang. Dari Teknologi hingga Riset BRICS juga memberikan perhatian besar terhadap perkembangan sains, teknologi, dan inovasi. Deklarasi New Delhi menempatkan kerjasama Science, Technology and Innovation (STI) sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Negara-negara anggota mendukung kerja kelompok-kelompok kerja STI serta pengembangan BRICS Science and Research Repository sebagai platform berbagi pengetahuan dan hasil penelitian. Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan kepada periset, perguruan tinggi, industri, dan peneliti dari negara-negara anggota BRICS. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat mobilitas peneliti dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang lebih konkret. Pendidikan Menjadi Investasi Jangka Panjang Selain ekonomi dan teknologi, pendidikan menjadi bagian penting dari upaya BRICS membangun sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi mendorong peningkatan kualitas dan aksesibilitas pendidikan, program pertukaran dan beasiswa pada tingkat sarjana maupun pascasarjana, termasuk dalam bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM). BRICS Network University menjadi salah satu mekanisme yang didukung untuk memperkuat kerjasama akademik dan penelitian antarnegara. Jaringan tersebut mendorong program bersama, mobilitas akademik, serta pertukaran pengetahuan lintas disiplin. Menariknya, agenda pendidikan BRICS juga mencakup tahap paling awal dalam perkembangan manusia. Deklarasi mendorong pertukaran praktik terbaik dalam Early Childhood Care and Education (ECCE) serta Foundational Literacy and Numeracy (FLN). Penggunaan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam pendidikan juga didorong dengan prinsip aman, etis, dan berpusat pada manusia. Indonesia Memperkuat Posisi di BRICS Bagi Indonesia, KTT BRICS 2026 menjadi salah satu momentum penting setelah Indonesia bergabung sebagai anggota penuh. Kehadiran Presiden RI di New Delhi menunjukkan upaya Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam forum yang semakin berpengaruh terhadap pembahasan ekonomi dan tata kelola global. Pemerintah Indonesia menempatkan keanggotaan BRICS sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama multilateral dan membangun kemitraan strategis dengan negara-negara berkembang. Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan keanggotaannya menghasilkan kerja sama konkret, mulai dari perdagangan dan investasi hingga pangan, energi, teknologi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan pasar yang luas dan sumber daya yang dimiliki negara-negara BRICS, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus membangun kapasitas nasional melalui pertukaran teknologi, pengetahuan, dan sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi dan Tantangan ke Depan Deklarasi New Delhi menjadi salah satu hasil utama KTT BRICS 2026. Dokumen tersebut mencakup agenda yang luas, mulai dari reformasi tata kelola global dan kerja sama ekonomi hingga teknologi, pendidikan, perubahan iklim, kesehatan, dan hubungan antar masyarakat. Dengan anggota yang memiliki sistem politik, struktur ekonomi, serta kepentingan nasional yang berbeda, konsensus menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas kerja sama. Karena itu, keberhasilan BRICS tidak hanya akan diukur dari banyaknya deklarasi yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana kesepakatan tersebut dapat diterapkan melalui program, investasi, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama lintas negara. Dari Suara Menjadi Aksi Dua dekade setelah pembentukannya, BRICS kini memasuki fase yang berbeda. Ekspansi keanggotaan telah memperluas cakupan kelompok tersebut, sementara agenda kerja sama semakin masuk ke berbagai aspek yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. India, melalui kepemimpinannya pada 2026, mendorong BRICS untuk memperkuat ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Indonesia, sebagai anggota penuh, memiliki kesempatan untuk ikut membentuk agenda tersebut sekaligus memastikan kepentingan negara berkembang tetap mendapat tempat dalam pembahasan global. Bagi negara-negara Global South, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa peningkatan suara juga diikuti dengan peningkatan pengaruh. Prabowo melihat kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. “Ketahanan kita harus memberikan manfaat bagi rakyat kita dan untuk memberikan manfaat bagi rakyat kita, kita harus mampu mengubah kerentanan kita menjadi peluang. Kelemahan kita menjadi kekuatan,”sebut Prabowo dalam KTT BRICS. Menurut Prabowo, BRICS memiliki kesempatan untuk menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki negara-negara anggotanya untuk menghasilkan perubahan yang nyata bagi dunia. Pandangan tersebut bertemu dengan pesan yang disampaikan Modi dalam menutup sesi mengenai tata kelola global. Bagi India, masa depan BRICS bukan sekadar tentang seberapa besar suara yang dimiliki kelompok tersebut, tetapi bagaimana suara itu diterjemahkan menjadi pengaruh dan kemitraan yang lebih setara. “Jika masa depan kita adalah milik bersama, maka hak untuk membentuk masa depan itu pun harus menjadi milik bersama. From voice to impact. From privilege to partnership," tegas Presiden RI ke 8. Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama India dalam kepemimpinan BRICS 2026: mengubah suara menjadi dampak dan privilese menjadi kemitraan.

