Hipnotis Pengunjung, Produk UMKM Sawit Tampil di Ajang Pameran Internasional Sawit
Sawit
Minggu, 10 Mei 2026 | 14:19 WIB

Hipnotis Pengunjung, Produk UMKM Sawit Tampil di Ajang Pameran Internasional

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai salah satu aktor utama pembangunan sektor sawit terus perkuat peran strategis sektor ini terutama dengan menggerakkan hilirisasi sawit skala Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Di antara bentuk dukungan BPDP ini diwujudkan melalui keikutsertaannya di ajang pameran industri kelapa sawit skala internasional, PALMEX Jakarta 2026, yang digelar pada 6 hingga 7 Mei 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran.  Usung tema “Mendorong Industri Kelapa Sawit Global Melalui Inovasi dan Transformasi Digital”, ajang ini menjadi wadah pertemuan pelaku industri, pemangku kepentingan, hingga investor global untuk menjajaki teknologi terbaru di sektor sawit. BLU Kemenkeu ini perkenalkan produk-produk inovasi ramah lingkungan yang dihasilkan UMKM mitra BPDP, yakni Pupuk Cair Organik berbahan baku limbah cair kelapa sawit, Biodegradable Mulsa, Fungisida Organik, Bio Baby Bag yang dirancang khusus untuk proses nursery, Kompos, Biochar yang berasal dari cangkang sawit, hingga produk aromaterapi berbahan minyak sawit.  Ketika pembukaan acara, booth BPDP dikunjungi Deputy Secretary General CPOPC, Musdhalifah Machmud. Pada kunjungannya, Musdhalifah mengapresiasi produk turunan kelapa sawit ramah lingkungan yang dihasilkan oleh UMKM  mitra binaan BPDP. Selain itu, booth BPDP juga dikunjungi Vice President Palm Oil Crushing Mill Association, Krisada Chavananad; CEO Fireworks Trade Media Group, Kenny Yong; dan Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah yang hadir mendampingi kegiatan tersebut,  mengatakan keikutsertaan BPDP dalam kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan produk-produk inovatif yang dihasilkan oleh UMKM mitra BPDP agar bisa dikenal secara luas dan melakukan ekspansi produk pada skala internasional.  “Sebagai wadah sinergi antara pelaku bisnis, ahli, hingga pemasok global, kami berharap kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk mewujudkan kolaborasi antara mitra BPDP dengan peserta-peserta pameran lainnya yang berasal dari sekitar 30 negara di dunia, terutama yang berkaitan dengan teknologi dalam industri kelapa sawit,” terang Helmi.  Selain perkenalkan produk-produk inovatif ramah lingkungan yang diproduksi UMKM mitra BPDP melalui kegiatan PALMEX 2026 ini, Dukungan BPDP untuk pengembangan produk-produk turunan kelapa sawit tersebut diwujudkan melalui kehadiran Roemah Perkebunan  BPDP di Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta Selatan. Roemah Perkebunan  BPDP menampilkan produk-produk turunan kelapa sawit yang dihasilkan oleh UMKM dan mitra binaan BPDP, baik bentuk produk pangan, non-pangan, hingga home decore seperti batik sawit, kerajinan dari lidi sawit, dan banyak produk lainnya.  Diketahui, Indonesia masih memegang posisi sebagai produsen dan eksportir minyak kelapa sawit terbesar dunia. Selain sebagai penyumbang devisa, sektor ini menjadi penggerak ekonomi daerah, penyerap tenaga kerja, serta penopang ketahanan energi lewat program biodiesel.

BPDP Perkuat Insustri Sawit Nasional Dukung Pelepasan Bibit Sawit Unggul Asal Tanzania Sawit
Sawit
Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30 WIB

BPDP Perkuat Insustri Sawit Nasional Dukung Pelepasan Bibit Sawit Unggul Asal Tanzania

Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tegaskan komitmen mendukung penguatan industri kelapa sawit nasional melalui pendanaan kegiatan pelepasan dan pengembangan sumber daya genetik kelapa sawit unggul asal Tanzania di Sumatera Utara. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya bersama guna perkuat produktivitas sawit nasional di tengah tantangan stagnasi produksi yang terjadi dalam lima tahun terakhir. Kegiatan pelepasan bibit sawit unggul tersebut hasil kolaborasi berbagai pemangku kepentingan industri sawit nasional, termasuk Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), lembaga riset, pelaku usaha perkebunan, serta pemerintah. Total 29.281 bibit sawit unggul asal Tanzania didistribusikan kepada sejumlah perusahaan perkebunan di Sumatera Utara sebagai bagian dari pengayaan plasma nutfah dan pengembangan generasi baru sawit Indonesia. Di momentum itu, BPDP menegaskan dukungan pada pengembangan riset dan inovasi sawit bagian dari mandat strategis dalam mendorong transformasi industri sawit nasional yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Pengembangan plasma nutfah baru dinilai menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan penurunan produktivitas akibat dominasi tanaman tua yang telah memasuki usia di atas 25 tahun. Berbagai kajian industri menunjukkan, produksi minyak sawit nasional mengalami stagnasi kisaran 52 hingga 54 juta ton selama lima tahun terakhir. Di sisi lain, kebutuhan domestik terus meningkat seiring implementasi program biodiesel nasional dari B35 menuju B40 dan persiapan B50. Kondisi tersebut menjadikan peningkatan produktivitas sebagai agenda prioritas nasional. Melalui dukungan pendanaan BPDP, kegiatan introduksi material genetik asal Tanzania diharapkan dapat memperkaya keragaman genetik kelapa sawit Indonesia, sekaligus menjadi fondasi pengembangan varietas unggul baru yang lebih adaptif, produktif, tahan terhadap cekaman lingkungan, serta mampu mendukung peningkatan produktivitas nasional secara berkelanjutan. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan dukungan terhadap pengembangan bibit unggul dan inovasi riset sawit merupakan bagian dari upaya jangka panjang BPDP dalam memperkuat fondasi industri sawit nasional. Menurutnya, peningkatan produktivitas menjadi langkah yang sangat penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan domestik dan tantangan global yang semakin kompleks. “Pengembangan sumber daya genetik unggul menjadi investasi strategis bagi masa depan sawit Indonesia. BPDP mendukung berbagai upaya riset dan inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, sekaligus memastikan industri sawit nasional tetap berkelanjutan,” jelas Alfansyah. Selain pengembangan bibit unggul, kolaborasi Indonesia dan Tanzania juga diarahkan pada penguatan riset penyerbukan biologis melalui introduksi beberapa spesies serangga penyerbuk untuk meningkatkan fruit set tanaman sawit. Program tersebut merupakan bagian dari strategi intensifikasi produktivitas tanpa perlu melakukan ekspansi lahan baru. BPDP memandang penguatan riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya genetik merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi keberlanjutan industri sawit nasional. Lantaran itu, dukungan terhadap kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aspek budidaya, tetapi juga pada pembangunan ekosistem inovasi sawit nasional yang melibatkan dunia usaha, lembaga penelitian, akademisi, dan pemerintah. Kegiatan pelepasan bibit unggul asal Tanzania ini juga jadi simbol komitmen bersama dalam mendorong transformasi industri sawit Indonesia dari yang sebelumnya bertumpu pada ekspansi lahan menuju peningkatan produktivitas berbasis inovasi dan teknologi. Dengan dukungan riset yang kuat serta sinergi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi baru kelapa sawit yang lebih unggul dan mampu menjawab tantangan industri sawit global di masa depan. Sebagai lembaga pengelola dana perkebunan, BPDP akan terus memperkuat dukungan terhadap program-program strategis yang berorientasi pada peningkatan produktivitas, keberlanjutan, hilirisasi, dan penguatan daya saing industri perkebunan Indonesia. Dukungan terhadap pengembangan plasma nutfah sawit unggul ini diharapkan menjadi salah satu pijakan penting menjaga posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia sekaligus memastikan keberlanjutan industri sawit nasional bagi generasi mendatang.

