Catat! BPDP Umumkan Sepuluh Besar Finalis Lomba Riset Tingkat Mahasiswa 2025-2026
Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah melaksanakan Program Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2025-2026. Program Lomba Riset Tingkat Mahasiswa bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para mahasiwa aktif tingkat Sarjana atau Diploma dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh menjadi lebih aplikatif dalam bentuk penelitian untuk mewujudkan sawit Indonesia yang berkelanjutan. Terhadap empat puluh kelompok penelitian, telah dilakukan penilaian laporan akhir dan ditetapkan sepuluh kelompok finalis bakal mengikuti “Final Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2025-2026”. Putaran final ini dilakukan melalui presentasi dan pendalaman hasil penelitian untuk menentukan Juara I, II, dan III. Daftar 10 (sepuluh) kelompok Lomba Riset Tingkat Mahasiswa yang lolos ke putaran final.
Inovasi Produk Podcast 'Bincang di Roemah UMKM Perkebunan' BPDP Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas
Jakarta, katakabar.com - Sebagai upaya memperkuat ekosistem usaha dan mewujudkan UMKM Perkebunan Naik Kelas, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kemenkeu gelar kegiatan podcast bertajuk “Bincang UMKM Perkebunan di Roemah” di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta. Kegiatan ini usung tema “Strategi UMKM Naik Kelas melalui Inovasi Produk Berbasis Komoditas Perkebunan” sebagai sarana edukasi bagi pelaku usaha di sektor perkebunan nasional. Kegiatan yang berlangsung Kamis (18/6) lalu ini menghadirkan narasumber dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan pelaku usaha, meliputi Helmi Muhansah selaku Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, serta Afdhal Aliasar selaku Founder Minang Kakao. Diskusi edukatif ini dipandu oleh Brigita Agustina sebagai pembawa acara. Podcast ini menyoroti pentingnya peran UMKM berbasis komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, kelapa, dan kakao, dalam menciptakan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pada sesi diskusi, dipaparkan perjalanan inspiratif Minang Kakao dalam membangun usaha berbasis kakao, mulai dari tantangan dalam menjaga kualitas hingga strategi melakukan inovasi produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menyampaikan kegiatan podcast ini diharapkan dapat menjadi media promosi sekaligus edukasi bagi masyarakat terkait potensi usaha berbasis perkebunan. “Podcast ini menjadi sarana promosi bagi UMKM perkebunan dan diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk berwirausaha berbasis perkebunan. Melalui berbagai cerita dan pengalaman yang dibagikan, kami berharap semakin banyak masyarakat yang melihat peluang besar pengembangan usaha dari komoditas perkebunan Indonesia,” ujar Helmi. Selain berbagi pengalaman bisnis, podcast ini memaparkan berbagai dukungan BPDP untuk membantu pelaku usaha naik kelas melalui penguatan ekosistem, sinergi pemerintah-pelaku usaha, peningkatan informasi pasar, serta perluasan promosi produk perkebunan melalui kanal digital. Melalui aktivasi Roemah UMKM BPDP di SMESCO Indonesia, pelaku usaha juga didorong untuk terus meningkatkan kapasitas dalam menghasilkan produk turunan yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan UMKM Perkebunan Naik Kelas dengan memanfaatkan potensi kekayaan perkebunan Indonesia. Seluruh rangkaian diskusi ini akan ditayangkan melalui kanal YouTube dan media sosial resmi BPDP untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan serta motivasi bagi para pelaku UMKM untuk terus berinovasi dalam menciptakan produk berkualitas yang memiliki nilai tambah tinggi agar mampu naik kelas secara konsisten
Sinergi BPDP dan ASPEKPIR Lepas Ekspor Perdana Lidi Sawit ke China Buah Pemberdayaan UMKM Perkebunan
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia melepas ekspor perdana lidi sawit saat perhelatan di gudang PT Arra Setya Abadi di Belawan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (17/6) lalu. Total 28 Ton lidi sawit yang berasal dari perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau, Sumatera Utara dan Aceh akan diberangkatkan menuju China. Produk lidi sawit tersebut dikumpulkan dan diusahakan oleh para petani sawit serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta Koperasi anggota ASPEKPIR hasil dari rangkaian kegiatan program pemberdayaan UMKM dan Koperasi yang telah digelar ASPEKPIR dan BPDP. ASPEKPIR menggandeng PT Arra Setya Abadi sebagai eksportir yang akan memasarkan produk lidi sawit ke pasar internasional. Hadir di kegiatan tersebut Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono, Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Anwar Sadat, Direktur Utama PT Arra Setya Abadi Ilham Setiadi, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah, perwakilan Badan Karantina, Sekretaris Jenderal ASPEKPIR Syarifuddin Sirait, perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Utara, serta petani dan pengrajin lidi sawit. Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Anwar Sadat menyampaikan BPDP telah lama melakukan kegiatan promosi mengenai potensi nilai tambah ekonomi dari produk samping dan limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama intensif bersama ASPEKPIR dilakukan melalui berbagai kegiatan workshop dan diseminasi sejak tahun 2024 hingga saat ini. Rangkaian workshop produksi lidi sawit tersebut telah dilaksanakan di berbagai wilayah antara lain Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Muaro Jambi, Belitung Timur, hingga Kabupaten Pasang Kayu, Sulawesi Barat. Upaya tersebut dilakukan untuk mengenalkan potensi lidi sawit dan ketersediaan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan kapasitas petani agar kualitas produk sesuai standar pasar ekspor. Menurut Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, lidi sawit memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan baku ekspor hingga aneka kerajinan yang dapat dikerjakan oleh pelaku UMKM di daerah. “BPDP sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini karena mampu memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat serta menunjukkan bahwa limbah sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya. BPDP saat ini memiliki berbagai program strategis untuk mendukung penguatan kapasitas dan peningkatan produktivitas petani sawit, antara lain melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Program Sarana dan Prasarana, Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan, Penelitian dan Pengembangan, serta program Promosi Perkebunan yang bertujuan mengenalkan manfaat komoditas perkebunan bagi masyarakat dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Keberhasilan ekspor perdana lidi sawit ini menunjukkan bahwa sawit adalah komoditas yang inklusif karena manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari petani, perempuan, pemuda, UMKM, koperasi hingga pelaku ekspor. “Rantai pasok produksi lidi sawit melibatkan banyak pihak, dari petani, pengrajin, koperasi, dan pelaku ekspor, sehingga dapat memberikan efek ganda bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi di daerah,” ujarnya. Menurut Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, kegiatan ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto, khususnya dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui ekonomi hijau, memperluas kesempatan kerja berkualitas dengan kewirausahaan, serta pemerataan pembangunan hingga ke desa-desa. Ketua Umum ASPEKPIR, Setiyono menegaskan pelepasan ekspor perdana ini merupakan tindak lanjut dari berbagai program pemberdayaan UMKM yang telah dilaksanakan ASPEKPIR bersama BPDP di sejumlah daerah di Riau dan Sumatera Utara. Dijelaskan Setiyono, sedikitnya tujuh koperasi anggota ASPEKPIR terlibat dalam penyediaan bahan baku lidi sawit yang diekspor ke China. Manfaatnya kemudian akan dirasakan kurang lebih 2.800 anggota koperasi tersebut. Keterlibatan koperasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan usaha berbasis limbah sawit mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi petani. “Ekspor perdana ini membuktikan bahwa lidi sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kami berharap semakin banyak petani sawit yang tertarik menjadikan pengumpulan dan pengolahan lidi sawit sebagai sumber penghasilan tambahan,” imbuh Setiyono. Direktur Utama PT Arra Setya Abadi, Ilham Setiadi, menimpali sejak akhir 2024 pihaknya bersama ASPEKPIR dan didukung BPDP terus melakukan sosialisasi serta pendampingan pengembangan usaha ekspor lidi sawit di berbagai daerah. Menurut Ilham, permintaan pasar internasional terhadap lidi sawit terus menunjukkan tren positif sehingga peluang pengembangan usaha ini masih sangat terbuka lebar bagi petani dan UMKM di berbagai daerah sentra perkebunan sawit. Pada kegiata sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumatera Utara yang diwakili Tsarwah menyampaikan apresiasi atas keberhasilan ekspor perdana tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lainnya untuk memanfaatkan potensi limbah pertanian dan perkebunan yang memiliki nilai ekonomi. “Sumatera Utara memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan berbasis limbah kelapa sawit, termasuk lidi sawit. Kerja sama dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi petani, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan keberhasilan ekspor seperti ini,” terangnya. Pengembangan produk lidi sawit menjadi bukti sektor sawit mampu mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan pelepah dan biomassa sawit sebagai bahan baku produk UMKM membantu mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar perkebunan. Produk lidi sawit ini juga sekaligus dapat memperluas pasar ekspor perkebunan melalui diversifikasi produk turunan kelapa sawit. Selain kegiatan pelepasan perdana ekspor lidi sawit, BPDP dan ASPEKPIR taja workshop praktik ekspor lidi sawi di Langkat, Sumatra Utara pada Kamis (18/6). Dalam workshop yang dihadiri 100 peserta ini, dilakukan penandatanganan MoU antara koperasi sawit dan pelaku ekspor tentang peningkatan produksi lidi sawit siap ekspor.
