Cadangan

Sorotan terbaru dari Tag # Cadangan

Bank Sentral Didorong Perkuat Cadangan Emas, RI Punya 3.600 Ton Nasional
Nasional
4 jam yang lalu

Bank Sentral Didorong Perkuat Cadangan Emas, RI Punya 3.600 Ton

Jakarta, katakabar.com - Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dan menempati posisi keempat dunia sebagai negara dengan cadangan terbesar. Tetapi, emas yang tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia (BI) baru mencapai 87,1 ton, atau sekitar 7,7% dari total cadangan. Dengan kepemilikan tersebut, Indonesia berada di posisi ke-44 dunia dalam hal cadangan emas bank sentral. Angka tersebut terpaut jauh dari Amerika Serikat yang mencapai 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.346,4 ton. Chairman Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, mempertanyakan kecilnya porsi emas dalam cadangan BI, mengingat Indonesia memiliki kekayaan emas yang besar. "Jadi pertanyaan kita kenapa Indonesia cuma sekian? Kenapa Bank Indonesia cuma sekian?" kata Irwandy dalam MINDialogue, Jakarta, Rabu (12/8) lalu. Dia menyebut kepemilikan emas bank sentral RI juga masih di bawah sejumlah negara di kawasan. Singapura, misalnya, memiliki 194 ton, sedangkan Thailand mencapai 234 ton. Menurut Irwandy, hal ini terjadi karena strategi BI selama ini lebih berorientasi pada cadangan valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat. Aset tersebut dinilai lebih likuid sehingga dapat digunakan langsung ketika BI melakukan intervensi di pasar valuta asing. "Rupanya strategi Bank Indonesia itu mudah-mudahan saya nggak salah, lebih berorientasi pada cadangan valuta asing. Dolar," ujarnya. Irwandy menyebut cadangan devisa nasional saat ini sekitar US$146 miliar atau setara dengan 5,5 bulan impor. Menurut dia, keterbatasan cadangan devisa nasional turut membatasi ruang untuk memperbesar kepemilikan emas. "Yang persoalan kedua kenapa cuma 80 ton, keterbatasan total cadangan devisa nasional. Kita memang belum besar juga cadangan devisa nasionalnya," kata Irwandy. Lebih lanjut, Irwandy menilai strategi tersebut perlu dipertimbangkan kembali di tengah tren bank sentral dunia yang meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan. Sejumlah negara, seperti China, Rusia, India, Turki, dan Polandia, terus menambah kepemilikan emas. Langkah tersebut antara lain didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar. "Indonesia belum atau tidak mempunyai urgensi untuk melakukan diversifikasi dolar, padahal sekarang ini dedolarisasi sedang terjadi di dunia," jelas Irwandy. Lantaran itu, dia mengusulkan agar BI mulai menyerap sebagian produksi emas dalam negeri. Salah satu skema yang ditawarkan adalah pembelian sekitar 20 ton emas ketika produksi nasional mencapai 100 ton. "Misalnya kalau kita produksi 100 ton ya, maka Bank Indonesia itu nambah 20 ton," ucapnya. Merujuk data Kemenko Perekonomian, Indonesia memiliki modal kuat untuk memperkuat ekosistem emas nasional. Sebagai gambaran, di dalam Grup MIND ID PT Antam Tbk saat ini memiliki fasilitas pemurnian (refinery) berkapasitas 150 ton per tahun. Selain itu, terdapat Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia yang mampu memurnikan emas hingga 50 ton per tahun. Sementara dari sektor swasta, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) mampu mengolah emas dengan kapasitas 18 ton per tahun. Adapun, potensi produksi bijih juga didukung oleh sejumlah perusahaan tambang lainnya, seperti PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar 2,4–2,7 ton, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 2,9 ton, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) 2,6 ton, PT Agincourt Resources (PTAR) 5,9–6,8 ton, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 2,2 ton per tahun. Besarnya kapasitas tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekosistem emas nasional, yang pada akhirnya potensial untuk memperkuat cadangan devisa bank sentral. Atas dasar itulah, pemerintah terus mendorong Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan cadangan emasnya, sehinga semakin memperkuat stabilitas moneter dan ekonomi nasional.