Beton Precast Foam Concrete dari Campuran Sawit Hasil Inovasi Riset BPDP dan Universitas SK Sawit
Sawit
Minggu, 10 Mei 2026 | 10:45 WIB

Beton Precast Foam Concrete dari Campuran Sawit Hasil Inovasi Riset BPDP dan Universitas SK

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Universitas Syiah Kuala (SK), lahir inovasi riset yang dikembangkan, yakni material konstruksi berbasis perkebunan,  berupa Beton Precast Foam Concrete berbasis sawit. Produk ini memanfaatkan turunan kelapa sawit sebagai bagian dari komposisi foam concrete, menghasilkan beton ringan yang tetap kuat, efisien, serta lebih ramah lingkungan. Inovasi ini tak terbayangkan sebelumnya, dan menjadi langkah nyata tingkatkan nilai tambah komoditas sawit, tidak hanya sebagai sumber pangan dan energi, tetapi sebagai solusi di sektor konstruksi. Dari sisi pemanfaatan, beton pracetak ini dirancang untuk mendukung pembangunan yang cepat dan praktis. Bobotnya ringan memudahkan distribusi dan pemasangan di lapangan, sekaligus memberikan efisiensi dalam proses konstruksi. Karakteristik tersebut menjadikannya alternatif material yang potensial untuk berbagai kebutuhan pembangunan modern. Proses pembuatannya diawali dengan produksi busa menggunakan foam agent (merek dagang: FoaMac) yang dikembangkan dalam penelitian. Bahan ini dicampurkan dengan air dan diproses melalui foam generator untuk menghasilkan busa dengan densitas terkontrol. Busa tersebut kemudian dicampurkan dengan pasta semen yang terdiri dari semen, air, serta agregat halus atau bahan substitusi biomassa sawit seperti clinker boiler. Seluruh bahan diolah secara homogen menggunakan cement mixer hingga mencapai densitas target sekitar 1,2–1,4 g/cm³. Terus, campuran dituangkan ke dalam cetakan untuk membentuk bata foam atau panel pracetak, lalu melalui proses curing hingga mencapai kekuatan yang diinginkan. Guna monitoring dan evaluasi terhadap capaian program penelitian dan pengembangan industri beton ringan ini, tim Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melakukan kunjungan lapangan ke Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Selasa (5/5) lalu. Kunjungan tersebut diwakili Prof. Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., Ph.D bersama tim BPDP, yang meninjau langsung fasilitas produksi bata foam dan precast foam concrete yang telah dibangun dan dioperasikan. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat perkembangan implementasi hasil riset, mencakup pembangunan fasilitas industri, kesiapan teknologi produksi, serta penerapan produk pada konstruksi nyata. Observasi dilakukan secara menyeluruh terhadap alur produksi, mulai dari penyiapan bahan baku, proses pencampuran, hingga tahap pencetakan dan curing. Fasilitas yang dikunjungi merupakan wujud nyata dari kolaborasi riset antara Universitas Syiah Kuala dan BPDP mendorong hilirisasi teknologi pemanfaatan limbah biomassa sawit menjadi material konstruksi bernilai tambah tinggi. Program ini tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi berhasil mengimplementasikannya dalam skala industri. Sebagai luaran strategis, inisiatif ini telah melahirkan dua entitas bisnis, yakni PT Solusi Global Precast yang bergerak di industri bata foam dan precast foam concrete, serta UMKM sebagai pemasok foam agent. Produk yang dihasilkan meliputi bata foam, panel pracetak, penutup drainase, alas jembatan, hingga elemen konstruksi lain yang telah diaplikasikan, termasuk pada rumah contoh ramah gempa. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara BPDP, akademisi, dan industri dalam mengembangkan teknologi berbasis limbah biomassa sawit secara berkelanjutan. Selain itu, hasil monitoring dan evaluasi menjadi dasar untuk penyempurnaan program serta perluasan implementasi industri beton ringan di Indonesia.

