BLU Kemenkeu Perkuat Kolaborasi Pembangunan Berkelanjutan dan Penciptaan Nilai Tambah Ekonomi Nasional
Nasional
6 jam yang lalu

BLU Kemenkeu Perkuat Kolaborasi Pembangunan Berkelanjutan dan Penciptaan Nilai Tambah Ekonomi

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) berpartisipasi dalam pergelaran Jakarta Fiscal Forum (JFF) 2026 yang dihelat Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi DKI Jakarta. Forum ini menjadi ruang dialog dan kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam memperkuat peran kebijakan fiskal guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Angkat tema “Fiskal Dukung Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan Jakarta sebagai Kota Global”, JFF 2026 pertemukan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, akademisi, praktisi, dunia usaha, serta lembaga terkait untuk mendiskusikan berbagai isu strategis pembangunan, termasuk pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan penciptaan nilai tambah ekonomi. Kegiatan di Gedung Jusuf Anwar, Komplek Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, tersebut dibuka Direktur Jenderal Perbendaharaan, Astera Primanto Bhakti, dan menghadirkan Prof. Firdaus Ali, Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, sebagai pembicara kunci. Forum ini juga dihadiri Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi DKI Jakarta, M. Syaibani, serta perwakilan kementerian/lembaga, akademisi, dan pelaku usaha. Partisipasi BPDP dalam forum ini bagian dari komitmen lembaga untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan. Sebagai Badan Layanan Umum di bawah Kementerian Keuangan, BPDP memiliki peran strategis dalam mendorong pengembangan sektor perkebunan melalui berbagai program, antara lain pengembangan biodiesel, peremajaan sawit rakyat, pengembangan sumber daya manusia, penelitian, promosi, serta penyediaan sarana dan prasarana perkebunan. Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP menyampaikan bahwa JFF 2026 menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring kerja sama sekaligus memperkenalkan kontribusi sektor perkebunan kepada berbagai pemangku kepentingan. "JFF 2026 menjadi ruang yang strategis bagi BPDP untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus memperkenalkan berbagai program pengembangan perkebunan kepada khalayak yang lebih luas. Melalui partisipasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa sektor perkebunan memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional, mulai dari penciptaan nilai tambah, pengembangan SDM, hingga dukungan terhadap ketahanan energi dan pembangunan berkelanjutan. Kami berharap forum ini dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong manfaat yang semakin besar bagi masyarakat," bebernya. Melalui partisipasi dalam JFF 2026, BPDP perkenalkan berbagai program strategis yang telah dijalankan dalam mendukung peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan, penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan energi terbarukan, serta pembangunan sektor perkebunan yang berkelanjutan.  Ke depan, BPDP akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak guna memastikan program-program yang dijalankan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Fortifikasi Beras Massal Solusi Atasi Krisis Kelaparan Tersembunyi Nasional
Nasional
13 jam yang lalu

