Bantu Brand Agar Direkomendasikan AI, Avonetiq luncurkan AVO AI Tekno
Tekno
Senin, 08 Juni 2026 | 10:30 WIB

Bantu Brand Agar Direkomendasikan AI, Avonetiq luncurkan AVO AI

Jakarta, katakabar.com - Perubahan perilaku pencarian informasi yang semakin bergeser ke platform berbasis kecerdasan buatan (AI) menciptakan tantangan baru bagi perusahaan untuk memastikan brand mereka tetap mudah ditemukan oleh calon pelanggan. Menjawab kebutuhan tersebut, Avonetiq resmi meluncurkan AVO AI (getavo.ai), platform yang membantu perusahaan mengukur, memantau, dan meningkatkan kehadiran brand di berbagai platform AI seperti ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, hingga Google AI Overviews. Jika sebelumnya strategi digital berfokus pada optimasi mesin pencari (SEO), kini semakin banyak konsumen yang mengandalkan AI untuk memperoleh rekomendasi, membandingkan produk, hingga mencari referensi sebelum mengambil keputusan. Pada kondisi ini, posisi sebuah brand tidak lagi hanya ditentukan oleh peringkat di halaman pencarian, tetapi juga oleh seberapa sering dan seberapa akurat brand tersebut direkomendasikan oleh sistem AI. Pergeseran tersebut diperkirakan akan terus berlanjut. Gartner memprediksi volume penggunaan mesin pencari tradisional akan turun hingga 25 persen pada 2026 seiring meningkatnya penggunaan chatbot AI dan virtual agents sebagai sumber informasi.  Sementara, Adobe Analytics mencatat traffic dari platform AI generatif ke situs retail meningkat hingga 1.200 persen dalam kurun tujuh bulan terakhir, menunjukkan AI mulai berperan sebagai jalur baru bagi konsumen dalam menemukan informasi, produk, dan layanan. Melihat perubahan tersebut, AVO AI hadir untuk membantu perusahaan memahami bagaimana brand mereka direpresentasikan dalam jawaban AI sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kemunculannya. Melalui platform ini, pengguna dapat memantau kemunculan brand pada berbagai model AI, menganalisis sumber informasi yang digunakan AI dalam menghasilkan jawaban, membandingkan posisi dengan kompetitor, serta memperoleh rekomendasi strategis untuk meningkatkan peluang brand direkomendasikan dalam percakapan berbasis AI. Berbeda dengan tools analitik digital konvensional yang berfokus pada performa website atau mesin pencari, AVO AI dirancang untuk memantau bagaimana sebuah brand muncul dan dipersepsikan di berbagai platform AI generatif. Pendekatan ini membantu perusahaan memahami posisi mereka di kanal pencarian yang semakin banyak digunakan konsumen saat ini. "Selama bertahun-tahun, perusahaan mengukur keberhasilan kehadiran digital melalui peringkat pencarian, traffic website, atau engagement. Namun ketika konsumen mulai bertanya langsung kepada AI, metrik tersebut tidak lagi cukup untuk menggambarkan bagaimana sebuah brand ditemukan dan dipertimbangkan. Di sinilah kebutuhan baru mulai muncul," kata Alexandro Wibowo, Co-Founder & Partner Avonetiq, dalam konferensi pers di ICE BSD, Tangerang, Banten, Jumat (5/6). Menurutnya, perusahaan yang mampu membangun otoritas dan representasi yang kuat di platform AI akan memiliki peluang lebih besar untuk masuk dalam pertimbangan konsumen sejak tahap awal proses pengambilan keputusan. AVO AI dikembangkan untuk digunakan oleh brand, praktisi pemasaran, hingga agensi yang ingin beradaptasi dengan perubahan perilaku pencarian digital. Selain menyediakan pemantauan secara berkala, platform ini juga membantu pengguna mengidentifikasi peluang peningkatan melalui analisis konten, struktur informasi, dan sumber referensi yang paling berpengaruh terhadap jawaban AI. Sebagai perusahaan yang berfokus pada pemanfaatan AI untuk pemasaran dan komunikasi digital, Avonetiq melihat munculnya AI Search sebagai salah satu perubahan paling signifikan dalam lanskap pemasaran digital sejak hadirnya mesin pencari modern. Karena itu, pengembangan AVO AI menjadi bagian dari upaya perusahaan membantu brand memahami bagaimana mereka muncul, dipersepsikan, dan direkomendasikan di era AI. "Sebelumnya, brand fokus mencari cara agar ditemukan di mesin pencari. Sekarang, tantangannya berkembang menjadi bagaimana brand direpresentasikan dalam jawaban AI. Ke depan, kemampuan sebuah brand untuk dipahami dan direkomendasikan oleh AI akan menjadi faktor penting yang memengaruhi cara konsumen menemukan, mengenal, dan mempertimbangkan sebuah produk maupun layanan," ucap Alexandro. Untuk informasi lebih lanjut mengenai AVO AI, kunjungi getavo.ai.

Saat Konsumen Tanya ke AI, Apakah Brand Anda Disebut? Tekno
Tekno
Rabu, 27 Mei 2026 | 09:03 WIB

Saat Konsumen Tanya ke AI, Apakah Brand Anda Disebut?