Sosialisasi Program di Sumut, BPDP: Perkuat Sinergi Pengembangan Perkebunan
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Utara gelar Sosialisasi Program BPDP di Aula Gedung Keuangan Negara Medan, Sumatera Utara. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan terhadap berbagai program BPDP sekaligus memperkuat sinergi dalam mendukung pengembangan sektor perkebunan yang berkelanjutan. Perwakilan pemerintah daerah, instansi vertikal, pelaku usaha, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan sektor perkebunan di Provinsi Sumatera Utara turut hadir. Melalui forum ini, peserta memperoleh informasi mengenai peran BPDP mendukung pembangunan sektor perkebunan nasional melalui berbagai program strategis yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Dalam keynote speech-nya, Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Sumatera Utara, Indra Soeparjanto, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan pelaksanaan program pemerintah guna mendukung pembangunan ekonomi daerah, termasuk sektor perkebunan yang menjadi salah satu sektor strategis di Sumatera Utara. Di kegiatan tersebut, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, menyampaikan berbagai program yang dikelola BPDP untuk mendukung pengembangan komoditas perkebunan. Program tersebut meliputi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, beasiswa, pelatihan, penelitian dan pengembangan, dan promosi komoditas perkebunan. “BPDP terus berkomitmen mendukung pengembangan sektor perkebunan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya,” kata Zaid Burhan Ibrahim dalam pemaparannya. Selain paparan mengenai program BPDP, peserta juga memperoleh informasi mengenai kondisi fiskal daerah dan perkembangan pelaksanaan APBN Tahun 2026 di Provinsi Sumatera Utara yang disampaikan Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) II Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Utara, Edy Purwanto. Materi tersebut memberikan gambaran mengenai peran APBN dalam mendukung pembangunan daerah dan pertumbuhan ekonomi regional. Antusiasme peserta terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan disampaikan terkait mekanisme pelaksanaan program BPDP, peluang pemanfaatan program oleh pemerintah daerah dan pelaku usaha, serta isu-isu pengembangan sektor perkebunan di Sumatera Utara. Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran BPDP dan berbagai dukungan yang tersedia untuk pengembangan komoditas perkebunan. BPDP berharap pemanfaatan berbagai program yang tersedia dapat semakin optimal serta mendorong terbangunnya kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung pengembangan komoditas perkebunan yang berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah dan nasional.
