Jembatan Tak Terlihat: Bagaimana Infrastruktur Digital Diam-diam Ubah Hubungan India dan Indonesia Opini
Opini
20 jam yang lalu

Jembatan Tak Terlihat: Bagaimana Infrastruktur Digital Diam-diam Ubah Hubungan India dan Indonesia

Oleh: Sachin V. Gopalan Jakarta, katakabar.com - Ketika Perdana Menteri India, Narendra Modi tiba di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026, kunjungannya akan dilihat dari berbagai sudut pandang. Para diplomat akan menyoroti kemitraan strategis. Pelaku bisnis akan mencari peluang investasi baru. Para analis keamanan akan mengamati dinamika keseimbangan kekuatan di kawasan Indo-Pasifik. Tetapi, di balik tema-tema yang sudah akrab tersebut, terdapat kisah yang jauh lebih tenang, tetapi mungkin akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan perjanjian perdagangan atau kerja sama pertahanan mana pun. India dan Indonesia kini semakin menemukan titik temu pada bidang yang akan menentukan daya saing ekonomi abad ke-21: Digital Public Infrastructure (DPI) atau Infrastruktur Digital Publik. Pentingnya momentum ini melampaui teknologi. Yang sedang terjadi adalah bagaimana dua negara demokrasi terbesar di dunia, yang secara bersama-sama mewakili hampir 1,7 miliar penduduk, dapat bekerja sama membangun sistem digital yang inklusif, terjangkau, dan berdaulat. Ketika Presiden RI, H Prabowo Subianto berkunjung ke India pada Januari 2025 sebagai tamu utama perayaan Hari Republik India, yang sekaligus menandai 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara, kedua pemerintah menempatkan kerja sama digital sebagai salah satu pilar strategis hubungan bilateral. Pernyataan bersama yang diterbitkan setelah kunjungan tersebut menegaskan bahwa teknologi, transformasi digital, dan infrastruktur digital publik merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi masa depan. Komitmen tersebut kini mulai bergerak dari deklarasi menuju implementasi. Pada Maret 2025, delegasi tingkat tinggi beranggotakan sepuluh orang dari Dewan Ekonomi Nasional Indonesia berkunjung ke India secara khusus untuk mempelajari kerangka kebijakan Digital Public Infrastructure India. Sejak saat itu, kedua negara juga mulai mengimplementasikan nota kesepahaman mengenai kerja sama digital. Momentum tersebut tidak bisa datang pada waktu yang lebih tepat. Membangun Jembatan Digital Baru "Dalam beberapa dekade terakhir, India dan Indonesia dihubungkan oleh geografi, sejarah, dan budaya. Kini kita memiliki kesempatan untuk membangun jembatan baru antara kedua negara, yaitu jembatan digital yang memungkinkan inovasi, inklusi, dan kesejahteraan bersama dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya." Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, ketika membahas pentingnya kerja sama digital antara kedua negara. Menurutnya, jaringan digital terbuka dapat memberikan daya ungkit struktural bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen dengan memperluas pasar bagi pelaku usaha kecil yang selama ini masih menghadapi keterbatasan geografis maupun digital. Indonesia saat ini sedang menjalani apa yang dapat disebut sebagai kalibrasi ulang strategi nasional. Di saat Indonesia berupaya memperkuat kedaulatan ekonomi dan ketahanan nasional, negara ini juga memperluas hubungan dengan berbagai pusat kekuatan dunia. Eropa semakin penting dalam kerja sama teknologi dan mineral kritis. Timur Tengah menjadi sumber investasi dan kemitraan ketahanan pangan. China tetap menjadi mitra utama dalam investasi manufaktur dan industri. Amerika Serikat dan negara-negara Barat masih memainkan peran penting dalam akses pasar dan keseimbangan geopolitik. Sedang, India muncul sebagai mitra pilihan Indonesia dalam bidang Digital Public Infrastructure dan kolaborasi teknologi berskala populasi. Hal tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Pelajaran dari India Selama satu dekade terakhir, India telah membangun salah satu ekosistem Digital Public Infrastructure paling sukses di dunia. Alih-alih bergantung pada platform tertutup dan teknologi yang mahal, India membangun fondasi digital terbuka yang memungkinkan inovasi berkembang dalam skala besar. Hasilnya sangat signifikan. Aadhaar, sistem identitas biometrik India, telah mencatat lebih dari 150 miliar transaksi autentikasi dan memberikan identitas digital kepada hampir seluruh populasi dewasa India. Sementara itu, Unified Payments Interface (UPI) memproses lebih dari 17.221 crore transaksi pada tahun 2024 dan menyumbang sekitar 83 persen dari total transaksi pembayaran digital India. Dalam tujuh tahun terakhir, sistem tersebut mencatat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 114 persen. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan mengakui UPI sebagai sistem pembayaran ritel real-time terbesar di dunia berdasarkan volume transaksi, yang mencakup hampir 49 persen dari seluruh transaksi pembayaran real-time global. India kini telah menandatangani kerja sama Digital Public Infrastructure dengan 23 negara, dan sistem UPI telah beroperasi di delapan negara, mulai dari Singapura hingga Prancis. Tantangan Indonesia Serupa Indonesia saat ini menghadapi banyak tantangan yang sebelumnya juga dihadapi India. Bagaimana mendigitalisasi masyarakat yang tersebar di ribuan pulau? Bagaimana memastikan pelaku usaha kecil mampu bersaing di tengah dominasi platform besar? Bagaimana mencegah ketergantungan digital berubah menjadi bentuk baru ketergantungan ekonomi? Dan bagaimana membangun sistem teknologi yang melayani kepentingan nasional tanpa menciptakan ketergantungan terhadap vendor tertentu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini berada di pusat agenda transformasi digital Indonesia. Indonesia memiliki lebih dari 200 juta pengguna internet seluler, sementara nilai ekonomi digital sektor e-commerce diperkirakan mencapai 194,5 miliar dolar AS pada 2030. ION dan Masa Depan Perdagangan Digital Salah satu contoh paling nyata dari poros digital baru India-Indonesia adalah Indonesia Open Network (ION), yang diperkirakan akan mencatat transaksi perdananya saat pertemuan antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Prabowo Subianto. Terinspirasi dari keberhasilan Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, ION dibangun menggunakan protokol terbuka Beckn 2.0. Berbeda dengan marketplace tradisional, ION berfungsi sebagai jalur digital netral yang menghubungkan pembeli, penjual, penyedia logistik, sistem pembayaran, dan lembaga keuangan dalam satu ekosistem yang interoperabel. Ambisinya sangat besar. Saat ini, banyak UMKM Indonesia masih belum menikmati manfaat penuh dari ekonomi digital. Komisi dan biaya platform yang sering kali berkisar antara 25 hingga 40 persen dari nilai transaksi menjadi hambatan bagi pedagang kecil, petani, koperasi, dan pelaku usaha di daerah. Ketua APINDO, Shinta Kamdani, pernah menyampaikan bahwa fase pertumbuhan ekonomi Indonesia berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan memastikan UMKM tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam ekonomi digital. ION berupaya menurunkan biaya transaksi hingga di bawah 8 persen, sejalan dengan visi Presiden Prabowo mengenai ekonomi digital yang lebih inklusif. Tujuannya sederhana tetapi sangat kuat: memungkinkan siapa pun menjual apa pun, dari mana pun, kepada siapa pun. Melalui interoperabilitas logistik, pembiayaan terintegrasi, konektivitas sistem pembayaran, serta penguatan ekosistem perdagangan di tingkat desa, ION menargetkan lebih dari 30 juta penjual dan 150 juta pembeli di 38 provinsi Indonesia. Mantan Managing Director ONDC, T. Koshy, yang kini menjadi penasihat berbagai inisiatif perdagangan digital Indonesia, menyatakan bahwa jaringan terbuka berhasil karena mendemokratisasi peluang, bukan memusatkannya. Konektivitas Pembayaran Inisiatif kedua yang tidak kalah penting adalah integrasi antara sistem pembayaran UPI India dan QRIS Indonesia. QRIS telah menunjukkan bagaimana pembayaran interoperabel dapat mengubah perekonomian secara besar-besaran. Hingga akhir 2025, QRIS telah digunakan oleh 59 juta pengguna dan 42 juta merchant, melampaui target tahunan yang ditetapkan. Sistem tersebut memproses 13,66 miliar transaksi sepanjang tahun, jauh di atas target 6,5 miliar transaksi. QRIS Cross Border kini telah beroperasi di Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Bank Indonesia juga tengah mengeksplorasi integrasi formal dengan UPI India. Apabila terwujud, integrasi tersebut berpotensi menciptakan salah satu koridor pembayaran paling penting di Asia. Bagi destinasi seperti Bali, yang jumlah wisatawan India terus meningkat, pembayaran lintas negara yang mulus akan menghilangkan salah satu hambatan terakhir dalam pengalaman perjalanan. Lebih penting lagi, langkah ini akan menjadi fondasi bagi koridor perdagangan digital antara ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pakar transformasi digital, Dr. Bayu Prawira Hie, bahkan menegaskan bahwa interoperabilitas bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan isu daya ungkit ekonomi. Infrastruktur Digital yang Berdaulat Bidang kerja sama ketiga mungkin akan menjadi yang paling strategis. Protean e-Gov Technologies, salah satu perusahaan yang berperan membangun berbagai lapisan Digital Public Infrastructure India, saat ini menjajaki peluang untuk mendukung ambisi DPI nasional Indonesia. Visi yang dibangun melampaui implementasi teknologi. Melalui inisiatif Digital Nusantara, Dewan Ekonomi Nasional menargetkan pembangunan infrastruktur digital nasional yang terpadu, interoperabel, dan dapat dikembangkan dalam skala besar untuk mendukung layanan pemerintah, bantuan sosial, dan pemberdayaan UMKM. Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital juga memiliki ambisi untuk menjadikan Indonesia bukan hanya konsumen teknologi digital, tetapi juga produsen solusi digital bagi kawasan ASEAN. Ketua Dewan TIK Nasional, Ilham Habibie, bahkan menegaskan bahwa daya saing Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan membangun kapasitas digital yang berdaulat dan tidak sepenuhnya bergantung pada platform impor. Modernisasi Pasar Modal Inisiatif keempat menyentuh bidang yang semakin penting bagi Indonesia, yaitu modernisasi pasar modal. Pasar saham Indonesia saat ini menghadapi perhatian yang semakin besar terkait tata kelola, transparansi, dan kepercayaan investor. Diskusi tengah berlangsung dengan perusahaan teknologi India seperti Remiges Technologies serta berbagai institusi yang terkait dengan ekosistem Bursa Efek Bombay untuk mengeksplorasi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengawasan pasar, integritas pasar, dan platform investasi digital. India telah melakukan modernisasi pasar modalnya melalui teknologi dan otomatisasi sejak tiga dekade lalu. Pengalaman tersebut memiliki relevansi langsung bagi Indonesia. CEO InvestorTrust Media dan DataTrust, Primus Dorimulu, menyatakan bahwa pasar modal Indonesia kini memasuki fase baru ketika kepercayaan dan transparansi berbasis teknologi akan menjadi faktor penting dalam menarik investor jangka panjang. Jembatan Tak Terlihat Jika dilihat secara terpisah, seluruh inisiatif tersebut mungkin tampak sangat teknis. Namun jika dilihat secara keseluruhan, semuanya menceritakan sebuah kisah yang jauh lebih besar. Hubungan India dan Indonesia kini berkembang melampaui perdagangan dan diplomasi menuju sesuatu yang lebih mendasar, yaitu penciptaan bersama infrastruktur digital yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, inklusi, dan inovasi dalam skala populasi. Jika abad ke 20 menghubungkan negara-negara melalui jalur pelayaran dan rute perdagangan, maka abad ke-21 akan semakin menghubungkan negara melalui jalur digital. Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi hadir pada saat Indonesia sedang mencari mesin pertumbuhan baru, ketahanan ekonomi yang lebih kuat, dan pembangunan yang lebih inklusif. Digital Public Infrastructure mungkin tidak akan menghasilkan perhatian sebesar investasi bernilai miliaran dolar. Tetapi dampak jangka panjangnya terhadap perdagangan, keuangan, tata kelola pemerintahan, dan kehidupan ekonomi sehari-hari dapat jauh lebih besar.

Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh? Opini
Opini
Kemarin

Kunjungan Modi ke Indonesia: Mampukah Hubungan India-Indonesia Melompat Lebih Jauh?

Oleh: Gurjit Singh Jakarta, katakabar.com - Kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi ke Indonesia dijadwalkan berlangsung waktu dekat menghadirkan peluang untuk mengangkat salah satu kemitraan strategis yang paling belum dimanfaatkan secara optimal di Asia. Sebagai dua negara demokrasi besar, kekuatan maritim, anggota G20, dan suara penting bagi Global South, India dan Indonesia selama ini belum sepenuhnya memaksimalkan potensi hubungan bilateral mereka. Kunjungan ini berpotensi menjadi titik balik yang penting. Namun, hal tersebut hanya dapat terwujud apabila kedua negara mampu melampaui simbolisme diplomatik dan mulai melembagakan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, konektivitas, keamanan maritim, serta hubungan antar masyarakat. Dari Kemitraan Strategis Menuju Konvergensi Strategis Hubungan kedua negara memperoleh momentum penting saat Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada Januari 2025, yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Lima kesepakatan yang mencakup bidang kesehatan, pengobatan tradisional, kerja sama digital, keamanan maritim, dan pertukaran budaya menunjukkan semakin luasnya agenda bilateral. Kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu utama dalam perayaan Hari Republik India juga menegaskan meningkatnya arti penting Indonesia dalam strategi Indo-Pasifik India. Pertanyaan yang lebih besar tetap muncul: apakah berbagai capaian tersebut mampu menghasilkan lompatan besar dalam hubungan kedua negara? Jawabannya bergantung pada kemampuan India dan Indonesia untuk mengubah hubungan yang selama ini banyak didorong oleh kedekatan diplomatik menjadi hubungan yang didasarkan pada saling ketergantungan ekonomi dan teknologi. Fondasi Sudah Terbangun Secara historis, India dan Indonesia memiliki hubungan peradaban yang kuat dan saling pengertian politik yang mendalam. Kerja sama dalam perjuangan antikolonial, semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta dukungan terhadap tatanan dunia yang lebih multipolar telah menciptakan fondasi hubungan yang kokoh. Beberapa tahun terakhir, sejumlah perkembangan positif juga terlihat. Kerja sama maritim dan angkatan laut terus berkembang melalui patroli dan latihan bersama. Hubungan pertahanan semakin erat, termasuk meningkatnya ketertarikan Indonesia terhadap peralatan pertahanan India. Pertukaran budaya dan pendidikan juga terus meningkat, termasuk dukungan India terhadap pelestarian kompleks Candi Prambanan. Selain itu, investasi India di Indonesia mulai bertumbuh, pembahasan mengenai mekanisme perdagangan menggunakan mata uang lokal terus berjalan, dan kerja sama antara Penjaga Pantai India dengan BAKAMLA Indonesia semakin diperkuat. Namun demikian, perdagangan bilateral masih berada di bawah potensi yang sesungguhnya. Investasi India di Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan China, Jepang, Korea Selatan, maupun Singapura. Hubungan India-Indonesia kerap digambarkan sebagai hubungan yang penting secara strategis, tetapi belum berkembang secara optimal dari sisi ekonomi. Mengapa Momentum Saat Ini Berbeda Sejumlah perkembangan global menjadikan momentum saat ini sangat berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Kepemimpinan Global South India dan Indonesia semakin memandang diri mereka sebagai pemimpin Global South. Sebagai dua negara berkembang besar, keduanya memiliki kepentingan bersama dalam reformasi tata kelola global, pembiayaan iklim, pendanaan pembangunan, ketahanan pangan, serta akses terhadap teknologi. Di tengah globalisasi yang menghadapi tekanan akibat rivalitas geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan meningkatnya proteksionisme, India dan Indonesia memiliki kesempatan untuk bersama-sama memperjuangkan tatanan ekonomi yang lebih inklusif. Berbeda dengan banyak kerja sama Global South yang sering kali hanya bersifat retoris, India dan Indonesia memiliki skala ekonomi dan pengaruh diplomatik yang cukup besar untuk memengaruhi berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, dan ASEAN. Ketahanan Pangan dan Energi Kedua negara juga menghadapi tantangan yang serupa dalam menghadapi inflasi pangan, fluktuasi harga energi, dan dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan produsen penting komoditas seperti minyak sawit, nikel, dan batu bara, sementara India merupakan salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Investasi bersama dalam pengolahan pangan, pupuk, energi terbarukan, biofuel, dan cadangan strategis dapat meningkatkan ketahanan kedua negara. Ketahanan pangan dan energi berpotensi menjadi salah satu pilar terkuat kerja sama masa depan karena didorong oleh kepentingan jangka panjang, bukan sekadar pertimbangan politik jangka pendek. Peluang Besar di Bidang Maritim dan Pertahanan Dimensi maritim mungkin menawarkan peluang strategis yang paling besar. Indonesia berada di jalur strategis Selat Malaka, Selat Lombok, dan Selat Sunda, yang merupakan salah satu titik paling penting dalam geopolitik Indo-Pasifik. Sementara itu, India terus memperkuat keterlibatan maritimnya di kawasan timur melalui kebijakan Act East dan strategi Indo-Pasifik. Kedua negara memiliki berbagai kepentingan yang sama, mulai dari kebebasan navigasi, peningkatan kesadaran domain maritim, penanggulangan penangkapan ikan ilegal, pemberantasan pembajakan dan kejahatan lintas negara, pengamanan rantai pasok, hingga respons terhadap bencana. Tahap berikutnya dari kerja sama maritim seharusnya tidak lagi terbatas pada latihan bersama. Kolaborasi industri pertahanan, fasilitas pemeliharaan, produksi bersama, serta transfer teknologi dapat menjadi agenda yang lebih strategis. Keinginan Indonesia untuk mendiversifikasi pemasok pertahanan juga membuka peluang yang lebih besar bagi sistem dan platform pertahanan India. Kemitraan Digital Berpotensi Mengubah Permainan Bidang yang mungkin paling menjanjikan adalah kerja sama digital. Peluncuran Indonesia Open Network (ION), yang terinspirasi oleh Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India, mencerminkan transfer pengetahuan yang penting dalam bidang infrastruktur digital publik. Keberhasilan India dalam membangun berbagai digital public goods, mulai dari sistem identitas digital hingga infrastruktur pembayaran, telah menarik perhatian dunia. Dengan ekonomi digital yang besar dan terus berkembang, Indonesia menjadi mitra yang ideal untuk mengadaptasi berbagai inovasi tersebut. Kerja sama digital ke depan dapat mencakup pembangunan infrastruktur digital publik, pengembangan kecerdasan buatan, keamanan siber, teknologi finansial, digitalisasi UMKM, serta pengembangan keterampilan digital. Di tengah persaingan teknologi global yang semakin intensif, kemitraan digital India dan Indonesia berpotensi menjadi model kerja sama baru bagi negara-negara Global South. Tantangan Masih Menghambat Meski terdapat optimisme, sejumlah kendala masih menghambat kemajuan hubungan kedua negara. Kurangnya Pemahaman Salah satu tantangan terbesar adalah minimnya pemahaman kedua negara satu sama lain. Banyak pelaku bisnis India justru lebih memahami Eropa, Amerika Utara, atau negara-negara Teluk dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, banyak masyarakat Indonesia masih melihat India terutama melalui lensa sejarah dan budaya. Institusi yang mendorong pertukaran pemikiran secara berkelanjutan masih sangat terbatas. Karena itu, penguatan think tank, jaringan akademik, dan lembaga penghubung menjadi kebutuhan yang mendesak. Persoalan Persepsi Sebagian pemangku kepentingan di Indonesia juga menilai bahwa beberapa pihak di India masih memandang hubungan bilateral melalui perspektif "senioritas peradaban" dengan terlalu menekankan pengaruh historis India terhadap budaya Indonesia. Narasi seperti ini berpotensi menimbulkan resistensi. Indonesia modern adalah negara yang berdaulat dan memiliki identitasnya sendiri. Oleh karena itu, hubungan masa depan harus dibangun atas dasar kemitraan yang setara, bukan warisan budaya semata. Ekosistem Bisnis yang Belum Kuat Perusahaan India juga sering menghadapi kesulitan dalam memahami lanskap politik dan regulasi Indonesia. Dibandingkan perusahaan Jepang dan China, banyak perusahaan India dinilai masih memiliki jaringan lokal yang lebih terbatas. Berbagai tantangan seperti proses administrasi yang lambat, keterbatasan fasilitasi bisnis, hambatan dalam pengadaan pemerintah, serta kurangnya informasi pasar masih menjadi kendala. Selain itu, infrastruktur diplomasi ekonomi dan komersial India juga kerap dinilai masih kurang dibandingkan beberapa negara pesaing. Mobilitas Sumber Daya Manusia Hubungan bisnis kedua negara masih banyak didominasi oleh tingkat CEO dan manajemen senior. Mobilitas profesional muda, peneliti, mahasiswa, perusahaan rintisan, dan tenaga kerja terampil masih relatif terbatas. Padahal, peningkatan mobilitas dapat memperkuat pemahaman dan menciptakan basis dukungan yang lebih luas bagi hubungan bilateral. Kurangnya Proyek Unggulan Salah satu kelemahan yang paling terlihat adalah minimnya proyek-proyek unggulan yang dapat menjadi simbol keberhasilan kerja sama. China memiliki proyek infrastruktur. Jepang memiliki kawasan industri. Korea Selatan memiliki ekosistem manufaktur. India memerlukan proyek serupa, seperti taman teknologi, pusat layanan kesehatan unggulan, laboratorium kecerdasan buatan bersama, kemitraan universitas, kolaborasi pendidikan bergaya IIT, atau pusat manufaktur farmasi. Tanpa keberhasilan yang terlihat secara nyata, persepsi publik akan terus tertinggal dibandingkan retorika diplomatik. Mampukah Kunjungan Modi Menghasilkan Lompatan Besar? Lompatan besar sangat mungkin terjadi, tetapi tidak otomatis terwujud. Keberhasilan bergantung pada kemampuan kedua negara untuk mengubah hubungan yang selama ini didasarkan pada niat baik strategis menjadi kerja sama yang menghasilkan capaian konkret. Tiga prioritas menjadi sangat penting. Pertama, membangun kemitraan teknologi dan digital yang komprehensif dengan fokus pada kecerdasan buatan, infrastruktur digital publik, dan inovasi. Kedua, menciptakan proyek-proyek unggulan di bidang kesehatan, pendidikan, dan teknologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketiga, memperdalam kerja sama maritim dan industri pertahanan sehingga kemitraan India-Indonesia dapat menjadi salah satu pilar stabilitas Indo-Pasifik. India dan Indonesia saat ini memiliki konvergensi kepentingan yang sangat jarang terjadi. Keduanya memiliki kepentingan dalam kepemimpinan Global South, keamanan maritim, ketahanan pangan dan energi, serta pengembangan teknologi masa depan. Kunjungan Presiden Prabowo ke India pada 2025 telah menciptakan momentum. Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia memberikan kesempatan untuk mengubah momentum tersebut menjadi transformasi strategis. Apakah hubungan India dan Indonesia dapat mengalami lompatan besar akan lebih ditentukan oleh implementasi dibandingkan deklarasi. Apabila kedua negara mampu mengatasi kesenjangan pengetahuan, hambatan birokrasi, dan berbagai kesalahpahaman, serta menghadirkan proyek-proyek unggulan yang nyata, maka kemitraan India dan Indonesia berpotensi menjadi salah satu hubungan bilateral paling penting di kawasan Indo-Pasifik sekaligus model kerja sama Global South yang praktis dalam dekade mendatang.