Jakarta, katakabar.com - Ketika konsumen mulai bertanya langsung ke Artificial Intelligence (AI) untuk mencari rekomendasi produk, jasa, hingga perusahaan terbaik, tantangan baru mulai muncul bagi banyak brand: Apakah bisnis mereka ikut disebut dalam jawaban AI? Perubahan perilaku digital tersebut mulai menggeser cara konsumen menemukan informasi. Jika sebelumnya perusahaan berlomba-lomba muncul di halaman pertama mesin pencari, brand kini mulai menghadapi persaingan baru di ekosistem AI-generated answers, seperti ChatGPT, Google AI Overviews, dan Perplexity. Di banyak kasus, pengguna tidak lagi membuka banyak situs web untuk membandingkan pilihan secara manual. AI kini semakin sering menjadi lapisan pertama yang merangkum rekomendasi, menyusun jawaban, hingga menentukan brand mana yang dianggap paling relevan untuk ditampilkan kepada pengguna. Perubahan ini mulai menjadi perhatian industri teknologi global. Riset Gartner memprediksi volume pencarian tradisional akan turun hingga 25% pada 2026 akibat meningkatnya penggunaan chatbot AI dan agen virtual. Di saat yang sama, Google terus memperluas fitur AI Overviews yang menampilkan jawaban sintesis langsung di halaman pencarian tanpa mengharuskan pengguna membuka banyak website. Fenomena tersebut dinilai mulai menciptakan tantangan baru bagi brand, terutama dalam memahami bagaimana mereka direpresentasikan di platform AI generatif. “Dulu, brand fokus gimana caranya muncul di halaman pertama mesin pencari. Sekarang, tantangannya berubah jadi apakah AI cukup mengenali dan mempercayai brand Anda untuk ikut merekomendasikannya kepada pengguna,” kata Alexandro, Co-Founder & Managing Partner dari Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI. Menurut Alexandro, visibilitas di era AI tidak lagi hanya ditentukan oleh website perusahaan, melainkan juga berbagai sinyal digital lainnya, seperti pemberitaan media, konsistensi narasi brand, pembahasan publik, hingga otoritas informasi yang tersebar di berbagai kanal digital. “AI nggak bekerja seperti mesin pencari tradisional yang hanya menampilkan daftar link. Sistem AI membangun jawaban berdasarkan pemahaman terhadap berbagai sumber dan konteks digital yang tersedia. Jika AI nggak mengenali brand Anda, ada kemungkinan brand Anda nggak masuk pertimbangan pengguna sejak awal,” lanjutnya. Ia menambahkan, perubahan tersebut mulai menghadirkan tantangan baru khususnya bagi tim marketing dan public relations (PR). Sebab, perusahaan kini tidak hanya bersaing untuk mendapatkan posisi teratas di hasil pencarian, tetapi juga bersaing agar brand mereka dianggap relevan dan layak direkomendasikan oleh AI. Melihat perubahan perilaku digital tersebut, Avonetiq menggagas pendekatan baru, yakni AVO. Pendekatan ini berfokus untuk membantu brand membangun jejak digital yang terstruktur dan konsisten sehingga visibilitas mereka di mata AI semakin meningkat. Seiring pengembangannya, Avonetiq menyadari bahwa visibilitas AI tidak akan bertahan tanpa fondasi otoritas digital yang kuat. Lantaran itu, AVO yang sebelumnya dikenal sebagai AI Visibility Optimization kini bertransformasi menjadi “Authority & Visibility Optimization”, kian menegaskan fokusnya bahwa AVO tidak hanya membantu brand lebih mudah ditemukan AI, tetapi juga membangun kredibilitas mereka agar lebih dipercaya dan dipilih di industrinya. Dari kebutuhan akan visibilitas dan otoritas digital itulah Avonetiq menghadirkan AVO AI, sebuah platform SaaS yang bertindak sebagai konsultan AI bagi brand. AVO AI dirancang untuk membantu perusahaan memahami bagaimana brand mereka muncul dalam jawaban AI, bagaimana reputasi mereka dibingkai oleh sistem AI generatif, hingga bagaimana posisi mereka dibandingkan kompetitor dalam ekosistem pencarian berbasis kecerdasan buatan. Menggunakan tiga instrumen utama, yaitu Authority Score, Visibility Score, dan Content Engine, tool ini dapat membantu brand memantau serta meningkatkan visibilitas mereka di platform AI generatif. Nantinya, AVO AI akan tampil di gelaran Indonesia Digital Marketing Conference (IDMC) pada 4–5 Juni 2026, setelah sebelumnya diperkenalkan secara terbatas melalui undangan eksklusif. Konsultan berbasis kecerdasan buatan ini akan menyapa insan SEO dan marketing yang hadir serta siap menjadi solusi visibilitas brand di era pencarian AI. Lebih lanjut, di hari kedua acara tersebut, Alexandro juga akan membawakan sesi bertajuk “Winning the Digital War: How to Make AI Pick Your Brand” yang membahas perubahan perilaku pencarian digital dan strategi agar brand lebih mudah dikenali oleh sistem AI generatif. “Ke depan, visibility bukan lagi hanya soal ranking pencarian, tetapi soal apakah sebuah brand cukup relevan untuk direkomendasikan oleh AI. Ketika konsumen mulai bertanya kepada AI, apakah brand Anda ikut disebut?” tandas Alexandro.

Jawaban AI 57 Persen Tidak Sebut Brand, Apa Dampaknya Bagi Bisnis? Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 28 April 2026 | 10:11 WIB

Jawaban AI 57 Persen Tidak Sebut Brand, Apa Dampaknya Bagi Bisnis?