Fortifikasi Beras Massal Solusi Atasi Krisis Kelaparan Tersembunyi

Jakarta, katakabar.com - Indonesia tengah menghadapi masalah kedaruratan senyap (silent emergency) berupa kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Ini dipicu defisiensi zat besi kronis, kondisi ini melahirkan lonjakan angka anemia di berbagai penjuru Nusantara. Padahal, para pakar kesehatan publik menilai intervensi paling strategis untuk mengatasinya adalah lewat fortifikasi beras. Pada Rabu (24/6) lalu, inisiatif Millers for Nutrition gelar pertemuan lintas pemangku kepentingan di Jakarta bertajuk "Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market." Agenda ini bertujuan merangkul koalisi para pelaku sektor swasta guna mendiskusikan langkah nyata dalam menghadirkan beras fortifikasi yang lebih terjangkau di pasar terbuka bagi masyarakat luas. Direktur Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI), Nina Sarjunani, menegaskan, intervensi melalui bahan pangan pokok utama bangsa adalah jalan keluar yang paling layak untuk ditempuh. Secara historis, upaya mengikis kekurangan mikronutrien selama ini bertumpu pada tiga cara utama, urai Nina. Pertama adalah diversifikasi pangan—mengajak rumah tangga mengonsumsi variasi karbohidrat, sayuran, dan sumber protein. Meski paling ideal, diversifikasi pangan sulit dilakukan karena tak semua kelompok masyarakat mampu membeli ragam sumber nutrisi tersebut. Kedua adalah suplementasi. Walaupun sederhana, pendekatan ini juga menghadapi tantangan karena tingkat kepatuhan konsumsi suplemen masih rendah. “Yang paling cost-effective adalah fortifikasi,” kata Nina. Indonesia telah sukses melakukan ragam fortifikasi seperti garam beryodium, tepung terigu yang diperkaya zat besi dan seng, serta minyak goreng yang diperkaya vitamin A. Meski tepung terigu kendaraan intervensi yang kuat, ia mengingatkan tepung terigu bukanlah makanan pokok masyarakat Indonesia. Lantaran itu, Nina menilai fokus fortifikasi harus dialihkan ke komoditas berikutnya, yakni beras, mengingat bahan pangan tersebut dikonsumsi oleh 95 persen penduduk di dalam negeri. Fortifikasi beras merupakan bentuk intervensi yang minim hambatan (low-friction), lanjutnya, karena tidak menuntut perubahan perilaku makan masyarakat. Warga tetap memasak dan makan nasi seperti biasa, tetapi mendapatkan tambahan zat besi dan mikronutrien penting lainnya secara signifikan. Lonjakan pemenuhan gizi (nutrition gain) yang dihasilkan bisa sangat masif, hanya dengan margin kenaikan biaya produksi sekitar Rp 1.000 per kilogram. Tantangan Hulu-Hilir Meski menjanjikan manfaat yang nyata, upaya memperluas skala beras fortifikasi di bentang geografis Indonesia yang luas menghadang tantangan operasional. Hal itu diungkapkan oleh Budianto Wijaya, anggota komite penasihat (advisory member) Millers for Nutrition. Sektor penggilingan padi di Indonesia sangat terfragmentasi, melibatkan banyak operator mulai dari fasilitas industri skala besar hingga penggilingan kecil di pedesaan. Realitas ini membuat penyelarasan regulasi, standarisasi pengawasan mutu, dan keseragaman distribusi menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, beras fortifikasi masih menjadi barang mewah yang ceruk pasarnya terbatas, dikemas sebagai produk khusus di rak-rak supermarket premium dan lebih banyak dijangkau kelompok ekonomi tertentu. Padahal, peluang sesungguhnya untuk mengubah tren kesehatan publik berada di tempat lain: menyasar kelompok rentan melalui bantuan pangan pemerintah, intervensi kesehatan ibu dan anak, serta program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG). Terkait MBG, pihaknya telah membicarakan agar program beras fortifikasi bisa masuk. Selama ini, garam dan minyak goreng yang digunakan dalam program MBG sudah terfortifikasi. Menepis Mitos Modern Di luar persoalan logistik, strategi ini harus berhadapan dengan tantangan persepsi publik dan penataan pasar. Nina menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat masih sangat rendah, membuat pasar rentan terhadap disinformasi—termasuk hoaks viral terkait isu "beras plastik" yang sempat merusak kepercayaan konsumen. Selain itu, harga juga masih menjadi isu sensitif. Selama ini beras fortifikasi kerap dikategorikan sebagai beras khusus dengan bahan baku beras premium, sehingga harganya relatif mahal. Pembangunan industri FRK (Fortified Rice Kernels), memperkuat penggilingan dan membuka jalan distribusi komersial menjadi salah satu usulan dari panel yang terdiri dari pelaku industri beras. Forum yang berlangsung hari Rabu ini berupaya menjembatani kesenjangan tersebut, mempertemukan pelaku penggilingan padi, ritel modern, dan pegiat fortifikasi gizi dalam satu atap. “Saya yakin dengan acara hari ini, permasalahan itu baik teknis maupun nonteknis, bisa sama-sama kita diskusikan, sehingga bisa kita atasi,” tutur Nina. Evelyn Djuwidja, Program Manager TechnoServe Indonesia—organisasi yang saat ini menjalankan inisiatif Millers for Nutrition—memandang pertemuan multi-sektor ini sebagai langkah awal yang vital. “Forum ini telah membuka peluang besar bagi rekan-rekan RMU (Rice Milling Units/penggilingan padi) dan ritel modern untuk saling bekerja sama,” ucapnya. “Millers for Nutrition berkomitmen untuk terus mendampingi penggilingan padi dalam menjaga kualitas gizi produk, membantu efisiensi produksi, dan memfasilitasi hubungan bisnis agar kerja sama dengan ritel modern dapat berjalan dengan lancar, sehat, dan saling menguntungkan dalam jangka panjang,” sebutnya.