Lewat Workshop BPDP Topang Lahirnya Komunitas UMKM Eksportir Lidi Sawit dari Santri dan Masyarakat
Bogor, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Gerakan Muda Pembaharu Sawit Nusantara (SawitNus) gelar workshop kewirausahaan angkat tema “Pemanfaatan Limbah Sawit sebagai Nilai Tambah Produk Turunan Kelapa Sawit bagi Generasi Muda” di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Cigudeg, Kabupaten Bogor. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta meliputi santri, pelajar, pemuda, mahasiswa, serta masyarakat sekitar pondok pesantren. Tujuannya meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai potensi besar industri kelapa sawit, khususnya dalam pemanfaatan limbah sawit yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di antara fokus utama adalah pengolahan lidi sawit menjadi produk bernilai tambah yang memiliki peluang pasar ekspor. Peserta diberikan pemahaman mengenai rantai pasok ekspor lidi sawit, peluang pasar di berbagai negara, serta strategi membangun usaha berbasis ekonomi sirkular yang memanfaatkan limbah perkebunan menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Sebagai tindak lanjut kegiatan, dilakukan pembentukan Komunitas Pengrajin Lidi Sawit yang diharapkan menjadi wadah kolaborasi bagi para peserta dalam mengembangkan usaha, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat akses pasar untuk mendukung ekspor produk lidi sawit dari Indonesia. Pimpinan Pondok Pesantren Raudatul Ulum Cigudeg Bogor Mukhtar mengucapkan terima kasih kepada BPDP yang telah mendukung acara ini yang dilaksanakan di pondok pesantren harapan kedepan dari acara ini bisa melahirkan santri-santri prenur kelapa sawit di lingkungan pondok dan bisa berkolaborasi dengan UMKM yang ada dilingkungan pondok Pesantren. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang memberikan manfaat luas bagi kehidupan masyarakat Indonesia. “Kelapa sawit bukan hanya menghasilkan minyak goreng. Banyak produk yang kita gunakan sehari-hari berasal dari sawit. Karena itu, generasi muda perlu melihat sawit sebagai sumber inovasi, peluang usaha, sekaligus sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. BPDP mendorong generasi muda terutama santri ikut membangun UMKM berbasis sawit dalam upaya mendukung target pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo Subianto sebesar 8 persen,” bebernya. Ketua Umum Gerakan Muda Pembaharu Sawit Nusantata (SawitNus), Ujang, menjelaskan kelapa sawit memiliki peran yang sangat penting bagi Indonesia. Selain menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar negara, sektor sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat yang bekerja di sepanjang rantai pasok industri tersebut, dan kegiatan ini bisa menumbuhkan wirausaha baru dan mendukung pelaku UMKM pengrajin lidi sawit yang ada di wilayah bogor. Pembentukan Komunitas Pengrajin Lidi Sawit menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. Dengan pendampingan yang tepat, komunitas tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi sentra produksi yang mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang memahami manfaat kelapa sawit secara utuh, sekaligus mampu memanfaatkan peluang usaha dari berbagai produk turunan sawit. Dengan demikian, sawit tidak hanya menjadi komoditas perkebunan, tetapi menjadi sumber inovasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di masa depan.
BPDP BLU Kemenkeu Dorong UKMK Kembangkan Produk Turunan Sawit
Magelang, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dorong Usaha Kecil, Mikro, dan Koperasi (UKMK) untuk kembangkan berbagai produk turunan sawit di Magelang meski bukan daerah penghasil kelapa sawit. BLU Kemenkeu menekankan hal itu ketika Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026 usung tema "Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK" yang digelar Majalah Hortus Archipelago bersinergi dengan BPDP di Magelang, di pertengahan Juni 2026 lalu. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menjelaskan industri sawit tawarkan banyak peluang usaha yang dapat dimanfaatkan pelaku UKMK. "Potensi-potensi kelapa sawit bisa diusahakan UKMK-UKMK, termasuk di Magelang. Meski Magelang tidak ada kelapa sawit, isu keberadaan bahan bakunya karena kita sudah terkoneksi menjadi tidak relevan," ucap Helmi melalui sambungan virtual. Pengembangan UKMK berbasis sawit sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen sejalan ditargetkan Presiden RI, H Prabowo Subianto. "Salah satu yang bisa mendukung itu adalah ketika ekonomi rakyat kita bergerak. Lantaran itu, kami ingin menginspirasi UKMK di Magelang agar bisa berinovasi membangun ekonomi berbasis sawit," imbuhnya. Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menerangkan Kabupaten Magelang memiliki potensi UKMK yang luar biasa besar dan menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Ia menilai produk turunan sawit dapat menjadi salah satu peluang usaha yang dapat dikembangkan oleh pelaku UKMK setempat. "Ketika kita mendengar kata kelapa sawit, yang pertama kali terlintas di benak kita sebagian besar pasti minyak goreng. Tetapi, kita hadir di sini untuk membuka mata dan mendobrak batasan tersebut," ulas Grengseng dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Magelang, Edi Wasono. Menurutnya, keunggulan usaha berbasis produk turunan sawit adalah dapat dijalankan dalam skala kecil dan menengah tanpa membutuhkan investasi besar. "Melalui sinergi dengan program Sawit Baik 2026, Grengseng berharap UKMK Magelang tidak hanya menjadi penonton dalam rantai industri sawit nasional, tetapi mampu menjadi pelaku usaha yang aktif, inovatif, dan berdaya saing," tuturnya. Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menimpali kelapa sawit menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif dan bernilai ekonomi tinggi. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui pengetahuan, keterampilan, dan keberanian untuk berinovasi. Damar menyampaikan apresiasi kepada Majalah Hortus Archipelago yang didukung BPDP atas inisiasinya menyelenggarakan Workshop Pemberdayaan UKMK Magelang dan Promosi Sawit Baik 2026. Workshop ini tidak hanya meningkatkan kapasitas pelaku usaha, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya praktik sawit yang baik dan berkelanjutan.