Jakarta, katakabar.com - Penggunaan AI ubah cara pengguna internet cari informasi, brand kini harus masuk dalam jawaban AI agar tetap terlihat. Perubahan besar sedang terjadi terkait cara konsumen mencari informasi di internet. Jika sebelumnya pencarian didominasi oleh klik ke berbagai situs web melalui mesin pencari, kini semakin banyak pengguna yang langsung mendapatkan jawaban instan dari sistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Data terbaru menunjukkan perubahan ini bukan sekadar tren sementara. Riset terhadap 5.600 pencarian menemukan bahwa lebih dari separuh respons Google AI Overviews, yakni sebesar 57,5 persen, tidak menyebutkan brand apa pun. Artinya, dalam banyak kasus, pengguna mendapatkan jawaban tanpa eksposur terhadap brand tertentu. Fenomena ini diperkuat oleh perubahan perilaku pencarian. Laporan SparkToro mencatat 58,5 persen pencarian Google berakhir tanpa klik ke situs eksternal. Sementara, Ahrefs menemukan bahwa kehadiran AI Overviews dapat menurunkan click-through rate (CTR) hasil pencarian nomor satu hingga 58%, dengan zero-click rate mencapai 83% pada jenis pencarian tertentu. Di Indonesia, tren serupa juga mulai terlihat. Dalam riset yang dipublikasikan oleh Dedy Budiman, Champion Sales Trainer sekaligus Founder Sales Director Indonesia (SDI),  sebanyak 74,6 persen pengguna internet aktif menggunakan AI untuk riset produk, dan 52,3 persen keputusan pembelian dipengaruhi oleh brand yang disebut dalam jawaban AI. Temuan ini menunjukkan visibilitas dalam sistem AI tidak hanya berdampak pada pencarian informasi, tetapi juga pada tahap awal pengambilan keputusan konsumen. Brand yang tidak muncul dalam jawaban AI berisiko tidak masuk dalam pertimbangan sejak awal. Menurut analisis Avonetiq, kondisi ini menciptakan perubahan mendasar dalam cara brand bersaing di ranah digital. Jika sebelumnya keberhasilan diukur dari peringkat dan traffic, kini visibilitas ditentukan oleh apakah sebuah brand dianggap cukup kredibel untuk dirangkum sebagai jawaban. “Dulu kompetisinya soal ranking. Sekarang, kompetisinya soal kepercayaan. AI tidak menampilkan semua opsi, [melainkan] hanya yang dianggap paling relevan dan bisa diverifikasi,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder & Managing Partner dari Avonetiq. Berbeda dengan mesin pencari tradisional, sistem berbasis AI bekerja dengan menggabungkan berbagai sumber informasi, mengevaluasi konsistensi narasi, serta menilai kredibilitas sebelum menyusun jawaban. Pada sistem ini, brand dengan jejak digital yang tidak konsisten atau minim validasi eksternal berisiko tidak muncul sama sekali. Sejumlah praktisi mulai melihat bahwa perubahan ini menandai fase baru dalam strategi digital. Fokus tidak lagi hanya pada optimasi website, tetapi pada bagaimana sebuah brand dipahami sebagai entitas yang kredibel di berbagai sumber. Pendekatan ini sering dikaitkan dengan konsep AI Visibility Optimization (AVO), yakni strategi yang berfokus pada pembangunan otoritas digital secara menyeluruh agar brand dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI. AVO melibatkan kombinasi antara struktur konten yang lebih mudah diproses oleh AI, konsistensi narasi lintas platform, serta penguatan referensi eksternal melalui publikasi dan validasi pihak ketiga. “Di era AI, visibilitas bukan lagi soal seberapa sering brand muncul, tetapi apakah brand tersebut cukup jelas, konsisten, dan memiliki bukti yang bisa diverifikasi,” sebut Alexandro. Dengan semakin dominannya peran AI dalam proses pencarian, perusahaan didorong untuk mengevaluasi ulang strategi digital mereka. Tantangan utama tidak lagi sekadar menarik traffic, tetapi memastikan brand tetap relevan dalam sistem yang kini menjadi perantara utama antara informasi dan keputusan konsumen. Di lanskap baru ini, hanya brand yang mampu membangun kredibilitas secara konsisten yang memiliki peluang untuk tetap muncul—bukan hanya di hasil pencarian, tetapi dalam jawaban AI itu sendiri.

Total 60 Persen Pengguna Internet Akui Jawaban AI Lebih Jelas, Brand Harus Apa? Tekno
Tekno
Sabtu, 18 April 2026 | 16:05 WIB

Total 60 Persen Pengguna Internet Akui Jawaban AI Lebih Jelas, Brand Harus Apa?