Dorong Pengembangan UMKM Sawit, BPDP Tingkatkan Perekonomian  Daerah 3T Sawit
Sawit
Kamis, 07 Mei 2026 | 19:11 WIB

Dorong Pengembangan UMKM Sawit, BPDP Tingkatkan Perekonomian  Daerah 3T

Kendari, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan kerja sama dengan Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) taja Workshop dan Pasar Benih usung tema “Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit” di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (3/5) lalu. Acara ini antusias dan luar biasa dari petani, pemerintah, dan perusahaan perkebunan daerah sekitar. Apalagi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa wilayah daerah terpencil dan terbatas akses terutama daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan) di antaranya adalah Kabupaten Wakatobi, Konawe Selatan, Muna, dan Konawe Kepulauan. Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Sultra, Mujahidin, menerangkan kelapa sawit di Sultra yang terdiri dari perkebunan rakyat dan swasta memberikan pertumbuhan ekonomi dari sub sektor perkebunan. Mengenai rendahnya produktivitas sawit di Sultra, ujar Mujahidin, Gubernur meminta para Kepala Dinas Provinsi maupun Kabupaten dan Kota untuk memanfaatkan bantuan yang disediakan oleh pemerintah pusat. “Provinsi Sultra bisa mendapatkan program peremajaan sawit rakyat serta sarpras dan pengembangan sumber daya manusia baik perkebunan petani dan mahasiswa. Dari program tersebut peningkatan produktivitas dan nilai tambah mutu dapat terwujud sehingga dapat mensejahterakan petani. Banyak biaya yang disiapkan pusat untuk petani, sehingga Kadin Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus melihat peluang terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan petani agar dana tersebut dapat diserap,” paparnya. Menurutnya, acara ini dinilai dapat sebagai suatu wadah untuk mensinkronkan berbagai pihak dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat 3T di Sultra dengan kelapa sawit. “Pemerintah provinsi Sultra mengucapkan terima kasih dan menyambut baik acara ini dalam upaya mengatasi kendala-kendala yang diperlukan kerjasama semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, asosiasi, koperasi, kelompok tani, perusahaan perkebunan, sampai PKS sehingga tujuan dapat terwujud dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sawit rakyat di Sultra,” kata Mujahidin. Pembina POPSI, Bambang, menimpali program BPDP sebagai upaya negara bagaimana kepedulian pelaku usaha, dan masyarakat untuk turut, serta membangun perkebunan dengan prioritas untuk replanting, sarpras, riset serta promosi. Ketua POPSI, Mansuetus Darto, menilai Sultra memiliki potensi yang sangat besar dalam pemanfaatan kelapa sawit. Tetapi, untuk mengoptimalkan lahan perlu budidaya yang baik mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat. “Workshop ini diharapkan tidak hanya informatif tetapi juga transformatif. Perubahan paradigma di petani kecil kelapa sawit harus berubah dari sekedar bertani untuk bertahan hidup tetapi untuk keberlanjutan jangka panjang,” tuturDarto. Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan BPDP sangat terbuka untuk mendukung aktivitas petani dalam upaya peningkatan produktivitas. “Di Sultra  sawit bisa menjadi bagian dari aktivitas peningkatan ekonomi di daerah. Kita dari BPDP akan selalu support untuk kolaborasi agar dari sisi hulu rekomtek bisa cepat tercapai, Selain dari sisi hulu BPDP terus mendukung pengembangan sisi hilir melalui  UMKM berbasis sawit, oleh karena itu para pekebun sawit khususnya di Sultra kami ajak memanfaatkan peluang pengembangan wirausaha berbasis UMKM Sawit,” beber Helmi. Dari aspek hulu, Pekebun Sultra dapat memanfaatkan progran PSR BPDP untuk operasional peremajaan perkebunan sawit, meliputi pembersihan lahan, pembelian bibit unggul, penanaman, pemupukan, peningkatan kualitas pengelolaan kebun, sampai pada pengajuan sertifikasi keberlanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sultra memiliki perekebunan sawit dengan produktivitas yang  masih rendah, disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah ketidakmampuan peremajaan, kurangnya pengetahuan petani tentang praktis budidaya terbaik, dan yang paling penting adalah minimnya akses ke penyedia benih unggul bersertifikat.   Kelapa sawit memiliki posisi strategis untuk potensi ekonomi 3T jika dapat menerapkan tiga pilar utama, yakni adopsi benih unggul bersertifikat, implementasi Good Agricultural Practices (GAP), dan penguatan kelembagaan, dan kemitraan petani.