PT Tunggal Perkasa Plantations Raih Penghargaan Nasional, Bukti Konsistensi Dukung Program Imunisasi di Inhu
PT Tunggal Perkasa Plantations (PT TPP), salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, berhasil meraih penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Di Tengah Gejolak Harga Sawit, Holding PTPN Konsisten Serap TBS Petani
Jakarta, katakabar.com - Polemik penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani kembali menjadi perhatian beberapa pekan terakhir. Kementerian Pertanian (Kementan) bahkan mengingatkan akan memberikan sanksi hingga pencabutan izin terhadap 139 pabrik kelapa sawit (PKS) swasta yang diduga membeli TBS petani di bawah harga yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Penurunan harga tersebut dipicu kepanikan sebagian pelaku industri menyusul transisi kebijakan ekspor satu pintu serta praktik pembelian TBS di bawah harga acuan. Kondisi ini terutama dirasakan oleh petani swadaya yang belum memiliki kemitraan dengan perusahaan maupun pabrik pengolahan, sehingga di sejumlah daerah harga TBS sempat merosot jauh di bawah ketetapan pemerintah. Ketika rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar akhir pekan lalu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono meminta seluruh pelaku industri sawit tetap menjalankan transaksi perdagangan secara normal dengan mengacu pada harga yang terbentuk secara wajar. "Pelaku usaha khususnya di hilir, yaitu refinery dan eksportir untuk tetap melaksanakan atau melakukan transaksi perdagangan seperti biasa melalui acuan harga PT KPBN dan menghindari terjadinya withdraw terhadap harga yang terbentuk secara wajar," kata Sudaryono. Ia menegaskan pemerintah tidak akan ragu menjatuhkan sanksi kepada perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan tata niaga sawit. "Jika ada pelanggaran kegiatan-kegiatan sesuai dengan Permentan tentu ada sanksi administratif dan juga pencabutan izin barangkali. Dan jika ada pelanggaran hukum tentunya Kementan menggandeng Satgas Pangan," tegasnya. Serapan TBS Tetap Berjalan Di tengah sorotan terhadap ratusan PKS swasta tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui subholding PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo pastikan aktivitas pembelian TBS dari masyarakat dan petani mitra tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan hingga April 2026 perusahaan telah menyerap sekitar 1,03 juta ton TBS dari masyarakat dan mitra. Volume tersebut meningkat 2,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Jatmiko, keberlanjutan serapan TBS menjadi faktor penting dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat di sentra-sentra perkebunan sawit. "Peningkatan volume serapan ini berjalan beriringan dengan penerapan standar mutu yang jelas. Hingga April 2026, perolehan rendemen CPO kami terjaga di angka 18,69 persen," jelasnya. Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menimpali perusahaan terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan di berbagai wilayah operasional untuk memastikan implementasi ketentuan harga sesuai regulasi pemerintah. Menurutnya, keberadaan Holding Perkebunan Nusantara melalui PalmCo di sektor sawit tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas tata niaga ketika pasar mengalami gejolak. "PTPN IV PalmCo terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan untuk memastikan implementasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Kehadiran BUMN di daerah harus menjadi referensi harga yang wajar dan jangkar pengaman tata niaga, terutama saat pasar sedang mengalami gejolak," ucap Arya. Mekanisme Harga Melindungi Petani Harga TBS yang diterima petani pada dasarnya ditetapkan melalui mekanisme tim perumus harga di tingkat provinsi yang melibatkan unsur pemerintah daerah, perusahaan pengolahan sawit, serta perwakilan petani. Skema tersebut dirancang agar harga TBS mencerminkan perkembangan harga minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, sekaligus memberikan perlindungan bagi petani dari praktik pembelian yang tidak wajar. Keberadaan mekanisme tersebut dirasakan langsung oleh petani yang tergabung dalam pola kemitraan dengan perusahaan. Selain memperoleh kepastian penjualan hasil panen, mereka juga menerima harga yang mengacu pada ketetapan pemerintah daerah. Suparman, Sekretaris Koperasi Unit Desa (KUD) Sawit Makmur di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengatakan anggota koperasinya tidak mengalami gejolak harga seperti yang dialami sebagian petani swadaya. Menurut dia, ketika harga TBS di tingkat petani swadaya sempat turun hingga sekitar Rp2.400 per kilogram pada pekan lalu, anggota koperasi tetap menerima harga sesuai ketetapan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan. "Karena posisi kami adalah mitra resmi, kami menggunakan harga ketetapan dari Dinas Perkebunan Provinsi. Gejolak informasi di luaran tidak membawa pengaruh ke dalam," tuturnya. Data Dinas Perkebunan Kalimantan Selatan menunjukkan harga TBS tanaman menghasilkan berusia 10–20 tahun selama Mei berada pada kisaran Rp3.781 hingga Rp3.841 per kilogram. Kondisi serupa juga dirasakan petani di Riau. Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya, Kabupaten Rokan Hulu, Hadiyanto, mengatakan anggota koperasinya relatif terlindungi dari gejolak harga yang terjadi di pasar. Koperasi yang mengelola sekitar 731 hektare kebun sawit dan telah bermitra dengan PTPN selama hampir empat dekade tersebut tetap memperoleh harga sesuai ketentuan yang berlaku. "Di saat petani swadaya sangat terimbas dengan anjloknya harga, kami masih tersenyum. Selisih harga kami dengan pabrik-pabrik swasta terdekat lumayan signifikan, berkisar Rp600 sampai Rp1.000 per kilogram," imbuhnya. Cerita Hadiyanto, kepastian harga menjadi faktor penting terutama ketika produktivitas kebun sedang menurun akibat usia tanaman maupun proses peremajaan. "Sangat membantu anggota kami. Di saat tren produksi sedang menurun dan harga di PKS lain anjlok, PTPN tetap hadir dengan harga stabil," katanya. Turunnya harga TBS dalam beberapa pekan terakhir kembali menunjukkan pentingnya kepatuhan seluruh pelaku industri terhadap mekanisme penetapan harga yang telah disepakati. Di sisi lain, kemitraan yang kuat serta konsistensi serapan TBS oleh Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas pendapatan petani ketika pasar menghadapi ketidakpastian.
Pekan Inovasi dan Investasi Sumut 2026: BPDP BLU Kemenkeu Promo Inovasi UMKM Turunan Sawit
Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai Badan Layanan Umum Kemenkeu turut ambil bagian pada Pekan Inovasi dan Investasi Sumatera Utara 2026 digelar di Open Stage Parapat, Kabupaten Simalungun, pada 10 hingga 13 juni 2026 Melalui partisipasi tersebut, BPDP menghadirkan berbagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis kelapa sawit sebagai bentuk dukungan terhadap hilirisasi, inovasi, dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis perkebunan. Kegiatan yang dihelat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, serta dirangkaikan dengan Pencanangan Sensus Ekonomi 2026. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, unsur Forkopimda, kepala daerah se Sumatera Utara, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Di kegiatan ini, BPDP menampilkan beragam produk inovatif hasil pengembangan UMKM turunan sawit, mulai dari produk pangan, kerajinan, kosmetik, hingga berbagai produk bernilai tambah lainnya yang memanfaatkan potensi kelapa sawit secara berkelanjutan. Kehadiran BPDP menjadi bagian dari upaya memperkenalkan luasnya potensi industri hilir sawit sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan usaha berbasis komoditas strategis nasional tersebut. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan keikutsertaan BPDP dalam kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan produk-produk inovatif yang dihasilkan oleh UMKM mitra BPDP serta promosi kebaikan sawit khususnya di Sumatera Utara. “ Partisipasi BPDP dalam ajang ini juga menjadi sarana promosi bagi UMKM binaan untuk memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan daya saing produk, serta memperkenalkan inovasi yang telah dikembangkan kepada masyarakat dan diharapkan dapat menginspirasi masyarakat membangun UMKM berbasis sawit dalam upaya mendukung target pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo Subianto sebesar 8 persen,“ ujarnya. Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menegaskan kegiatan ini penting mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menyampaikan Pekan Inovasi dan Investasi Sumatera Utara digelar bersamaan dengan pencanangan Sensus Ekonomi 2026 akan menghasilkan data yang mutakhir sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi ke depan. "Kegiatan Pekan Inovasi dan Investasi ini berbarengan dengan pencanangan Sensus Ekonomi 2026. Hasil sensus akan memberikan data yang mutakhir dan terupdate, yang nantinya menjadi dasar penyusunan kebijakan untuk mendongkrak perekonomian masyarakat," jelasnya. Melalui keikutsertaan dalam Pekan Inovasi dan Investasi Sumatera Utara 2026, BPDP berharap produk-produk turunan sawit karya UMKM Indonesia semakin dikenal luas, mampu menembus pasar yang lebih besar, serta mendorong terciptanya nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat dan sektor perkebunan kelapa sawit nasional. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa industri kelapa sawit tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga menjadi sumber inovasi dan penggerak ekonomi kerakyatan melalui pengembangan produk hilir yang kreatif, bernilai tinggi, dan berdaya saing.