Jakarta, katakabar.com - Perilaku konsumen dalam mencari informasi digital mulai berubah cukup signifikan. Jika sebelumnya orang langsung pergi ke mesin telusur, seperti Google, sekarang sebagian pengguna justru memulai pencarian dari kecerdasan buatan (AI). Studi yang dikutip oleh Search Engine Land menunjukkan bahwa sekitar 37 persen konsumen kini mengawali pencarian mereka melalui AI. Artinya, titik awal perjalanan konsumen mulai bergeser. Temuan ini juga diperkuat oleh laporan dari Priority Pixels yang menyebutkan bahwa 60 persen pengguna merasa jawaban dari AI lebih jelas dibandingkan hasil pencarian tradisional. Ini menunjukkan bukan hanya penggunaannya yang meningkat, tetapi juga kepercayaan terhadap AI sebagai sumber informasi. Perubahan ini membuat peran AI tak lagi sekadar alat bantu. AI mulai menjadi tempat utama orang mencari dan memahami informasi. Tetapi, di balik kemudahan tersebut, ada risiko baru yang sering luput dari perhatian brand. Dalam sistem AI, pengguna tidak lagi melihat banyak pilihan seperti di halaman hasil pencarian. AI akan menyaring dan merangkum hanya beberapa brand yang dianggap paling relevan dan kredibel. Akibatnya, jumlah brand yang masuk ke tahap pertimbangan jadi jauh lebih sedikit. “Ketika konsumen mulai dari AI, mereka tidak lagi melihat banyak opsi seperti di mesin pencari. Mereka langsung mendapatkan ringkasan. Artinya, brand yang tidak masuk dalam ringkasan tersebut bisa kehilangan peluang bahkan sebelum dipertimbangkan,” kata Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI. Situasi ini menciptakan risiko yang sifatnya tidak terlihat langsung, tetapi berdampak besar. Brand bisa saja masih aktif, memiliki produk yang bagus, bahkan mendapatkan peringkat tinggi di mesin pencari, tetapi tetap tidak muncul dalam jawaban AI. Apabila ini terjadi, brand bisa kehilangan peluang sejak awal tanpa ada tanda yang jelas dari sisi performa. “Ini yang sering tidak disadari. Brand merasa performanya masih stabil, padahal pelan-pelan mereka mulai tidak masuk dalam percakapan. Dampaknya baru terasa belakangan, saat peluang sudah lewat,” jelas Alexandro. Melihat perubahan ini, muncul pendekatan baru yang dikenal sebagai AI Visibility Optimization (AVO). Pendekatan ini berfokus pada bagaimana brand membangun struktur informasi yang jelas, konsistensi narasi, serta sinyal kredibilitas agar lebih mudah dipahami dan dipercaya oleh sistem AI. “AI tidak hanya mencari informasi, tapi juga menyusun jawaban dan memilih. Kalau brand tidak cukup jelas, tidak konsisten, atau tidak punya validasi yang kuat, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,” jelas Alexandro. Seiring makin banyaknya konsumen yang memulai pencarian dari AI, perusahaan perlu mulai mengevaluasi kembali strategi visibilitas digital mereka. Persaingan sekarang bukan hanya soal siapa yang muncul, tetapi siapa yang masuk dalam jawaban. Di era ini, kehilangan visibilitas tidak selalu terlihat dari angka, melainkan sering terjadi saat brand tidak lagi muncul di momen yang paling menentukan.

Community Engagement Berbasis Data Strategi Baru Brand Bangun Loyalitas Konsumen Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 29 Maret 2026 | 22:15 WIB

Community Engagement Berbasis Data Strategi Baru Brand Bangun Loyalitas Konsumen

Jakarta, katakabar.com - Di tengah lanskap digital yang semakin kompetitif, strategi pendekatan brand dalam menjangkau audiens terus berkembang. Kalau sebelumnya brand berfokus tingkatkan eksposur, dan kampanye bersifat satu arah, kini banyak brand yang mulai membangun komunitas secara aktif. Melalui komunitas, brand dapat menciptakan keterikatan emosional, mengembangkan percakapan dua arah, serta menghadirkan interaksi yang lebih relevan dan berkelanjutan dengan audiensnya. Pendekatan ini yang menjadi fondasi kerja sama perusahaan penyedia layanan customer experience dan bisnis digital, transcosmos Indonesia (TCID) dengan salah satu perusahaan FMCG terbesar di Indonesia membangun sebuah platform digital kuliner yang lengkap dengan ekosistem komunitas untuk para pecinta kuliner dan resep masakan. Sebagai partner strategis digital perusahaan FMCG tersebut, TCID berperan merancang dan menjalankan strategi community engagement berbasis data yang mengintegrasikan teknologi Customer Data Platform (CDP) dan Customer Engagement Platform (CEP). Melalui pendekatan ini, platform digital kuliner dari perusahaan FMCG ini tidak hanya menyediakan konten resep bersifat satu arah, tetapi berkembang menjadi ruang interaksi yang dinamis dan mendorong partisipasi aktif bagi para penggunanya. Mengutip laporan “State of the CDP 2024” lalu, sekitar 91 persen pengguna CDP menilai teknologi ini penting dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang relevan berbasis data secara real-time, sedang 79 persen perusahaan berhasil mencapai ROI waktu kurang dari 12 bulan setelah implementasi CDP. Vice President Director transcosmos Indonesia, Ardi Sudarto, menyampaikan, dii era digital saat ini, komunitas bukan lagi sekadar audiens, tetapi telah menjadi bagian penting dari pertumbuhan brand. Komunitas yang dikelola dengan pendekatan community engagement yang tepat dapat berkembang menjadi ekosistem yang memberikan nilai nyata bagi brand maupun anggotanya. "Dalam membangun ekosistem komunitas di platform kuliner digital, CDP dan CEP membantu TCID memahami perilaku, serta preferensi anggota yang telah bergabung. Teknologi Customer Data Platform (CDP) memungkinkan pengumpulan dan integrasi data anggota dari berbagai sumber, yang kemudian diolah untuk mengidentifikasi preferensi, pola interaksi, hingga minat spesifik tiap anggota," ujar Ardi. Selanjutnya, kata Ardi, melalui Customer Engagement Platform (CEP), data tersebut dimanfaatkan untuk merancang strategi komunikasi dan aktivitas engagement yang lebih relevan dan personal, mulai dari penyajian konten yang dipersonalisasi hingga pengelolaan kampanye yang lebih terarah. "Implementasi teknologi ini sangat efektif pengembangan ekosistem komunitas yang fokus pada kontribusi anggota komunitas dalam pembuatan konten. Melalui berbagai kampanye tematik berbasis user-generated content (UGC), anggota didorong untuk membagikan kreasi resep mereka sebagai bagian dari interaksi di dalam platform," jelasnya. Sepanjang kuartal ketiga tahun lalu, cerita Ardi, tercatat peningkatan konten resep yang diunggah oleh member sebesar 45 persen jika dibandingkan pada periode sebelumnya. Kontribusi ini tidak hanya memperkaya konten, tetapi juga memperkuat keterikatan anggota komunitas terhadap platform. Selain itu, ucapnya, TCID juga menambahkan fitur dalam platform digital tersebut untuk anggota komunitas berupa kanal informasi yang melibatkan ahli gizi profesional. Melalui fitur ini, anggota dapat memperoleh edukasi terkait komposisi makanan, nutrisi, hingga pola hidup sehat yang disesuaikan dengan preferensi dan kebutuhan individu. Pendekatan ini menghadirkan pengalaman yang lebih relevan bagi semua anggota. Tidak hanya melalui aktivitas digital, strategi community engagement ini juga diperluas melalui berbagai kegiatan offline di beberapa kota di Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi kelas memasak dan sesi berbagi inspirasi kuliner yang melibatkan member komunitas secara langsung. Hal ini tidak hanya memperkuat koneksi antar member, tetapi juga menghadirkan pengalaman komunitas yang lebih nyata. Pendekatan community engagement yang terintegrasi ini berkontribusi pada pertumbuhan platform secara keseluruhan. Jumlah member baru di Q3 tahun 2025 lalu tercatat meningkat hingga 149 persen. Aktivitas digital platform juga menunjukkan tren positif dengan peningkatan website traffic sebesar 31 persen dan hampir 10 persen returning visitors. Di sisi aplikasi, tercatat Monthly Active Member (MAM) rate yang stabil di 77 persen, mencerminkan tingkat keterlibatan anggota yang berkelanjutan, mencerminkan keterlibatan audiens yang berkelanjutan. Selain fokus pada engagement, TCID juga mengakomodasi kebutuhan brand dalam memperhatikan aspek loyalitas pelanggannya. Hal ini diwujudkan melalui program loyalty point sebagai bagian dari inovasi teknologi serta pemberian penghargaan kepada pelanggan setia sebagai bentuk apresiasi nyata. Lebih jauh, dampak dari strategi keseluruhan juga tercermin pada performa bisnis. Tercatat adanya konversi transaksi di e-commerce, yang meningkat sebesar 30 persen. Hal ini menunjukkan komunitas tidak lagi berperan sebatas sebagai kanal interaksi, tetapi juga menjadi penggerak nilai bisnis. “Keunggulan strategi community engagement terletak pada keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan sentuhan manusia. Dalam pelaksanaannya, kami menggabungkan kekuatan data, platform digital, serta kapabilitas tim yang memahami dinamika perilaku komunitas. Kombinasi antara people and technology inilah yang menjadi pembeda TCID dalam membantu brand membangun komunitas yang aktif, sehat, dan berkelanjutan,” tambah Ardi. transcosmos Indonesia penyedia layanan customer experience dan bisnis digital yang merupakan anak perusahaan dari transcosmos Inc., perusahaan yang berpusat di Jepang dan berdiri sejak tahun 1966. transcosmos Indonesia menghadirkan layanan terpadu untuk mendukung berbagai aspek bisnis klien, termasuk teknologi CX. Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi website transcosmos Indonesia, Instagram transcosmos Indonesia, dan LinkedIn transcosmos Indonesia.