Kenali Plinth Track, Struktur Jalan Rel Menjaga Keandalan LRT Jabodebek Nasional
Nasional
Kemarin

Kenali Plinth Track, Struktur Jalan Rel Menjaga Keandalan LRT Jabodebek

Jakarta, katakabar.com - Kereta Api Indonesia (KAI) jaga keandalan infrastruktur LRT Jabodebek lewat perawatan rutin sistem jalan rel plinth track. Berbeda dari rel konvensional, plinth track dipasang langsung di beton + fastening system untuk jaga posisi rel tetap presisi, stabil, dan aman. Setiap hari setelah operasional, petugas periksa seluruh lintas, perbaiki kerusakan ringan, dan lakukan injeksi beton bila ada rongga demi kekuatan jangka panjang. Pemeriksaan berkala juga dilakukan untuk geometri jalur, kondisi rel, wesel, dan fastening system. Langkah ini penting karena LRT melayani ratusan perjalanan harian. Tujuannya: pastikan perjalanan aman, nyaman, dan tepat waktu bagi masyarakat Jabodebek. KAI terus menjaga keandalan infrastruktur LRT Jabodebek sebagai bagian dari upaya menghadirkan perjalanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu bagi masyarakat. Salah satu komponen penting yang mendukung operasional tersebut adalah sistem jalan rel plinth track yang digunakan pada lintas LRT Jabodebek. Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan di balik perjalanan kereta yang berlangsung setiap hari, terdapat berbagai kegiatan pemeriksaan dan perawatan prasarana yang dilakukan secara rutin untuk memastikan seluruh komponen jalur berada dalam kondisi optimal. “Keselamatan dan ketepatan waktu perjalanan LRT Jabodebek tidak hanya tentang operasional kereta, namun juga keandalan infrastruktur. Karena itu, pemeriksaan dan perawatan jalur dilakukan secara rutin dan berkelanjutan,” jelasnya. Berbeda dengan jalur kereta konvensional yang umumnya menggunakan bantalan rel, LRT Jabodebek mengoperasikan sistem plinth track, yakni struktur jalan rel yang dipasang langsung pada konstruksi beton. Sistem ini dirancang untuk memberikan kestabilan yang tinggi sehingga mendukung keselamatan dan keandalan perjalanan LRT Jabodebek. Pada struktur tersebut terpasang fastening system atau sistem penambat rel yang berfungsi menjaga posisi rel tetap presisi saat dilalui rangkaian kereta. Komponen ini memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan jalur serta mendukung kelancaran operasional sehari-hari. Sebagai moda transportasi yang melayani ratusan perjalanan setiap hari, keandalan jalan rel menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga keselamatan dan ketepatan waktu operasional LRT Jabodebek. Untuk menjaga kondisi plinth track tetap optimal, LRT Jabodebek melakukan pemeriksaan dan perawatan jalur setiap hari setelah operasional berakhir. Kegiatan tersebut dilakukan di seluruh lintas operasional guna memastikan kondisi infrastruktur tetap memenuhi standar keselamatan. Penanganan yang dilakukan antara lain berupa perbaikan pada plinth track yang mengalami kerusakan ringan. Selain itu, petugas juga dapat melakukan injeksi beton apabila ditemukan indikasi rongga pada struktur guna menjaga kekuatan konstruksi jalan rel dan mendukung keandalan jalur dalam jangka panjang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kekuatan konstruksi dan mendukung keandalan jalur dalam jangka panjang. Selain pemeriksaan harian, LRT Jabodebek juga melaksanakan pemeriksaan berkala terhadap geometri jalur, kondisi rel, wesel, serta fastening system. Pengukuran geometri dilakukan untuk memastikan lintasan tetap memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan sehingga perjalanan LRT Jabodebek dapat beroperasi dengan selamat, nyaman, dan tepat waktu. Menurutnya, kegiatan perawatan prasarana bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keselamatan serta kualitas layanan kepada pengguna LRT Jabodebek. "Melalui pemeriksaan dan perawatan yang dilakukan secara berkelanjutan, LRT Jabodebek terus memperkuat keandalan infrastrukturnya guna mendukung perjalanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu bagi masyarakat Jabodebek," sebutnya.

