Kedelai

Sorotan terbaru dari Tag # Kedelai

PalmCo Siapkan Proyek Percontohan Kedelai Dukung Target Swasembada Pangan Nasional
Nasional
Minggu, 07 Juni 2026 | 08:09 WIB

PalmCo Siapkan Proyek Percontohan Kedelai Dukung Target Swasembada Pangan

Jakarta, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui PTPN IV PalmCo siapkan proyek percontohan pengembangan kedelai di sejumlah wilayah potensial sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional, sekaligus mendukung upaya pemerintah mempercepat swasembada pangan nasional. Rencana tersebut disampaikan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa saat mengunjungi sentra produksi kedelai di Desa Ngudikan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, di pertenghan Mei 2026 lalu. Kunjungan berlangsung di tengah panen raya kedelai nasional yang turut dihadiri Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal, Agus Subiyanto, dan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto. Di hamparan lahan kedelai yang mulai dipanen petani tersebut, Jatmiko, mengatakan perusahaan mulai memetakan peluang pengembangan kedelai secara lebih serius. Menurut dia, kedelai memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari. “Kedelai bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi bagian dari stabilitas pangan masyarakat karena menjadi bahan baku utama tahu dan tempe. Karena itu kami mulai melihat peluang pengembangannya secara jangka panjang,” ujar Jatmiko. Ia menilai langkah diversifikasi ke sektor pangan juga sejalan dengan agenda pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tingginya ketergantungan impor kedelai. Kebutuhan kedelai nasional saat ini diperkirakan mencapai 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun. Tetapi, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut sehingga sebagian besar pasokan masih berasal dari impor. Dalam beberapa tahun terakhir, luas panen kedelai nasional juga terus menyusut akibat peralihan lahan dan rendahnya minat petani. Pemerintah kini mulai mendorong peningkatan produksi melalui perluasan areal tanam, penyediaan benih unggul, hingga kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah daerah dan TNI. Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu daerah yang dinilai potensial dalam pengembangan kedelai nasional. Berdasarkan hasil peninjauan PalmCo, pola tanam petani di Desa Ngudikan tergolong produktif dengan kombinasi satu musim padi, satu musim kedelai, dan dua musim bawang merah dalam setahun. Dukungan irigasi, kondisi lahan yang relatif datar, serta kelembagaan petani yang kuat membuat produktivitas kedelai di wilayah tersebut mampu mencapai 1,7 hingga 2,1 ton per hektare. Bahkan, melalui penerapan teknologi organik dan prebiotik, hasil panen disebut berpotensi meningkat hingga 3,5 ton per hektar. Menurut Jatmiko, pengalaman budidaya di Nganjuk menjadi referensi penting bagi PalmCo sebelum menjalankan proyek percontohan di wilayah perkebunan perusahaan. Saat ini perusahaan mulai melakukan kajian kesesuaian areal untuk memastikan lahan yang akan digunakan memenuhi aspek agronomis, mulai dari kondisi tanah, ketersediaan air, topografi, hingga faktor iklim. “Kami ingin memastikan pengembangannya berjalan optimal dan berkelanjutan. Karena itu seluruh aspek teknis harus dipetakan terlebih dahulu,” jelasnya. Tahap awal proyek akan dilakukan di sejumlah areal terpilih sebelum diperluas secara bertahap. Beberapa wilayah di Sumatera seperti Langkat, Deli Serdang, Pasaman, dan Banyuasin mulai masuk dalam pemetaan awal karena dinilai memiliki karakter agroklimat yang sesuai untuk pengembangan kedelai. PalmCo berharap pengembangan kedelai tidak hanya berkontribusi memperkuat pasokan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar kawasan perkebunan melalui pola kemitraan dan kolaborasi bersama petani.

Kolaborasi FKS Group dan PT PMT Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas Lewat Inovasi Pangan Kedelai Berkelanjutan Nasional
Nasional
Selasa, 19 Mei 2026 | 10:05 WIB

Kolaborasi FKS Group dan PT PMT Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas Lewat Inovasi Pangan Kedelai Berkelanjutan