Bittime Hadirkan Fleksibel Staking $XAUT di Tengah Dinamika Geopolitik dan Tren Cadangan Emas Global Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 21 Februari 2026 | 15:39 WIB

Bittime Hadirkan Fleksibel Staking $XAUT di Tengah Dinamika Geopolitik dan Tren Cadangan Emas Global

Jakarta, 18 Februari 2026 - Dinamika cadangan emas global kembali menjadi sorotan, setelah laporan terbaru dari CNBC Indonesia mengungkap tren peningkatan akumulasi emas oleh sejumlah bank sentral dunia. Fenomena ini menempatkan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang dinilai mampu menjaga stabilitas nilai di tengah ketidakpastian geopolitik. Peningkatan pembelian emas oleh negara-negara besar ini mencerminkan upaya diversifikasi cadangan, dan penguatan stabilitas jangka panjang. Tren ini juga meningkatkan perhatian investor ritel terhadap aset berbasis emas sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko. Dalam hal ini, tren tersebut turut memicu minat investor pada emas berbasis aset kripto seperti Tether Gold ($XAUT) yang pergerakannya kini semakin masif di pasar aset digital. Sebagai aset yang bernilai 1:1 atau setara dengan satu troy ounce emas murni yang disimpan di brankas Swiss, $XAUT menawarkan opsi investasi emas yang likuid, dan efisien dengan dukungan teknologi blockchain. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi investor aset tradisional seperti emas, sebab $XAUT menggabungkan nilai emas murni yang bergerak lebih stabil dengan keunggulan teknologi blockchain. Di Indonesia sendiri, $XAUT termasuk dalam whitelist aset kripto yang dapat diperdagangkan berdasarkan daftar whitelist CFX. Lantaran itu kehadirannya dapat diakses melalui berbagai platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia, seperti Bittime. Bittime saat ini gelar kampanye khusus bagi pengguna baru yang melakukan transaksi pertama pada $XAUT. Di mana, pengguna baru yang melakukan transaksi pertama pada aset digital $XAUT berkesempatan memperoleh hadiah hingga Rp150.000 berdasarkan syarat dan ketentuan yang berlaku. Di sisi lain, investor jangka-panjang dapat memanfaatkan fitur fleksibel staking dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 15 persen bagi pengguna baru. Fleksibel staking hadir tanpa batas locked periode tertentu, sehingga investor dapat memanfaatkan asetnya kapan saja. Bittime melihat perkembangan ini menunjukkan perubahan cara masyarakat mengakses instrumen safe haven. Dengan tersedianya produk berbasis emas dalam ekosistem aset digital, investor memiliki lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan strategi investasinya dengan kondisi pasar yang terus berkembang. Tetapi, perlu dipahami, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Untuk itu, sangat penting mengetahui tingkat toleransi risiko, serta strategi dan metode investasi yang sesuai bagi masing-masing profil sebelum memulai perdagangan atau investasi aset kripto.

Punya Cadangan Bauksit Terbesar Keenam Dunia, Mampukah Indonesia Swasembada Aluminium! Default
Default
Sabtu, 10 Januari 2026 | 15:00 WIB

Punya Cadangan Bauksit Terbesar Keenam Dunia, Mampukah Indonesia Swasembada Aluminium!