Dupoin Futures Siap Gelar Aktivasi Brand di CFD FX Sudirman di Pekan Pertama April 2026 Nasional
Nasional
Sabtu, 28 Maret 2026 | 17:10 WIB

Dupoin Futures Siap Gelar Aktivasi Brand di CFD FX Sudirman di Pekan Pertama April 2026

Jakarta, katakabar.com - PT Dupoin Futures Indonesia bakal gelar kegiatan brand activation dalam rangka Car Free Day (CFD) di kawasan FX Sudirman, Jakarta, Minggu (5/3) nanti. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan awareness serta mendekatkan layanan kepada masyarakat pasca momentum Lebaran. Di kegiatan ini, Dupoin Futures akan menghadirkan booth interaktif yang berlokasi di area depan FX Sudirman, Jakarta. Tim Dupoin Futures akan terlibat langsung dalam menyapa, serta berinteraksi dengan pengunjung, baik di dalam booth maupun di area sekitar. Seluruh tim juga akan mengenakan atribut berlogo perusahaan guna menciptakan visibilitas brand yang lebih kuat dan menarik perhatian masyarakat. Melalui aktivasi ini, pengunjung berkesempatan untuk mengenal industri perdagangan berjangka lebih dekat melalui berbagai aktivitas interaktif. Di antaranya adalah mencoba langsung demo platform trading, berdiskusi dengan analis maupun perwakilan Dupoin Futures, serta mengikuti kuis singkat seputar insight trading. Sebagai bentuk apresiasi, pengunjung yang berpartisipasi akan mendapatkan goodie bag edukatif yang disesuaikan dengan hasil kuis yang diikuti. Taufan selaku Direktur Marketing Dupoin Futures, mengatakan kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan brand visibility, tetapi juga untuk memberikan pengalaman edukatif yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. “Kami ingin menghadirkan pendekatan yang lebih interaktif dan relevan bagi masyarakat dalam mengenal konsep perdagangan berjangka. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan literasi finansial sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap industri ini,” kata Taufan. Kegiatan ini usung konsep yang menggabungkan unsur edukasi, engagement, dan experience dalam satu rangkaian aktivitas. Dengan memanfaatkan momentum Car Free Day yang ramai dikunjungi masyarakat, Dupoin Futures optimistis dapat menjangkau audiens yang lebih luas secara langsung. Melalui brand activation ini, Dupoin Futures menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam mendorong literasi finansial serta memperkenalkan perdagangan berjangka sebagai salah satu instrumen investasi dan teregulasi dengan baik di Indonesia.