Surabaya, katakabar.com - FKS Group bersama PT Pelindo Multi Terminal kembali melanjutkan program pemberdayaan masyarakat yang kini memasuki tahap kedua di Surabaya. Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam mendukung pengembangan UMKM berbasis pangan agar semakin berkembang, mandiri, dan memiliki daya saing yang lebih kuat. Angkat semangat Empowering Potential, Building Expertise, dan Creating Impact, kolaborasi ini berfokus pada penguatan keterampilan praktis sekaligus peningkatan kapasitas usaha masyarakat. Pada tahap kedua program diperluas ke Kelurahan Tenggulunan di kawasan Teluk Lamong dan wilayah Surabaya dengan target lebih dari 100 peserta ibu-ibu rumah tangga penerima manfaat. Kegiatan kick-off sendiri diikuti oleh lebih dari 150 peserta. Program ini hadir di tengah pertumbuhan ekonomi Surabaya yang terus menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya mencatat ekonomi Surabaya tumbuh 5,87 persen pada 2025 dengan sektor perdagangan dan industri pengolahan sebagai kontributor terbesar terhadap perekonomian kota. Di sisi lain, geliat UMKM juga terus berkembang. Pemerintah Kota Surabaya mencatat jumlah UMKM di kota tersebut telah mencapai lebih dari 106 ribu unit usaha dan terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Melalui program kolaborasi ini, peserta mendapatkan pelatihan pembuatan tempe fresh yang higienis sesuai dengan standart Halal dan berbagai produk inovasi berbasis kedelai, pelatihan pembukuan sederhana, desain kemasan produk, pendampingan pengurusan legalitas usaha seperti PIRT dan sertifikasi Halal hingga memasuki pasar modern. Peserta tahap pertama juga dilibatkan sebagai trainer melalui skema Training of Trainers (ToT), sehingga proses pembelajaran dapat terus berlanjut di masyarakat. VP of ESG FKS Group, Beatrice Susanto, menyampaikan FKS Empower Tahap 2 dirancang sebagai langkah nyata untuk membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya perempuan pelaku UMKM. “Melalui FKS Empower, kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar pelatihan. Program ini kami rancang sebagai ruang bertumbuh bagi para peserta untuk memperkuat keterampilan, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan usaha yang berkelanjutan. Kami percaya, ketika perempuan diberi akses terhadap pengetahuan, jejaring, dan peluang, mereka dapat menjadi penggerak perubahan yang membawa dampak positif bagi keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitarnya,” ujar Beatrice. Senada itu VP TJSL Pelindo Multi Terminal, Zulhendri menyampaikan harapan agar program ini dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat hingga pada akhirnya dapat berkembang secara mandiri dan memberi dampak positif ke sekitarnya. “Program ini menjadi wujud nyata kepedulian kami sebagai insan BUMN Pelindo Group terhadap pengembangan UMKM di Surabaya sebagai bagian dari wilayah kerja kami, sekaligus menjalankan prinsip berkelanjutan, sehingga komunitas yang telah mendapat manfaat dapat turut serta memberi inovasi dan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya masing-masing,” kata Zulhendri. Kolaborasi FKS Group dan Pelindo Multi Terminal telah berjalan sejak 2024. Pada tahap pertama di tahun 2024, objektif program ditujukan untuk mendampingi masyarakat di empat kelurahan sekitar Teluk Lamong, Gresik, yaitu Kel. Romokalisari, Kelompok Tambak Osowilangun, Kelompok Tambak Sarioso, dan Kelompok Karangkiring. Selama program berlangsung, sebanyak 60 ibu rumah tangga mendapatkan pendampingan selama satu tahun. Dari program tersebut, total pendapatan kelompok tercatat mencapai lebih dari Rp100 juta. Beragam produk inovatif juga berhasil dikembangkan, mulai dari tempe fresh, keripik tempe sagu, susu kacang kedelai, brownies tempe, hingga berbagai produk turunan kedelai lainnya. Selain mendorong peningkatan pendapatan, program ini juga diarahkan untuk membangun ekonomi berbasis komunitas melalui pemanfaatan bahan pangan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan tren pertumbuhan UMKM di Surabaya yang semakin terdorong oleh inovasi produk dan penguatan kapasitas pelaku usaha lokal. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyambut baik kehadiran program yang sejalan dengan semangat Pemerintah Kota Surabaya dalam memperkuat kapasitas UMKM agar semakin naik kelas dan berdaya saing. “Kolaborasi antara pemerintah dengan BUMN dan sektor swasta seperti ini menjadi sangat penting untuk mendorong pelaku usaha lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang melalui inovasi, peningkatan kualitas produk, serta pemanfaatan teknologi dan jejaring pasar yang lebih luas. Kami berharap program ini dapat memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat Surabaya dan membuka lebih banyak peluang usaha yang berkelanjutan,” timpal Eri Cahyadi. Salah satu peserta UMKM, Dessy Intan Normalasari, mengaku program ini memberikan banyak manfaat dalam pengembangan usahanya. “Dari program ini saya jadi belajar banyak hal yang sebelumnya belum pernah saya pahami, mulai dari cara mengelola usaha, membuat kemasan produk yang lebih menarik, sampai pentingnya legalitas usaha. Pendampingannya juga terasa dekat dan mudah dipahami, jadi kami lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha ke depannya,” tutur Dessy. Selain memperluas jangkauan penerima manfaat, pada tahap kedua ini FKS Group bersama Pelindo Multi Terminal juga memperkuat pendampingan bagi peserta tahap pertama agar produk UMKM binaan memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pasar modern lokal di Surabaya. Hal ini diharapkan dapat terus mendorong tumbuhnya UMKM lokal yang lebih mandiri, inovatif, dan mampu memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.