Jakarta, katakabar.com - Indonesia punya modal kekayaan alam yang sangat kuat, tapi hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan aluminium nasional secara mandiri. Kondisi ini menunjukkan kepemilikan cadangan mineral yang besar belum otomatis menjamin kemandirian industri, tanpa didukung rantai hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Indonesia dinilai perlu memperkuat rantai pasok hilirisasi bauksit, alumina, hingga aluminium secara terintegrasi agar mampu mengoptimalkan sumber daya alamnya dalam mencukupi kebutuhan bahan baku strategis bagi industrialisasi dan pembangunan peradaban masa depan. Data US Geological Survey (USGS) mencatat cadangan bauksit dunia berada di kisaran 30 miliar ton dengan produksi global sekitar 400 juta ton per tahun. Dengan total sumber daya bauksit mencapai sekitar 7,78 miliar ton dan cadangan terbukti sekitar 2,68 miliar ton, Indonesia menempati peringkat keenam dunia sebagai negara dengan cadangan bauksit terbesar. Keunggulan geologis tersebut seharusnya menjadi modal utama bagi Indonesia untuk memproduksi aluminium di dalam negeri. Faktanya, Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan aluminium nasional yang mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun. Kebutuhan tersebut hingga kini masih banyak dipenuhi melalui impor, sementara pasar aluminium global masih didominasi oleh Australia, Guinea, dan China. Ketua Badan Keahlian Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Rizal Kasli, menilai tantangan utama Indonesia bukan lagi pada ketersediaan cadangan, melainkan pada kemampuan mengolah bauksit menjadi aluminium di dalam negeri. Menurutnya, besarnya cadangan bauksit tidak akan memberikan dampak signifikan tanpa percepatan pembangunan industri pengolahan yang terintegrasi. Rizal menyebut percepatan hilirisasi bauksit dan alumina terintegrasi menjadi solusi utama untuk menjembatani kesenjangan antara kepemilikan sumber daya dan kebutuhan industri nasional. Dalam konteks ini, peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dinilai strategis dalam membangun ekosistem hulu–hilir yang berkelanjutan. MIND ID memiliki PT Aneka Tambang Tbk yang mampu memproduksi bauksit secara mandiri untuk memasok kebutuhan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah. Selanjutnya, alumina yang dihasilkan diproses kembali menjadi aluminium oleh PT Indonesia Asahan Aluminium, yang juga merupakan bagian dari Holding MIND ID. Rantai pasok terintegrasi ini terus diperkuat untuk menjadi penopang pemenuhan kebutuhan aluminium nasional yang mencapai 1,2 juta ton per tahun, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis. Ke depan, percepatan proyek hilirisasi bauksit terintegrasi dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pemilik cadangan besar, tetapi juga sebagai produsen aluminium yang mandiri dan berdaya saing global. Dengan perencanaan matang, integrasi hulu–hilir, serta dukungan industri manufaktur, Indonesia berpeluang mengubah keunggulan geologinya menjadi kekuatan ekonomi nyata dan berkelanjutan.

Cadangan Rahasia 600 Ribu Bitcoin Venezuela Terkuak, Dampak Penangkapan Maduro di Pasar Aset Kripto Global! Internasional
Internasional
Selasa, 06 Januari 2026 | 10:00 WIB

Cadangan Rahasia 600 Ribu Bitcoin Venezuela Terkuak, Dampak Penangkapan Maduro di Pasar Aset Kripto Global!