Tak Masuk Jawaban AI? Ini Risiko Baru bagi Brand Tekno
Tekno
Selasa, 10 Maret 2026 | 15:07 WIB

Tak Masuk Jawaban AI? Ini Risiko Baru bagi Brand

Jakarta, katakabar.com - Banyak perusahaan merasa telah hadir secara digital. Website aktif, konten rutin diproduksi, media sosial terkelola, dan strategi SEO dijalankan selama bertahun-tahun. Tetapi, lanskap pencarian informasi kini berubah. Brand bisa saja hadir secara online, tetapi tidak muncul dalam jawaban yang disusun oleh kecerdasan buatan (AI). Perubahan ini bukan sekadar tren teknologi. Data dari Pew Research Center menunjukkan kehadiran ringkasan AI dalam hasil pencarian mengubah pola interaksi pengguna. Ketika AI summary muncul, pengguna lebih jarang mengeklik tautan eksternal dan cenderung mengakhiri sesi pencarian lebih cepat dibandingkan dengan hasil pencarian konvensional. Jawaban instan semakin menggantikan proses eksplorasi berbasis klik. Konsekuensinya terukur. Jika sebuah brand tidak tercantum dalam ringkasan AI tersebut, maka peluang memperoleh kunjungan organik berpotensi menurun karena proses pencarian tidak lagi selalu berlanjut ke tahap klik. Visibilitas tidak lagi hanya soal posisi di halaman hasil pencarian, tetapi juga tentang apakah brand diikutsertakan dalam jawaban yang dirangkum sistem kecerdasan buatan. Situasi tersebut menggeser parameter keberhasilan strategi digital. Selama ini, optimasi difokuskan pada peringkat dan traffic. Kini, muncul dimensi tambahan: apakah brand dikenali sebagai sumber yang layak dirujuk ketika sistem AI menyusun respons atas pertanyaan pengguna. “Perubahan ini membuat definisi visibilitas ikut bergeser. Dulu, ukurannya impresi dan traffic. Sekarang, ukurannya adalah apakah brand ikut disebut dalam jawaban yang langsung dibaca pengguna,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder dan Managing Partner dari Avonetiq, Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI. Ia menjelaskan pendekatan digital yang berorientasi pada keterlihatan semata tidak lagi cukup dalam konteks sistem berbasis AI. “Dalam ekosistem jawaban otomatis, yang dinilai bukan hanya seberapa sering brand muncul, tetapi apakah informasi tentang brand tersebut terstruktur dengan baik, konsisten, dan memiliki kedalaman otoritas topik. Tanpa itu, brand bisa tetap online, tetapi tidak dianggap sebagai sumber yang layak dirujuk,” bebernya. Perubahan ini memunculkan pendekatan yang dikenal sebagai AI Visibility Optimization (AVO). Strategi ini dirancang untuk memastikan brand tidak hanya memiliki jejak digital, tetapi juga memiliki struktur informasi dan otoritas yang dapat dikenali oleh sistem AI, sebuah pendekatan yang menjadi fokus pengembangan di Avonetiq. Transformasi ini menandai fase baru dalam strategi pemasaran digital. Ukuran keberhasilan tidak lagi berhenti pada traffic dan impresi, melainkan pada keberadaan brand dalam jawaban yang langsung dikonsumsi pengguna. Di era jawaban otomatis, risiko terbesar bukanlah tidak terlihat, melainkan tidak direkomendasikan oleh AI.

AI Kini Jadi Penentu Awal Pilihan Konsumen, Brand Berisiko Tersaring dari Persaingan Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 06 Maret 2026 | 09:10 WIB

AI Kini Jadi Penentu Awal Pilihan Konsumen, Brand Berisiko Tersaring dari Persaingan