Di Karawang BPDP BLU Kemenkeu Seru Gen Z Gunakan Produk Hilirisasi Sawit Bangun Bisnis UMKM
Karawang, katakabar.com - Awal Juni 2026 lalu, Karawang, Jawa Barat jadi tempat Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit usung tema “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood”. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) BLU Kemenkeu dan majalah sawit, yang menggelar kegiatan selama dua hari. Hal ini selaras dengan potensi besar industri kelapa sawit sebagai sumber inovasi dan peluang usaha bagi generasi muda. Workshop diikuti pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, serta generasi muda yang ingin kembangkan usaha berbasis produk turunan sawit. Bupati Karawang yang diwakili Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Karawang, Dindin Rachmadhy, mengatakan pemerintah daerah sambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut karena sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kewirausahaan dan UMKM. Meski bukan daerah penghasil sawit, Karawang memiliki keterkaitan erat dengan industri sawit melalui sektor pengolahan dan UMKM. Ia menyebut sekitar 70 persen pelaku usaha kuliner di Karawang menggunakan produk berbasis sawit dalam kegiatan usahanya. "Kami melihat banyak peluang yang bisa dikembangkan dari produk turunan sawit. Tadi kami juga mendapat informasi sawit dapat dimanfaatkan untuk kriya dan fesyen. Karawang memiliki batik khas daerah, sehingga tidak menutup kemungkinan ke depan bahan turunan sawit seperti parafin dapat dimanfaatkan dalam proses produksinya," jelasnya. Dindin mengusulkan agar program beasiswa sawit yang dikelola BPDP dapat diperluas untuk menjangkau anak-anak pelaku UMKM yang memanfaatkan produk berbasis sawit. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menimpali BPDP terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia di sektor sawit, salah satunya melalui program beasiswa pendidikan. Selain pendidikan, BPDP juga mendorong hilirisasi dan inovasi produk sawit. Berbagai hasil riset yang dikembangkan saat ini telah menghasilkan beragam produk bernilai tambah, mulai dari material industri hingga produk UMKM. "Kami memiliki banyak hasil penelitian berbasis sawit, mulai dari bahan untuk rompi antipeluru, helm, hingga berbagai produk konsumen. Sejumlah hasil riset tersebut telah dikomersialisasikan oleh UMKM. Di website BPDP juga terdapat katalog100 UMKM berbasis produk turunan sawit yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda," sebut Helmi. Helmi mencontohkan keberhasilan seorang mahasiswa yang pernah jadi peserta Inkubasi Bisnis BPDP dan Universitas Andalas yang terinspirasi mengembangkan usaha berbasis lidi sawit hingga berhasil menjadi eksportir ke pasar Asia Selatan. "Kami berharap peserta workshop ini dapat terinspirasi dan dalam beberapa tahun ke depan muncul wirausaha muda baru dari Gen Z yang mampu mengembangkan produk UMKM sawit hingga menembus pasar ekspor," imbuhnya. Pimpinan Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, menuturkan kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai industri sawit kepada generasi muda. "Selama ini generasi Z lebih banyak menerima informasi negatif tentang sawit melalui media sosial. Padahal sawit memiliki banyak manfaat dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan oleh pelaku UMKM maupun wirausaha muda," terangnya.