India dan Indonesia: Hubungan Kuno Terjalin Melalui Sejarah, Budaya dan Kehidupan Sehari-hari Opini
Opini
Minggu, 05 Juli 2026 | 13:15 WIB

India dan Indonesia: Hubungan Kuno Terjalin Melalui Sejarah, Budaya dan Kehidupan Sehari-hari

Oleh: Dr. Manish Shrivastava* Jakarta, katakabar.com - Jauh sebelum ada kedutaan besar, kunjungan kenegaraan, atau perjanjian diplomatik, hubungan India dan Indonesia telah dimulai dari laut. Para pedagang, biksu, cendekiawan, perajin, pendongeng, dan peziarah tidak hanya membawa barang dagangan melintasi samudra. Mereka juga membawa bahasa, aksara, kepercayaan, kisah-kisah, tradisi kuliner, serta cara pandang terhadap kehidupan. Di tengah lalu lintas manusia dan gagasan itu, sosok Resi Agastya turut memasuki imajinasi masyarakat Nusantara. Di Pulau Jawa, ia dikenang sebagai guru yang membawa ajaran Hindu, disiplin, dan nilai-nilai spiritual. Kehadirannya dalam tradisi candi, termasuk di Prambanan, menunjukkan betapa dalamnya pengaruh pemikiran India yang kemudian bertransformasi menjadi bagian dari identitas Indonesia sendiri. Kerajaan-kerajaan kuno semakin mempererat hubungan tersebut. Sriwijaya di Sumatra berkembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha yang memiliki hubungan erat dengan Universitas Nalanda di India. Di Jawa dan Bali, kisah Ramayana dan Mahabharata menemukan kehidupan baru melalui tari, teater, seni pahat, penamaan, hingga berbagai ritual budaya. Bagi seorang India yang berdiri di hadapan Candi Borobudur atau Prambanan, sering kali muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Kisah-kisahnya terasa akrab, tetapi cara masyarakat Indonesia menghidupkannya benar-benar memiliki karakter yang khas. Barangkali penyair besar India, Rabindranath Tagore, juga merasakan hal serupa ketika mengunjungi Jawa dan Bali pada tahun 1927. Sebagai seorang penyair, ia mampu melihat hal-hal yang sering luput dari perhatian para pelancong. Ia menyaksikan candi, tari, musik, ritual, dan kehidupan masyarakat desa. Namun yang paling membekas baginya adalah bagaimana keindahan begitu menyatu secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Tagore menemukan gema India di Indonesia, tetapi setiap gema itu telah memperoleh suaranya sendiri. Kisah-kisah epik tetap hidup, namun bergerak dengan kelembutan budaya Jawa. Pemikiran Hindu tetap bertahan, tetapi di Bali berkembang melalui upacara adat, sesajen, kehidupan komunal, dan penghormatan terhadap alam. Musik gamelan memiliki kesabarannya sendiri. Tarian berbicara melalui keheningan. Gerak tubuh berlangsung perlahan, ekspresi tetap tenang, tetapi pesannya mampu menyentuh hati. Saya sendiri berkali-kali merasakan pengalaman serupa. Di Indonesia, masa lalu jarang hadir secara mencolok. Ia hidup tenang di balik nama-nama orang, upacara adat, candi, tradisi keluarga, bahkan dalam cara masyarakat memaknai waktu. Perjuangan kemerdekaan kemudian memberikan makna emosional yang lebih dalam bagi kedekatan kedua bangsa. India dan Indonesia sama-sama pernah merasakan pahitnya penjajahan. Masyarakat di kedua negara memahami bagaimana rasanya ketika tanah, perdagangan, pendidikan, bahkan martabat bangsa berada di bawah kendali pihak asing. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 dan harus berjuang panjang memperoleh pengakuan internasional. India menyusul meraih kemerdekaan dua tahun kemudian. Saat itu, berbagai bangsa di Asia sedang merebut kembali suara dan identitas mereka setelah berabad-abad hidup di bawah kolonialisme. Dukungan India terhadap Indonesia bukan semata-mata lahir dari kepentingan diplomatik. Dukungan itu juga tumbuh dari kesamaan pengalaman sejarah, dari rasa hormat satu peradaban tua terhadap peradaban tua lainnya yang sedang berusaha kembali menemukan tempatnya di dunia. Laut memang memisahkan kedua negara. Bahasa dan pengalaman kolonial pun berbeda. Namun makna kebebasan yang dirasakan masyarakat keduanya sangatlah serupa. Setelah sama-sama merdeka, hubungan India dan Indonesia memperoleh bentuk resmi melalui berbagai kerja sama antarnegara. Namun bagi mereka yang pernah hidup di kedua negeri ini, hubungan tersebut selalu terasa melalui hal-hal sederhana. Saya menemukannya dalam nama-nama seperti Dewi, Putri, Indra, Wisnu, dan Surya. Saya melihatnya dalam pertunjukan Ramayana di Jawa, ketika cerita berasal dari India, tetapi gerak tari, irama musik, dan suasananya sepenuhnya milik Indonesia. Saya juga menemukannya di Bali. Seorang pengunjung dari India mungkin mendengar mantra-mantra yang familiar, tetapi akan menyaksikan cara beribadah, sesajen, kehidupan pura, dan kedisiplinan masyarakat yang berbeda namun tetap terasa dekat. Saya merasakannya pula di Jakarta, tempat makanan India, film Bollywood, yoga, Ayurveda, dunia usaha, pendidikan, dan komunitas India hidup berdampingan secara harmonis dengan keramahan masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia, tata krama, dan budaya lokal. Kunjungan resmi dari India ke Indonesia pada bulan Juli ini menjadi bagian dari tradisi panjang tersebut. Bagi saya pribadi, kunjungan ini menyentuh sesuatu yang telah saya alami dalam kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun. Saya datang ke Indonesia sebagai seorang profesional biasa dari India. Hal pertama yang ditantang negeri ini bukanlah kemampuan saya bekerja, melainkan cara saya memandang waktu. Saya datang dengan kebiasaan khas India: ingin bertanya cepat, mengambil keputusan cepat, menindaklanjuti pekerjaan dengan cepat, dan menganggap bahwa jika sesuatu sudah jelas bagi saya, maka tentu akan segera jelas pula bagi orang lain. Indonesia tidak pernah memperdebatkan kebiasaan itu. Indonesia hanya membuat saya belajar menunggu. Sebuah percakapan sering kali dimulai dengan secangkir teh. Sebuah keputusan lahir setelah banyak percakapan kecil. Bahkan sebuah kata "ya" pun membutuhkan waktunya sendiri. Kata nanti dapat memiliki begitu banyak makna. Pada awalnya saya merasa gelisah. Namun perlahan saya memahami bahwa masyarakat Indonesia bukan sedang menguji efisiensi saya. Mereka hanya ingin mengetahui apakah saya dapat dipercaya, apakah saya mampu mendengarkan, dan apakah saya tetap tenang ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai jadwal yang saya buat. Saat Idul Fitri pertama saya di Indonesia, saya mendengar ucapan, "Mohon maaf lahir dan batin." Ucapan itu langsung mengingatkan saya pada tradisi Jain di India yang mengenal ungkapan Micchāmi Dukkaḍaṃ, yaitu permohonan maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, baik disengaja maupun tidak. Bahasanya berbeda. Tradisi agamanya pun berbeda. Namun maknanya terasa sangat akrab. Saya melihat keluarga saling mengunjungi, membawa makanan, meminta maaf, berbicara dengan lembut, serta menempatkan hubungan antarmanusia di atas ego pribadi. Nilai-nilai serupa juga saya temukan dalam keluarga-keluarga di India, terkadang saat perayaan, setelah terjadi perselisihan keluarga, atau melalui penghormatan yang diberikan kepada orang tua tanpa perlu dijelaskan alasannya. Pengalaman-pengalaman kecil inilah yang kemudian menjadi benih lahirnya buku saya, Sabar, Sambal & Survival. Kini, setiap kali memikirkan hubungan India dan Indonesia, yang terlintas justru momen-momen sederhana tersebut. Seorang warga India yang belajar berbahasa Indonesia sebelum bertamu ke rumah orang Indonesia. Seorang sahabat Indonesia yang dengan sabar menjelaskan adat setempat tanpa membuat orang asing merasa canggung. Sebuah meja makan tempat sambal berdampingan dengan masakan India, dan keduanya terasa sama-sama pantas berada di sana. Atau ucapan selamat hari raya yang membawa semangat saling memaafkan, meski diucapkan dalam bahasa yang berbeda. Indonesia mengajarkan saya cara baru memahami manusia, tata krama, penghormatan, humor, makanan, agama, keluarga, bahasa, dan rasa memiliki. Di India, saya sering mendengar pepatah, "Sabr ka phal meetha hota hai" yang berarti "buah kesabaran itu manis." Tetapi setelah tinggal di Indonesia, saya memahami maknanya secara berbeda. Di sini, kesabaran tidak pernah diajarkan melalui nasihat. Kesabaran hadir melalui proses menunggu, secangkir teh, keheningan, keluarga, makanan, senyuman, dan terkadang sedikit sambal di sampingnya. Ketika akhirnya kita benar-benar memahaminya, kesabaran bukan lagi sekadar terasa manis. Ia memiliki rasa. *Dr. Manish Shrivastava adalah penulis dan profesional asal India yang berbasis di Jakarta. Ia telah tinggal dan bekerja di Indonesia sejak 2008 serta memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang layanan kesehatan berbasis Ayurveda, termasuk lebih dari sepuluh tahun memimpin bisnis Himalaya di Indonesia dan memperkenalkan produk-produk kesehatan berbasis Ayurveda kepada masyarakat Indonesia. Ia telah menulis 14 buku, termasuk seri sepuluh buku berjudul Krantidoot yang mengangkat kisah para pejuang kemerdekaan India yang kurang dikenal. Buku terbarunya, Sabar, Sambal & Survival, merefleksikan pengalaman hidupnya di Indonesia sekaligus kedekatan budaya antara India dan Indonesia.