BPDP Dorong Kewirausahaan Komoditas Perkebunan Latih Pelaku UMKM dan Mahasiswa di Sidoarjo Sawit
Sawit
Kamis, 07 Mei 2026 | 18:08 WIB

BPDP Dorong Kewirausahaan Komoditas Perkebunan Latih Pelaku UMKM dan Mahasiswa di Sidoarjo

Sidoarjo, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai Badan Layanan Umum Kemenkeu terus perkuat peran strategisnya lewat pengembangan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan di Indonesia. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pelatihan dan sosialisasi yang menyasar para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Sidoarjo pada 29 hingga 30 April 2026 lalu. Kegiatan ini diikuti 60 pengusaha UMKM Sidoarjo, dan 40 mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), khususnya dari program studi Teknologi Hasil Pertanian dan Agroteknologi. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas kewirausahaan berbasis komoditas unggulan perkebunan seperti sawit, kakao, dan kelapa. Direktur Politeknik LPP Yogyakarta, M Mustangin, mengatakan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan pelaku usaha dalam menciptakan inovasi produk yang bernilai tambah tinggi terutama produk berbahan hasil perkebunan. Kolaborasi antara pegiat UMKM dan akademisi adalah kekuatan besar yang tidak bisa dipisahkan. UMKM memiliki pengalaman pasar dan kepekaan terhadap kebutuhan konsumen, sementara akademisi membawa inovasi, riset, dan teknologi. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM , Helmi Muhansyah, menegaskan pentingnya hilirisasi komoditas perkebunan melalui penguatan sektor UMKM. “BPDP tidak hanya berfokus pada pengelolaan dana, tetapi juga terus berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan promosi wirausaha berbahasis  komoditas Perkebunan khususnya sawit, kakao dan kelapa, kami berharap kegiatan seperti ini akan mendorong munculnya pengusaha UMKM dan menginspirasi mahasiswa berwirausaha berbahan sawit, kakao dan kelapa di Sidoarjo," jelas Helmi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sidoarjo, M Edi Kurniadi, menyoroti potensi besar UMKM lokal dalam mendukung perekonomian daerah. Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah dalam hal ini BPDP dan Politeknik LPP selaku Lembaga Pendidikan dalam meningkatkan daya saing produk UMKM berbasis komoditas perkebunan. “Kami percaya meski di daerah kami tidak terdapat sentra Perkebunan sawit, dengan adanya kegiatan ini pegiat UKM akan dapat memunculkan ide baru untuk produk berbahan sawit’," ucap Edi Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam mendorong penguatan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan di tingkat akar rumput. Melalui kolaborasi strategis bersama Politeknik LPP Yogyakarta, program ini tidak hanya menghadirkan transfer knowledge tapi mendorong produk UMKM Perekebunan  akan lebih mudah dikenal dan memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas.

Inovasi Riset Perkebunan: BPDP Fasilitasi Pengembangan Traktor Otonom Pemupukan Sawit Sawit
Sawit
Kamis, 07 Mei 2026 | 15:05 WIB

Inovasi Riset Perkebunan: BPDP Fasilitasi Pengembangan Traktor Otonom Pemupukan Sawit

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus menunjukkan komitmen dorong inovasi berbasis riset di sektor perkebunan. Di antaranya melalui dukungan pendanaan program Grant Riset Sawit 2024, yang melahirkan teknologi autonomous intermittent fertilizer spreader, hasil kolaborasi tim peneliti INSTIPER bersama PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA). Teknologi ini merupakan traktor otonom yang dirancang khusus untuk kegiatan pemupukan di perkebunan kelapa sawit. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus presisi dalam aplikasi pupuk, yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama di sektor budidaya. Pada peluncuran dan pemaparan hasil riset tersebut, turut hadir Rahmat Widiana, menegaskan pentingnya peran riset aplikatif dalam mendukung transformasi sektor perkebunan. “BPDP melalui program grant riset mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dapat diimplementasikan langsung di lapangan dan memberikan dampak nyata bagi industri,” ujarnya. Tingkatkan Efisiensi hingga 60 Persen Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan traktor otonom ini mampu meningkatkan efisiensi kegiatan pemupukan hingga 60 persen dibandingkan metode konvensional. Selain itu, teknologi ini memungkinkan distribusi pupuk yang lebih tepat sasaran melalui sistem yang telah terintegrasi dengan pengaturan dosis dan pola sebar. Pendekatan berbasis otomatisasi ini dinilai mampu menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja sekaligus meningkatkan produktivitas kebun secara keseluruhan. Pengembangan teknologi ini hasil kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri, yang menjadi salah satu fokus utama dalam skema Grant Riset BPDP. Sinergi ini memungkinkan proses riset berjalan lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan serta mempercepat proses hilirisasi inovasi. Selain meningkatkan efisiensi, teknologi ini juga mendukung praktik perkebunan berkelanjutan melalui penggunaan input yang lebih terukur dan minim pemborosan. Komitmen BPDP Pada Inovasi Melalui program Grant Riset Sawit, BPDP secara konsisten mendorong pengembangan teknologi yang mampu meningkatkan daya saing sektor perkebunan nasional. Inovasi seperti traktor otonom ini menjadi contoh konkret bagaimana dukungan pendanaan riset dapat menghasilkan solusi yang berdampak langsung bagi industri. Ke depan, BPDP berharap semakin banyak riset-riset unggulan yang tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga dapat diimplementasikan secara luas dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Dengan dukungan yang berkelanjutan, sektor perkebunan diharapkan mampu bertransformasi menjadi lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