Rayakan Demam Piala Dunia, Bittime Hadirkan League of Traders Investor Indonesia Nasional
Nasional
Jumat, 26 Juni 2026 | 09:26 WIB

Rayakan Demam Piala Dunia, Bittime Hadirkan League of Traders Investor Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Di tengah semarak Piala Dunia FIFA 2026 mempertemukan tim-tim terbaik dunia dalam perebutan gelar Piala Dunia, Bittime menghadirkan Bittime League of Traders. Kampanye berbasis program Mining Points ketiga ini, merupakan bentuk dukungan bagi investor Indonesia yang ingin ikut merasakan semangat kompetisi melalui aktivitas trading dan referal. Angkat tema “Trade Any Coins, Any Time, Any Where to Mine Your Points” kampanye ini dirancang untuk memberikan pengalaman transaksi interaktif melalui sistem perolehan poin berbasis aktivitas trading dan referral. Setiap aktivitas yang memenuhi ketentuan program akan dikonversikan menjadi poin yang dapat meningkatkan posisi pengguna dalam klasemen Bittime League of Traders. Sama dengan kompetisi sepak bola yang mengandalkan konsistensi dalam mengumpulkan poin sepanjang turnamen, program ini memberikan kesempatan bagi investor untuk mengoptimalkan aktivitas trading di tengah volatilitas pasar. Bittime melihat bahwa tren gamifikasi dalam industri aset keuangan digital dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan partisipasi pengguna sekaligus memperkenalkan pengalaman investasi yang lebih menarik. Bittime League of Traders dapat menjadi wadah bagi investor untuk lebih aktif mengeksplorasi berbagai aset kripto sesuai dengan profil risiko dan strategi investasi masing-masing. Di mana dalam mekanisme program ini, pengguna dapat memantau perkembangan perolehan poin dan posisi klasemen secara langsung melalui halaman campaign dan leaderboard yang diperbaharui secara berkala pada official Website Bittime. Melalui program ini, pengguna dapat memperoleh points dari aktivitas trading dan referral dari berbagai aset yang tersedia di platform Bittime, termasuk Bitcoin (BTC), Emas (XAUT), USD (USDT), maupun aset global RWA seperti SpaceX xStock (SPCXX). Poin yang terkumpul nantinya dapat ditukarkan menjadi hadiah dalam bentuk USDT, sehingga memberikan nilai tambah bagi pengguna yang aktif bertransaksi. Program ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Bittime dalam mendorong penggunaan platform yang aktif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada edukasi. Selain menghadirkan pengalaman kompetisi yang menarik, Bittime juga terus berkomitmen mendukung pertumbuhan ekosistem aset kripto Indonesia yang sehat dan berkelanjutan. Tetapi, investasi sebaiknya tidak dilakukan semata-mata berdasarkan tren atau momentum tertentu, melainkan didasarkan pada pemahaman yang baik terhadap aset yang dipilih serta kondisi pasar yang melatarbelakanginya. Perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi yang mencakup fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan perubahan regulasi yang menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna. Lantaran itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko, diversifikasi aset, dan analisis fundamental tetap menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat di era digital.

Peluang Karier Remote Meningkat, KVA Perkuat Skill Talenta Indonesia Nasional
Nasional
Kamis, 25 Juni 2026 | 12:10 WIB