Kebijakan Act East 2026: Strategi India Tata Ulang Indo-Pasifik di Tengah Gejolak Global Opini
Opini
Minggu, 05 Juli 2026 | 12:10 WIB

Kebijakan Act East 2026: Strategi India Tata Ulang Indo-Pasifik di Tengah Gejolak Global

Oleh: Gurjit Singh Jakarta, katakabar.com - Pertemuan tahunan antara Perdana Menteri India, Narendra Modi dan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi di New Delhi pada 1 Juli 2026 tidak seharusnya dipandang sebagai agenda bilateral semata. Pertemuan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari rangkaian kunjungan strategis Narendra Modi ke Indonesia, Australia, serta kunjungan bersejarah ke Selandia Baru, yang menjadi kunjungan pertama seorang Perdana Menteri India ke negara itu pada empat dekade terakhir. Jika setiap kunjungan dipahami secara terpisah, kita akan kehilangan gambaran besarnya. Sesungguhnya, seluruh rangkaian diplomasi tersebut mencerminkan penyesuaian strategis India terhadap dinamika Indo-Pasifik yang semakin kompleks, di tengah meningkatnya ketidakpastian global, perubahan kebijakan Amerika Serikat, serta semakin tegasnya peran China di kawasan. Keempat agenda tersebut bukan sekadar jadwal diplomatik yang padat. Semuanya merupakan manifestasi terbaru dari evolusi kebijakan Act East, strategi luar negeri India yang kini memasuki babak baru setelah lebih dari satu dekade dijalankan. Ketika kebijakan tersebut diluncurkan dua belas tahun lalu, tujuan utamanya adalah mempererat hubungan India dengan negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Kini, dalam situasi geopolitik yang jauh lebih tidak menentu, Act East berkembang menjadi instrumen utama India untuk memperkuat stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Perubahan lingkungan strategis berlangsung jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak pihak. Tatanan internasional yang selama ini ditopang oleh kepemimpinan Amerika Serikat, rantai pasok global yang stabil, serta efektivitas berbagai lembaga multilateral mengalami tekanan yang semakin besar. Pandemi Covid-19 mengganggu arus perdagangan dunia, sementara konflik di Ukraina dan Timur Tengah memperburuk ketahanan rantai pasok global. Situasi tersebut semakin diperumit oleh kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump pada masa jabatan keduanya yang kembali mengedepankan tarif, bahkan terhadap negara-negara mitra. Di saat yang sama, pendekatan Washington yang semakin membuka ruang bagi hubungan strategis baru dengan Beijing memunculkan pertanyaan besar bagi negara-negara Indo-Pasifik mengenai arah masa depan kawasan. India, Jepang, Australia, dan negara-negara ASEAN kini dihadapkan pada kebutuhan untuk memperkuat ketahanan strategis mereka tanpa terlalu bergantung pada dinamika hubungan dua kekuatan besar tersebut. Pada konteks inilah rangkaian kunjungan Perdana Menteri Modi memperoleh makna yang jauh lebih penting. India tampaknya tidak lagi menunggu arah kebijakan Washington. Sebaliknya, New Delhi memilih mempercepat pembangunan arsitektur kerja sama regionalnya sendiri melalui kemitraan ekonomi, penguatan rantai pasok, serta hubungan strategis dengan negara-negara yang memiliki kepentingan serupa. Jepang menjadi salah satu pilar utama strategi tersebut. Kunjungan Perdana Menteri Jepang ke India akan diikuti delegasi sekitar 200 pelaku usaha dari hampir 100 perusahaan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa keamanan ekonomi kini menjadi fondasi utama hubungan kedua negara. Kerja sama diperkirakan akan semakin diperkuat di bidang semikonduktor, energi terbarukan, kendaraan listrik, elektronik pertahanan, mineral kritis, industri otomotif, serta pembangunan rantai pasok yang lebih tangguh. Komitmen investasi Jepang juga terus meningkat. Setelah sebelumnya menargetkan investasi sebesar 5 triliun yen pada periode 2022–2027, Tokyo kini menaikkan target tersebut menjadi 10 triliun yen hingga 2035. Kesinambungan pertemuan tahunan kedua pemimpin juga memperlihatkan semakin eratnya sinergi antara kebijakan Act East India dan visi Jepang mengenai Free and Open Indo-Pacific. Kemitraan bilateral tersebut diperkirakan akan memainkan peran yang semakin besar dalam memperkuat berbagai inisiatif kawasan seperti Quad, terutama ketika perhatian Amerika Serikat terhadap kawasan mengalami penurunan. Salah satu langkah yang layak dipertimbangkan adalah menghidupkan kembali India–Japan–Australia Supply Chain Resilience Initiative. Inisiatif tersebut dapat menjadi fondasi bagi pembangunan rantai pasok alternatif yang tidak terlalu bergantung pada China sebagai pusat manufaktur global. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa konsentrasi rantai pasok pada satu negara menciptakan kerentanan yang semakin nyata. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Indonesia menempati posisi yang sangat penting. Pertemuan antara Narendra Modi dan Presiden Prabowo Subianto akan menjadi tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prabowo ke India pada Hari Republik India tahun 2025. Agenda pembahasan diperkirakan mencakup keamanan maritim, kerja sama pertahanan, peningkatan perdagangan bilateral, pembangunan rantai pasok, hubungan antar masyarakat, hingga kerja sama pendidikan. Indonesia juga berpeluang merampungkan proses pengadaan sistem rudal BrahMos yang telah dibahas selama beberapa tahun terakhir. Dari sisi ekonomi, perdagangan bilateral yang saat ini mencapai sekitar US$25 miliar masih memiliki ruang yang sangat besar untuk berkembang menuju target US$50 miliar apabila akses pasar kedua negara semakin terbuka. Prospek kerjasama pun semakin luas. Bidang kesehatan, pariwisata, latihan militer bersama, hingga pengembangan ekonomi maritim menawarkan peluang besar bagi kedua negara. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang menguasai jalur strategis Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam kepentingan maritim India. Hal ini juga sejalan dengan pembangunan kawasan Great Nicobar yang akan memperkuat kehadiran strategis India di Samudra Hindia. Lantaran itu, hubungan India dan Indonesia perlu terus diarahkan menuju kemitraan strategis yang lebih erat, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara, tetapi juga demi menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Setelah Indonesia, Perdana Menteri Modi dijadwalkan mengunjungi Selandia Baru, kunjungan pertama seorang Perdana Menteri India ke negara tersebut dalam 40 tahun terakhir. Momentum ini hadir setelah kedua negara berhasil menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas yang menghapus tarif bagi berbagai produk ekspor India sekaligus menurunkan hambatan perdagangan bagi sebagian besar produk Selandia Baru. Kunjungan tersebut memperlihatkan upaya India untuk menutup berbagai kekosongan dalam diplomasi tingkat tinggi dengan negara-negara sahabat di kawasan. Sementara, hubungan India dan Australia telah berkembang menjadi kemitraan strategis yang matang. Narendra Modi dan Anthony Albanese secara rutin bertemu dalam berbagai forum internasional, didukung oleh kerja sama yang terus berkembang di bidang mobilitas tenaga kerja, energi terbarukan, pendidikan, dan keamanan kawasan. India juga baru terpilih sebagai Wakil Ketua Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) Supply Chain Council, sebuah posisi yang semakin memperkuat perannya dalam membangun ketahanan rantai pasok regional, bahkan apabila komitmen Amerika Serikat terhadap IPEF mengalami penurunan. Ke depan, India juga layak mempertimbangkan keikutsertaan dalam Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Langkah tersebut akan memperluas implementasi kebijakan Act East sekaligus menunjukkan bahwa India tidak lagi hanya berfokus pada isu akses pasar, tetapi juga ingin menjadi mitra yang stabil dan dapat dipercaya dalam pembangunan kawasan. Di sisi lain, pengembangan rantai pasok mineral kritis menjadi peluang besar bagi India, Jepang, Australia, dan Indonesia. Keempat negara memiliki modal yang saling melengkapi, mulai dari teknologi, investasi, sumber daya alam, hingga kapasitas hilirisasi industri. Kolaborasi tersebut dapat membentuk rantai pasok alternatif yang lebih tangguh dan berkelanjutan di kawasan Indo-Pasifik. Melalui seluruh rangkaian kunjungan ini, India juga menunjukkan peran barunya sebagai penghubung antara negara-negara berkembang di Global South dengan negara-negara maju yang selama ini menjadi pilar tatanan internasional. Ketika China semakin menunjukkan sikap yang tegas dan Amerika Serikat semakin sulit diprediksi, India berupaya menawarkan alternatif berupa kemitraan yang dibangun di atas stabilitas, skala ekonomi, dan otonomi strategis. Dengan demikian, pada tahun 2026, kebijakan Act East tidak lagi sekadar bermakna "melihat ke Timur". Kebijakan tersebut telah berkembang menjadi strategi India untuk berkontribusi dalam memperbaiki tatanan global yang tengah mengalami tekanan, khususnya di kawasan Indo-Pasifik. Beberapa minggu ke depan akan menjadi ujian penting mengenai bagaimana India menjalankan strategi tersebut. Keberhasilan Act East tidak lagi ditentukan oleh seberapa aktif Amerika Serikat di kawasan, melainkan oleh kemampuan India bersama para mitranya membangun kerja sama yang lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih mandiri demi masa depan Indo-Pasifik.