Target 300 Hektar 2026: Disbun Bengkalis Gandeng BPN dan Samade Sosialisasi PSR Sawit
Sawit
Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17 WIB

Target 300 Hektar 2026: Disbun Bengkalis Gandeng BPN dan Samade Sosialisasi PSR

Bengkalis, katakabar.com -  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis lewat Dinas Perkebunan (Disbun) gandeng Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bengkalis serta Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Kabupaten Bengkalis, taja sosialisasi Peremajaan Kelapa Sawit Pekebun (PKSP) tingkat kabupaten tahun 2026 di Kantor Camat Mandau, Rabu (6/5) kemarin. Kegiatan tersebut diikuti peserta dari Kecamatan Mandau, Pinggir dan Bathin Solapan ini sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas, dan keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit rakyat. Narasumber kegiatan selain dari Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau, juga dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bengkalis, serta Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) Kabupaten Bengkalis. Kehadiran para narasumber memberikan pemahaman komprehensif kepada para pekebun terkait program peremajaan kelapa sawit rakyat. Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis, Sufandi, melalui Kepala Bidang Produksi, Adi Zulhami, mengatakan sektor perkebunan memiliki peran yang sangat strategis pembangunan daerah, khususnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membuka lapangan kerja, serta menjaga keberlanjutan lingkungan. “Perkebunan kelapa sawit komoditas unggulan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah. Tetapi, masih terdapat berbagai tantangan, seperti rendahnya produktivitas akibat penggunaan benih tidak unggul, tanaman yang sudah tua, serta keterbatasan pengetahuan pekebun terkait praktik budidaya yang baik,” tegasnya. Data sementara tahun 2025 menunjukkan, kata Adi, luas perkebunan di Kabupaten Bengkalis mencapai sekitar 375 ribu hektar, dengan mayoritas perkebunan kelapa sawit rakyat. Dari jumlah tersebut, sekitar 87,75 persen dikelola secara swadaya oleh masyarakat. "Melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis targetkan peremajaan seluas 300 hektar pada 2026 ini, yang tersebar di beberapa kecamatan," jelasnya. Program ini, sebut Adi, didukung kebijakan pemerintah pusat melalui regulasi Kementerian Pertanian, serta pembiayaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP). Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, penyuluh, kelembagaan petani, serta pihak swasta dalam menyukseskan program tersebut. “Kerja sama kemitraan menjadi kunci, baik penyediaan bibit berkualitas, pendampingan teknis, hingga akses pasar. Lantaran itu, seluruh stakeholder diharapkan dapat berperan aktif dalam mendorong keberhasilan program ini,” imbuhnya. Untuk itu, ajak Adi Zulhami, para pekebun untuk memanfaatkan program PSR sebagai peluang dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan, sekaligus memperkuat daya saing sektor perkebunan daerah. "Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan pemahaman para pekebun terhadap program peremajaan sawit semakin meningkat, sehingga implementasi di lapangan dapat berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bengkalis," sebutnya. Di sosialisasi ini hadir Sekretaris Camat Mandau,.Rio Sentosa, Asosiasi Perkebunan, Penyuluh Pertanian, sejumlah Kepala Desa, serta para pekebun dari sejumlah wilayah Kabupaten Bengkalis.