Jakarta, katakabar.com - AI kini berfungsi sebagai gerbang awal persaingan brand dengan menyaring dan merekomendasikan hanya beberapa nama yang dianggap paling kredibel. Dengan meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global, brand yang tidak membangun otoritas digital berisiko tersaring dari consideration set sejak tahap awal pengambilan keputusan konsumen. Peran kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengambilan keputusan konsumen kini berkembang jauh melampaui fungsi pencarian informasi. AI mulai berperan sebagai “penjaga gerbang” yang menentukan brand mana yang masuk dalam daftar pertimbangan awal sebelum konsumen melakukan evaluasi lebih lanjut. Saat pengguna bertanya kepada sistem, seperti AI Overviews atau ChatGPT, mengenai rekomendasi produk, layanan, atau solusi tertentu, AI tidak menampilkan seluruh pemain di pasar. Sistem tersebut menyaring sejumlah brand yang dinilai paling relevan dan kredibel, lalu merangkumnya menjadi jawaban instan. Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global. Survei internasional yang melibatkan lebih dari 48.000 responden di 47 negara menunjukkan bahwa sekitar dua per tiga responden kini menggunakan AI secara rutin, dan 83% percaya bahwa AI akan memberikan manfaat dalam kehidupan mereka, termasuk dalam membantu pengambilan keputusan. Di sisi korporasi, laporan global menunjukkan lebih dari 70 persen organisasi telah mengintegrasikan AI dalam berbagai fungsi bisnis, seperti pemasaran, analitik, dan pengambilan keputusan strategis. Artinya, AI tidak lagi menjadi eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi infrastruktur kompetitif di berbagai industri. Pada konteks ini, AI tidak hanya memfasilitasi pencarian, tetapi membentuk persepsi awal konsumen terhadap brand. Jika sebuah brand tidak disebut dalam jawaban AI, maka ia berpotensi tidak dipertimbangkan sejak awal. “Masalahnya bukan lagi soal ditemukan atau tidak. Masalahnya sekarang siapa yang masuk ke daftar pilihan awal yang disaring oleh AI. Kalau tidak masuk, brand praktis tidak ikut dipertimbangkan,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI. Menurut Alexandro, sistem AI bekerja dengan logika seleksi yang berbeda dari mesin pencari tradisional. AI mengumpulkan berbagai sumber informasi, mengevaluasi konsistensi narasi, reputasi digital, serta validasi eksternal, lalu merangkum brand yang dianggap paling layak direkomendasikan. Penelitian McKinsey dan Company tentang bagaimana kecerdasan buatan mampu mendorong produktivitas dan inovasi juga menunjukkan meskipun mayoritas perusahaan mulai merangkul penggunaan AI, hanya sebagian kecil yang benar-benar mampu mengekstraksi nilai strategis secara menyeluruh. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan kompetitif antara brand yang sekadar menggunakan kecerdasan buatan dengan brand yang memahami cara membangun posisi dalam ekosistem AI. Fenomena ini berpotensi menciptakan efek konsentrasi di berbagai industri. Akibatnya, hanya segelintir brand yang terus disebut dan diperkuat oleh sistem AI, sementara lainnya semakin jarang terlihat. “AI sekarang berperan seperti asisten pribadi konsumen. Dan asisten ini tidak menampilkan semua opsi, hanya yang dianggap paling kredibel dan relevan. Kalau brand tidak membangun fondasi otoritas digitalnya, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,” jelas Alexandro. Perusahaan yang tidak menyesuaikan strategi visibilitasnya berisiko mengalami erosi daya saing secara perlahan. Bukan karena produknya tidak kompetitif, melainkan karena tidak masuk dalam radar sistem yang kini menjadi perantara utama antara brand dan konsumen. Di era AI, persaingan tidak lagi dimulai ketika konsumen membuka website atau marketplace. Persaingan sudah dimulai pada tahap yang lebih awal, di algoritma yang menentukan siapa yang layak direkomendasikan.

Rahasia di Balik Viral Brand dan Influencer Jarang Diketahui Publik Default
Default
Jumat, 19 Desember 2025 | 16:00 WIB

Rahasia di Balik Viral Brand dan Influencer Jarang Diketahui Publik

Jakarta, katakabar.com - Pernahkah Anda melihat sebuah akun brand baru lahir kemarin sore, tapi saat ini pengikutnya sudah puluhan ribu dan setiap postingannya dibanjiri komentar? Atau seorang influencer pendatang baru yang tiba-tiba mendapat centang biru dan kebanjiran endorsement? Bagi pemilik bisnis UMKM atau konten kreator pemula, fenomena ini seringkali membuat frustrasi. "Sudah bikin konten cape-cape tapi yang nonton sedikit. Apa rahasianya mereka?" Jawabannya seringkali bukan hanya pada kualitas konten, melainkan pada strategi psikologi marketing yang disebut Manajemen Reputasi Digital. Banyak agensi besar menggunakan "alat bantu" khusus untuk mengakselerasi pertumbuhan akun klien mereka. Mari kita bedah rahasia dapur ini agar tidak lagi menjadi hal yang tabu. Psikologi "Restoran Ramai": Mengapa Angka Itu Penting? Bayangkan Anda berjalan di depan dua restoran. Restoran A kosong melompong, sedangkan Restoran B antreannya mengular. Secara naluriah, kaki Anda pasti akan melangkah ke Restoran B. Anda berasumsi: "Pasti makanannya enak karena ramai." Inilah yang disebut Social Proof (Bukti Sosial). Di media sosial, antrean panjang itu berbentuk angka Followers, Likes, dan Views. Manusia memiliki kecenderungan psikologis Bandwagon Effect (ikut-ikutan). Akun yang terlihat ramai akan lebih mudah memancing orang baru untuk ikut mem-follow. Sebaliknya, akun yang sepi sebagus apapun produknya seringkali dilewatkan karena dianggap "kurang kredibel". Mengenal "Tools Akselerasi" di Balik Layar Lantas, bagaimana cara membuat "keramaian" di awal jika kita baru mulai dari nol? Di sinilah peran teknologi yang di kalangan agensi digital dikenal dengan istilah Jasa Sosmed. Bagi orang awam, ini terdengar teknis. Namun sederhananya, ini adalah sebuah dashboard atau alat bantu pemasaran untuk mendatangkan interaksi media sosial secara instan. Jangan buru-buru menganggap ini "bot jahat" atau "kecurangan". Dalam kacamata bisnis, ini adalah bentuk Investasi Marketing. Sama halnya seperti Anda membayar pasang iklan di Baliho atau membayar Facebook Ads untuk mendapatkan atensi. SMM Panel adalah jalur alternatif untuk mendapatkan eksposur dan validasi sosial dengan biaya yang seringkali jauh lebih efisien. Bukan Rahasia Lagi: Siapa Saja Penggunanya? Penggunaan alat bantu ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di level atas, namun jarang dibicarakan ke publik. Penggunanya sangat beragam: - Label Musik: Untuk menaikkan views video klip artis baru agar masuk trending topic. - Politisi: Untuk membangun citra positif dan menyebarkan program kerja ke audiens yang lebih luas. - Social Media Agency: Untuk memastikan KPI (Key Performance Indicator) klien korporat mereka tercapai tepat waktu. Mereka paham bahwa menunggu pertumbuhan organik 100% di tengah algoritma yang "pelit" saat ini akan memakan waktu tahunan. Oleh karena itu, mereka menggunakan strategi campuran (Hybrid): Konten organik yang bagus + Dorongan akselerasi via panel. Edukasi: Jangan Asal Pilih "Bensin" Meskipun strateginya sah, eksekusinya harus hati-hati. Tidak semua penyedia layanan memiliki kualitas yang sama. Kesalahan fatal pemula adalah tergiur harga termurah tanpa melihat kualitas server. Risiko memilih panel abal-abal antara lain: - Layanan Drop: Followers yang dibeli tiba-tiba hilang dalam semalam. - Akun Pasif: Profil yang mem-follow terlihat sangat palsu (tanpa foto profil, nama acak). - Keamanan Akun: Risiko akun terkunci karena aktivitas yang dianggap spam. Penting untuk mencari penyedia yang memiliki server stabil dan paham algoritma lokal. Standar Keamanan Tinggi untuk Pasar Indonesia Bagi pemilik brand atau agensi yang ingin mencoba strategi ini dengan aman, disarankan untuk menggunakan penyedia yang sudah terkurasi kualitasnya seperti BisnisOn.com. Sebagai agency yang mengelola talent untu jasa buzzer sosmed, platform ini membedakan dirinya dengan fokus pada keamanan dan kualitas layanan lokal. Berbeda dengan panel global yang layanannya tercampur aduk, BisnisOn.com menyediakan layanan yang dikurasi khusus untuk pasar Indonesia, sehingga interaksi yang masuk terlihat lebih natural dan relevan dengan target pasar lokal.