RI dan India: Membangun Motor Baru Pertumbuhan Asia Opini
Opini
Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:22 WIB

RI dan India: Membangun Motor Baru Pertumbuhan Asia

dunia yang memiliki potensi sebesar ini. Karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi seharusnya tidak hanya dikenang sebagai sebuah kunjungan kenegaraan. Kunjungan tersebut semestinya menjadi titik awal ketika dua peradaban besar memutuskan untuk membangun masa depan bersama, yang tidak hanya bertumpu pada sejarah, tetapi juga pada inovasi, kemitraan, dan kesejahteraan bersama.

Mengapa Indonesia Kembali Menjadi Prioritas India Opini
Opini
Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:15 WIB

Mengapa Indonesia Kembali Menjadi Prioritas India

Oleh: Gautam Kumar Jha, Assistant Professor di Jawaharlal Nehru University katakabar.com - Rencana kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada pekan pertama Juli 2026, menyusul kunjungan bersejarah Presiden Indonesia, H Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan pada peringatan Hari Republik India tahun lalu, menjadi tonggak baru dalam hubungan bilateral yang terus berkembang pesat antara New Delhi dan Jakarta. Setelah Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting/JCM) ke 8 di New Delhi awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengonfirmasi bahwa persiapan kunjungan Modi tengah berlangsung. Ia menyebut kunjungan tersebut sebagai bentuk timbal balik atas kunjungan Presiden Prabowo sekaligus menegaskan bahwa kerja sama kedua negara kini telah meluas, tidak hanya mencakup diplomasi tradisional, tetapi juga farmasi, perdagangan, pelatihan tenaga medis, pariwisata, kebudayaan, hingga kerja sama ekonomi yang lebih luas. Sekilas, perkembangan ini mungkin tampak seperti rutinitas diplomasi biasa. Namun kenyataannya tidak demikian. Intensitas pertukaran kunjungan para pemimpin, pertemuan tingkat menteri, dialog strategis, konsultasi pertahanan, kolaborasi lembaga pemikir, hingga kemitraan antara institusi dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa baik South Block di India maupun Kementerian Luar Negeri Indonesia menanamkan modal politik yang belum pernah sebesar ini dalam hubungan bilateral. Hal tersebut memunculkan pertanyaan penting. Mengapa Indonesia kini menempati posisi yang begitu strategis dalam prioritas diplomasi India? Mengapa hubungan ini justru memperoleh perhatian yang lebih besar dibandingkan hubungan India dengan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya? Jawaban-jawaban konvensional tidak lagi memadai. Kawasan Indo-Pasifik memang menjadi konteks strategis yang penting. Keamanan maritim, kerja sama pertahanan, rantai pasok yang tangguh, dan konektivitas regional telah menjadi tema utama hubungan kedua negara. Negosiasi akhir mengenai kemungkinan pembelian sistem rudal BrahMos, peningkatan kerja sama angkatan laut, semakin besarnya perhatian terhadap Selat Malaka, hingga rencana pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua, menunjukkan bahwa India dan Indonesia kini semakin memandang satu sama lain sebagai mitra maritim yang tidak tergantikan. Namun, semua itu hanya menjelaskan sebagian dari keseluruhan cerita. Faktor ekonomi pun belum sepenuhnya memberikan jawaban. Nilai perdagangan bilateral telah mendekati US$30 miliar dan terus menunjukkan tren peningkatan. Indonesia kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar India di ASEAN, sementara India merupakan salah satu tujuan ekspor utama Indonesia. Tetapi, India masih mencatat defisit perdagangan lebih dari US$17 miliar terhadap Indonesia, salah satu defisit bilateral terbesar yang dimilikinya. Jika ketimpangan ekonomi semata menjadi penentu prioritas diplomatik, situasi seperti ini seharusnya membatasi, bukan justru mempercepat, kedekatan politik kedua negara. Dengan demikian, jawabannya terletak di tempat lain. Dalam Jakarta Futures Forum tahun lalu, Presiden Observer Research Foundation, Samir Saran, menyatakan bahwa hubungan India dan Indonesia pada banyak aspek sesungguhnya lebih besar dibandingkan kemitraan India dengan Inggris, Jepang, maupun Jerman. Namun ironisnya, hubungan tersebut justru memperoleh perhatian yang sangat minim dalam diskursus strategis India. Lebih jauh, ia menilai Indo-Pasifik baru akan benar-benar menemukan bentuknya ketika India dan Indonesia, bersama mitra-mitra yang memiliki visi serupa, mengambil tanggung jawab lebih besar dalam membentuk masa depan kawasan. Pandangan tersebut layak mendapat perhatian serius. Indonesia kini tidak lagi sekadar penting sebagai mitra dagang atau mitra keamanan maritim. Indonesia telah menjadi bagian penting dari cara India membayangkan masa depan Indo-Pasifik. Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, juga mengingatkan hubungan kedua negara tidak hanya dibangun oleh dinamika geopolitik kontemporer, tetapi oleh hampir dua ribu tahun interaksi peradaban. Mulai dari aksara Pallawa, prasasti berbahasa Sanskerta, hingga jalur perdagangan maritim yang memanfaatkan angin muson, Teluk Benggala dan Kepulauan Nusantara telah menjadi ruang peradaban bersama jauh sebelum lahirnya negara-bangsa modern. Sebagaimana ia sampaikan, hubungan India dan Asia Tenggara saat ini hampir tidak dibayangi sengketa wilayah. Sebaliknya, hubungan tersebut ditandai oleh kesamaan kepentingan strategis, kerja sama ekonomi yang terus berkembang, serta posisi bersama sebagai bagian dari Global South. Dengan demikian, tantangan utama bukanlah kurangnya kepentingan bersama, melainkan belum adanya perhatian strategis yang berkelanjutan. Di sinilah tampaknya perubahan paling mendasar sedang berlangsung. Selama beberapa dekade, hubungan India dan Indonesia lebih banyak dipahami melalui lensa kemitraan strategis. Kerja sama pertahanan, keamanan maritim, perdagangan, dan konektivitas menjadi fondasi utama hubungan bilateral. Semua itu tetap penting. Kini, fondasi tersebut tidak lagi cukup. Yang mulai berkembang adalah kesadaran baru bahwa kemitraan yang benar-benar berkelanjutan tidak bisa hanya bergantung pada kalkulasi geopolitik yang selalu berubah. Kemitraan strategis dibangun oleh pemerintah. Namun kemitraan yang bertahan lama justru dipelihara oleh masyarakat. Hubungan semacam itu membutuhkan peran universitas, lembaga penelitian, pertukaran budaya, kolaborasi ilmiah, pengembangan pengetahuan tradisional, serta pemahaman sejarah bersama yang mampu menciptakan basis sosial bagi kerja sama jangka panjang. Sejumlah perkembangan belakangan ini menunjukkan arah perubahan tersebut. Kerja sama pengobatan tradisional melalui Ayurveda dan Jamu, kolaborasi ilmiah dalam Indonesia–India Bioresources Consortium (IIBC), meningkatnya kemitraan akademik, semakin intensifnya pertukaran antar lembaga pemikir, hingga tumbuhnya kembali perhatian terhadap warisan maritim menjadi bukti bahwa agenda hubungan kedua negara kini jauh melampaui diplomasi konvensional. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan mekanisme multilateralisme tradisional yang semakin sulit mengakomodasi aspirasi negara-negara berkembang, India dan Indonesia mulai membangun kemitraan yang melampaui kepentingan strategis jangka pendek. Diplomasi kini semakin berakar pada ketahanan kawasan, otonomi strategis, serta modal peradaban yang dimiliki bersama. Sebagai dua negara demokrasi terbesar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, India dan Indonesia memiliki bonus demografi, posisi geografis maritim yang sangat strategis, kapasitas teknologi, keanekaragaman hayati yang luar biasa, serta warisan peradaban yang sama. Kombinasi tersebut menempatkan kedua negara pada posisi yang unik untuk membentuk masa depan Indo-Pasifik sekaligus memperkuat kerja sama di antara negara-negara Global South. Karena itu, kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi mendatang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai agenda diplomatik rutin, tetapi juga sebagai momentum untuk merumuskan kembali fondasi intelektual hubungan kedua negara. Di samping berbagai kesepakatan mengenai perdagangan, pertahanan, dan konektivitas, kedua pemerintah juga dapat mulai melembagakan kemitraan yang lebih mendalam melalui inisiatif bersama di bidang warisan peradaban, riset keanekaragaman hayati, pengobatan tradisional, sejarah maritim, pendidikan tinggi, serta diplomasi budaya. Inisiatif-inisiatif tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan kemitraan strategis yang telah ada, melainkan memperkuatnya dengan fondasi sosial yang lebih luas dan lebih kokoh. Sejarah mengajarkan bahwa India dan Indonesia tidak pernah terhubung hanya melalui perdagangan atau kepentingan strategis semata. Selama berabad-abad, kedua bangsa dipersatukan oleh pertukaran gagasan, sistem pengetahuan, jaringan maritim, dan interaksi peradaban yang membentuk kawasan Samudra Hindia. Tantangan bagi para pembuat kebijakan saat ini bukanlah menghidupkan kembali masa lalu, melainkan menafsirkan kembali warisan tersebut agar relevan bagi masa depan. Mungkin itulah yang kini sedang berlangsung secara perlahan antara South Block dan Kementerian Luar Negeri Indonesia. Apa yang kita saksikan hari ini tampaknya bukan sekadar penguatan satu lagi kemitraan strategis.