Peluang Karier Remote Meningkat, KVA Perkuat Skill Talenta Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Di tengah meningkatnya peluang kerja remote global, KVA perkuat talenta Indonesia melalui pelatihan Virtual Assistant berbasis praktik agar siap memenuhi kebutuhan pasar internasional dan membangun karier digital yang berkelanjutan. Beberapa tahun terakhir, lanskap kerja global mengalami transformasi signifikan. Berbagai perusahaan, mulai dari rintisan (startup) hingga korporasi, secara masif mengadopsi sistem kerja remote untuk menekan biaya operasional tanpa mengorbankan produktivitas. Mereka mulai mengalihkan berbagai fungsi strategis, mulai dari tugas administrasi, dukungan pelanggan, hingga manajemen proyek, kepada tenaga kerja jarak jauh,  untuk memastikan usaha tetap berjalan tanpa harus menambah biaya kehadiran fisik di kantor. Perubahan paradigma ini telah mengukuhkan Virtual Assistant (VA) sebagai pilar penting dalam ekosistem bisnis modern. Tren ini membuka peluang besar bagi masyarakat Indonesia untuk membangun karier dari rumah. Virtual Assistant bukan lagi profesi sampingan atau pekerjaan sementara, melainkan telah berkembang menjadi karier profesional dengan permintaan tinggi, baik dari bisnis lokal maupun internasional. Tetapi realitanya, tingginya permintaan tidak lantas diikuti dengan ketersediaan talenta yang mumpuni. Banyak yang mengira menjadi VA hanya bermodal laptop dan koneksi internet, padahal klien, terutama dari luar negeri atau perusahaan yang sedang bertumbuh, menuntut standar profesionalisme yang tinggi. Mereka mengharapkan keahlian teknis yang spesifik, kedisiplinan, kemampuan komunikasi yang matang, serta pemahaman teknologi digital yang luas. Tanpa bekal yang memadai, banyak individu yang mencoba masuk ke dunia VA akhirnya kesulitan bertahan karena belum siap menghadapi dinamika kerja remote yang cepat dan menuntut. Kesenjangan keterampilan inilah yang menjadi penyebab utama mengapa banyak pencari kerja belum mampu memanfaatkan peluang besar di sektor remote. Di sinilah peran Kursus Virtual Assistant (KVA) menjadi krusial. Mimi Amilia, sosok veteran di industri virtual assistant dengan pengalaman lebih dari 13 tahun, pendiri Virtual Assistant Indonesia (VAI), sekaligus pengajar utama di KVA, telah menyaksikan langsung tingginya permintaan pasar global akan tenaga kerja remote yang benar-benar siap pakai. “Banyak yang tertarik menjadi VA karena iming-iming kerja fleksibel dan penghasilan menarik. Namun, tanpa bekal keterampilan yang memadai, mereka seringkali gagal memenuhi ekspektasi klien yang membutuhkan akurasi, kecepatan, dan komitmen tinggi,” jelas Mimi. KVA hadir sebagai inkubator talenta digital dengan pendekatan yang sangat berbeda dari kursus online biasa. Keunggulan utama KVA terletak pada metode pembelajaran berbasis pengalaman langsung atau experiential learning. "Mimi tidak hanya mengajarkan apa itu Virtual Assistant, tetapi juga bagaimana menjadi VA bernilai tinggi. “Kami tidak hanya mengajarkan teori. Setiap peserta dibimbing langsung untuk menguasai keterampilan yang applicable di dunia nyata, sesuai dengan tuntutan pasar global,” tambah Mimi. Peserta belajar melalui contoh kasus nyata yang Mimi temui selama puluhan tahun berkarier. Pendekatan ini memastikan bahwa lulusan KVA tidak hanya “bisa bekerja”, tetapi benar-benar “mahir” dan siap menghadapi tuntutan klien global. Aspek lain yang ditekankan adalah pembangunan karakter dan pola pikir entrepreneur. Bekerja dari rumah menuntut integritas, kedisiplinan diri, kemampuan manajemen diri dan komitmen terhadap kualitas. “Seorang VA yang sukses adalah mitra strategis bagi kliennya. Mereka harus mampu berpikir proaktif, mengantisipasi kebutuhan, dan memberikan solusi, bukan hanya menjalankan perintah,” tegas Mimi. Kurikulum KVA dirancang komprehensif, mencakup manajemen proyek digital, komunikasi bisnis, penguasaan kolaborasi remote, mengelola ekspektasi klien, hingga strategi personal branding. Yang membedakan, peserta tidak hanya diajar bagaimana menjadi VA, tetapi juga cara menjadi VA bernilai tinggi, yang mampu meningkatkan kredibilitas mereka di pasar internasional agar dapat menawarkan layanan premium dan membangun hubungan jangka panjang dengan klien. Pendekatan menyeluruh inilah yang membuat banyak lulusan KVA berhasil bekerja dengan klien dari Amerika Serikat, Australia, Singapura, hingga Inggris, semuanya tanpa harus meninggalkan rumah. Beberapa lulusan bahkan berhasil mengembangkan bisnis VA mereka sendiri dan tidak sedikit pula yang mencapai pendapatan lebih tinggi dari standar upah regional karena layanan mereka memenuhi standar global. Di tengah banyaknya tantangan yang dihadapi pencari kerja di sektor konvensional, profesi VA menjadi jawaban bagi mereka yang menginginkan karier fleksibel, aman, dan berkembang. Peran KVA sebagai lembaga pelatihan menjadi kunci agar talenta Indonesia mampu bersaing di tengah kompetisi usaha yang semakin ketat. Dengan peluang pasar yang terus meningkat, KVA meyakini bahwa profesi Virtual Assistant akan menjadi salah satu karier paling menjanjikan di masa depan. Dengan pelatihan yang tepat dan bimbingan berpengalaman, masa depan karier remote Indonesia tampak semakin cerah.