Pelindo Multi Terminal Perluas Dampak Ekonomi Lokal lewat Program UMKM Kedelai Nasional
Nasional
Rabu, 04 Maret 2026 | 17:10 WIB

Pelindo Multi Terminal Perluas Dampak Ekonomi Lokal lewat Program UMKM Kedelai

Surabaya, katakabar.com - PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) bidang operasional terminal nonpetikemas, terus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar Terminal Teluk Lamong melalui program pembinaan UMKM pengolahan kedelai. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan bersama FKS Group ini sebelumnya telah mendampingi kelompok masyarakat di wilayah Tambak Sarioso, Tambak Osowilangon, Romokalisari, dan Karangkiring. Melalui pelatihan pembuatan tempe dan produk turunan kedelai, penguatan manajemen usaha, hingga dukungan pemasaran, kelompok binaan berhasil mengembangkan usaha rumahan yang menambah pendapatan keluarga. SVP Sekretaris Perusahaan Pelindo Multi Terminal, Finan Syaifullah, menyampaikan program ini dirancang berbasis keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat. “Kami ingin UMKM binaan tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga berkembang dan naik kelas. Karena itu, pendampingan dilakukan secara terstruktur, termasuk penguatan kualitas produk dan akses pasar,” ujarnya. Keberhasilan tahap pertama mendorong Pelindo Multi Terminal dan FKS Group melanjutkan Program Kolaborasi UMKM Pengolahan Kedelai Tahap II pada tahun ini. Program lanjutan telah dimulai dengan rangkaian sosialisasi di Surabaya dan Gresik yang diikuti sekitar 200 peserta yang dilaksanakan pada Februari lalu, mencakup pelaku usaha dan calon binaan baru. "Pada tahap kedua ini, kami memperkuat model pembinaan dengan menyiapkan UMKM binaan yang sukses sebagai tenaga pelatih (trainer) bagi peserta baru. Pendekatan ini diharapkan menciptakan efek berganda (multiplier effect) serta memperluas dampak ekonomi di sekitar wilayah operasional," terang Finan. Selain sosialisasi, kegiatan juga meliputi kunjungan lapangan dan pendampingan intensif untuk memastikan peningkatan kualitas produksi, inovasi produk turunan seperti tempe, susu kedelai, tempe mendoan, dan keripik tempe, serta penguatan tata kelola usaha. Finan menegaskan inovasi sosial menjadi inti program TJSL perusahaan. “Kami ingin memastikan bahwa kehadiran Pelindo Multi Terminal membawa manfaat sosial yang inklusif. Program ini menunjukkan bagaimana pendekatan ekonomi sirkular mampu memperkuat pendapatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” jelas Finan. Ditegaskan Finan, program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung prinsip Envireomental, Social, and Governance (ESG) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Desi, salah satu pelaku UMKM kedelai yang telah berhasil menambahkan kunci keberhasilan mereka tidak hanya terletak pada semangat, tetapi juga pada dukungan dari Pelindo Multi Terminal dan FKS berupa pendampingan intensif. "Proses trial and error yang dibimbing oleh tenaga ahli serta konsultasi secara rutin dengan pendamping sangat membantu, terutama saat mereka menghadapi keterbatasan dalam berinovasi," cerita Desi. Melalui kolaborasi berkelanjutan ini, Pelindo Multi Terminal berharap semakin banyak UMKM tempe di Teluk Lamong yang mandiri, produktif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekitar pelabuhan.