Simbiosis Manusia-AI: Bagaimana Pasar Berkembang Lebih Dulu Bangun Masa Depan Opini
Opini
Rabu, 03 Juni 2026 | 09:23 WIB

Simbiosis Manusia-AI: Bagaimana Pasar Berkembang Lebih Dulu Bangun Masa Depan

Oleh: Shraddha Thanawala, Remiges Apac Pte Ltd katakabar.com - Selama empat dekade terakhir, pasar berkembang menempuh jalur yang berbeda dalam mencapai kematangan teknologi. Alih-alih mengikuti model yang digunakan negara maju, mereka justru melompati infrastruktur lama dan langsung membangun sistem berbasis cloud-native serta API-driven sejak awal. Kini, ketika Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan beroperasi, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan siapa yang memiliki fondasi yang tepat untuk menggunakannya secara bertanggung jawab. Tulisan ini membahas bagaimana lahirnya generasi baru “perancang sistem” mampu mengisi kekosongan dalam ekosistem teknologi, serta mengapa AI justru memperkuat keunggulan organisasi yang memiliki infrastruktur modern dan pengambilan keputusan manusia yang disiplin. Tiga Era Teknologi di Pasar Berkembang Era 1: Ketergantungan pada Produk MNC (1980-an–2000-an) Pada masa awal, perusahaan besar di pasar berkembang hanya memiliki dua pilihan: menggunakan produk perusahaan multinasional (MNC) yang mahal dan kaku seperti SAP, Oracle, atau mainframe, atau membangun solusi seadanya yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Sebagian besar perusahaan menengah memilih opsi kedua. Mereka membangun sistem tambal sulam yang dipimpin programmer senior berbakat, tetapi tanpa disiplin arsitektur yang matang. Pada masa itu, desain sistem belum dianggap sebagai disiplin tersendiri. Yang penting sistem bisa berjalan. Spreadsheet digunakan untuk menutupi berbagai kekurangan. Akibatnya, sistem menjadi rapuh, mahal dirawat, dan sulit berkembang ketika bisnis mulai membesar. Era 2: Munculnya Perancang Sistem (2005–2020) Perubahan besar mulai terjadi ketika generasi baru teknolog dari India, Vietnam, dan Filipina tidak lagi sekadar mengeksekusi spesifikasi, tetapi mulai merancang sistem secara menyeluruh. Perusahaan seperti Infosys, Wipro, TCS, dan berbagai perusahaan teknologi boutique menghadirkan sesuatu yang sebelumnya sulit diakses perusahaan menengah: arsitek teknologi kelas dunia dengan biaya jauh lebih terjangkau dibanding perusahaan multinasional besar. Untuk pertama kalinya, perusahaan menengah dapat berkata: Era 3: Keunggulan Leapfrog (2020–Sekarang) Ketika negara maju menghabiskan dekade 2010-an untuk memodernisasi sistem lama yang rumit, pasar berkembang justru sudah lebih dulu membangun fondasi berbasis cloud-native dan API-first. Hasilnya, banyak perusahaan di India, Vietnam, dan pasar berkembang lainnya kini memiliki arsitektur teknologi yang lebih modern dibanding sejumlah perusahaan di negara maju. Ini bukan kebetulan. Pasar berkembang terpaksa membangun dengan cara berbeda karena mereka tidak mampu membayar “biaya mahal” produk MNC. Keterbatasan itulah yang akhirnya berubah menjadi keunggulan kompetitif. Paradigma Baru: AI sebagai Kolaborasi yang Disiplin AI adalah lompatan besar berikutnya dalam produktivitas, tetapi hanya jika diperlakukan sebagai kecerdasan kolaboratif, bukan solusi otomatis sepenuhnya. Nilai AI sesungguhnya bertumpu pada dua hal utama: 1. Human-in-the-loop AI adalah asisten yang sangat cerdas, tetapi bukan pengganti manusia sepenuhnya. Nilainya bergantung pada kualitas prompt, penilaian, dan validasi manusia di setiap tahap. Developer yang memahami logika bisnis, konteks industri, dan batasan arsitektur akan mendapatkan manfaat jauh lebih besar dari AI dibanding mereka yang menganggap AI sebagai pengganti proses berpikir. Dan itu memang tujuan desain AI sejak awal. 2. Guard Rails AI juga membawa risiko baru, mulai dari kode dengan dependensi tersembunyi, logika probabilistik dalam sistem penting, hingga kasus-kasus tertentu yang belum mampu ditangani dengan baik oleh model AI saat ini. Tanpa guard rails, penggunaan AI dalam pengembangan justru berpotensi menciptakan technical debt baru. Guard rails mencakup automated testing, code review, audit trail, hingga mekanisme fallback yang memastikan kode hasil AI tetap memenuhi standar produksi. Kesimpulan: Integrator yang Bijak Akan Menjadi Pemenang Paradoks adopsi teknologi menunjukkan satu hal menarik: terlambat mengadopsi sistem lama justru membuat pasar berkembang lebih cepat memasuki era arsitektur modern. Pasar berkembang bukan sekadar mengejar ketertinggalan dari Barat. Mereka melewati jalan buntu tersebut dan langsung membangun fondasi masa depan. Organisasi yang memiliki fondasi modern, talenta dengan kemampuan desain sistem, dan disiplin produksi tidak hanya mampu mengadopsi AI lebih cepat, tetapi juga lebih baik. Mereka menggabungkan seni (design thinking), sains (validasi yang ketat), dan kecerdasan (pengembangan berbasis AI) menjadi hasil yang berkelanjutan. Pada akhirnya, masa depan bukan milik mereka yang paling cepat mengadopsi teknologi baru, melainkan mereka yang paling bijak mengintegrasikannya — mereka yang memahami bahwa kecerdasan bukan tentang mesin menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu mengarahkan mesin dengan disiplin dan tujuan yang jelas. Bagi pasar berkembang, inilah momen untuk memimpin.