Jakarta, katakabar.com – Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dalam operasi militer yang dipimpin Amerika Serikat di awal Januari 2026, diberitakan telah membuka rahasia besar mengenai kekayaan aset digital Venezuela. Bittime tegaskan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, spekulasi mengenai cadangan Bitcoin negara tersebut terus beredar, tetapi laporan intelijen terbaru kini memberikan gambaran yang jauh lebih jelas dan mengejutkan. Venezuela diduga kuat telah mengumpulkan "cadangan bayangan" sebesar 600.000 hingga 660.000 BTC. Besarnya kepemilikan ini menempatkan Venezuela sebagai salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia, bahkan mampu bersaing dengan raksasa institusional global seperti BlackRock dan MicroStrategy. Pengungkapan ini diperkirakan akan mengubah dinamika pasokan serta sentimen pasar aset kripto secara sepanjang tahun 2026. Menurut data yang dihimpun oleh berbagai sumber intelijen keuangan, akumulasi masif ini bukan terjadi secara instan, melainkan dimulai sejak tahun 2018 melalui strategi yang sangat terencana untuk menghindari sanksi internasional. Setelah kegagalan aset kripto Petro yang didukung pemerintah, ketergantungan rezim terhadap aset digital justru semakin meningkat. Perusahaan minyak negara, Petróleos de Venezuela atau PDVSA, mulai diinstruksikan untuk menerima pembayaran ekspor minyak mentah dalam bentuk USDT guna memitigasi risiko pembukaan rekening bank tradisional oleh otoritas Amerika Serikat. Keuntungan dari transaksi minyak ini kemudian dialihkan ke Bitcoin untuk menghilangkan jejak dan mengurangi paparan terhadap dolar AS. Selain itu, tindakan tegas pemerintah terhadap operasi penambangan Bitcoin ilegal di dalam negeri turut menambah cadangan negara hingga mencapai estimasi 3 persen dari total pasokan Bitcoin yang beredar di seluruh dunia. Di sisi lain, kondisi geopolitik yang memanas ini membawa dampak yang nyata bagi pasar aset kripto di Indonesia, ketidakpastian politik di Venezuela sebagai salah satu pemilik cadangan minyak terbesar di dunia berisiko memicu kenaikan harga energi yang dapat merambat ke pasar keuangan domestik. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak mentah global seringkali memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah dan meningkatkan kekhawatiran akan inflasi akibat naiknya biaya logistik dan transportasi. Bagi para investor di tanah air, situasi ini menuntut strategi investasi yang lebih cerdas agar tetap bisa meraih keuntungan. Salah satu solusi yang kini banyak dilirik oleh investor lokal adalah memanfaatkan fitur Flexible Staking yang tersedia di platform Bittime. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan aset kripto mereka dan mendapatkan imbal hasil atau bunga harian secara otomatis, tetapi tetap memberikan kebebasan penuh untuk menarik aset tersebut kapan saja tanpa adanya periode penguncian. Diketahui, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya, salah satunya komunitas Bittime.

Siapkan 800 Kuota Cadangan Beasiswa SDM Sawit, Ini Kata Ditjenbun Nasional
Nasional
Jumat, 25 Agustus 2023 | 13:48 WIB

Siapkan 800 Kuota Cadangan Beasiswa SDM Sawit, Ini Kata Ditjenbun

Jakarta, katakabar.com - Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) didukung pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) siapkan sebanyak 800 kuota cadangan penerimaan beasiswa Sumber Daya Manusia (SDM) kelapa sawit. Kuota ini disiapkan setelah pengumuman penerimaan beasiswa SDM kelapa sawit, dengan total 2000 orang mahasiswa dinyatakan lulus se Nusantara. Direktur Perlindungan Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian, Hendratmojo Bagus Hudoro menuturkan, pihak lembaga pendidikan bakal melakukan konfirmasi kepada setiap calon mahasiswa penerima beasiswa yang telah dinyatakan lulus. "Kini sudah masuki proses tahap akhir dari berbagai tahapan yang sudah dilaksanakan, sejak pengumuman, pendaftar, seleksi administrasi, akademik dan wawancara. Di mana hasilnya, sudah sebanyak 2.000 orang mahasiswa pada 2023 ini," ujar Bagus dilansir dari laman elaeis.co, pada Jumat (25/8). Kata Bagus, kita sampaikan ke BPDPKS untuk diteruskan kepada 13 lembaga pendidikan. Nanti bakal dikonfirmasi lagi kepada yang bersangkutan, untuk mengetahui kesiapan dan kesedian jadi tidak, hadir tidak atau mundur. "Kita sudah antisipasi bila nanti ada peserta yang mengundurkan diri. Kita beri batas waktu kepada penerima beasiswa ini. Bila nanti ada yang mengundurkan diri, sudah ada cadangan yang disiapkan menggantikan posisi yang mundur. Soalnya, kuota mesti tetap sebanyak 2.000," bebernya. Untuk itu, kita siapkan sebanyak 800 orang kuota cadangan. Di mana peserta-peserta cadangan sebelumnya telah lolos hingga tahapan terakhir, jelasnya.