Universitas Brawijaya: Sawit Lebih Efisien dari Kedelai dan Bunga Matahari Begitu Faktanya Sawit
Sawit
Minggu, 22 Februari 2026 | 22:10 WIB

Universitas Brawijaya: Sawit Lebih Efisien dari Kedelai dan Bunga Matahari Begitu Faktanya

Malang, katakabar.com - Industri kelapa sawit terus menerus jadi sorotan pada forum akademik. Lihat, diskusi ilmiah usung tema 'Sawit di Mata Kampus: Perspektif Ilmiah & Komparatif', pakar dari Universitas Brawijaya (UB) menjabarkan fakta penting kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling efisien di dunia, bahkan melampaui kedelai dan bunga matahari. Kegiatan yang digelar merupakan rangkaian Sawit Academy ini diinisiasi Hai Sawit Indonesia dan mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Forum tersebut menghadirkan Prof. Dr. Ir. Susinggih Wijana, MS dari Fakultas Teknologi Pertanian UB sebagai pembicara utama. Prof. Susinggih menekankan sawit harus dipandang secara komprehensif dan berbasis data ilmiah. Ia menilai perdebatan global mengenai sawit sering kali tidak menghadirkan perbandingan objektif dengan komoditas minyak nabati lain. “Sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling efisien di dunia. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga efisiensi lahan dan efisiensi industri,” jelasnya, Sabtu (21/2). Menurutnya, dari sisi produktivitas, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak jauh lebih tinggi per hektare dibandingkan minyak kedelai (soybean oil) maupun minyak bunga matahari (sunflower oil). Artinya, untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global, sawit membutuhkan luas lahan yang lebih kecil dibandingkan dua komoditas tersebut. Efisiensi lahan ini menjadi poin penting dalam diskursus keberlanjutan. Dengan produktivitas tinggi, tekanan terhadap pembukaan lahan baru secara teoritis dapat ditekan jika tata kelola dilakukan dengan benar. Prof. Susinggih menegaskan pendekatan berbasis efisiensi justru harus menjadi bagian dari narasi keberlanjutan sawit Indonesia. Selain efisiensi lahan, ia menyoroti efisiensi industri sawit dari hulu ke hilir. Industri kelapa sawit memiliki rantai produksi yang terintegrasi, mulai dari perkebunan, pengolahan crude palm oil (CPO), hingga berbagai produk turunan seperti pangan, kosmetik, dan bioenergi. “Jika kita melihat dari perspektif sistem produksi global, sawit sangat kompetitif. Tidak hanya menghasilkan minyak dalam jumlah besar, tetapi juga memiliki diversifikasi produk yang luas,” bebernya. Lalu, Prof. Susinggih mengaitkan industri sawit dengan konsep ekonomi sirkular. Dalam pendekatan ini, limbah produksi tidak dipandang sebagai sisa yang terbuang, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Tandan kosong, serat, hingga limbah cair dapat diolah menjadi pupuk organik, energi biomassa, bahkan bahan baku industri lainnya. Pendekatan ekonomi sirkular dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menekan dampak lingkungan. Dengan pengelolaan yang tepat, industri sawit tidak hanya menjadi sektor penghasil devisa, tetapi juga bagian dari solusi transisi menuju sistem produksi yang lebih berkelanjutan. Forum Sawit Academy di UB juga menegaskan peran kampus dalam membentuk perspektif ilmiah terhadap komoditas strategis nasional. Perguruan tinggi dinilai memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kajian objektif dan berbasis riset, terutama di tengah derasnya opini global yang sering kali tidak sepenuhnya mempertimbangkan data komparatif. Menurut Prof. Susinggih, kampus harus menjadi ruang diskusi terbuka yang mampu menguji berbagai klaim secara akademik. Dengan pendekatan ilmiah, isu sawit dapat dilihat secara proporsional, tidak hanya dari satu sudut pandang. Diskusi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi publik mengenai efisiensi kelapa sawit dibandingkan kedelai dan bunga matahari. Dengan produktivitas tinggi, efisiensi lahan, serta potensi ekonomi sirkular, sawit dinilai memiliki keunggulan strategis dalam sistem pangan dan energi global. Melalui forum akademik seperti ini, diharapkan kampus dapat menjadi pelopor narasi berbasis fakta, sekaligus mendukung penguatan tata kelola sawit berkelanjutan di Indonesia.