LindungiHutan Luncurkan E-Book Winning with CSR Perusahaan Telekomunikasi Lingkungan
Lingkungan
Rabu, 17 Desember 2025 | 11:00 WIB

LindungiHutan Luncurkan E-Book Winning with CSR Perusahaan Telekomunikasi

Semarang, katakabar.com - LindungiHutan resmi merilis e-book terbaru berjudul “Winning with CSR: 25 Strategi Keberlanjutan Kuatkan Brand dan Kepercayaan Publik di Industri Telekomunikasi”. Ebook ini berisi kumpulan program CSR di sektor perusahaan telekomunikasi, media, dan teknologi, yang dapat digunakan sebagai referensi program CSR untuk meningkatkan reputasi berkelanjutan di tengah meningkatnya tuntutan regulasi, ekspektasi publik, dan persaingan brand yang semakin ketat. E-book ini dapat diunduh melalui tautan https://lynk.id/lindungihutan/dv03v1q6ol85. Peluncuran e-book ini hadir di tengah berubahnya lanskap industri telekomunikasi. Keberlanjutan kini tidak lagi sekadar aktivitas CSR tahunan, tetapi telah menjadi elemen strategis untuk menjaga kepercayaan publik dan memperkuat posisi perusahaan di pasar. Melalui e-book ini, LindungiHutan merangkum 25 contoh nyata program lingkungan dari berbagai perusahaan besar, seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Telkom Indonesia, Link Net, First Media, ST Telemedia Global Data Centres, hingga perusahaan media, seperti SCTV–Indosiar dan Tribunnews. Seluruh contoh disusun agar pembaca dapat memahami bagaimana program CSR dapat diterjemahkan menjadi dampak lingkungan yang terukur, sekaligus meningkatkan kredibilitas dan value perusahaan. Beberapa aksi yang diulas mencakup penanaman 10.600 pohon mangrove oleh Telkomsel yang diproyeksikan menyerap lebih dari 651 ton CO₂e; pemanfaatan teknologi IoT oleh IOH dalam program silvofishery yang memberdayakan masyarakat pesisir, konservasi terumbu karang oleh Telkomsat dan Telkom Indonesia, ekoliterasi berbasis aksi lingkungan oleh Gramedia, hingga kampanye penanaman ribuan mangrove oleh Link Net, Mitratel, dan STT GDC Indonesia. Setiap studi kasus dilengkapi data dampak seperti estimasi serapan karbon, manfaat ekologis, manfaat sosial, dan relevansinya bagi strategi keberlanjutan perusahaan. E-book ini memuat insight yang mudah diterapkan, seperti cara memilih program CSR yang sesuai kebutuhan bisnis. Dengan konten yang terkurasi dari berbagai praktik terbaik di industri terkait, e-book ini menjadi sumber acuan yang relevan bagi tim CSR, ESG, Sustainability, PR, serta manajemen perusahaan dalam mengembangkan program keberlanjutan yang lebih strategis. Rekomendasi dan praktik yang dibahas dalam e-book ini disusun berdasarkan pengalaman nyata LindungiHutan sebagai platform crowdsourcing konservasi lingkungan. Hingga kini, LindungiHutan telah menanam lebih dari 1 juta pohon di 34 lokasi konservasi, bekerja sama dengan lebih dari 600 mitra perusahaan, dan mendukung lebih dari 2.200 kampanye lingkungan. Upaya tersebut membantu menyerap lebih dari 48,9 ribu ton karbon melalui kolaborasi antara akademisi, komunitas, masyarakat pesisir, petani bibit, dan pemantau hutan. Data dan pengalaman inilah yang menjadi dasar penyusunan e-book agar relevan dengan kebutuhan industri. Melalui peluncuran e-book Winning with CSR, LindungiHutan mengajak perusahaan telekomunikasi untuk melihat CSR bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai strategi bisnis yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif sekaligus memberikan manfaat ekologis dan sosial jangka panjang. Dengan memahami praktik terbaik industri, perusahaan dapat merancang program yang bukan hanya terlihat baik, tetapi benar-benar berdampak.