'Pesta Para Babi' Opini
Opini
Jumat, 22 Mei 2026 | 15:01 WIB

'Pesta Para Babi'

Oleh: Agung Marsudi katakabar.com - Tiga hari lalu, saya dapat undangan bersifat pribadi dan terbatas untuk saksikan film Pesta Babi di Rumah Pembelajar Cilangkap, Rabu, (20/5), bersama: Sudirman Said, MTI, IHN, dan sejumlah sahabat lintas profesi yang masih percaya bahwa harapan untuk negeri ini terlalu mahal untuk diserahkan begitu saja kepada pesimisme. Pesta selalu menarik. Apalagi bila yang dipertaruhkan bukan sekadar makanan, melainkan masa depan bangsa. Fade in. “PAPUA, bukan tanah kosong!” ujar Hendrikus Franky Woro dan para warga suku Awyu lantang usai menancapkan sebuah salib merah dan palang adat di tanah adat mereka di Distrik Fofi, Boven Digoel, Papua Selatan. Teriakan Frangky itu lalu menjadi semesta ruh dari rangkaian gambar-gambar yang menggetarkan film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita garapan sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale. Seperti diketahui film dokumenter ini digarap selama tiga tahun oleh para pemberani di lima distrik di Provinsi Papua Selatan oleh Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Koperasi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Watchdoc, dan LBH Papua Merauke. Fade out. Bagi "para babi" yang dipastikan hobinya korupsi. Pesta babi adalah pesta pora merayakan kuasa. Setelah berhasil membabat hutan tropis Papua, menghabisi kekayaan dan keunikan keragaman hayatinya. Atas nama proyek strategis negara, hutan-hutan Papua menangis. Lalu meronta kepada siapa? Di balik ambisi besar, proyek besar, konspirasi besar, selalu ada jeritan rakyat kecil yang harus didengar. Hingga malam tadi, di sebuah warung kopi tubruk di lereng Gunung Lawu arah "Rogombene", Jogorogo, Ngrambe, Sine, saya dan teman-teman Baladesa dengan gitar kecil membuat sepotong lagu tentang pesta babi, pesta para babi (dalam satu teriakan). Seperti kata orang Medan, lagu itu kami beri judul "Memang Babi Kau!" Dan hari ini, genap 40 hari musim nobar Pesta Babi. Lalu di akun resmi medsosnya Dandhy menulis, "Thanks penyelenggara, penonton, dan yang gotong royong menjadikan "setiap jengkal tanah adalah bioskop".

Kekuatan dalam Keheningan Opini
Opini
Jumat, 27 Maret 2026 | 10:33 WIB

Kekuatan dalam Keheningan

Oleh: Sandeep Chakravorty, Duta Besar India untuk Indonesia katakabar.com - Di dunia saat ini, hampir tak terbayangkan sebuah bandara internasional yang sibuk berhenti beroperasi sepenuhnya selama satu hari penuh. Ini bukan kejadian satu kali, melainkan berlangsung setiap tahun. Tidak hanya Bandara Internasional Ngurah Rai Bali yang ditutup untuk seluruh penerbangan, tetapi seluruh aktivitas transportasi di pulau tersebut juga berhenti total. Masyarakat tetap berada di dalam rumah dan pada malam hari tidak ada lampu yang dinyalakan. Keheningan menyelimuti pulau yang biasanya ramai itu. Pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi. Ini bukan masa berkabung. Ini adalah sebuah perayaan. Inilah Tahun Baru Bali, Nyepi, hari hening untuk kontemplasi. Tahun ini, Nyepi diperingati dari pagi hari tanggal 19 Maret hingga pagi hari tanggal 20 Maret, sesuai kalender Hindu Saka. Nyepi merupakan perayaan spiritual dan budaya yang sangat mendalam, sekaligus unik bagi Pulau Bali. Pada hari ini, masyarakat diharapkan merenungkan perjalanan tahun yang telah berlalu dalam keheningan, serta memulai tahun baru dengan niat yang positif. Pelaksanaan Nyepi sangat ketat, dengan pengamanan oleh petugas adat yang dikenal sebagai Pecalang. Dalam beberapa tahun, bahkan layanan internet dan komunikasi seluler pernah dibatasi. Wisatawan pun diharapkan tetap berada di dalam area hotel, dengan pembatasan pergerakan di luar. Sebagian besar masyarakat Bali beragama Hindu. Indonesia bahkan menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki umat Hindu yang tidak berasal dari anak benua India. Meskipun terdapat banyak kesamaan dalam keyakinan antara masyarakat Bali dan umat Hindu di India, terdapat pula berbagai perbedaan yang tampak jelas, khususnya dalam perayaan hari besar. Jika di India festival besar meliputi Holi, Diwali, Durga Puja, Ganesh Chaturthi, atau Makar Sankranti, di Bali perayaan tersebut tidak begitu dikenal. Sebaliknya, masyarakat Bali memiliki tradisi dan perayaan sendiri, dengan Nyepi sebagai yang paling utama. Nyepi dirayakan melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah Melasti, yang dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi. Ini merupakan ritual penyucian yang bertujuan membersihkan alam semesta, baik secara lahir maupun batin, dari karma buruk dan dosa. Prosesi dilakukan secara meriah menuju pantai atau sumber air suci untuk mengambil tirta yang digunakan dalam penyucian benda-benda sakral, termasuk arca dewa. Tahap kedua adalah Bhuta Yajna dan pawai Ogoh-ogoh yang berlangsung sehari sebelum Nyepi. Kata Ogoh-ogoh berasal dari bahasa Bali ogah-ogah yang berarti sesuatu yang digoyangkan. Dalam pawai ini, patung-patung besar berbentuk makhluk menyeramkan yang terbuat dari bambu dan kain diarak dan digoyangkan, melambangkan pengusiran energi negatif. Setelah itu, patung-patung tersebut dibakar di kuburan desa. Ritual ini bertujuan menjaga keseimbangan antara Tuhan, manusia, dan alam, serta untuk menenangkan Batara Kala, dewa dunia bawah dan kehancuran. Tahap ketiga sekaligus yang paling penting adalah Nyepi itu sendiri, hari yang dikhususkan untuk refleksi diri. Kata Nyepi berasal dari kata “sepi” yang berarti sunyi atau hening. Segala hal yang dapat mengganggu tujuan utama tersebut dilarang keras. Masyarakat Bali menghabiskan hari dengan berdoa, berpuasa, dan bermeditasi untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan yang mereka sebut Sang Hyang Widhi Wasa. Nyepi berlandaskan pada Catur Brata atau empat pantangan utama. Pertama, Amati Geni yang melarang penggunaan api dan cahaya, termasuk listrik, bahkan memasak pun dihindari. Kedua, Amati Karya yang melarang aktivitas fisik kecuali yang berkaitan dengan penyucian diri secara spiritual. Ketiga, Amati Lelungan yang melarang bepergian. Keempat, Amati Lelanguan yang menekankan puasa serta melarang segala bentuk hiburan. Masyarakat Bali meyakini bahwa keheningan dalam segala bentuk mampu menyembuhkan, membersihkan, dan mempersiapkan mereka untuk menjalani kehidupan. Sehari setelah Nyepi, yang dikenal sebagai Ngembak Geni, suasana berubah total. Keluarga dan kerabat saling berkumpul, bersilaturahmi, melaksanakan ritual keagamaan bersama, dan kembali aktif dalam kehidupan sosial. Pada Nyepi hari ini, saya merenungkan bagaimana jadinya jika kita merayakan tahun baru seperti masyarakat Bali, jauh dari hiruk-pikuk perayaan tanpa makna yang kerap mewarnai pada 31 Desember setiap tahunnya.