ESDM: Standar ESG Kin Penentu Akses Ekosistem Industri EV Global Nasional
Nasional
Rabu, 24 Juni 2026 | 15:31 WIB

ESDM: Standar ESG Kin Penentu Akses Ekosistem Industri EV Global

Jakarta, katakabar.com -  Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kini tidak lagi sekadar menjadi standar kepatuhan di sektor pertambangan, tetapi telah berkembang menjadi faktor penentu dalam akses ekosisstem industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global. Di tengah meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk mendukung transisi energi, pasar internasional semakin selektif memilih sumber pasokan tidak hanya berdasarkan kualitas, tetapi proses produksi berkelanjutan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan tuntutan terhadap implementasi standar ini menjadi menjadi peluang bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama mineral dunia. Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, mengatakan mineral yang diproduksi secara bertanggung jawab, dan memenuhi standar ESG memiliki nilai tambah sekaligus peluang pasar yang lebih besar, terutama dalam rantai pasok industri kendaraan listrik, energi bersih, dan manufaktur global. "Pasar global saat ini tidak hanya menilai kualitas produk mineral yang dihasilkan, tetapi juga menilai bagaimana mineral tersebut diproduksi," kata Cecep pada Seri Dialog Mineral Kritis INDEF-GTI bertajuk Menavigasi Ketegangan Geopolitik dan Mengamankan Peran Indonesia dalam Rantai Pasok Mineral Kritis Menuju Kedaulatan Energi, Rabu (17/6) lalu. Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran penting dalam industri global. Bagi produsen kendaraan listrik dan manufaktur teknologi, standar ESG kini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan mitra rantai pasok. Tanpa pemenuhan standar keberlanjutan, akses terhadap pasar global berisiko semakin terbatas. Menurut Cecep, pemerintah pun terus memperkuat penerapan ESG dalam tata kelola pertambangan nasional. Komitmen tersebut mulai diintegrasikan dalam proses evaluasi dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang. Dari aspek sosial, ulas Cecep, perusahaan diwajibkan menjalankan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang disusun bersama pemerintah daerah. Sementara dari aspek lingkungan, perusahaan didorong meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, memperkuat pengelolaan limbah dan air tambang, serta melaksanakan reklamasi dan pascatambang secara bertanggung jawab. "Di beberapa tambang juga telah menerapkan ESG melalui standar seperti IRMA serta melakukan efisiensi energi dan pengurangan emisi melalui elektrifikasi alat berat maupun penggunaan sumber energi yang lebih bersih," bebernya. Masih Cecep, Ditjen Minerba saat ini tengah melakukan kajian untuk menyelaraskan standar nasional dengan praktik ESG global melalui analisis kesenjangan antara regulasi domestik dan standar internasional. Langkah ini dinilai krusial mengingat semakin banyak perusahaan global yang mensyaratkan standar keberlanjutan sebagai bagian dari kontrak pasokan bahan baku. Contohnya, perusahaan tambang yang memasok kebutuhan industri kendaraan listrik harus mampu memenuhi standar ESG yang ditetapkan produsen otomotif dunia. "Salah satu contohnya adalah kerja sama Vale Indonesia dengan Ford dan Volkswagen yang menerapkan standar ESG global dalam rantai pasoknya," terang Cecep. Perkembangan ini menunjukkan ESG telah bergeser dari sekadar prinsip tata kelola menjadi instrumen strategis dalam persaingan industri. Bagi Indonesia, yang memiliki cadangan nikel, tembaga, timah, dan bauksit yang besar, tantangan utamanya bukan lagi pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kemampuan memenuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan pasar global. Sejalan dengan itu, pelaku industri pertambangan nasional juga mulai menjadikan ESG sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Holding industri pertambangan MIND ID bersama anggota grupnya terus memperkuat implementasi ESG melalui berbagai inisiatif, mulai dari pengurangan emisi, reklamasi dan rehabilitasi lahan pascatambang, konservasi lingkungan, hingga peningkatan tata kelola dan transparansi pelaporan keberlanjutan. Menurut Cecep, tren ini menegaskan industri pertambangan global tengah bergerak menuju standar baru, di mana keberhasilan bisnis tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya cadangan mineral atau kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan perusahaan dalam memenuhi tuntutan keberlanjutan di seluruh rantai pasok. Dengan dinamika tersebut, ESG kini tidak hanya menjadi faktor reputasi, tetapi telah menjadi prasyarat untuk menjaga akses pasar dan memenangkan kontrak di industri kendaraan listrik global. "Pasar global saat ini bergerak ke arah yang semakin menuntut praktik pertambangan berkelanjutan. Karena itu ESG bukan lagi sekadar kepatuhan, tetapi telah menjadi faktor penentu daya saing dan akses pasar bagi industri mineral," sebut Cecep.