Transformasi Limbah Sawit dan Peternakan: Tangan Dingin Suparman Bangun KEBJ Sawit
Sawit
Rabu, 06 Mei 2026 | 15:16 WIB

Transformasi Limbah Sawit dan Peternakan: Tangan Dingin Suparman Bangun KEBJ

Bengkalis, katakabar.com - “Kita hidup dikelilingi raksasa industri sawit, pantang rasanya bila kita cuma diam tanpa berproses. Dengan akal dan tekad, limbah yang dulunya terbuang sia-sia kini menjadi kunci untuk memutus rantai ketergantungan.” Kalimat menggugah itu meluncur tegas dari Suparman Amir 48 tahun, sosok penggerak Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bangko Jaya Sejahtera. Di tengah kepungan industri kelapa sawit yang masif, kelompok ini berhasil mentransformasi limbah sawit dan peternakan menjadi sumber daya bernilai tinggi bagi perikanan dan pertanian. Sebelum inovasi ini berkembang, aktivitas budidaya ikan dan pertanian di Desa Bangko Jaya berada dalam tekanan berat. Tingginya harga pakan pabrikan dan pupuk kimia membuat biaya operasional membengkak, bahkan menggerus hampir seluruh hasil panen. Di sisi lain, potensi limbah seperti solid sawit, abu boiler, dan kotoran ternak yang melimpah belum mampu dimanfaatkan akibat keterbatasan pengetahuan dan teknologi. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Suparman bersama anggota Pokdakan mulai menggagas solusi berbasis potensi lokal. Inisiatif cemerlang warga ini kemudian disambut baik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Perusahaan hulu migas ini hadir sinergikan langkah warga dengan program Desa Energi Berdikari (DEB). Melalui program pendampingan ini, Pokdakan Bangko Jaya Sejahtera mendapatkan pelatihan pembuatan pakan mandiri, manajemen keuangan, hingga produksi probiotik. Hadirnya fasilitas seperti mesin pencacah pakan, alat penepung, serta fasilitas Solar Dryer House turut mempercepat proses produksi pakan yang lebih higienis dan efisien. Dengan memanfaatkan limbah sawit sebagai bahan utama, kelompok ini berhasil memproduksi pakan ikan mandiri dengan formulasi yang teruji. Sebagai langkah turunan, mereka turut mengembangkan pupuk kompos organik berbasis bio slurry dari reaktor biogas yang diproses secara optimal menggunakan energi surya. Perubahan nyata pun dirasakan. Biaya pakan ikan berhasil ditekan hingga 40 persen, dari sebelumnya Rp15-16 ribu per kilogram menjadi sekitar Rp8-9 ribu per kilogram. Dari 10 kolam bioflok aktif, produksi lele kini mencapai ±537 kilogram per siklus panen. Tercatat total keuntungan mencapai Rp64,4 juta dan peningkatan pendapatan rata-rata anggota sebesar Rp6,4 juta per siklus. Di sektor pertanian, penggunaan pupuk organik mandiri mampu mengurangi biaya pembelian pupuk kimia hingga 50%, sekaligus meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen. Manager CID PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan keberhasilan ini menjadi contoh nyata bagaimana inisiatif akar rumput dapat menjadi katalis perubahan yang berkelanjutan. “PHR percaya kekuatan pembangunan desa terletak pada inisiatif masyarakatnya. Melalui kolaborasi erat dengan kelompok masyarakat, kami memfasilitasi inovasi berbasis potensi lokal yang meningkatkan nilai ekonomi sejalan dengan prinsip penguatan kemandirian serta ketahanan lingkungan masyarakat,” ujar Iwan. Ke depan, Pokdakan Bangko Jaya Sejahtera berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi mereka, termasuk membuka peluang komersialisasi produk pakan dan pupuk mandiri setelah memenuhi standar regulasi. Transformasi ini menjadi bukti bahwa dari desa, lahir solusi nyata untuk kemandirian ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan. Tentang PHR Zona Rokan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah  Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041. Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.