Karbon Nanopori Cangkang Sawit Indonesia Cadangan Energi Listrik 5 Juta MWh Dari POME Tekno
Tekno
Jumat, 30 Juni 2023 | 22:34 WIB

Karbon Nanopori Cangkang Sawit Indonesia Cadangan Energi Listrik 5 Juta MWh Dari POME

Jakarta, katakabar.com - Karbon Nanopori Cangkang Sawit bisa menjadi cadangan energi listrik 5 Juta MWh berasal dari biogas bernama Palm Oil Mill Effluent (POME) di Indonesia. Dahsyatnya lagi, cadangan energi ini bisa dijadikan bahan bakar gas, layaknya Compressed Natural Gas (CNG). Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) telah berhasil meningkatkan kadar Metana (CH4) biogas ini hingga lebih dari 95 persen empat tahu lalu. Caranya terbilang sederhana dengan pemurnian biogas menjadi biometan. Ajaibnya, bahan baku ayakan molekular (molecular sieve) yang digunakan untuk pemurnian berasal dari cangkang sawit. Dr. -Ing Teguh Arianto yang pimpin riset berjudul, Karbon Nanopori (Nanoporous Carbon) dari Biomassa Kelapa Sawit untuk Pemurnian Biogas dan telah dibukukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dua tahun lalu. Dan BPDPKS yang mendanai riset lewat program Grant Riset Sawit 2020. Dalam ringkasan hasil riset tersebut, Teguh menjelaskan, produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia lebih dari 40 juta ton per tahun. Produksi ini menghasilkan POME lebih dari 90 juta ton per tahun. Tapi, POME tidak serta merta bisa dikonversi ke listrik melalui generator lantaran kadar Metana (CH4) nya masih sangat rendah, masih sekitar 54 persen Biar CH4 nya meningkat, harus dimurnikan dulu menjadi biometan (CH4 berkadar > 95 persen). Salah satu metoda yang dipakai untuk pemurnian ini adalah ayakan molekular (molecular sieve) tadi. Teguh dan kawan-kawan tidak buru-buru mencari bahan baku ayakan --- karbon nanopori (nanoporous carbon) --- dari luar negeri. Justru mencoba cangkang sawit yang ada di Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS). Bahan baku ini sangat melimpah. Apalagi dalam setiap 100 ton produksi CPO, bisa menghasilkan sekitar 20 ton cangkang sawit. Itu sebabnya, tim ini memilih memanfaatkan sumber daya yang ada di pabrik (closed loop resources utilization) demi meningkat efisensi dan competitiveness PKS. Benar saja, karbon cangkang sawit ternyata menghasilkan karakteristik pemisahan yang lebih baik ketimbang karbon CMS komersial dan Zeolite Molecular Sieve (ZMS) 13X. Detailnya, yakni oleh Teguh dan kawan-kawan, penelitian dilakukan dua tahap. Tahap Pertama, pembuatan karbon nanopori dari cangkang kelapa sawit. Tahap Kedua, uji operasi pemisahan biogas menjadi biometan. Tahapan ini dilengkapi dengan pembuatan alat pemisah gas CO2/CH4. Kurva pemisahan dua komponen CO2/CH4 sebagai hasil utama yang didapatkan di tahap ini. Dari hasil penelitian menunjukkan karbon nanopori dengan luas area 50-950 m2/g dihasilkan dari proses pirolisis cangkang sawit. Kondisi optimal dari karakteristik pori dan yield karbon adalah pada 800°C. Karbon punya morfologi yang baik dan memiliki konten abu sekitar 5 persen. Terus, uji adsorpsi menunjukkan hasil positif dalam upaya pemisahan CO2 dari biogas karena perbedaan afinitas dan kapasitas adsorpsi yang tinggi antara CO2/CH4. Pada uji pemisahan dengan kolom pemisah baik uji menggunakan gas campuran CO2/CH4 di laboratorium dan biogas riil di lapangan (Laboratorium Penelitian Biogas Plant Gamping). Di mana hasil menunjukkan biogas dapat dimurnikan menjadi biometan (>95 persen CH4) dengan memanfaatkan karbon nanopori berbasis cangkang kelapa sawit. Untuk uji pembanding menunjukkan material karbon dari cangkang sawit menghasilkan karakteristik pemisahan yang lebih baik dibanding karbon CMS komersial dan Zeolite Molecular Sieve (ZMS) 13X. Paling menggembirakan hasilnya sedang dilanjutkan di fabrikasi alat pemisah (pressure swing adsorption) berdasarkan parameter-parameter desain yang sudah didapat.