Lewat Fasilitas Pengemasan Baru di Surabaya Holding PTPN Percepat Distribusi Migor ke Intim Nasional
Nasional
Selasa, 23 Juni 2026 | 11:05 WIB

Lewat Fasilitas Pengemasan Baru di Surabaya Holding PTPN Percepat Distribusi Migor ke Intim

Surabaya, katakabar.com - Pasokan minyak goreng ke kawasan Indonesia Timur (Intim) diproyeksikan jadi lebih cepat dan efisien setelah PT Industri Nabati Lestari (INL), anak usaha PTPN IV PalmCo yang merupakan Subholding Perkebunan Nusantara, operasikan fasilitas pengemasan minyak goreng di kawasan Pelabuhan Kalimas, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/6) lalu. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan rantai pasok dan hilirisasi industri sawit nasional yang dijalankan PalmCo bersama Holding Perkebunan Nusantara. Fasilitas ini memperpendek rantai distribusi minyak goreng menuju Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua yang selama ini dilayani dari pabrik pengolahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Melalui skema baru tersebut, minyak goreng dikirim dalam bentuk curah ke Surabaya untuk kemudian dikemas dan didistribusikan ke berbagai wilayah tujuan di Indonesia bagian tengah dan timur. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menerangkan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mendekatkan titik distribusi ke pasar utama di Indonesia bagian tengah dan timur. Menurutnya, Surabaya dipilih karena memiliki konektivitas pelabuhan yang kuat dengan berbagai wilayah di Indonesia Timur, sehingga mampu mempercepat arus barang sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok. "Selama ini produk dikirim dalam bentuk kemasan dari Sumatera Utara. Dengan pengemasan dilakukan di Surabaya, distribusi menjadi lebih efisien dan biaya logistik dapat ditekan hingga 40 persen," jelas Jatmiko saat peresmian fasilitas tersebut. Efisiensi tersebut dinilai penting mengingat biaya logistik masih menjadi salah satu tantangan utama dalam distribusi pangan nasional. Untuk komoditas kebutuhan pokok seperti minyak goreng, tingginya biaya pengiriman kerap berdampak pada harga jual di tingkat konsumen, terutama di wilayah kepulauan yang berjarak jauh dari pusat produksi. Sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia, Tanjung Perak selama ini menjadi simpul distribusi barang ke kawasan timur Indonesia. Posisi geografis Surabaya yang lebih dekat dengan pasar tujuan dibandingkan Sumatera Utara memungkinkan waktu pengiriman menjadi lebih singkat dan pasokan lebih terjaga. Bagi INL, fasilitas baru ini juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat penetrasi pasar minyak goreng di luar Pulau Jawa. Seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga dan industri makanan di Indonesia Timur, perusahaan melihat potensi pertumbuhan permintaan yang terus berkembang. Jatmiko menambahkan, penguatan jaringan distribusi merupakan bagian dari transformasi PalmCo yang tidak lagi hanya berfokus pada produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), tetapi juga memperbesar porsi bisnis hilir yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. "PTPN mendapat tugas untuk menjadi instrumen negara yang dapat diandalkan dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas industri sawit nasional. Karena itu, kami terus memperkuat hilirisasi dan distribusi agar produk bisa menjangkau masyarakat secara lebih efektif," ujarnya. Operasional fasilitas pengemasan di Surabaya dilakukan melalui kerja sama dengan PT Lestari Jaya Indonesia Maju (LJIM). Komisaris PT LJIM, Mayjen TNI (Purn) Gamal Haryo Putro, mengatakan bahwa distribusi awal dari fasilitas tersebut telah berjalan dan mendapat respons positif dari pasar. Menurutnya, kapasitas distribusi akan ditingkatkan secara bertahap mengikuti pertumbuhan permintaan di wilayah sasaran. Fokus utama pada tahap awal adalah memastikan kelancaran pasokan ke berbagai daerah di Indonesia bagian tengah dan timur. "Kami melihat kebutuhan pasar yang cukup besar. Karena itu, distribusi akan terus diperkuat seiring meningkatnya kapasitas operasional dan daya serap pasar," timpal Gamal. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan tantangan logistik nasional, kehadiran fasilitas pengemasan di Surabaya diharapkan tidak hanya mempercepat distribusi minyak goreng ke Indonesia Timur, tetapi juga memperkuat ketahanan rantai pasok nasional melalui sistem distribusi yang lebih dekat dengan pasar tujuan. Bagi PalmCo, skema pengiriman minyak goreng dalam bentuk curah dari Sumatera Utara untuk kemudian dikemas di Surabaya juga memberikan manfaat bisnis yang signifikan. Perusahaan memperkirakan langkah tersebut mampu menekan biaya logistik hingga 40 persen dibandingkan pola distribusi sebelumnya, sehingga meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing produk minyak goreng di pasar Indonesia bagian tengah dan timur. Langkah ini sejalan dengan komitmen PalmCo dan Holding Perkebunan Nusantara dalam memperkuat hilirisasi industri sawit nasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta memastikan ketersediaan produk pangan strategis yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Sinergi Dinkop dan UNAIR Perkuat Langkah Koppontren Menuju Koperasi Modern Nasional
Nasional
Selasa, 23 Juni 2026 | 10:05 WIB