Era AI, Syahrul Aidi Dorong Wartawan Perkuat Kompetensi dan Pahami Regulasi Nasional
Nasional
20 jam yang lalu

Era AI, Syahrul Aidi Dorong Wartawan Perkuat Kompetensi dan Pahami Regulasi

Kampar, katakabar.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia wartawan (jurnalistik). Teknologi ini dapat membantu percepat kerja pers, tetapi juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari akurasi informasi, deepfake, keamanan digital, perlindungan data hingga kebutuhan regulasi. Hal itu menjadi pembahasan dalam Webinar Merajut Nusantara bertajuk “Jurnalisme di Era AI: Antara Kebebasan Pers, Keamanan Digital, dan Regulasi” yang digelar melalui zoom meeting, Rabu (16/9). Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat hadir sebagai keynote speaker di kegiatan tersebut. Webinar dipandu moderator Indah Hudiria dan menghadirkan dua pemateri, yakni Woro Indah Widi Astuti, pakar dan praktisi dari Bakti Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, serta Aza El Munadiyan, akademisi sekaligus Ketua STIM Budi Bakti. Dalam pemaparannya, Woro Indah Widi Astuti membahas pentingnya pemerataan infrastruktur telekomunikasi, termasuk pembangunan dari wilayah pinggiran, dalam menghadapi perkembangan jurnalisme di era digital. Sementara, Aza El Munadiyan menyampaikan perspektif akademik terkait penataan regulasi penyiaran di tengah berlangsungnya konversi dan transformasi digital. Syahrul Aidi menekankan pentingnya peningkatan kompetensi jurnalis, terutama memahami berbagai regulasi yang berkaitan dengan profesi jurnalistik di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI. Menurutnya, jurnalis perlu memahami secara utuh Undang-Undang Pers, regulasi penyiaran, aturan terkait teknologi dan media, serta berbagai regulasi baru yang berpotensi bersinggungan dengan aktivitas jurnalistik. "Jurnalis tentu membutuhkan pemahaman tentang Undang-Undang Pers, Undang-Undang Penyiaran, maupun regulasi terkait teknologi dan media yang mereka berkecimpung di sana,” ujar Syahrul Aidi. Ia mengatakan perkembangan teknologi semakin cepat membuat pengetahuan dan kapasitas insan pers juga perlu terus diperbarui. Itu sebabnya, forum seperti webinar tersebut dinilai penting sebagai sarana meningkatkan pemahaman jurnalis sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan regulasi. “Pengetahuan itu perlu di-upgrade. Pada kesempatan ini kita memfasilitasi agar para jurnalis, khususnya di Riau, bisa mendapatkan pemahaman secara utuh terkait regulasi yang sedang dibahas di DPR RI, baik mengenai digital, media penyiaran maupun hal-hal yang berkaitan dengan itu,” jelasnya. Syahrul Aidi juga mengajak para jurnalis aktif memberikan masukan mengenai regulasi yang dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi digital. Aspirasi dari kalangan pers, ucapnya, penting untuk menjadi bahan dalam mempersiapkan regulasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus tetap memberikan perlindungan terhadap profesi jurnalistik. “Silakan ditampung hal-hal yang menjadi aspirasi teman-teman jurnalis agar kemudian bisa kita kaitkan dengan regulasi, sehingga kita bisa mempersiapkan regulasinya,” imbuhnya. Ia menyebut isu AI saat ini tidak hanya menjadi perhatian di tingkat nasional, tetapi juga telah dibahas dalam berbagai forum internasional. Melalui Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP), isu AI turut menjadi perhatian karena memiliki keterkaitan erat dengan media, penyiaran dan jurnalistik. “AI ini isu global dan sudah dibahas di forum-forum global, di IPU misalnya. AI sangat erat hubungannya juga dengan penyiaran, dengan media, dengan jurnalistik,” bebernya. Kata Syahrul Aidi, pihaknya juga telah menyurati pimpinan DPR RI terkait dorongan agar regulasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi terus diperkuat dan dibahas sesuai perkembangan zaman. Ia kembali meminta masukan dari kalangan jurnalis agar penguatan regulasi ke depan tetap memperhatikan kepentingan profesi jurnalistik dan prinsip kebebasan pers. “Kami sudah menyurati pimpinan. Mudah-mudahan secepatnya, dan tentu juga meminta masukan kepada teman-teman jurnalis,” tukasnya. Peningkatan kapasitas jurnalis dalam memahami teknologi dan regulasi, sambungnya, menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas pers di tengah transformasi digital. Jurnalis tidak hanya dituntut mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memahami risiko dan tanggung jawab yang menyertainya. “Profesi jurnalis tetap bisa menjadi profesi yang betul-betul menjadi pilar demokrasi. Salah satu pilar demokrasi itu adalah media, tentunya dalam hal ini adalah para jurnalis,” tegasnya. Webinar berlangsung interaktif. Peserta mengikuti pemaparan dan sesi diskusi dengan antusias. Sejumlah persoalan terkait pemanfaatan AI, keamanan digital, regulasi penyiaran, kebebasan pers serta tantangan jurnalisme di era digital turut dibahas. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman jurnalis mengenai perkembangan teknologi sekaligus mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dalam menjalankan tugas jurnalistik. Forum ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif parlemen, pemerintah, praktisi dan akademisi dalam membahas perkembangan teknologi, kebutuhan regulasi, keamanan digital, serta keberlangsungan kebebasan pers di Indonesia.

Berita Daerah

Sorotan terbaru dari berbagai wilayah