Sinergi Dinkop dan UNAIR Perkuat Langkah Koppontren Menuju Koperasi Modern

Surabaya, katakabar.com - Dinas Koperasi dan UKM (Dinkop UKM) Provinsi Jawa Timur percepat implementasi transformasi teknologi pada jaringan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Langkah strategis ini memperkuat peran korporasi desa agar tetap relevan dan memiliki daya saing kompetitif di era digital. Kebijakan ini sekaligus mendukung perluasan Program Koperasi Merah Putih nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai pilar kesejahteraan berbasis kerakyatan. Kepala Dinkop UKM Jatim, Endy Alim Abdi Nusa, memaparkan arah kebijakan ini dalam forum ekonomi Airlangga Support for Economic Collaboration (ASEC). Kegiatan ilmiah tersebut digelar Mahasiswa Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Angkatan 65-66 di Plaza Universitas Airlangga Kampus C, Surabaya, Kamis (18/6) lalu. Kegiatan ini diikuti lebih dari 150 peserta yang terdiri dari pelaku koperasi dan mahasiswa. Endy menjelaskan bahwa kedatangan ekosistem digital dan teknologi kecerdasan buatan (AI) menciptakan peluang profesi baru, bukan sekadar memicu disrupsi lapangan kerja. "Pemerintah mendorong revitalisasi peran ekonomi institusi ini secara fundamental. Koperasi tidak lagi sekadar mengelola aktivitas simpan pinjam konvensional. Ekosistem ini harus bertindak sebagai agregator komoditas hasil tani dan produk UMKM guna meningkatkan nilai tambah ekonomi perdesaan," jelas Endy. Dinkop UKM Jatim merujuk kesuksesan pengelolaan aset skala besar pada entitas besar di Jawa Timur. Entitas percontohan tersebut meliputi Koperasi Sidogiri, Koperasi Pondok Pesantren Sunan Drajat, Koperasi Semen Indonesia, dan Koperasi Petrokimia (K3PG). Pemerintah mengaplikasikan standar manajemen serupa melalui penugasan manajer profesional lulusan perguruan tinggi (S1) dengan proses penyaringan ketat bersama BUMN. Koordinator Mata Kuliah Etika Bisnis dan Creating Shared Value Universitas Airlangga, Prof. Gancar Candra Premananto, menegaskan urgensi adopsi instruksi digital ini. Institusi ekonomi saat ini menghadapi fenomena polycrisis. Tantangan ini meliputi disrupsi teknologi masif, instabilitas ekonomi global, dan perubahan perilaku pasar. Koperasi wajib mengadopsi platform digital guna mencegah risiko kehilangan basis loyalitas anggota. Pada forum yang sama, Manajer Pengembangan K3PG, Dwi Anggraini Futurhesa, membagikan studi kasus empiris mengenai proses pembaruan tata kelola yang mereka rintis sejak tahun 2012. K3PG membuktikan keberhasilan pengubahan citra institusi tradisional menjadi korporasi modern yang adaptif. Keberhasilan transformasi sistem layanan digital K3PG bertumpu pada empat pilar strategi utama: 1. Modernisasi infrastruktur teknologi dan digitalisasi sistem operasional secara menyeluruh. 2. Penguatan kompetensi sumber daya manusia serta implementasi tata kelola organisasi yang akuntabel. 3. Diversifikasi lini bisnis komersial sesuai dengan fluktuasi kebutuhan pasar global. 4. Akselerasi rasa memiliki (sense of belonging) para anggota terhadap ekosistem usaha bersama. Integrasi sistemik ini memastikan seluruh operasional koperasi, mulai dari pengelolaan simpanan hingga pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU), dapat berjalan secara transparan. Sinergi berkelanjutan antara pemerintah daerah, akademisi, dan praktisi industri menjadi prasyarat mutlak dalam membangun ekosistem ekonomi perdesaan yang sehat.